Posted in

SELAMA SEBULAN, SETIAP HARI AKU MENERIMA BUBUR DARI REKAN KERJAKU—TAPI AKU TIDAK PERNAH MEMAKANNYA, DIAM-DIAM AKU MEMBERIKANNYA KEPADA SEEKOR ANJING LIAR.

SELAMA SEBULAN, SETIAP HARI AKU MENERIMA BUBUR DARI REKAN KERJAKU—TAPI AKU TIDAK PERNAH MEMAKANNYA, DIAM-DIAM AKU MEMBERIKANNYA KEPADA SEEKOR ANJING LIAR.

Ketika anjing itu menghilang, polisi menemukan sesuatu di selokan.

Dan tatapan rekan kerjaku… membuatku takut untuk menoleh lagi.

Setiap pukul tujuh pagi, rekan kerjaku—Mika Santos—diam-diam meletakkan satu wadah bubur hangat di mejaku.

Dia tersenyum tipis, suaranya lembut:
—Itu bubur ayam, masakan ibuku. Biar perutmu hangat.

Aku tidak suka bubur. Hambar dan membosankan.

Tapi Mika orang yang pendiam, jarang bicara. Aku tidak ingin menyakitinya, jadi di hari pertama, aku makan beberapa sendok di depannya.

Matanya langsung berbinar.

Sejak itu, jadi kebiasaan.

Setiap hari.

Mika memberi.

Aku menerima, mengucapkan terima kasih.

Lalu, saat dia membelakangi… aku diam-diam turun lewat tangga belakang.

Di sebuah gang sempit di belakang gedung di Quezon City, ada seekor anjing liar.

Bulunya kotor, sedikit pincang, selalu bersembunyi di sudut dekat kardus-kardus.

Aku menaruh bubur di tanah, mendorongnya mendekat.

Awalnya dia hati-hati.

Tapi beberapa hari kemudian, setiap melihatku, dia akan mendekat, ekornya bergerak pelan, lalu makan dengan lahap.

Sebulan berlalu.

Mika memberiku makan.

Aku memberi makan anjing.

Sebuah siklus yang aneh.

Dan itu tidak berhenti… sampai tiga hari lalu.

Aku turun membawa bubur.

Tapi anjing itu tidak ada.

Kupanggil.

Tidak ada jawaban.

Gang itu sunyi. Lembap. Dan ada bau aneh di udara.

Kupikir dia pergi.

Atau mungkin mati di suatu tempat.

Aku tidak memikirkannya lagi.

Sampai sore hari.

Ada keributan di bawah.

Dari jendela lantai tiga, aku melihat.

Di ujung gang, banyak orang berkumpul.

Seorang pria dengan sekop mundur, wajahnya pucat.

Tutup selokan dibuka.

Bau busuk menyebar.

Beberapa menit kemudian—

Polisi datang.

Memasang garis kuning. Menutup seluruh gang.

Seorang polisi berjongkok, memakai sarung tangan, lalu mengangkat sesuatu dari dalam.

Aku tidak bisa melihat jelas.

Tapi orang-orang di sekitar mundur.

Beberapa bahkan muntah.

Jantungku berdegup kencang.

Tiba-tiba—

Seorang penjual berteriak, menunjuk ke gedung kami:

—Setiap hari ada yang buang sesuatu dari situ!

Polisi mendongak.

Menyapu jendela satu per satu.

Lalu berhenti…

Ke arah mejaku.

Malam itu, polisi datang ke kantor.

Mereka memanggilku ke ruang meeting.

—Kamu An Dela Cruz? tanya seorang polisi.

Aku mengangguk.

—Menurut CCTV, selama sebulan, setiap pagi kamu turun ke gang sekitar satu menit.

Telapak tanganku dingin.

—Saya memberi makan anjing.

—Apa yang kamu beri?

—Bubur.

—Dari mana?

—Dari rekan kerja saya… Mika Santos.

Kedua polisi itu saling berpandangan.

—Boleh kami lihat buburnya hari ini?

Tanganku gemetar saat menyerahkan wadah yang belum dibuka.

Mereka tidak langsung menyentuhnya.

Memakai sarung tangan.

Lalu memasukkannya ke kantong bukti.

Ada yang salah.

Aku bisa merasakannya.

—Nona An.

Suara polisi itu menjadi lebih dalam.

—Yang kami temukan di selokan… mengandung jejak racun yang sudah menumpuk lama.

—Dan ada… bagian tubuh hewan.

Kata-katanya berdengung di telingaku.

—Anjing yang kamu beri makan…

—Sudah mati beberapa hari yang lalu.

Pikiranku kosong.

—Kami perlu memastikan.

Dia menatapku.

—Kamu yakin… isi bubur itu…

—hanya bubur biasa?

Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari ruang meeting.

Saat kembali ke meja…

Mika ada di sana.

Diam.

Menunduk.

Seperti biasa.

Tapi sekarang…

Seolah ada tangan dingin merayap di punggungku.

Aku melihat ke layar komputernya.

Di pantulan…

Aku melihat matanya.

Menatapku.

Tidak berkedip.

Tanpa emosi.

Malam itu, aku membawa sisa bubur pulang.

Aku tidak memakannya.

Tidak membuangnya.

Aku memasukkannya ke freezer.

Menutupinya dengan daging beku.

Kalau terjadi sesuatu…

Itu satu-satunya bukti milikku.

Baru saja aku menutup kulkas—

Ponselku bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal.

Aku membukanya.

Hanya satu kalimat.

Tapi cukup membuat jantungku berhenti.

—Enak tidak… anjingnya di dalam bubur hari ini?

Layar ponselku meredup, tapi kalimat itu terus terngiang di kepalaku, membakar saraf-saraf warasku.

“Enak tidak… anjingnya di dalam bubur hari ini?”

Napas seolah terhenti. Aku menoleh ke arah kulkas yang baru saja kututup. Di dalamnya, wadah plastik itu seolah berdenyut, menyimpan rahasia mengerikan tentang apa yang sebenarnya kuberikan pada anjing malang itu selama ini—dan apa yang Mika berikan padaku pagi ini.


Kebenaran yang Memuakkan

Aku jatuh terduduk di lantai dapur. Otakku memutar kembali memori sebulan terakhir dengan kecepatan yang menyakitkan.

  • Mika yang pendiam.
  • Senyumnya yang tipis setiap kali aku berkata aku “menikmati” masakannya.
  • Dan fakta bahwa anjing itu selalu makan dengan lahap… sampai dia mati karena racun yang menumpuk.

Polisi bilang ada bagian tubuh hewan di selokan. Selama ini, aku pikir itu adalah sisa makanan yang dibuang. Tapi sekarang aku sadar—Mika tidak hanya meracuninya. Dia sedang melakukan sebuah eksperimen. Eksperimen untuk melihat berapa lama sesuatu bisa bertahan sebelum akhirnya membusuk dari dalam.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan di pintu apartemenku.

Tok. Tok. Tok.

Iramanya teratur. Lembut. Persis seperti cara Mika bicara.


Tamu yang Tidak Diundang

Aku merangkak menuju lubang pengintai pintu dengan kaki yang terasa seperti jeli. Di sana, di lorong remang-remang, Mika berdiri. Dia masih mengenakan pakaian kantor yang sama, tapi dia tidak lagi menunduk.

Dia menatap lurus ke lubang pintu, seolah dia tahu mataku ada di sana.

“An…” suaranya terdengar lewat celah pintu. “Kenapa kamu berikan pada anjing itu? Ibu bilang, masakan ini khusus untukmu.”

Aku menutup mulutku dengan tangan agar isak tangisku tidak terdengar.

“Anjing itu tidak sopan, An. Dia mencuri jatahmu. Jadi aku menghentikannya,” lanjut Mika. Suaranya kini terdengar sedikit kecewa, namun tetap datar. “Tapi jangan khawatir. Bubur pagi ini… itu spesial. Aku mencampurnya dengan ‘teman’ kecilmu itu agar kau tidak merasa bersalah lagi karena mengabaikannya.”


Akhir dari Sebuah Siklus

Aku mundur hingga punggungku membentur kulkas. Dinginnya baja kulkas menembus bajuku, mengingatkanku pada barang bukti yang kusimpan di dalam sana.

“An?” suara Mika meninggi satu oktaf. “Buka pintunya. Aku membawakan makan malam. Kamu belum makan seharian, kan? Nanti perutmu dingin.”

Aku melihat ke arah meja dapur. Di sana ada pisau, tapi tanganku terlalu gemetar untuk meraihnya. Aku meraih ponselku dan menekan nomor darurat dengan jari yang bersimbah keringat dingin.

Saat nada sambung berbunyi, aku mendengar suara kunci diputar dari luar.

Mika punya kunci cadanganku.

Pintu terbuka perlahan. Cahaya dari lorong membentuk bayangan panjang Mika yang masuk ke dalam ruang tamu. Di tangannya, dia membawa sebuah termos stainless steel yang masih mengeluarkan uap panas.

Dia tersenyum—senyum paling tulus yang pernah kulihat selama mengenalnya.

“Ayo makan, An,” bisiknya sambil berjalan mendekat. “Kali ini, aku akan menunggumu sampai suapan terakhir. Aku ingin melihat… apakah reaksimu akan sama dengan anjing itu.”

Malam itu, di sebuah apartemen sunyi di Quezon City, aku menyadari satu hal: Hambar bukan berarti tidak berbahaya. Terkadang, hal paling mematikan tersembunyi di balik sesuatu yang paling membosankan.