Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutku masih basah, air menetes di bahuku, tubuhku hanya terbalut handuk putih.

Aku baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutku masih basah, air menetes di bahuku, tubuhku hanya terbalut handuk putih.

Tiba-tiba terdengar bunyi “klik” yang sangat pelan dari ruang tamu.

Awalnya kupikir hanya suara angin.

Namun beberapa detik kemudian… terdengar suara sandal diseret perlahan di lantai.

Detak jantungku langsung berdegup kencang.

Baru dua hari aku pindah ke apartemen ini di kawasan BSD City, Tangerang. Kardus-kardus masih berserakan di lantai. WiFi bahkan belum terpasang.

Mustahil ada orang lain di dalam.

Aku melangkah keluar.

Dan aku membeku.

Di tengah ruang tamu, berdiri seorang wanita paruh baya membelakangiku. Ia mengenakan piyama merah muda.

Dan sandal yang dipakainya—

adalah sandal yang baru saja kubeli pagi tadi di minimarket bawah gedung seharga Rp89.000.

Ia sedang membuka… kulkasku.

Saat mendengar langkahku, ia menoleh.

Tatapan kami bertemu.

Belum sempat aku berbicara, dia lebih dulu bersuara, alisnya berkerut menilaiku dari ujung kepala sampai kaki.

—Kamu penyewa baru ya? Perempuan kok pakaiannya begitu di rumah… nggak malu? Di gedung ini banyak laki-laki. Harusnya kamu bisa jaga diri.

Aku terdiam dua detik.

Seperti ada yang memukul kepalaku.

—…Anda siapa?

Ia menutup kulkas seolah-olah itu rumahnya sendiri.

—Saya tinggal di unit 12B. Nama saya Rini Hartono.

Ia menunjuk ke arah balkon.

—Waktu unit ini kosong, saya yang sering buka buat sirkulasi udara. Bahkan ada beberapa barang saya di luar. Kamu pindah tanpa bilang-bilang, saya kira tadi salah masuk unit.

Aku menoleh ke arah pintu.

Sedikit terbuka.

Tidak ada tanda-tanda dibobol.

Artinya… kunci.

Punggungku terasa dingin.

Aku menyewa unit ini langsung dari pemiliknya, Bapak Ardi Pratama. Ia dengan jelas mengatakan hanya ada satu kunci, dan semuanya ada padaku.

Kalau begitu…

Dari mana wanita ini mendapat kunci?

Sementara aku berpikir, dia terus berbicara seolah dirinya yang paling benar.

—Kardus di balkon jangan dipindah, itu punya saya. Rak sepatu di lorong juga biarkan saja, semua penghuni pakai kok. Kamu tinggal sendiri, jangan terlalu dibesar-besarkan. Harus bisa hidup rukun sama tetangga.

Aku tertawa.

Bukan karena lucu.

Tapi karena aku sangat marah.

Seorang asing.

Masuk ke apartemenku dengan kunci.

Memakai sandalku.

Membuka kulkasku.

Berdiri di ruang tamuku.

Dan mengajariku cara hidup.

Aku mengambil ponsel dari meja, menyalakan kamera, dan mengarahkannya ke wajahnya.

—Ulangi lagi apa yang tadi Anda bilang.

Wajahnya langsung berubah.

—Eh, kamu ngapain?!

—Saya merekam. Untuk bukti.

Aku mengencangkan handukku, menatapnya tajam.

—Dari mana Anda dapat kunci itu? Apartemen siapa yang Anda masuki? Dan Anda pikir Anda sedang bicara dengan siapa?

Suaranya meninggi.

—Kamu ini kurang ajar ya! Dikasih nasihat malah videoin saya! Dulu pemiliknya nggak pernah begini—

Aku menekan tombol panggil.

—Halo, saya mau lapor. Ada orang masuk ke unit saya tanpa izin. Orangnya masih ada di dalam sekarang.

—Kamu gila ya?!

Ia mencoba melangkah mendekat.

Aku mundur dan mendorong kursi kecil di antara kami.

—Satu langkah lagi, saya tambahkan percobaan perampasan ponsel ke laporan.

Ia langsung berhenti.

Dan pada saat itu—

Terdengar suara seorang pria dari luar pintu…

Lanjutan cerita ada di bagian komentar. Di kolom komentar, pilih “Semua Komentar” untuk membaca kelanjutannya… 👇

Suara pria itu terdengar semakin dekat.

—Bu Rini? Ibu ada di dalam lagi ya?

Pintu yang tadi setengah terbuka kini terdorong sepenuhnya. Seorang pria berseragam keamanan berdiri di ambang pintu, napasnya agak terengah.

Di belakangnya… berdiri seorang pria lain yang sangat kukenal.

Pemilik unit ini.

Pak Ardi Pratama.

Wajahnya pucat saat melihat situasi di dalam.

Aku masih memegang ponsel, kamera menyala. Bu Rini berdiri kaku di tengah ruang tamu.

—Pak Ardi, —kataku pelan tapi tegas, —sepertinya ada yang perlu dijelaskan.

Tatapan Pak Ardi berpindah dari aku… ke Bu Rini… lalu ke sandal di kakinya… dan akhirnya ke kulkas yang masih sedikit terbuka.

Satpam angkat bicara lebih dulu.

—Maaf, Mbak. Kami dapat laporan dari penghuni lain. Katanya Bu Rini sering masuk ke unit kosong. Dulu pernah diperingatkan, tapi…

—Tapi apa? —potongku.

Satpam menelan ludah.

—Tapi katanya dia pegang kunci cadangan.

Aku menoleh perlahan ke Pak Ardi.

Udara di ruangan itu terasa berat.

Pak Ardi akhirnya bicara, suaranya rendah.

—Dulu… saya memang pernah titip satu kunci ke Bu Rini. Waktu unit ini belum laku. Untuk bantu cek kalau ada kebocoran atau masalah.

Mataku menyipit.

—Dan ketika saya resmi menyewa dan membayar lunas satu tahun sebesar Rp180 juta… Anda lupa menarik kembali kuncinya?

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Bu Rini tiba-tiba bersuara, nadanya berubah defensif.

—Saya cuma bantu! Unit ini sudah seperti rumah sendiri buat saya! Saya nggak ambil apa-apa!

Aku memutar layar ponsel, memperlihatkan rekaman beberapa menit terakhir.

—Masuk tanpa izin itu sudah pelanggaran. Menggunakan barang pribadi orang lain juga pelanggaran. Dan Anda bilang ini rumah Anda?

Suaraku kini dingin.

—Rumah adalah tempat seseorang merasa aman. Dan Anda baru saja merusak rasa aman saya.

Wajah Bu Rini memerah.

Satpam melangkah maju.

—Bu, mohon ikut kami ke kantor pengelola dulu.

Ia mencoba membantah, tapi kali ini tidak ada yang membelanya.

Saat ia lewat di depanku, untuk pertama kalinya ia tidak lagi terlihat seperti orang yang paling berkuasa di ruangan itu.

Ia terlihat kecil.

Pintu akhirnya tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Aku berdiri diam beberapa detik.

Lalu aku menatap Pak Ardi.

—Besok pagi saya ganti semua kunci. Biayanya Anda tanggung.

Ia langsung mengangguk.

—Tentu. Dan saya benar-benar minta maaf.

Aku tidak menjawab.

Setelah semua orang pergi, aku berdiri sendirian di tengah ruang tamu.

Masih hanya berbalut handuk.

Masih dengan rambut basah.

Tapi kali ini, bukan rasa takut yang kurasakan.

Melainkan kesadaran.

Terkadang, orang seperti Bu Rini tidak benar-benar ingin membantu.

Mereka hanya terbiasa masuk ke ruang hidup orang lain… tanpa pernah diminta.

Aku berjalan ke pintu.

Menguncinya.

Memeriksa dua kali.

Lalu tiga kali.

Dan untuk pertama kalinya sejak pindah ke sini…

Apartemen ini benar-benar terasa seperti milikku.