Tanganku gemetar saat menerima telepon itu.
“Mas… Pak Budi pingsan di rumah. Listriknya sudah beberapa hari mati. Kami terpaksa mendobrak kamar yang terkunci itu…”
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai di mobil. Perjalanan dari Jakarta ke Garut terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung. Sepanjang jalan, pikiranku hanya dipenuhi satu pertanyaan:
Apa yang sebenarnya ada di kamar itu?
Saat aku tiba, ambulans sudah pergi. Tetangga-tetangga berdiri di luar rumah dengan wajah muram. Lampu rumah masih padam. Hanya cahaya sore yang redup menerangi halaman.
Aku langsung berlari ke kamar yang dulu selalu terkunci.
Dan di sanalah… aku melihatnya.
Bukan AC.
Bukan pemanas.
Bukan alat aneh apa pun.
Di dalam kamar itu berdiri sebuah lemari pendingin besar khusus penyimpan bunga dan makanan… dan di sampingnya, sebuah kotak kaca kecil dengan lampu hangat menyala.
Di dalam kotak itu ada puluhan makanan yang tersusun rapi.
Nasi hangat. Lauk sederhana. Sup sayur. Ikan goreng.
Setiap hari.
Di dinding kamar, tergantung foto besar ibuku.
Dan di bawahnya, sebuah meja kecil dengan dua kursi.
Di salah satu kursi ada piring, sendok, dan segelas teh.
Lampu di kamar itu menyala 24 jam.
Kulkas pendingin itu menyala tanpa henti.
Karena setiap hari… ayahku memasak dua porsi.
Satu untuk dirinya.
Dan satu lagi… untuk Ibu.
Ia menyimpan makanan itu agar “tidak basi kalau Ibu pulang larut”.
Tetanggaku mendekat pelan dan berkata dengan suara lirih,
“Sejak istrinya meninggal, Pak Budi selalu bilang, ‘Ibumu takut gelap. Jadi lampunya jangan pernah dimatikan.’ Dia juga bilang, ‘Kalau suatu hari dia pulang, rumah harus terang dan makanannya sudah siap.’”
Kakiku tak sanggup lagi menahan tubuhku.
Aku jatuh terduduk di lantai.
Tagihan lima juta rupiah itu… bukan karena pemborosan.
Itu karena seorang lelaki tua yang tidak pernah benar-benar berhenti mencintai istrinya.
Aku… yang mematikan listrik itu.
Aku yang membuat rumah itu gelap.
Aku yang memadamkan cahaya yang ia nyalakan untuk seseorang yang telah tiada.
Di rumah sakit, ayah sadar malam itu.
Begitu melihatku, ia tersenyum lemah.
“Maaf ya, Nak… Ayah tidak bilang. Ayah takut kamu menganggap Ayah gila.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Ayah cuma tidak mau rumah ini gelap. Ibumu tidak suka gelap… dan Ayah tidak mau dia pulang ke rumah yang dingin.”
Aku menggenggam tangannya erat-erat.
Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa cinta tidak selalu rasional.
Tidak selalu masuk akal.
Tapi itu nyata.
Dan sering kali… jauh lebih dalam daripada yang bisa kita pahami.
Beberapa minggu kemudian, aku mengurus agar listrik kembali menyala. Tapi kali ini, aku memasang sistem yang lebih hemat energi dan aman.
Kamar itu tetap ada.
Lampunya tetap menyala di malam hari.
Tapi sekarang… aku pulang lebih sering.
Kadang aku duduk di kursi kosong itu, di depan foto Ibu, dan berkata pelan,
“Bu, Ayah masih menunggu. Tapi sekarang… aku juga di sini.”
Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menganggap tagihan listrik sebagai sekadar angka.
Karena aku tahu…
Di balik setiap cahaya yang menyala, mungkin ada hati yang sedang berusaha mempertahankan kenangan.
