Aku bekerja sebagai Senior Manager di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, dengan gaji Rp60.000.000 per bulan.

Aku bekerja sebagai Senior Manager di sebuah perusahaan multinasional di Jakarta, dengan gaji Rp60.000.000 per bulan.

Mertuaku, Bu Rini, selalu menatapku dengan mata merah penuh iri.

Tanpa rasa malu ia berkata:

“Mulai bulan ini, dari gaji Rp60 juta itu, Rp50 juta harus kamu setor ke Mama.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Saya menikah dengan anak Ibu, tapi saya tidak pernah memakai uang keluarga Ibu satu rupiah pun.”

“Sejak kamu menikah dengan Dimas, kamu bagian dari keluarga ini. Uangmu ya uang keluarga,” jawabnya tanpa rasa bersalah.

Matanya penuh tuntutan.

“Perempuan kalau pegang uang banyak, pikirannya suka melayang. Biar Mama saja yang simpan. Untuk masa depan kalian juga.”

“Itu uang saya. Saya yang atur.”

Bu Rini langsung membanting meja.

“Kamu ini kurang ajar! Mama lakukan ini demi anak Mama!”

Di sampingnya, suamiku Dimas berdiri gelisah.

“Nadine… mungkin kamu bisa turuti Mama saja. Untuk kebaikan kita juga…”

Aku menatapnya.

Ia mengalihkan pandangan.

“Saya tidak setuju.”

Aku mengambil tas dan pergi kerja.

Dari belakang, suara Bu Rini melengking:

“Pergi saja! Tapi jangan harap bisa masuk lagi kalau belum kasih ATM dan kartumu!”

Aku tidak menoleh.


Malam Itu

Saat pulang kerja, aku berdiri di depan pintu rumah.

Kumasukkan kunci.

Tidak bisa.

Terkunci dari dalam.

Aku menelepon Dimas.

Butuh waktu lama sampai ia mengangkat.

“Nadine… kamu minta maaf saja ke Mama. Dia sudah tua…”

“Dia yang mengunci pintu?”

“Dia cuma marah. Kamu kasih saja kartumu, nanti pintu dibuka. Di luar dingin loh.”

Angin malam terasa menembus sampai ke dadaku.

“Jadi kamu juga setuju aku harus serahkan gajiku?”

“Kita keluarga. Jangan terlalu hitung-hitungan. Gajiku juga aku serahkan ke Mama, kan?”

“Gajimu Rp8 juta sebagai admin. Gajiku Rp60 juta.”

“Karena kamu lebih besar, kontribusimu juga harus lebih besar,” jawabnya kesal.

Aku menutup telepon.

Tidak ada air mata.

Tidak ada teriakan.

Aku kembali ke kantor.

Aku memang sudah menyiapkan “koper darurat” di sana sejak lama.

Laptop, dokumen, pakaian.

Seakan aku tahu hari ini akan datang.

Aku memesan mobil online.

Tujuanku: hotel bintang lima di kawasan Sudirman.

Saat masuk ke kamar yang hangat dan bersih, aku melepas sepatu dan rebah di kasur empuk.

Lampu-lampu Jakarta terlihat dari jendela.

Tak satu pun cahaya itu milik mereka.

Aku membuka laptop.

Mengirim pesan ke seseorang.

“Ms. Vicky – Property Agent.”

“Ms. Vicky, apakah kamu sedang pegang klien? Saya ingin menjual properti. Cepat.”

Balasan datang hampir seketika.

“Unit mana, Bu Nadine?”

Aku kirim alamatnya.

“Rumah dua lantai di pusat kota. 140 meter persegi. Fully furnished. Aset sebelum menikah. Atas nama saya sendiri.”

“Berapa harga?”

Aku mengetik perlahan.

“Rp1 miliar di bawah harga pasar. Syaratnya satu: cash dan proses cepat.”


Hari Berikutnya

Telepon berdering pagi-pagi.

“Bu Nadine, yakin diskonnya sebesar itu? Lokasinya prime.”

“Saya yakin.”

“Saya harus jelaskan ke buyer, takut mereka pikir ada masalah.”

“Tidak ada masalah. Sertifikat SHM atas nama saya. Semua dokumen lengkap.”

Aku berhenti sejenak.

“Katakan saja saya butuh dana cepat.”

Setelah telepon ditutup, pesan dari Dimas masuk bertubi-tubi.

“Kamu di mana?”

“Sudah tidak marah lagi, pulanglah.”

“Nadine, jangan berlebihan.”

Aku membaca semuanya.

Lalu menghapus percakapan.

Kemudian aku menghubungi teman lamaku.

“Atty. Bima – Family Lawyer.”

“Aku ingin konsultasi soal perceraian.”

“Ada KDRT atau selingkuh?” tanyanya.

“Tidak. Tapi ada pemerasan finansial dan pengusiran dari rumah.”

“Rumah itu aset sebelum menikah?”

“Iya.”

“Kalau begitu jelas. Itu milikmu sepenuhnya.”

Aku melihat keluar jendela hotel.

“Aku ingin semuanya selesai cepat.”


Empat Hari Kemudian

“Bu Nadine! Ada pembeli cash!” suara Ms. Vicky terdengar bersemangat.

“Serius?”

“Seorang pengusaha. Mau langsung pindah.”

“Bagus.”

“Kita tanda tangan besok.”

Sebelum menutup telepon, aku berkata pelan:

“Pada hari serah terima, jangan beri tahu orang di dalam rumah. Datang saja dengan pembeli.”

Hening sesaat.

“Baik, Bu.”


Sepuluh Hari Kemudian

Bu Rini bersantai di sofa, makan kuaci sambil menonton sinetron.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Seorang broker masuk dengan kunci duplikat.

Di belakangnya, keluarga beranggotakan lima orang membawa koper.

“Apa-apaan ini?!” teriak Bu Rini panik.

Broker tersenyum sopan.

“Maaf, Bu. Rumah ini sudah resmi dijual oleh pemiliknya. Hari ini jadwal serah terima.”

Wajah Bu Rini pucat.

“Dimas! Dimas!”

Dimas berlari keluar kamar.

“Apa maksudnya ini?!”

Aku melangkah masuk dari belakang mereka.

Dengan sepatu hak tinggi dan blazer rapi.

“Artinya sederhana,” kataku tenang.

“Rumah ini milikku sebelum menikah. Dan sekarang sudah bukan milik kalian.”

Dimas terdiam.

“Kamu tidak bisa lakukan ini!”

“Aku sudah lakukan.”

Aku menyerahkan salinan akta jual beli.

“Dan minggu depan, gugatan cerai akan masuk ke pengadilan.”

Bu Rini gemetar.

“Kamu tega!”

Aku tersenyum tipis.

“Bukankah Mama bilang uangku adalah uang keluarga?”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Sekarang, silakan cari keluarga baru yang mau membiayai hidup kalian.”

Aku berbalik.

Sinar matahari siang menyambut di luar pintu.

Tidak ada air mata.

Tidak ada penyesalan.

Hanya satu hal—

Aku tidak lagi menjadi menantu yang bisa mereka kendalikan.

Aku adalah pemilik hidupku sendiri.

Suasana ruang tamu berubah kacau.

Bu Rini terduduk lemas di sofa.

Dimas berdiri terpaku, wajahnya kehilangan warna.

“Kamu tidak bisa melakukan ini tanpa bicara dulu!” suaranya pecah.

Aku menatapnya tenang.

“Bukankah kalian juga tidak bicara dulu sebelum mengusirku?”

Sunyi.

Keluarga pembeli mulai mengukur ruangan, berbicara tentang posisi lemari dan warna cat baru.

Realitas menghantam mereka lebih keras daripada teriakan apa pun.

Bu Rini mendekat padaku.

“Kita ini keluarga… masa kamu tega membuat kami tidak punya tempat tinggal?”

Aku tersenyum tipis.

“Waktu Mama menyuruh saya tidur di lorong apartemen, Mama juga bilang kita keluarga.”

Wajahnya memucat.

Dimas mencoba meraih tanganku.

“Nadine… kita bisa mulai lagi. Aku akan pindah dari Mama. Kita cari kontrakan kecil, yang penting bersama.”

Aku menarik tanganku pelan.

“Terlambat.”

Aku mengeluarkan satu amplop terakhir dari tas kerjaku.

“Ini surat somasi dari pengacara saya. Kalian diberi waktu 48 jam untuk mengosongkan rumah. Setelah itu, akan ada proses hukum karena menempati properti tanpa izin.”

“Berani kamu!” Bu Rini berteriak.

Aku menatapnya lurus.

“Berani.”

Tak ada nada tinggi.

Tak ada emosi.

Justru ketenangan itulah yang membuat mereka takut.


Dua Minggu Kemudian

Rumah itu sudah resmi berganti pemilik.

Perceraian berjalan cepat.

Karena tidak ada harta bersama yang signifikan, Dimas tidak mendapatkan apa-apa.

Ia kembali tinggal di rumah kontrakan kecil bersama ibunya.

Aku mendengar kabar bahwa mereka mencoba meminjam uang ke saudara-saudara jauh.

Tidak ada yang mau membantu.

Reputasi mereka sudah tersebar.

Tentang bagaimana mereka mengusir menantu sendiri demi uang.


Tiga Bulan Kemudian

Aku berdiri di balkon apartemen baruku.

Lebih kecil dari rumah lama.

Tapi sepenuhnya milikku.

Tidak ada yang bisa mengusirku dari sini.

Tidak ada yang bisa menuntut ATM-ku.

Teleponku berbunyi.

Nomor tak dikenal.

Aku mengangkatnya.

Suara Dimas.

“Nadine… aku menyesal.”

Angin malam berhembus lembut.

“Aku sadar sekarang. Mama salah. Aku juga salah.”

Aku diam beberapa detik.

Bukan karena ragu.

Tapi karena aku benar-benar tidak merasakan apa-apa lagi.

“Dimas,” kataku pelan, “yang paling menyakitkan bukan waktu kamu membelaku atau tidak.”

Ia terdiam.

“Yang paling menyakitkan adalah ketika kamu memilih berdiri di samping orang yang merendahkanku.”

Sunyi panjang.

“Aku sudah memaafkanmu,” lanjutku.

“Tapi memaafkan tidak berarti kembali.”

Aku menutup telepon.

Memblokir nomor itu.

Untuk terakhir kalinya.