Aku pergi bersama sahabatku, Raisa, untuk mencoba gaun pengantin di sebuah butik mewah di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Aku pergi bersama sahabatku, Raisa, untuk mencoba gaun pengantin di sebuah butik mewah di kawasan Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Ketika Adrian Wijaya datang menjemputku, aku sengaja mencoba satu gaun backless untuk memperlihatkannya padanya.

Raisa tertawa dan menggoda,
“Eh Adrian, lihat dong Livia. Cocok nggak sih gaun ini? Kayaknya aku harus buru-buru jadi bridesmaid nih.”

Jantungku berdegup cepat. Pipi memerah. Aku menunggu senyum manisnya.

Tapi yang kudapat hanya tatapan dingin.

“Lepas itu,” katanya singkat.
“Kamu sudah bukan anak kecil, Liv. Gaun terbuka seperti itu nggak pantas buat kamu.”

Senyumku membeku.

Rasanya seperti jatuh ke dalam jurang es.

Melihat wajahku yang memucat, Adrian mengangkat tangan dan menyentuh pipiku dengan paksa,
“Aku juga bakal nikahin kamu. Kenapa kamu selalu terburu-buru? Nggak perlu bikin drama buat maksa aku.”

Aku menepis tangannya.

Umurku sudah tiga puluh empat tahun.
Aku tak sanggup menunggu lebih lama.

Dalam rencana masa depan Adrian yang selalu ia sebut sebagai “target lima tahun”, sepertinya tak pernah ada ruang yang jelas untukku.

Tapi itu tak lagi penting.

Akhir bulan ini, aku akan menikah.

Namun bukan dengannya.


Raisa marah besar di dalam mobil.

“Liv, ada apa sih sama Adrian? Dia mempermalukan kamu di depan orang banyak! Dulu waktu PDKT dia bilang mau nikah dalam lima tahun. Ini sudah masuk lima belas tahun, tapi cincin pun nggak ada!”

Aku hanya tersenyum pahit sambil memandangi bayanganku di kaca spion.

Kulitku tak lagi semulus usia dua puluh.
Di punggungku masih ada bekas luka panjang—luka saat aku menahan tusukan yang seharusnya mengarah pada Adrian, dulu.

Aku melepas gaun itu dan keluar dari ruang ganti.

Adrian menurunkan ponselnya dan memandangku dari atas ke bawah.

“Nggak usah lebay,” katanya ringan.
“Aku cuma jujur. Kenapa sih kamu selalu ribut soal nikah?”

Aku tak lagi menyandarkan diri pada sentuhannya seperti dulu.

Ia terlihat tak sabar.

“Pulanglah sama Raisa. Malam ini aku ada business party di SCBD.”

Belum selesai ia bicara, seorang perempuan cantik masuk ke butik dan langsung merangkul lengannya.

“Livia, Adrian pinjam dulu ya. Aku jadi MC di acara malam ini. Next time kita ngopi.”

Namanya Nadya.
Host radio populer di Jakarta.

Tatapan para pegawai butik penuh rasa iba padaku ketika mereka pergi bersama.


Dalam perjalanan pulang, Raisa menggerutu,
“Sekarang ke mana pun Adrian pergi, Nadya yang dia ajak. Orang-orang sudah bilang kamu cuma formalitas, dan dia bakal ninggalin kamu. Jangan bodoh, Liv.”

Aku ingin membela Adrian.
Lima belas tahun bersama bukan waktu yang sebentar.

Tapi entah kenapa… aku tak bisa lagi berbicara.


Sebulan lalu, saat menyetir pulang lembur melewati Jalan Sudirman, aku mendengar siaran radio Nadya.

Ada penelepon pria dengan suara yang sangat kukenal.

“Pacar saya terlalu maksa nikah. Saya jadi tertekan. Dia sudah nggak muda lagi, nggak selucu dulu. Drama terus, bikin capek. Kadang saya malas pulang lihat wajahnya.”

Tanganku gemetar.

Mobilku menabrak pembatas jalan.

Di rumah sakit, perawat bertanya siapa yang harus dihubungi.

Aku menggeleng.

Dia bukan keluarga.
Dia hanya pria yang tak pernah berniat menjadikanku istri.


Malam itu, ketika aku pulang dengan perban di lengan dan lebam di dahi, Adrian sedang mendengarkan ulang siaran Nadya.

Ia bahkan tak menyadari kondisiku.

“Sudah tidur saja,” katanya datar.
“Jangan karena lihat teman nikah, kamu jadi ikut-ikutan. Aku kan nggak pernah bilang nggak bakal nikahin kamu.”

Dengan tenang aku menjawab,
“Adrian, kita putus.”


Wajahnya menggelap lalu tertawa sinis.

“Jangan drama tengah malam begini.”

Ponselnya berbunyi.

Nama Nadya.

Ia langsung mengambil jaketnya.

“Nadya lagi haid dan sakit perut. Nggak ada obat di rumahnya. Aku cuma antar obat. Liv, umur kamu sudah segini. Kalau putus dariku, paling juga dapat duda.”

Aku mengangguk tenang.

“Di luar dingin. Pakai jaket yang tebal.”

Ia tertegun.

Ia menunggu aku marah. Menangis. Mengamuk.

Tapi tidak.

Sebelum pergi, ia masih berkata,
“Jangan mikir aneh-aneh. Nggak ada apa-apa antara aku dan Nadya.”


Setelah pintu tertutup, aku mulai berkemas.

Di bawah lemari, aku menemukan kaleng besi tua berisi surat-surat lama.

Salah satunya bertuliskan:

“Livia, aku janji akan belajar keras supaya kita kuliah di kampus yang sama. Nanti kamu jadi pacarku ya.”

Tulisan tangan itu milik Adrian—
lima belas tahun lalu.

Aku menutup mata.

Lalu perlahan tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya…
aku tidak merasa kehilangan.

Aku merasa bebas.

Dan di akhir bulan ini, ketika aku berjalan menuju pelaminan dengan gaun sederhana berharga 12 juta rupiah yang kubeli dengan uangku sendiri—

aku tidak lagi menunggu seseorang memilihku.

Aku memilih diriku sendiri.

Dan kali ini…
tidak ada yang bisa menunda kebahagiaanku lagi.

Hari pernikahanku diadakan di sebuah hotel kecil di tepi danau di Jakarta.

Tidak semewah pesta-pesta yang biasa dihadiri Adrian.
Tidak dipenuhi pebisnis atau orang terkenal.

Tapi semuanya kupilih sendiri.

Gaun pengantinku tidak terbuka di bagian punggung.
Bukan karena takut dinilai.
Hanya karena aku menyukainya.

Raisa berdiri di sampingku, matanya berkaca-kaca.

“Akhirnya hari ini datang juga…” bisiknya.

Aku tersenyum.

Namun tepat saat itu…

Pintu aula terbuka.

Adrian muncul.

Ia mengenakan setelan hitam. Wajahnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali kulihat. Tidak ada Nadya di sampingnya.

Hanya dia.

“Livia.”

Ia memanggil namaku dengan suara serak.

Ruangan mendadak sunyi.

“Aku dengar kamu menikah… aku tidak percaya.”
Ia melangkah maju.
“Kamu cuma marah padaku, kan? Makanya kamu melakukan ini?”

Aku menatap pria yang pernah mengisi hampir setengah hidupku.

Dulu, satu kerutan di dahinya saja bisa membuat jantungku bergetar.

Sekarang…

Aku tenang. Sangat tenang.

“Adrian,” kataku jelas di depan semua orang,
“kamu sudah berjanji berkali-kali. Lima tahun. Lalu lima tahun lagi. Dan lima tahun lagi.”

“Tapi kamu tidak pernah berjanji untuk hari ini.”

Ia terdiam.

“Aku cuma butuh sedikit waktu lagi—”

“Aku sudah memberimu lima belas tahun.”

Suaraku tidak bergetar.
Tidak penuh amarah.

Hanya kebenaran.

“Aku tidak meninggalkanmu karena aku berhenti mencintaimu. Aku pergi karena aku belajar bahwa… mencintai seseorang bukan berarti harus menunggu sampai dia memilih kita.”

Matanya memerah.

“Livia… aku bisa melamarmu sekarang juga.”

Beberapa tamu mulai berbisik.

Aku tersenyum kecil.

“Tapi aku sudah tidak ingin dilamar lagi.”

Aku berbalik.

Pria yang menungguku di ujung lorong bukanlah pria paling sempurna di dunia.

Dia hanya pernah mengatakan satu hal setelah tahu seluruh ceritaku:

“Kalau kamu sudah terlalu lama menunggu, sekarang biar aku yang menunggumu.”

Tidak ada janji lima tahun.
Tidak ada rencana kosong.

Hanya hari ini.

Aku melangkah maju.

Setiap langkah terasa seperti melepaskan masa lalu dari pundakku.

Ketika tanganku menggenggam tangan mempelai pria, aku mendengar langkah di belakangku berhenti.

Adrian tidak mendekat lagi.

Akhirnya dia mengerti—
aku tidak lagi berdiri di tempat dia meninggalkanku.


Setelah acara selesai, aku menerima sebuah pesan.

“Aku salah. Mungkin kamu benar karena memilih pergi.”

Aku tidak membalasnya.

Bukan karena marah.

Tapi karena memang tidak ada lagi yang perlu dikatakan.

Malam itu, saat aku melepas gaun pengantin dan melihat diriku di cermin, aku tidak melihat perempuan yang ditinggalkan.

Aku melihat perempuan yang berani pergi ketika dia tidak lagi dihargai.

Lima belas tahun mengajarkanku cara mencintai seseorang.

Tapi keputusan untuk pergi…
mengajarkanku cara mencintai diriku sendiri.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

Aku tidak lagi menunggu seseorang kembali.

Aku sedang berjalan maju.