MANTAN SUAMIKU MENGIRIM UNDANGAN ULANG TAHUN ANAK DARI SELINGKUHANNYA—HANYA UNTUK MENGHINAKU “MANDUL”. TAPI SAAT AKU DATANG, AKU MEMBAWA SESEORANG YANG IA KIRA SUDAH MATI—DAN KEHADIRANNYA AKAN MENGHANCURKAN DUNIANYA.
Sebuah kartu undangan berlapis emas tiba di depan pintuku. Itu adalah undangan ulang tahun pertama anak dari mantan suamiku, Franco, dan selingkuhannya, Jessica.
Di balik kartu itu, ada pesan tulisan tangan dari Franco. Setiap katanya terasa seperti racun:
“Cara, datanglah. Aku ingin kamu melihat betapa tampannya anakku. Sayang sekali, andai saja kamu tidak mandul, mungkin kamu yang menjadi ibu dari pewarisku. Tapi jangan khawatir, kamu boleh jadi ibu baptisnya. Lihatlah bagaimana caranya membangun keluarga yang nyata.”
Tanganku bergetar. Lima tahun kami bersama. Lima tahun aku disalahkan karena kami tidak memiliki anak. Ia mengusirku, menyebutku tak berguna, dan langsung menggantikanku dengan Jessica, sekretarisnya.
Di mata publik, Franco adalah CEO sukses yang menjadi “korban” dari istri yang mandul. Yang tidak mereka ketahui, Franco mendapatkan perusahaannya dengan cara yang sangat kotor.
Aku menatap diriku di cermin.
“Kamu ingin melihat keluarga yang nyata, Franco?” bisikku. “Baik, akan aku tunjukkan.”
HARI PERAYAAN
Pesta itu diadakan di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski. Semua mitra bisnis, media, dan kerabat hadir di sana.
Franco berdiri di tengah panggung, memegang mikrofon, sementara Jessica menggendong bayi mereka.
“Terima kasih banyak atas kehadirannya!” sapa Franco dengan penuh kegembiraan. “Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Akhirnya, keluarga Montemayor memiliki pewaris. Anak yang sudah lama aku doakan, yang tidak bisa diberikan oleh istri pertamaku.”
Beberapa tamu tertawa kecil.

“Bicara tentang dia…” Franco menyeringai, menatap ke arah pintu masuk. “Apakah dia belum datang? Sayang sekali.”
Pada saat itu juga, PINTU BESAR TERBUKA.
Musik berhenti seketika. Semua mata tertuju padaku.
Aku melangkah masuk mengenakan gaun beludru hitam yang sangat elegan. Wajahku tenang, namun mataku menyala.
Tapi bukan gaun yang kukenakan yang menarik perhatian mereka. Melainkan sosok yang tangannya kugenggam erat.
Di sampingku, berjalan dengan perlahan namun penuh martabat, seorang wanita tua. Ia mengenakan kebaya putih megah, penuh berlian, dan memegang tongkat berlapis emas.
Saat Franco melihatnya dari atas panggung, mikrofon di tangannya terlepas.
PRANG!
Wajah Franco memucat pasi. Seolah-olah ia baru saja melihat hantu. Jessica melangkah mundur, hampir menjatuhkan bayinya.
“M-Mama…?”
Suara Franco nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kesunyian ballroom yang mencekam. Wanita di sampingku adalah Nyonya Sofia Montemayor, pemilik asli seluruh aset perusahaan yang dikelola Franco—dan ibu kandung yang ia nyatakan telah “meninggal dalam kecelakaan” dua tahun lalu agar ia bisa memalsukan surat wasiat dan menguasai harta keluarga.
Selama ini, Franco menyembunyikan ibunya di sebuah panti jompo terpencil di luar negeri, memalsukan sertifikat kematiannya, dan membius wanita itu agar tetap linglung sehingga tidak bisa melawan. Ia tidak menyangka bahwa aku, istri yang ia buang, berhasil melacak keberadaan mertuaku dan memulihkannya dengan bantuan tim medis terbaik secara rahasia.
Nyonya Sofia melangkah maju, suara ketukan tongkat emasnya bergema di lantai marmer, seirama dengan detak jantung Franco yang kini berpacu liar.
“Kau merayakan hari ulang tahun pewaris, Franco?” suara Nyonya Sofia tenang namun sangat berwibawa. “Pewaris dari harta yang kau curi dari ibumu sendiri?”
Para tamu mulai berbisik histeris. Wartawan yang tadi diundang untuk meliput “kebahagiaan” keluarga Franco kini sibuk mengarahkan kamera ke arah panggung.
“Ini… ini mustahil! Mama sudah tiada!” teriak Franco, suaranya pecah karena panik.
“Aku masih hidup, Franco. Dan aku telah menandatangani pembatalan seluruh kuasa yang pernah kau miliki,” lanjut Nyonya Sofia. “Mulai detik ini, rekeningmu dibekukan, rumah yang kau tempati akan disita, dan jabatan CEO-mu berakhir sekarang juga.”
Jessica, yang selama ini hanya mengincar harta Franco, mulai melepaskan pegangan tangannya dari lengan suaminya. Ia sadar kapal yang ia tumpangi sedang tenggelam.
Namun, kejutan sesungguhnya belum berakhir. Aku melangkah maju ke depan panggung, menatap Franco yang kini gemetar di ujung podium.
“Oh, dan satu hal lagi tentang ‘kemandulan’ yang selalu kau banggakan itu, Franco,” kataku sambil mengeluarkan selembar amplop biru dari tas tanganku. “Aku membawa hasil laboratorium terbaru dari masa pernikahan kita. Hasil yang kau sembunyikan dariku selama lima tahun.”
Aku membukanya dan membacanya keras-keras di depan mikrofon yang masih menyala di lantai.
“Laporan medis menunjukkan bahwa rahimku sehat sempurna. Masalahnya bukan padaku, Franco. Kamu memiliki kondisi azoospermia permanen. Kamu tidak bisa memiliki keturunan.”
Keheningan yang lebih dingin dari sebelumnya menyergap ruangan. Franco menatap bayi di gendongan Jessica dengan tatapan ngeri. Jessica memucat pasi, mencoba melarikan diri dari panggung, namun petugas keamanan—yang kini bekerja di bawah perintah Nyonya Sofia—sudah memblokade jalan keluar.
“Jika aku tidak bisa memberikanmu anak, Franco, lalu anak siapa yang sedang kau rayakan ini?” tanyaku dengan senyum pahit.
Franco jatuh terduduk di atas panggung mewah itu. Di hari yang seharusnya menjadi puncak kejayaannya, ia kehilangan segalanya: hartanya, kehormatannya, dan identitas “ayah” yang selama ini ia gunakan untuk menghinaku.
Aku berbalik, menggandeng tangan Nyonya Sofia, dan berjalan keluar dari ballroom tanpa menoleh lagi. Franco mengira ia mengundangku untuk menyaksikan kemenangannya, namun ia lupa bahwa seorang wanita yang telah dihancurkan habis-habisan tidak akan kembali untuk memohon—ia akan kembali untuk meruntuhkan seluruh istana kebohongan yang dibangun di atas penderitaannya.