Tiga tahun kami menikah secara rahasia, dan aku mengandung anak dari Hiram Sy-Tieng.

Tiga tahun kami menikah secara rahasia, dan aku mengandung anak dari Hiram Sy-Tieng.

Untuk menghindari gosip di perusahaan kami di kawasan bisnis Jakarta, kami tidak pernah berbicara lebih dari urusan pekerjaan. Sampai hari itu tiba—morning sickness yang hebat, mual seperti isi perutku diaduk-aduk, dan nyeri di perut bawah yang tak lagi bisa kutahan.

Di tangga darurat kantor, aku menggenggam ujung jas mahalnya dan memohon:

“Hiram, aku benar-benar tidak kuat… Bisa antar aku ke rumah sakit? Sekarang saja.”

Ia sempat ragu, tetapi suaranya tetap dingin:

“Jangan buat keributan. Di perusahaan ini, kita hanya rekan kerja.”

Aku keluar sendirian di tengah hujan deras di Jalan Sudirman, menunggu taksi online. Saat pintu mobil tertutup, aku melihat—

Hiram membungkuk dan dengan hati-hati mengangkat Wendy, intern baru itu, untuk didudukkan di kursi depan. Suaranya rendah dan penuh perhatian:

“Hati-hati, nanti kepalamu terbentur.”

Aku tidak menangis. Aku juga tidak menoleh lagi. Aku langsung menuju rumah sakit untuk mengakhiri segalanya—termasuk janin yang menjadi buah dari hubungan kami.


Di Tengah Badai

Hujan turun tiba-tiba, deras dan kejam. Tanpa payung, sambil memegangi perut yang sakit, aku menerobos hujan demi mendapatkan kendaraan. Sopir itu mengernyit saat melihatku basah kuyup.

“Maaf, Pak… ini darurat. Saya harus ke rumah sakit.”

Aku menutup pintu dan tanpa sengaja melihat mobil Hiram berhenti. Ia turun di tengah hujan dan bergegas ke lobi gedung. Wendy berdiri di sana, wajahnya pucat, tampak lemas.

Aku terlalu jauh untuk mendengar percakapan mereka, tetapi aku melihat semuanya dengan jelas. Hiram melepas jas mahalnya dan menaruhnya di atas kepala Wendy agar tidak kehujanan. Lalu ia menggendongnya dengan kedua tangan, seolah-olah seorang pengantin wanita.

Ia melindunginya sepenuh hati, tak peduli bahunya sendiri basah kuyup.

“Hati-hati, nanti kepalamu terbentur.”

Kata-kata itu terasa seperti pisau tumpul yang menusuk jantungku. Sopir menyuruhku segera menutup pintu. Aku menyaksikan mobil Hiram melaju cepat meninggalkan area itu.

Di detik itu, harapanku benar-benar mati. Pria ini… tidak lagi kubutuhkan.

“Pak, ke rumah sakit. Tolong cepat.”


Keputusan

Setibanya di rumah sakit swasta besar di Jakarta, aku langsung mengisi formulir untuk prosedur medis. Dokter yang memeriksaku adalah dokter yang sama yang dulu memastikan kehamilanku. Ia masih mengingatku.

“Bukankah waktu terakhir kamu datang ke sini, kamu dan suamimu sangat bahagia? Kenapa sekarang…” Ia terdiam sejenak. “Di mana suamimu?”

Aku memotong ucapannya. Suaraku sedingin es.

“Dia tidak akan datang.”

Aku menandatangani surat persetujuan. Perawat memberiku obat, dan tanpa ragu aku menelannya. Tak lama kemudian, rasa sakit datang seperti gelombang besar yang menghantam tubuhku. Pandanganku menggelap.

Satu jam kemudian, semuanya berakhir.

Aku berpegangan pada dinding dingin saat perlahan keluar dari kamar mandi. Setiap langkah terasa berat.

Tiba-tiba, di lorong rumah sakit, aku mendengar suara yang sangat familiar.

Hiram.

Tubuhku membeku.

“Masih sakit? Mau aku panggil dokter lagi untuk periksa kamu?”

Suaranya lembut—kelembutan yang hampir tak pernah ia tunjukkan padaku. Satu tangannya menyangga pinggang Wendy, sementara tangan lainnya merapikan selimut yang membungkus gadis itu.

Di tangannya, Wendy tampak rapuh dan berharga.

Sedangkan aku… hanya bayangan dari tiga tahun yang tak pernah diakui.

Tubuhku gemetar, tetapi bukan lagi karena rasa sakit.

Aku berdiri di balik dinding lorong, memandang pemandangan itu untuk terakhir kalinya. Tiga tahun pernikahan rahasia. Tiga tahun menunggu pengakuan. Tiga tahun mencintai sendirian.

Hari ini, semuanya berakhir.

Aku tidak keluar untuk menyapanya. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Aku hanya berbalik arah dan berjalan menuju lift.

Setiap langkah terasa ringan—aneh, setelah kehilangan yang begitu besar.

Di dalam lift, aku membuka ponsel. Jari-jariku tidak lagi gemetar saat mengetik pesan singkat.

“Hiram, semuanya sudah selesai. Jangan mencariku lagi. Mulai hari ini, kita benar-benar hanya rekan kerja.”

Aku menekan kirim.

Beberapa detik kemudian, ponselku berdering. Namanya muncul di layar. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak merasa ingin menjawabnya.

Lift terbuka. Aku melangkah keluar.

Di luar rumah sakit, hujan sudah berhenti. Langit Jakarta masih kelabu, tetapi di kejauhan, ada sedikit cahaya matahari yang menembus awan.

Teleponku terus bergetar.

Lalu sebuah pesan masuk:

“Apa maksudmu semuanya selesai? Kamu di mana? Kita harus bicara.”

Aku tersenyum tipis.

Dulu, aku akan berlari kembali padanya hanya karena satu kalimat seperti itu. Dulu, aku akan percaya bahwa ia masih peduli.

Sekarang, aku tahu bedanya antara perhatian dan kebiasaan.

Ia hanya takut kehilangan seseorang yang selalu ada—bukan seseorang yang benar-benar ia cintai.

Aku membuka aplikasi bank di ponselku dan melihat tabungan atas namaku sendiri. Selama tiga tahun, aku tidak hanya menjadi “istri tersembunyi”. Aku bekerja. Aku belajar. Aku mempersiapkan hari ini.

Aku memesan tiket pesawat sekali jalan ke Singapura untuk proyek baru yang sebelumnya kutolak demi Hiram.

Hari itu, aku memilih diriku sendiri.


Beberapa minggu kemudian, kabar tentang Hiram Sy-Tieng menyebar di kantor. Ia marah besar, membatalkan beberapa proyek, dan untuk pertama kalinya terlihat kehilangan kendali.

Wendy ternyata hanya mengalami kelelahan ringan.

Tidak ada yang tahu tentang pernikahan rahasia kami. Tidak ada yang tahu tentang anak yang tak pernah sempat melihat dunia.

Itu menjadi rahasia yang kubawa pergi bersamaku.

Di Singapura, aku berdiri di depan jendela apartemen kecilku, memandang cakrawala kota yang asing namun menjanjikan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku bisa bernapas tanpa rasa sesak.

Tiga tahun bukanlah waktu yang sia-sia.

Itu adalah harga yang harus kubayar untuk belajar satu hal paling penting:

Cinta yang membuatmu bersembunyi bukanlah cinta.
Cinta yang membuatmu merasa sendirian bukanlah rumah.

Dan ketika seorang pria memilih orang lain di tengah badai,
kau tidak perlu membalasnya dengan tangisan.

Cukup balas dengan kepergian yang tak bisa ia kejar lagi.