Posted in

AKU MEMPERJUANGKAN CINTAKU PADA PEREMPUAN 60 TAHUN — TAPI DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, KEBENARAN YANG TERUNGKAP… MEMBUAT LUTUTKU LEMAS

AKU MEMPERJUANGKAN CINTAKU PADA PEREMPUAN 60 TAHUN — TAPI DI MALAM PERNIKAHAN KAMI, KEBENARAN YANG TERUNGKAP… MEMBUAT LUTUTKU LEMAS

Namaku Arga.
Usiaku 20 tahun, tinggiku 180 cm.

Di usia ini, kebanyakan teman sebayaku masih main game, nongkrong naik motor, dan sibuk cari “cinta pertama.”
Sedangkan aku?

Aku adalah pemuda yang dicap “gila” oleh seluruh kampung karena nekat menikahi seorang perempuan 60 tahun — Bu Citra.

Orang-orang memanggilnya “Bu” bukan karena ia sudah punya cucu,
melainkan karena panggilan hormat di desa kami.

Ia elegan, pendiam, misterius, dan berkecukupan—tapi tak pernah sombong.

Sedangkan aku?
Anak petani.
Tak lulus sekolah.
Tak punya tabungan.
Motor pun tak punya.

Tapi sejak pertama kali aku bertemu dengannya—
saat ia menawarkan air minum karena tanganku melepuh kena percikan las—
ada sesuatu di dirinya yang terasa hangat, dalam, dan sulit kujelaskan.

CINTA YANG TAK MEREKA PAHAMI

Kami jadi dekat.

Ia mengajariku membaca buku keuangan, belajar bahasa Inggris, dan menabung sedikit demi sedikit.
Ia memberiku mimpi—hal yang tak pernah kulihat di dunia teman-temanku.

Dan ya…
aku jatuh cinta.

Bukan karena uangnya.
Bukan karena usianya.
Tapi karena hatinya—yang terasa lebih muda dari mentari pagi di sawah kampung kami.

Saat kuberitahu keluargaku?

“Arga, kamu mempermalukan keluarga!”
“Kamu kena pelet!”
“Kamu cari ibu, bukan istri!”
“Kamu cuma mau manfaatin orang tua!”

Aku cuma menjawab:
“Bu… kalian tidak mengenal Citra.”

Meski satu kampung menertawakanku…
aku tak mundur.

Aku memperjuangkannya.
Aku menikahinya.

MALAM PERNIKAHAN KAMI

Ballroom hotel itu begitu megah.
Ada alunan biola, lampu gantung kristal, dan rangkaian bunga yang harganya mungkin lebih mahal dari motor impianku.

Di tengah semua kemewahan itu,
bagiku Bu Citra adalah perempuan tercantik di dunia—meski usianya 60 tahun.

Tapi ada hal yang mengganjalku…

Terlalu banyak pengawal berdiri di lorong.
Terlalu banyak tamu berpakaian hitam.
Di sudut ruangan, sekelompok pria berdiri rapi, sikapnya seperti mengawal pejabat tinggi.

Aku sempat bingung…
tapi tak bertanya.

Malam makin larut.
Kami hanya berdua di kamar utama hotel yang luas, terasa seperti suite mewah di pusat Jakarta.

Bu Citra menyerahkan sebuah amplop tebal berisi uang tunai ratusan juta rupiah dan kunci sebuah SUV.

“Arga… ini hadiah pernikahanku untukmu,” katanya pelan.

Aku terdiam, napasku tercekat.
Tapi aku tersenyum dan berkata jujur:

“Aku nggak butuh semua itu, Bu Citra.
Aku cuma butuh kamu.”

Bibirnya bergetar.
Matanya berkaca-kaca, seolah menyimpan rahasia besar.

“Arga… ada sesuatu yang harus kamu ketahui…
sebelum kamu benar-benar menerimaku sepenuhnya.”

Tangannya gemetar saat membuka blazer yang dikenakannya…

Dan tepat saat aku hendak menggenggam tangannya—
aku membeku.

Ia melepaskan blazer itu, dan di balik kemeja sutranya, sebuah tato kecil berbentuk lambang bunga teratai merah di pangkal lehernya terlihat jelas. Tapi bukan itu yang membuat lututku lemas.

Di saat yang sama, pintu kamar suite kami diketuk dengan keras. Bukan ketukan biasa, melainkan ketukan yang berwibawa. Sebelum aku sempat bertanya, pintu terbuka.

Tiga orang pria bersetelan jas hitam yang kulihat di ballroom tadi masuk dan menunduk dalam-dalam.

“Nyonya Besar,” ucap salah satu dari mereka dengan suara bariton yang tegas. “Operasi di Singapura telah selesai. Seluruh aset keluarga Prasetyo yang disita dua puluh tahun lalu telah kembali ke tangan Anda. Termasuk bukti-bukti siapa yang menjebak mendiang suami Anda.”

Aku menoleh ke arah Bu Citra—istriku. Wajahnya yang lembut kini berubah dingin dan penuh otoritas.

“Arga,” suaranya tak lagi bergetar. “Aku bukan sekadar wanita tua kaya di desa itu. Dua puluh tahun lalu, aku adalah pelarian. Aku difitnah, hartaku dirampas, dan aku terpaksa bersembunyi di kampungmu untuk bertahan hidup, menunggu waktu yang tepat untuk mengambil kembali kekuasaanku.”

Ia melangkah mendekatiku, menangkup wajahku dengan tangannya yang halus.

“Aku memilihmu bukan karena kebetulan. Aku memperhatikanmu sejak lama. Kejujuranmu, ketulusanmu saat tanganmu melepuh terkena las tanpa mengeluh… itu adalah kualitas yang tidak dimiliki oleh siapapun di duniaku yang penuh pengkhianatan ini.”

Ia terdiam sejenak, lalu membisikkan sesuatu yang membuat jantungku serasa berhenti berdetak.

“Uang ratusan juta dan mobil itu bukan hadiah, Arga. Itu adalah modal awal. Mulai besok, kamu bukan lagi anak petani yang tak lulus sekolah. Kamu adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis yang baru saja kupulihkan. Aku tidak membutuhkan suami untuk melindungiku… aku membutuhkan seseorang yang cukup bersih hatinya untuk memimpin semua ini bersamaku.”

Lututku benar-benar lemas. Aku terduduk di tepi ranjang yang megah itu.

Satu kampung mengira aku menikahi wanita tua demi hartanya. Ternyata, kebenarannya jauh lebih gila: Aku baru saja menikahi seorang ratu bisnis yang sedang menyamar, dan ia baru saja menyerahkan mahkotanya kepadaku.

“Sekarang katakan padaku, Arga,” ia tersenyum misterius, menatap mataku dalam-dalam. “Apakah kamu masih yakin hanya butuh aku, atau kamu siap menguasai dunia bersamaku?”

Di malam pernikahan itu, aku menyadari satu hal: Hidupku yang sederhana telah mati, dan petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.