Ayahku sudah berusia lebih dari 75 tahun dan tinggal sendirian… tapi setiap bulan dia membayar hampir Rp5.000.000 untuk listrik. Sudah berkali-kali aku memintanya untuk lebih hemat energi, tapi dia tidak pernah benar-benar menjawabku. Karena kesal dan khawatir, aku akhirnya memutuskan untuk mematikan listrik di rumahnya tanpa sepengetahuannya.
Aku sama sekali tidak menyangka… bahwa beberapa hari kemudian, aku akan menerima sebuah telepon yang mengguncang seluruh hidupku.
Ayahku, Pak Budi, berusia tujuh puluh lima tahun. Ia tinggal sendirian di sebuah kota kecil di daerah Garut, Jawa Barat, sejak ibuku meninggal tiga tahun lalu.
Meski usianya sudah lanjut, tubuhnya masih cukup kuat. Ia menanam sayuran sendiri di halaman, memasak makanannya sendiri, dan setiap pagi masih bersepeda ke pasar tradisional.
Aku tinggal di Jakarta. Walaupun berusaha pulang jika ada waktu, kenyataannya pekerjaan dan kehidupan kota sering menyita seluruh hariku. Kadang aku hanya pulang satu akhir pekan, lalu kembali lagi ke rutinitas.
Minggu lalu, saat membuka aplikasi PLN Mobile, aku melihat namanya di daftar pelanggan yang terdaftar di akunku.
Tagihan bulan ini: Rp4.980.000.
Aku menatap layar cukup lama, berpikir mungkin aku salah baca.
Bagaimana mungkin?
Di rumah itu hanya ada satu orang.
Tidak ada AC.
Tidak ada mesin cuci.
Tidak ada pemanas air.
Bahkan microwave pun tidak ada.
Tapi konsumsi listriknya lebih besar daripada apartemenku di Jakarta.
Aku langsung meneleponnya.
— Yah, kenapa tagihan listrik Ayah hampir lima juta? — tanyaku.
— Tidak tahu, Nak… mungkin PLN salah hitung, — jawabnya santai.
— Ini bukan cuma bulan ini! Sudah beberapa bulan Ayah bayar hampir lima juta!
— Mungkin kulkas lama kita itu… kamu tahu sendiri, barang lama boros listrik.
Nada suaranya terdengar menghindar, seakan tidak ingin membahasnya.
Itu justru membuatku semakin kesal.
Ayahku orangnya sangat hemat. Ia tipe yang menyimpan plastik bekas untuk dipakai lagi, menyimpan baut kecil “siapa tahu suatu hari berguna”, bahkan bohlam rusak pun diperbaiki dulu sebelum membeli yang baru. Aku sulit percaya kalau tiba-tiba dia menjadi ceroboh.
Aku mulai berpikir… mungkin daya ingatnya mulai menurun, lebih dari yang ingin kuakui.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
Sabtu sore, aku menyetir hampir tiga jam dari Jakarta ke Garut.
Jalanan dipenuhi sawah kering, pohon-pohon tinggi, dan bunga liar di pinggir jalan. Rumah masa kecilku masih berdiri di sana:
Cat temboknya mulai mengelupas.
Atap sengnya sudah tua.
Tapi tetap bersih, rapi, dan sunyi… sunyi yang hanya dimiliki rumah yang pernah kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
Ayah menyambutku di gerbang dengan senyum tenang. Tangannya masih berlumur tanah karena baru saja menyiram tanaman.
— Wah, anakku masih ingat ayah tuanya, ya, — katanya bercanda.
Aku memeluknya. Tapi sambil berbincang, diam-diam mataku mengamati sekeliling rumah.
Tidak ada yang mencurigakan.
Sebuah kipas angin kecil.
Televisi tabung tua.
Blender lama.
Ketel listrik yang sudah agak berkarat.
Hanya itu.
Tapi ada satu hal yang menarik perhatianku.
Di ujung lorong, ada satu kamar yang terkunci.
Aku bertanya kamar apa itu.
Ayah menjawab tanpa menatapku:
— Itu kamar Ibumu. Barang-barangnya masih di sana… pakaian, kenangan, beberapa kotak. Tidak ada yang penting.
Aku tidak memaksa.
Namun malam itu aku menyadari sesuatu.
Lampu ruang tamu dan lorong menyala sepanjang malam.
Keesokan harinya pun sama.
Saat kutanya, ia berkata:
— Mata Ayah sudah tidak jelas kalau gelap. Takut tersandung.
Jawabannya masuk akal… tapi tetap terasa ada yang kurang.
Keesokan harinya, saat ia tidur di kursi kayu di halaman, aku melihat meteran listrik.
Jantungku serasa berhenti.
Meterannya berputar sangat cepat.
Ini bukan kesalahan sistem.
Bukan kesalahan PLN.
Memang ada konsumsi besar di rumah itu.
Pikiranku langsung menuju kamar Ibu.
Bagaimana kalau ada alat listrik di sana yang menyala 24 jam?
AC portable?
Pemanas?
Alat lama yang rusak dan tetap menyala?
Aku mencoba bertanya lagi, tapi ia kembali menghindar.
Dan saat itu… emosiku meledak.
Aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku.
Sebelum pulang ke Jakarta, diam-diam aku mencatat nomor meterannya.
Di perjalanan pulang, aku menelepon seorang teman yang bekerja di PLN.
— Bisa tidak listrik rumah Ayahku dimatikan sementara beberapa hari? Aku khawatir ada instalasi yang berbahaya, — kataku.
Ia menjawab:
— Kalau dilaporkan sebagai pemeriksaan keamanan internal, bisa saja diputus sementara untuk pengecekan.
Tanpa berpikir panjang, aku menyetujuinya.
Saat itu aku yakin aku benar.
Aku merasa sedang melindunginya.
Melakukan kewajibanku sebagai anak.
Aku tidak pernah membayangkan…
Beberapa hari kemudian, telepon dari tetangga akan membuat kakiku gemetar.
“Pak Budi pingsan di rumah… rumahnya gelap sejak kemarin. Dan… kamar almarhumah istri beliau ternyata berisi sesuatu yang tidak pernah kamu bayangkan…”
Bersambung…

Tanganku gemetar saat menerima telepon itu.
“Mas… Pak Budi pingsan di rumah. Listriknya sudah beberapa hari mati. Kami terpaksa mendobrak kamar yang terkunci itu…”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai di mobil. Perjalanan dari Jakarta ke Garut terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung. Sepanjang jalan, pikiranku hanya dipenuhi satu pertanyaan:
Apa yang sebenarnya ada di kamar itu?
Saat aku tiba, ambulans sudah pergi. Tetangga-tetangga berdiri di luar rumah dengan wajah muram. Lampu rumah masih padam. Hanya cahaya sore yang redup menerangi halaman.
Aku langsung berlari ke kamar yang dulu selalu terkunci.
Dan di sanalah… aku melihatnya.
Bukan AC.
Bukan pemanas.
Bukan alat aneh apa pun.
Di dalam kamar itu berdiri sebuah lemari pendingin besar khusus penyimpan bunga dan makanan… dan di sampingnya, sebuah kotak kaca kecil dengan lampu hangat menyala.
Di dalam kotak itu ada puluhan makanan yang tersusun rapi.
Nasi hangat. Lauk sederhana. Sup sayur. Ikan goreng.
Setiap hari.
Di dinding kamar, tergantung foto besar ibuku.
Dan di bawahnya, sebuah meja kecil dengan dua kursi.
Di salah satu kursi ada piring, sendok, dan segelas teh.
Lampu di kamar itu menyala 24 jam.
Kulkas pendingin itu menyala tanpa henti.
Karena setiap hari… ayahku memasak dua porsi.
Satu untuk dirinya.
Dan satu lagi… untuk Ibu.
Ia menyimpan makanan itu agar “tidak basi kalau Ibu pulang larut”.
Tetanggaku mendekat pelan dan berkata dengan suara lirih,
“Sejak istrinya meninggal, Pak Budi selalu bilang, ‘Ibumu takut gelap. Jadi lampunya jangan pernah dimatikan.’ Dia juga bilang, ‘Kalau suatu hari dia pulang, rumah harus terang dan makanannya sudah siap.’”
Kakiku tak sanggup lagi menahan tubuhku.
Aku jatuh terduduk di lantai.
Tagihan lima juta rupiah itu… bukan karena pemborosan.
Itu karena seorang lelaki tua yang tidak pernah benar-benar berhenti mencintai istrinya.
Aku… yang mematikan listrik itu.
Aku yang membuat rumah itu gelap.
Aku yang memadamkan cahaya yang ia nyalakan untuk seseorang yang telah tiada.
Di rumah sakit, ayah sadar malam itu.
Begitu melihatku, ia tersenyum lemah.
“Maaf ya, Nak… Ayah tidak bilang. Ayah takut kamu menganggap Ayah gila.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Ayah cuma tidak mau rumah ini gelap. Ibumu tidak suka gelap… dan Ayah tidak mau dia pulang ke rumah yang dingin.”
Aku menggenggam tangannya erat-erat.
Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa cinta tidak selalu rasional.
Tidak selalu masuk akal.
Tapi itu nyata.
Dan sering kali… jauh lebih dalam daripada yang bisa kita pahami.
Beberapa minggu kemudian, aku mengurus agar listrik kembali menyala. Tapi kali ini, aku memasang sistem yang lebih hemat energi dan aman.
Kamar itu tetap ada.
Lampunya tetap menyala di malam hari.
Tapi sekarang… aku pulang lebih sering.
Kadang aku duduk di kursi kosong itu, di depan foto Ibu, dan berkata pelan,
“Bu, Ayah masih menunggu. Tapi sekarang… aku juga di sini.”
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menganggap tagihan listrik sebagai sekadar angka.
Karena aku tahu…
Di balik setiap cahaya yang menyala, mungkin ada hati yang sedang berusaha mempertahankan kenangan.