“KAMU KAN BUTA, JADI NGGAK AKAN PERNAH LIHAT KALAU AKU SELINGKUH” — BISIK SUAMIKU SAAT MENCUM BEST FRIEND-KU DI DEPANKU. TAPI DI HARI PENANDATANGANAN WARISAN, AKU MELEPAS KACAMATAMU DAN BERKATA: “AKU MELIHAT KALIAN.”
Namaku Aurelia Pranata.
Aku adalah pewaris Pranata Group, salah satu keluarga konglomerat ternama di Jakarta.
Dua tahun lalu, aku mengalami kecelakaan mobil.
Ayahku meninggal di tempat.
Aku selamat… tapi kehilangan penglihatanku.
Karena tak punya kerabat dekat, suamiku Raka menjadi “mataku.”
Dialah yang menuntunku berjalan, yang mengurus perusahaan, yang menyuapiku makan, yang menandatangani dokumen atas namaku.
Di mata semua orang, Raka adalah suami teladan.
Pria setia yang tak meninggalkan istrinya meski istrinya cacat.
Media memujanya. Dewan direksi menaruh hormat padanya.
Tapi di dalam mansion kami… hidupku adalah neraka.
Raka mengira karena aku buta, aku juga tuli.
Setiap hari, aku mendengar langkah kaki Nadia, sahabatku sejak SMA, masuk ke rumah.
Nadia yang kupikir datang menemaniku…
ternyata datang untuk memeluk suamiku.

“Sayang,” bisik Raka saat aku duduk diam di kursi roda di sudut ruang tamu.
“Kenapa perempuan ini nggak mati-mati sih? Aku muak mengurusnya.”
“Tahan sedikit lagi,” jawab Nadia sambil tertawa pelan.
Aku mendengar suara kecupan mereka.
Kulit bertemu kulit.
“Kalau dokumen pengalihan hak waris sudah dia tanda tangan, semua aset miliaran itu jadi milik kita,” lanjut Nadia.
“Setelah itu… kita dorong saja dia dari tangga. Bikin seolah-olah kecelakaan.”
Tubuhku gemetar.
Aku ingin berteriak.
Ingin bangkit dan menampar wajah mereka.
Tapi aku memilih diam.
Aku memilih berpura-pura menjadi “mayat hidup.”
Karena ada satu rahasia yang mereka tak tahu.
Sebulan lalu… penglihatanku sudah kembali.
Operasi transplantasi kornea yang kulakukan diam-diam di Amerika berhasil.
Kepada Raka, aku hanya bilang itu pemeriksaan ginjal rutin.
Aku melihat semuanya sekarang.
Aku melihat bagaimana mereka meludahi kopiku diam-diam.
Aku melihat bagaimana mereka tertawa sambil menghitung uangku.
Aku melihat kebencian di mata suamiku saat ia menatapku seolah aku beban.
Aku menahan semuanya…
demi satu malam pembalasan.
MALAM PENENTUAN
Malam ini adalah ulang tahun ke-10 Pranata Group.
Pesta digelar di ballroom hotel milikku di pusat Jakarta.
Malam ini juga, Raka berencana mengumumkan di depan Dewan Direksi dan media bahwa seluruh aset resmi berpindah ke namanya—
setelah aku menandatangani dokumen pengalihan hak waris di atas panggung.
Mereka pikir aku masih buta.
Mereka pikir aku tak tahu apa-apa.
Padahal…
aku sudah melihat segalanya.
Raka berdiri di atas panggung dengan percaya diri. Ia memegang mik, suaranya terdengar begitu penuh empati dan haru hingga mampu menipu seluruh isi ruangan.
“Istriku, Aurelia, adalah pahlawan hidupku. Meski ia tak lagi bisa melihat dunia, aku berjanji akan menjadi matanya selamanya. Demi kelangsungan perusahaan yang dibangun mendiang mertuaku, malam ini Aurelia akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepadaku.”
Tepuk tangan bergemuruh. Nadia berdiri di barisan depan, mengenakan gaun merah yang sangat mencolok—gaun yang dia beli menggunakan kartu kreditku. Ia tersenyum kemenangan ke arah Raka.
Dua orang asisten membawaku naik ke panggung dengan kursi roda. Raka membungkuk, berbisik tepat di telingaku dengan nada yang penuh racun.
“Ayo, si Buta sayang… tanda tangan di sini. Setelah ini, kamu boleh ‘istirahat’ selamanya di dasar jurang.”
Ia menyodorkan sebuah pulpen emas dan mengarahkan tanganku ke atas dokumen setebal 50 halaman. Raka sengaja mematikan lampu sorot utama agar orang-orang tidak melihat detail dokumen itu, menyisakan lampu remang yang dramatis.
Aku memegang pulpen itu. Jemariku gemetar, tapi bukan karena takut.
“Raka,” suaraku terdengar tenang lewat mikrofon yang masih menyala. “Ada satu pasal yang belum kamu baca.”
Raka mengerutkan kening. “Apa maksudmu? Cepat tanda tangan!”
“Pasal yang menyebutkan bahwa pengalihan ini hanya sah jika disaksikan oleh pemilik sah yang memiliki kesadaran penuh dan indera yang berfungsi.”
Tiba-tiba, lampu ballroom menyala terang benderang. Aku bangkit dari kursi roda, berdiri dengan tegak di atas sepatu hak tinggiku. Seluruh tamu undangan terkesiap.
Raka mundur selangkah, wajahnya pucat. “Aurelia, apa yang kamu lakukan? Kamu jangan bicara sembarangan, kamu itu buta—”
Perlahan, aku melepas kacamata hitam yang menutupi wajahku selama berbulan-bulan. Aku menatap matanya tepat di pupilnya—tajam, dingin, dan penuh api dendam.
“Aku tidak buta, Raka. Aku melihat semuanya.”
Aku melangkah maju, mendekati mikrofon.
“Aku melihat saat kamu mencium Nadia di depanku. Aku melihat saat kalian merencanakan kematianku di ruang tamu rumahku sendiri. Dan aku melihat bagaimana kalian menggunakan uang ayahku untuk membiayai perselingkuhan kalian yang menjijikkan.”
Layar besar di belakang panggung yang seharusnya menampilkan sejarah perusahaan tiba-tiba berubah. Video CCTV rahasia yang kupasang bulan lalu terputar: Rekaman Raka dan Nadia di kamarku, rekaman saat mereka meludahi kopiku, dan rekaman percakapan mereka tentang rencana pembunuhanku.
Nadia mencoba lari, tapi pintu ballroom sudah dijaga oleh pihak kepolisian yang telah kuhubungi sebelumnya.
“Dokumen yang baru saja aku tanda tangani bukanlah pengalihan waris,” kataku sambil merobek kertas di atas meja. “Itu adalah laporan pembatalan pernikahan dan bukti penggelapan dana perusahaan yang kamu lakukan selama dua tahun ini.”
Raka berlutut, lututnya benar-benar lemas. Ia mencoba meraih kakiku, tapi aku menghindar seolah ia adalah kotoran.
“Kamu bilang aku tak akan pernah lihat kalau kamu selingkuh?” Aku tersenyum tipis, menatapnya dengan penuh penghinaan. “Sekarang, lihatlah baik-baik… karena mulai hari ini, satu-satunya hal yang akan kamu lihat hanyalah jeruji besi penjara.”
Malam itu, bukan hanya penglihatanku yang kembali. Kekuasaanku pun kembali, lebih kuat dari sebelumnya.