ISTRI MENYEMBUNYIKAN KARTU ATM SUAMI DAN TAK MEMBERINYA UANG BAHKAN UNTUK PENGELUARAN KECIL — SUAMI MENGIRA ISTRINYA PELIT, NAMUN IA MENANGIS SAAT MELIHAT KEJUTAN ISTRINYA
Setiap tanggal gajian, dada Budi selalu terasa berat saat ia menyerahkan kartu ATM-nya kepada istrinya, Sari. Budi bekerja sebagai operator mesin di sebuah pabrik di kawasan industri dekat Bekasi. Pekerjaannya berat, panas, dan melelahkan. Tapi setiap menerima gaji, ia merasa seolah-olah tidak punya hak atas uang hasil keringatnya sendiri.
“Ini kartunya…” kata Budi dengan nada kesal saat pulang kerja. “Boleh nggak aku minta lima puluh ribu? Teman-teman ngajak nongkrong sebentar. Ulang tahun si Doni.”
Sari menerima kartu ATM itu, lalu menggeleng pelan. Wajahnya serius, nyaris tanpa ekspresi.
“Kita nggak ada budget buat nongkrong, Bud. Uang ini pas-pasan buat listrik, air, dan bayar kontrakan ke Bu Wati. Ini, dua puluh ribu. Buat beli pulsa.”
“Dua puluh ribu?!” suara Budi meninggi. “Aku kerja banting tulang seharian, terus cuma segini yang boleh aku pegang? Kamu pelit banget, Sar! Istri orang lain aja suka ngasih ‘hadiah’ ke suaminya!”
“Budi, kamu tahu kondisi kita,” jawab Sari pelan sambil menulis di buku catatannya.
“Kalau kamu pakai lima puluh ribu, nanti beras kita kurang. Sabar dulu, ya.”
Karena kesal, Budi mendiamkan Sari beberapa hari. Selama tiga tahun pernikahan mereka, hidup selalu seperti ini. Budi merasa dirinya “di bawah kendali istri”. Dalam hati, ia mulai curiga: mungkin uang itu dikirim Sari ke orang tuanya di kampung, atau disimpan diam-diam untuk dirinya sendiri.
Ia iri melihat teman-teman kerjanya yang bisa beli sepatu baru atau liburan kecil saat akhir pekan. Sementara dia? Kerja–pulang, kerja–pulang. Sepatunya sudah tipis solnya, tas kerjanya rusak ritsletingnya.
Suatu malam, Budi pulang kehujanan. Wajahnya masam karena ibu pemilik kontrakan, Bu Wati, kembali menagih.
“Kata Bu Wati, besok kita harus bayar atau angkat kaki!” gerutu Budi sambil mengeringkan rambut.
“Capek, Sar! Apa kita bakal seumur hidup ngontrak di rumah reyot ini? Kalau kamu nggak pelit soal uang, mungkin kita sudah pindah ke tempat yang lebih layak!”
Sari tidak menjawab. Ia hanya menyajikan makan malam: telur goreng dan ikan asin — menu hemat andalannya. Budi kehilangan selera. Ia tidur tanpa bicara sepatah kata pun.
Keesokan harinya, tepat hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-10. Budi tidak berniat merayakan apa pun. Ia pikir, pasti makan malamnya tetap sederhana.
Namun saat pulang kerja, ia terdiam.
Di meja kecil ruang tamu, tersaji ayam bakar utuh dan mi goreng. Sari berdandan rapi, mengenakan gaun lama yang dulu ia pakai saat masih pacaran.

“Selamat ulang tahun pernikahan, Mas,” kata Sari sambil tersenyum. Di tangannya, ada sebuah amplop cokelat tebal.
“Itu apa? Tagihan lagi?” Budi mencibir.
“Listrik? Air? Atau surat pengusiran dari Bu Wati?”
“Buka saja,” ujar Sari lembut.
Budi merobek amplop itu dengan kasar, siap untuk meluapkan kekesalannya. Namun, saat melihat isinya, tangannya mendadak kaku.
Bukan tagihan. Bukan surat pengusiran.
Di dalamnya terdapat sebuah sertifikat tanah atas nama Budi Santoso, selembar kunci rumah baru dengan gantungan mungil berbentuk rumah, dan sebuah buku tabungan yang berisi saldo yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“S-Sar… ini apa?” suara Budi bergetar hebat.
Sari mendekat, ia menggenggam tangan Budi yang kasar dan kapalan. “Mas… maafkan aku kalau selama ini aku terlihat pelit. Aku tahu kamu malu di depan teman-temanmu. Aku tahu kamu ingin sepatu baru dan tas baru.”
Sari mengusap air mata yang mulai jatuh di pipi Budi.
“Tapi aku tahu impian terbesar kita adalah punya atap sendiri. Setiap rupiah yang kamu minta untuk nongkrong, aku tabung. Setiap uang rokok yang kamu relakan, aku jadikan batu bata. Aku tidak pernah mengirim uang ke kampung, Mas. Aku juga tidak beli baju baru untuk diriku sendiri selama tiga tahun ini.”
Budi menatap buku tabungan itu. Di sana tertera ribuan transaksi kecil: Rp10.000, Rp20.000, Rp5.000. Sari ternyata mengumpulkan sisa uang belanja dengan sangat teliti. Ia memotong uang lauknya sendiri demi menambah tabungan rumah mereka.
“Rumah itu kecil, Mas. Di perumahan subsidi daerah Cikarang. Tapi itu milik kita. Kita tidak perlu lagi takut diusir Bu Wati setiap bulan,” bisik Sari.
Budi langsung menjatuhkan dirinya bersimpuh di kaki Sari. Isak tangisnya pecah memenuhi ruangan kontrakan yang sempit itu. Ia merasa sangat kecil, sangat berdosa karena telah menganggap istrinya sebagai penjara, padahal istrinya adalah malaikat yang sedang membangun istana untuk mereka.
“Maafin aku, Sar… aku suami yang bodoh,” ratap Budi di sela tangisnya. “Aku sering marah padahal kamu sedang berjuang sendirian buat masa depan kita.”
Sari memeluk kepala suaminya dengan penuh kasih. “Jangan menangis, Mas. Besok kita pindah. Oh iya, di bawah amplop itu ada satu lagi.”
Budi merogoh amplop itu dan menemukan sebuah kotak kecil. Isinya adalah sebuah jam tangan baru dan dompet kulit yang bagus untuk menggantikan dompet Budi yang sudah koyak.
“Aku membelinya dari hasil aku berjualan pulsa dan kue titipan di warung depan tanpa sepengetahuanmu,” ucap Sari lembut. “Sekarang, makanlah. Hari ini kita tidak makan ikan asin lagi.”
Malam itu, di rumah kontrakan yang akan segera mereka tinggalkan, Budi belajar bahwa cinta tidak selalu berbentuk kemewahan yang terlihat, tapi seringkali bersembunyi di balik penghematan, kesabaran, dan doa-doa seorang istri yang luar biasa.