Aku menemukan sebungkus keripik udang yang sudah terbuka di dalam mobil suamiku.
Diam-diam, aku menaburkan bubuk cabai super pedas ke dalamnya.
Bungkusan keripik itu tergeletak tenang di karpet dekat kursi penumpang. Ujung plastiknya terlipat, cukup untuk memperlihatkan beberapa keping keripik kuning yang renyah.
Tanganku memegang satu sachet bubuk cabai ekstra pedas yang baru kubeli di supermarket dekat rumah. Ujung jariku sedikit gemetar.
Warna merah terang bubuk cabai itu menyilaukan, seperti sebuah peringatan.
Kubuka tutupnya, kuarahkan ke dalam bungkusan, lalu kuguncang perlahan sebanyak tiga kali.
Serbuk merah halus itu jatuh, melapisi setiap keping keripik.
Setelah itu, kulipat kembali persis seperti semula—seolah tak pernah disentuh siapa pun.
Dua jam kemudian.
Ponselku bergetar keras di atas meja makan.
Nama yang muncul di layar: “Ardi Wijaya — Rekan Kerja”.
Aku menatap nama itu, napasku terasa berhenti.
Jariku melayang di atas tombol jawab cukup lama sebelum akhirnya kutekan.
Pada dering ketujuh, aku mengangkatnya dan menempelkan ponsel ke telingaku.
Dari seberang sana terdengar suara panik:
“Kak! Cepat ke RS Pondok Indah bagian IGD! Ardi… ada sesuatu terjadi! Tenggorokannya bengkak, dia tidak bisa bicara, wajahnya mulai membiru!”
Aku berdiri.
Di cermin ruang makan, kulihat sudut bibirku perlahan terangkat.
Senyum itu dingin. Tajam seperti pisau.
Bab 2
Tujuh hari sebelumnya.
Rabu malam, pukul 23.30.
Saat Ardi masuk rumah, ia membawa aroma parfum yang bukan miliknya.
Itu bukan aroma “Acqua di Giò” yang biasa ia pakai.
Melainkan wangi buah yang manis dan sedikit menyengat.
Gerakannya sangat pelan saat melepas sepatu.
“Kamu belum tidur?” katanya terkejut melihatku duduk di sofa.
Cahaya biru TV menyinari wajahnya. Ia menghindari tatapanku.
“Aku menunggumu,” jawabku tenang. “Lembur lagi?”
“Iya, audit kuartalan. Deadline,” katanya sambil melempar jas ke kursi. “Aku capek. Mau mandi dulu.”
Ia berjalan ke kamar mandi.
Aku berdiri dan mengambil jasnya.
Kucium bagian kerah.
Aroma manis itu semakin jelas.
Di sana, ada sehelai rambut panjang.
Warna ash brown, sedikit bergelombang.
Rambutku hitam dan lurus.
Aku mengangkat helai rambut itu ke arah lampu selama tiga detik.
Lalu kulepaskan.
Dari kamar mandi terdengar ia bersenandung.
Sudah lama ia tidak bernyanyi di rumah.
Aku kembali ke sofa dan membuka aplikasi pedometer di ponselnya.
Hari ini: 19.206 langkah.
Padahal kemarin ia mengeluh sakit lutut.
Jumat lalu katanya ada team building di Bandung.
Hari itu: 22.817 langkah.
Aku screenshot.
Kumasukkan ke album terenkripsi di ponselku.
Nama albumnya: “Bukti”.
Di dalamnya sudah ada 17 screenshot.
5 rekaman suara.
3 foto.
Bab 3
Tiga bulan.
Sejak aku tahu kontak WhatsApp bernama “Klien: Mr. Tan” ternyata seorang perempuan.
Sejak aku melihat rekaman CCTV di sebuah mal di Senayan, Ardi berjalan bergandengan tangan dengan perempuan berambut ash brown.
Sejak rekening bersama kami tiba-tiba berkurang Rp50.000.000.
Aku tidak menangis.
Tidak membuat keributan.
Aku tetap memasak.
Mencuci.
Memijat pundaknya saat ia bilang lelah.
Aku memainkan peran sebagai istri sempurna.
Setenang seorang ahli bedah.
Bab 4
Sabtu pagi, pukul 07.00.
Ia berkata akan terbang ke Surabaya untuk seminar industri.
Namun saat aku membuka tirai jendela, kulihat ia tidak menuju bandara.
Ia turun ke basement.
Tiga menit kemudian, mobil hitam Toyota Camry kami keluar.
Ada seseorang di kursi penumpang.
Rambut ash brown.
Perempuan muda dengan mantel warna camel.
Mereka saling tersenyum.
Senyum yang dulu hanya untukku.
Aku membuka aplikasi pelacak.
Titik merah bergerak ke arah selatan.
Masuk ke tol Jagorawi.
Bukan ke bandara.
Perangkat GPS itu kubeli di marketplace seharga Rp150.000.
Akurat sampai 5 meter.
Screenshot.
Masuk ke album “Bukti”.
Bab 5
Hari kedua “perjalanan bisnisnya”.
GPS menunjukkan mobil berada di sebuah resort pemandian air panas di Puncak.
Harga kamar termurah: Rp2.500.000 per malam.
Padahal ia bilang hanya hotel Rp300.000.
Aku membuka emailnya.
Di folder sampah ada email dari:
[email protected]
“Kamarnya sudah aku pesan. Aku tunggu kamu.”
Ada konfirmasi booking.
Screenshot.
Lalu kubuka cloud-nya.
Password: 0311.
Album tersembunyi terbuka.
Foto-foto perempuan itu.
Di pantai.
Di restoran.
Di kamar hotel.
Foto terbaru: kemarin.
Ia memakai bathrobe putih, rambut basah, berpose di depan jendela kamar resort.
Di belakangnya—
(Bersambung…)

Di belakang perempuan itu—
bayangan Ardi terlihat jelas di pantulan kaca jendela.
Tanpa baju.
Memeluk pinggangnya dari belakang.
Aku memperbesar gambar itu.
Setiap detail menjadi semakin nyata.
Jam tangan rose gold di pergelangan tangannya.
Gelang berlian yang berkilau.
Semua itu mustahil dibeli dari gaji Ardi yang hanya Rp12.000.000 per bulan.
Aku membuka aplikasi mobile banking.
Riwayat transaksi.
Rp75.000.000 transfer ke rekening tak dikenal dua bulan lalu.
Rp18.000.000 pembayaran toko perhiasan.
Rp6.500.000 untuk resort di Puncak.
Uang tabungan rumah kami.
Uang yang kukumpulkan selama tiga tahun.
Aku menarik napas panjang.
Lalu menelepon pengacara.
Bab 7
Tiga hari kemudian, Ardi pulang.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun bukan karena pekerjaan.
“Aku kangen kamu,” katanya sambil mencoba memelukku.
Aku tersenyum lembut.
“Aku juga.”
Malam itu aku memasak makanan favoritnya.
Sup iga. Ikan asam manis.
Ia makan dengan lahap.
Tanpa menyadari—
bahwa semuanya sudah kusiapkan.
Setelah makan malam, aku meletakkan satu map tebal di atas meja.
“Ini apa?” tanyanya.
“Tanda tangan saja.”
Ia membukanya.
Surat gugatan cerai.
Bukti perselingkuhan tersusun rapi.
Foto CCTV di mal Senayan.
Foto resort.
Rekening koran.
Rekaman suara.
Lokasi GPS.
Wajahnya langsung pucat.
“Kamu salah paham—”
Aku menyalakan televisi.
Video diputar.
Dia.
Di kamar resort.
Memeluk perempuan itu.
Suara mereka jelas terdengar.
Ruang makan menjadi sunyi.
“Ardi,” kataku pelan, “aku sudah tahu sejak tiga bulan lalu.”
Tangannya gemetar.
“Kenapa kamu diam saja?”
Aku tersenyum tipis.
“Karena aku sedang menunggu.”
“Menunggu apa?”
“Menunggu kamu melakukan cukup banyak kesalahan.”
Aku mengeluarkan satu berkas lagi.
“Laporan penggunaan dana bersama tanpa persetujuan.”
Ia terdiam.
“Sesuai hukum, itu pelanggaran. Dan aku sudah menyiapkan semuanya.”
Butiran keringat muncul di dahinya.
“Lina… kita bisa bicarakan baik-baik…”
“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan.”
Bab 8 – Akhir
Seminggu kemudian.
Pengadilan Jakarta Selatan.
Ardi duduk berhadapan denganku.
Tak ada lagi senyum percaya diri itu.
Perempuan berambut ash brown itu tidak terlihat.
Kabarnya, ia sudah pergi dengan pria lain.
Putusan dibacakan.
Aku mendapatkan rumah.
70% harta bersama.
Dan Ardi diwajibkan mengembalikan seluruh dana yang ia gunakan secara sepihak.
Saat keluar dari ruang sidang, ia menatapku.
“Lina… kamu berubah.”
Aku menatapnya tenang.
“Tidak.”
“Aku hanya berhenti menjadi wanita yang bisa kamu bohongi.”
Aku melangkah keluar dari gedung pengadilan.
Langit Jakarta cerah.
Tiga tahun pernikahan.
Berakhir.
Tanpa tangisan.
Tanpa drama.
Hanya keheningan yang bersih.
Malam itu.
Aku menghapus folder bernama “Bukti”.
Menghapus aplikasi pelacak.
Membersihkan sisa-sisa masa lalu.
Ponselku bergetar.
Pesan dari Nina:
“Sekarang resmi bebas?”
Aku tersenyum.
“Iya.”
Aku menuang segelas wine.
Kali ini rasanya tidak pahit.
Hanya ringan.
Karena akhirnya—
aku tidak lagi menjadi istri yang dikhianati.
Aku menjadi perempuan yang memilih dirinya sendiri.