Posted in

“BU, JANGAN BILANG SIAPA PUN… OM LAGI BERMAIN PETAK UMPET DI RUMAH KITA.”

“BU, JANGAN BILANG SIAPA PUN… OM LAGI BERMAIN PETAK UMPET DI RUMAH KITA.”

Aku hanya tertawa mendengarnya—sampai aku mendengar ketukan dari dalam lemari.

Dan saat itulah aku menemukan sebuah kebenaran yang membuatku takut untuk menoleh…

Kupikir anak itu hanya berimajinasi.

Dia baru empat tahun, pikirannya penuh dengan hal-hal aneh—lebih liar daripada kartun yang dia tonton di YouTube.

Di depan taman kanak-kanak di Quezon City, Niño tiba-tiba berlari ke arahku, memeluk leherku, lalu berbisik di telingaku:

—Bu… Om Mark tidak pergi ke Cebu.

Aku terdiam.

—Dia ada di rumah.

Aku tersenyum, mengusap kepalanya.

—Aduh, kamu ini ngomong apa sih. Om Mark ada di Cebu, sudah dua bulan dia di sana. Kemarin saja dia video call sama kamu.

—Tapi aku lihat dia…

Suaranya pelan, seolah takut didengar.

—Dia ada di ruang penyimpanan.

Aku berlutut agar sejajar dengan matanya, mencari tanda-tanda dia sedang bercanda.

Tidak ada.

Dia serius. Sangat serius.

—Malam hari, aku bangun mau minum… aku lihat Om Mark keluar dari storage room.

—Dia ke kulkas, ambil makanan. Waktu dia lihat aku, dia bilang dia lagi main petak umpet.

—Katanya, jangan bilang Mama.

Niño menghitung dengan jari-jarinya.

—Aku hitung… katanya ini rahasia… sudah lima puluh sembilan hari.

Lima puluh sembilan hari.

Tepat jumlah hari sejak Mark “pergi”.

Saat menyetir pulang ke rumah kami di Pasig, jari-jariku kaku di setir.

Niño hanya bernyanyi di kursi belakang.

Tanpa curiga.

Tapi setiap kata yang dia ucapkan… seperti pisau yang menusuk pikiranku.

Aku mencoba meyakinkan diri—ini cuma imajinasi.

Tapi “kulkas”.

“Petak umpet”.

“Lima puluh sembilan hari”.

Ini bukan karangan biasa.

Sesampainya di rumah, aku menyuruh Niño duduk di ruang tamu menonton.

Dan aku… perlahan masuk ke storage room.

Pintunya sedikit terbuka.

Aku mendorongnya.

Gelap. Bau lembap dan tua.

Aku menyalakan lampu.

Kotak-kotak. Baju lama. Peralatan rusak.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku tersenyum pahit.

Apa ini… aku mulai gila?

Aku hendak berbalik—

Tok.

Aku membeku.

Pelan.

Seperti sesuatu mengenai bagian dalam lemari.

Perlahan aku menoleh ke sudut ruangan.

Sebuah lemari tua.

Sudah hampir dua tahun tidak kubuka.

Detak jantungku semakin cepat.

Aku melangkah mendekat.

Satu.

Dua langkah.

Sunyi.

Aku bisa mendengar napasku sendiri.

Tanganku menyentuh gagang.

Dingin.

Sangat dingin.

Aku menarik napas dalam.

Lalu membuka.

Pintu terbuka.

Baju-baju lama.

Kotak di bawah.

Tidak ada orang.

Aku berdiri di sana beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

Kesal pada diri sendiri.

Aku menutupnya.

Berbalik—

Tok.

Kali ini lebih jelas.

Dari dalam lemari.

Aku langsung menoleh.

Darahku terasa membeku.

Ada seseorang.

Ada orang di dalam.

Pelan.

Menahan gerakan.

Menahan napas.

Tapi… tidak sepenuhnya berhasil.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku keluar dari ruangan itu.

Yang kutahu, tanganku gemetar saat menutup pintu.

Aku menarik Niño.

Mengunci kami di kamar.

Aku tidak tidur sepanjang malam.

Setiap suara… membuat jantungku melonjak.

Ponselku bergetar.

Pesan dari Mark.

Foto laut di Cebu.

“Baru selesai lembur. Aku rindu kalian.”

Aku menatap foto itu.

Lalu ke arah pintu storage room.

Keesokan harinya, aku mengantar Niño ke sekolah.

—Bu… Om tidak keluar tadi malam.

—Dia marah ya sama aku?

Aku memaksa tersenyum.

—Tidak.

—Kenapa dia tidak mau main lagi…

Setelah mengantarnya, aku langsung ke toko elektronik.

—Mas, saya mau kamera kecil… yang ada night vision.

Siang hari.

Aku berdiri di depan rumah.

Kunci di tangan.

Tapi aku tidak bisa membuka.

Karena aku tahu.

Ini bukan sekadar rumah lagi.

Akhirnya, aku masuk.

Sepi.

Normal.

Aku memasang kamera menghadap ke storage room.

Mencoba.

Berfungsi.

Pintu terlihat jelas di layar ponselku.

Aku duduk.

Menunggu.

Satu menit.

Lima.

Sepuluh.

Dan tiba-tiba—

Di layar.

Pintu itu… bergerak sedikit.

Sangat kecil.

Sangat pelan.

Seolah ada seseorang di baliknya.

Berdiri.

Menunggu.

Dan… akan menyentuh gagangnya.

Di layar ponselku, sebuah tangan muncul dari balik celah pintu.

Tangan itu pucat, kurus, dengan kuku yang tampak pecah-pecah. Ia tidak langsung keluar. Ia hanya diam di sana, seolah-olah sedang menghirup udara di luar ruangan lembap itu.

Lalu, perlahan, sosok itu melangkah keluar.

Aku menutup mulutku agar tidak berteriak. Jantungku berdegup begitu kencang hingga telingaku berdenging. Di layar ponsel, sosok itu berdiri membelakangi kamera. Dia memakai kaus yang sangat kukenali—kaus biru yang sering dipakai Mark saat hari Minggu.

Tapi itu bukan Mark.

Posturnya lebih bungkuk. Gerakannya patah-patah, seperti seseorang yang sudah lama tidak berdiri tegak. Dia berjalan menuju dapur dengan langkah yang hampir tidak bersuara, persis seperti yang dikatakan Niño. “Main petak umpet.”

Dia membuka kulkas. Cahaya kulkas menyinari wajahnya.

Aku jatuh terduduk di lantai kamar.

Itu benar-benar wajah Mark. Wajah yang sama dengan yang ada di foto profil WhatsApp-ku. Wajah yang sama yang baru saja mengirimiku pesan “Aku rindu kalian” dari Cebu.

Tapi ada yang salah. Matanya.

Matanya tidak memiliki pupil. Hanya warna putih keruh yang menatap kosong ke arah deretan botol susu Niño.

Tiba-tiba, ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah panggilan masuk.

Nama di layar: Mark.

Aku gemetar hebat. Dengan tangan yang basah oleh keringat dingin, aku menggeser tombol jawab.

“Halo?” suaraku nyaris tidak terdengar.

“Babe?” suara Mark terdengar ceria, lengkap dengan latar belakang suara ombak dan angin. “Tadi aku lupa bilang, aku mungkin pulang lebih cepat. Proyek di Cebu selesai seminggu lebih awal. Senang, kan?”

Aku tidak menjawab. Mataku terpaku pada layar kamera pengawas.

Di dapur, sosok itu—Mark yang ada di rumahku—tiba-tiba berhenti bergerak. Dia tidak lagi memegang botol susu. Dia berdiri mematung, kepalanya miring ke satu sisi, seolah sedang mendengarkan sesuatu.

“Babe? Kamu masih di sana?” tanya Mark di telepon.

“Mark…” bisikku, air mata mulai mengalir. “Kamu… kamu benar-benar di Cebu?”

“Tentu saja. Kenapa kamu bertanya begitu? Oh, tunggu sebentar, ada sinyal buruk di sini. Aku masuk ke kamar hotel dulu ya.”

Di layar ponselku, sosok di dapur itu mulai bergerak. Dia tidak lagi ke arah kulkas. Dia berbalik. Dia berjalan mendekati kamera tersembunyi yang kupasang.

Wajahnya memenuhi layar. Dia tersenyum. Sebuah senyuman yang terlalu lebar, hingga sudut bibirnya seolah menyentuh telinga.

Lalu, suara dari telepon dan suara dari layar ponselku terdengar secara bersamaan.

“Babe,” suara Mark di telepon berubah menjadi dingin dan datar. “Kenapa kamu memasang kamera di rumah kita?”

Di layar, sosok itu mengangkat tangannya dan menghancurkan kamera pengawas tersebut.

KREK.

Layar ponselku menjadi hitam.

Sunyi menyelimuti rumah. Namun, dari balik pintu kamarku yang terkunci, aku mendengar suara langkah kaki yang menyeret di lorong.

Sret… Sret… Sret…

Langkah itu berhenti tepat di depan pintuku.

“Liza…” suara itu berbisik dari balik kayu pintu. “Petak umpetnya sudah selesai. Sekarang giliranku yang mencari.”

Dan dari bawah celah pintu, aku melihat sebuah foto kecil diselipkan masuk.

Foto Mark yang sedang tersenyum di Cebu. Namun, di belakang foto itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta merah yang masih basah:

“Mark yang asli tidak pernah sampai ke Cebu. Dia ada di bawah lantai storage room. Aku hanya meminjam wajahnya sebentar.”