Pada hari perkenalan resmiku ke keluarga Arellano—salah satu keluarga miliarder paling berpengaruh di Manila—aku datang terlambat lebih dari setengah jam.

Pada hari perkenalan resmiku ke keluarga Arellano—salah satu keluarga miliarder paling berpengaruh di Manila—aku datang terlambat lebih dari setengah jam.

Jujur saja, alasannya agak memalukan… aku ketiduran terlalu lama.

Orang tua kandungku dan ketiga kakak laki-lakiku sudah berdiri di depan pintu apartemen kecil yang aku sewa. Semuanya memakai jas mahal dan barong Tagalog rapi, berdiri tegak seperti di foto keluarga perusahaan.

Sementara aku… rambut acak-acakan seperti sarang burung, sikat gigi masih menggigit di mulut, sandal lama penuh debu, dan mata setengah terbuka saat membuka pintu.

“…Ma? Pa?”

Aku menyapa pelan lalu langsung berbalik lari ke kamar mandi untuk melanjutkan sikat gigi.

Suasana langsung membeku.

Ibuku—atau lebih tepatnya Madam Elena Arellano—langsung menatap tajam.

“Nia, kamu benar-benar mau menemui kami seperti itu?”

“Maaf, Ma.” Aku meludahkan busa pasta gigi sambil menggaruk kepala. “Tadi aku begadang nonton K-drama sampai jam 3 pagi. Alarm sudah bunyi delapan kali tapi aku nggak dengar…”

Kakak sulungku, Enzo, menatapku dari atas ke bawah.

“Kamu begadang? Kamu nggak kerja?”

“Tidak.”

“Lalu kamu ngapain setiap hari?”

“Tidur.”

Kakak keduaku, Rafael, langsung naik nada: “Tidur saja?”

“Iya…” aku berpikir sebentar, “kadang bangun juga buat makan.”

Kakak ketiga, Thirdy: “…”

Madam Elena menghela napas panjang.

“Sudahlah, kita tidak perlu membahas itu. Nia, mulai hari ini kamu adalah anak asli keluarga Arellano. Vanessa—” ia menoleh ke perempuan berbaju putih di sampingnya, “siapkan kamar utama untuk Nia.”

Perempuan itu, Vanessa—anak angkat yang dibesarkan selama 18 tahun—langsung pucat dan matanya berkaca-kaca.

“Baik, Mama… Kak Nia, maafkan aku. Aku akan pindahkan barang-barangku.”

Dia terlihat hampir menangis.

Aku menatapnya dua detik lalu berkata:

“Eh… boleh nggak aku nggak pakai kamar utama?”

Semua orang langsung menoleh.

“Cahaya di kamar itu terlalu terang, aku susah tidur,” kataku serius. “Ada kamar yang lebih gelap? Lebih sunyi? Kalau bisa tanpa jendela juga.”

“…Tanpa jendela?” Papa langsung bingung. “Kamu mau tinggal di basement?”

Mataku langsung berbinar. “Boleh! Itu malah lebih bagus!”

Semua orang diam.


BASEMENT ARELLANO MANSION

Ternyata basement jauh lebih bagus dari yang kubayangkan. Sedikit dingin, tapi tenang dan gelap—sempurna untuk tidur.

Madam Elena hampir menangis melihatku.

“Nia… hidup macam apa yang kamu jalani selama ini?”

Aku berpikir jujur. “Sebenarnya baik-baik saja… cuma kurang tidur.”

“KURANG TIDUR?” Kakak Thirdy kaget. “Kamu bangun siang terus bilang kurang tidur?”

“Kurang,” jawabku santai. “Aku butuh 12 jam tidur untuk normal.”

Semua orang: “…”

Madam Elena mulai menangis.

“Nia… kamu terlalu menderita…”

“Tidak kok.” Aku menguap. “Orang tua yang membesarkanku baik, cuma hidupnya memang sederhana.”


MEJA MAKAN KELUARGA ARELLANO

Ketika aku akhirnya bangun, langit sudah oranye.

Aku mengikuti aroma makanan ke ruang makan.

Dan langsung berhenti.

Satu meja penuh makanan mahal: adobo wagyu, lobster thermidor, salmon premium, semuanya ada.

Seluruh keluarga Arellano menatapku.

“AKHIRNYA KAMU BANGUN!” Vanessa berdiri cepat.

Matanya merah seperti habis menangis lama.

“Kami menunggumu seharian…”

Aku menggaruk kepala. “Aku sudah bilang jangan bangunkan aku…”

“Tapi kamu belum makan seharian! Kamu bisa pingsan!”

Aku melihat meja itu.

“Boleh makan?”

“Tentu saja!” Madam Elena langsung menarikku duduk. “Ini rumahmu, Nia!”

Aku mulai makan.

Enak.

Dulu, di keluarga lamaku, daging hanya untuk adik laki-lakiku. Aku hanya makan sup sisa.

Papa menatapku lama.

“Pelan-pelan makan…”

Aku mengangguk, tapi tetap menghabiskan tiga piring.

Semua orang masih menatapku.

“Ada apa?”

“Tidak…” Madam Elena tersenyum sambil menangis. “Kamu terlalu kurus…”


KEPUTUSAN KELUARGA ARELLANO

“Besok jam 11.30,” kata Kak Enzo tiba-tiba, “kita akan mengadakan pertemuan keluarga besar. Kamu akan diperkenalkan secara resmi.”

Aku mengangguk. “Jam 10 bangun cukup?”

“…cukup,” jawabnya setelah diam tiga detik.

“Baik.”


Aku kembali ke kamar basement.

Dan langsung tidur lagi.

Di luar, dunia keluarga miliarder Arellano sedang kacau karena “anak asli” mereka ternyata… hanya ingin tidur.

Malam itu, di dalam kamar basement yang gelap dan sunyi, aku tidur lagi seperti biasa.

Tidak ada yang spesial.

Tidak ada drama.

Tidak ada emosi besar yang biasanya diharapkan dari “anak yang baru ditemukan keluarga miliarder”.

Hanya… tidur.


KEESOKAN HARINYA

Jam 10 pagi.

Aku bangun tepat waktu.

Segar.

Cukup tidur.

Itu hal paling penting dalam hidupku.

Aku keluar dari basement dengan santai, dan langsung melihat seluruh keluarga Arellano sudah berkumpul di ruang utama.

Semua berpakaian formal.

Ada beberapa orang asing juga—direksi perusahaan, pengacara keluarga, dan notaris.

Aku menguap.

“…Pagi.”

Semua orang terdiam.

Vanessa langsung berdiri.

“Ate… kamu benar-benar bangun tepat waktu…”

Aku mengangguk. “Iya. Tidur 12 jam cukup.”

Papa langsung batuk kecil.

“Baik. Kita mulai.”


RUANG KELUARGA ARELLANO – 11:30

Di atas meja panjang, terdapat dokumen, laporan aset, dan kontrak warisan keluarga.

Nilai total yang disebutkan pengacara:

💰 ₱38,700,000,000 (sekitar 10 miliar USD)

Aku hanya menatap sebentar.

Lalu menguap lagi.

“Ini apaan?” tanyaku polos.

Pengacara hampir tersedak.

“Ini adalah pembagian resmi warisan dan pengakuan kamu sebagai ahli waris utama keluarga Arellano.”

Aku mengangguk pelan.

“Oh.”

Hening.

Sangat hening.

Seperti semua orang sedang menunggu aku menangis, shock, atau pingsan.

Tapi aku hanya berkata:

“Kalau sudah selesai, aku boleh tidur lagi nanti siang?”


REAKSI KELUARGA

Vanessa tiba-tiba tertawa kecil—campuran antara lega dan menangis.

“Kamu… benar-benar tidak peduli uang sebesar itu?”

Aku berpikir sejenak.

“Kalau bisa ditukar dengan jam tidur, mungkin aku tertarik.”

Semua orang: “…”

Kak Enzo menutup wajahnya dengan tangan.

“Dia benar-benar anak kita…”


KEPUTUSAN AKHIR

Papa akhirnya berdiri.

“Nia. Mulai hari ini, kamu tidak hanya ahli waris.”

Dia berhenti.

“Kamu juga akan menjadi direktur utama sementara Arellano Group.”

Aku mengangkat kepala.

“Berapa jam kerja?”

“…”

“Delapan sampai sepuluh jam sehari.”

Aku langsung menggeleng.

“Kalau begitu aku tidak mau.”

Semua orang panik.

“KENAPA?!” seru mereka hampir bersamaan.

Aku menjawab dengan tenang:

“Karena itu mengganggu waktu tidur.”


ENDING

Akhirnya, kompromi dibuat.

✔ Aku menjadi pemegang saham utama
✔ Tidak wajib hadir setiap hari
✔ Kantor disesuaikan dengan “ruang tidur siang premium”
✔ Jam kerja fleksibel: kalau aku bangun


Beberapa bulan kemudian…

Perusahaan Arellano justru naik profit paling tinggi dalam sejarah.

Alasannya?

CEO baru mereka hanya membuat satu keputusan penting:

“Yang tidak bisa diselesaikan hari ini… selesaikan besok setelah tidur cukup.”

Dan di ruang kerja paling mewah di gedung itu, ada satu ruangan paling terkenal:

“NIA SLEEPING OFFICE – DO NOT DISTURB”