Aku menghabiskan lebih dari Rp120 miliar untuk membeli sebuah mansion di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Rencananya aku akan pindah ke sana saat long weekend Hari Buruh.

Aku menghabiskan lebih dari Rp120 miliar untuk membeli sebuah mansion di kawasan elite Menteng, Jakarta Pusat. Rencananya aku akan pindah ke sana saat long weekend Hari Buruh.

Tapi asistanku, Luna Pratama, tiba-tiba muncul di depan apartemenku.

Bukan sendirian.

Ia membawa kedua orang tuanya, kakak iparnya, dan seorang keponakan yang berisik.

Tanpa rasa malu mereka berkata ingin “menumpang” di mansion baruku agar tidak perlu bayar hotel.

Aku menolak dengan tegas.

Keesokan paginya, kunci mansionku hilang.

Melalui CCTV, terlihat jelas pukul 02.13 dini hari—Luna diam-diam mengambil kunci dari laci meja kerjaku.

Lalu membawa seluruh keluarganya masuk ke rumahku.

Saat kutelpon, dia malah berkata manja:

“Ma’am, Anda sudah sekaya itu, masa pelit sama kami? Kami cuma numpang sebentar. Mansion sebesar itu sayang kalau kosong.”

Aku langsung menutup telepon.

Lalu menelepon 110.

Illegal Trespassing, bukan?

Kalau mereka mau merasakan tinggal di mansion—

silakan.

Karena setelah itu, mereka akan merasakan tinggal di tahanan.


1

“Ma’am, dengar-dengar Anda beli mansion baru ya?”

Aku sedang duduk di sofa, mengedit naskah untuk livestream, ketika bel berbunyi.

Saat kubuka pintu, Luna berdiri di sana dengan senyum dipaksakan.

Di belakangnya, seluruh keluarganya berbaris.

Ibunya, ayahnya, kakak iparnya, dan keponakan kecilnya.

Hanya kakak laki-lakinya yang tidak terlihat.

“Ada apa, Luna?” tanyaku datar.

Matanya langsung memerah.

“Ma’am… keluarga saya baru datang dari kampung. Tidak ada tempat tinggal… mungkin bisa…”

“Tidak bisa,” potongku.

Aku seorang lifestyle influencer dan entrepreneur digital.

Dari nol sampai punya jutaan pengikut.

Mansion itu hasil kerja keras bertahun-tahun.

Bukan untuk dipinjamkan begitu saja.

Aku masih bersikap sopan.

“Luna, saya bisa bayarkan hotel. Pilih hotel mana pun, kirim resi, saya transfer.”

Ibunya langsung menyela dengan nada tinggi.

“Hotel? Buang-buang uang!”

“Luna bilang mansion itu kosong. Kalau kami tinggal di sana, rumahnya jadi hidup! Tidak seperti rumah berhantu!”

Keningku berkerut.

“Bahkan saya sendiri belum pernah tidur semalam pun di sana.”

Kakak iparnya ikut nimbrung:

“Kamu kan masih single. Tidak kesepian di rumah sebesar itu? Lebih baik ramai bersama keluarga!”

Keponakannya menarik bajuku.

“Aku mau rumah besar! Mau kasur besar!”

Wajahku mengeras.

Ibunya Luna mendengus.

“Peliiiit sekali! Anak saya kerja enam tahun sama kamu, sedikit saja tidak mau bantu!”

Seolah-olah aku menindas mereka.

Ayahnya Luna berdehem.

“Nak, membantu orang lain itu menanam karma baik. Rezeki berputar.”

Aku hampir tertawa mendengar ceramahnya.

Luna pura-pura menahan tangis.

“Ma’am… kami benar-benar terdesak. Kakak saya ada masalah di kampung… tolonglah.”

Aku menatapnya.

“Enam tahun kamu bekerja dengan saya. Pernah saya memperlakukanmu buruk?”

Gaji asisten biasa mungkin Rp5 juta per bulan.

Empat tahun lalu, aku menaikkan gajinya menjadi Rp60 juta per bulan.

Dengan komisi, penghasilannya bisa lebih dari Rp200 juta per bulan.

Luna tidak berani menatapku.

Karena tidak berhasil memaksaku, mereka pergi.

Tapi ibunya masih sempat berkata keras:

“Tidak punya hati!”

Aku menjawab tegas:

“Itu rumah saya. Saya berhak menolak.”


2

Dini hari, aku mendengar suara pelan di luar kamar.

Karena terlalu lelah, aku tidak mengecek.

Pagi harinya, saat hendak mengambil kunci mansion di laci—

kosong.

Jantungku berdegup kencang.

Aku langsung menyetir ke Menteng.

Sesampainya di sana—

Biometric: FAILED.
Password: INCORRECT.
Face Recognition: NO MATCH.

Rumah yang baru resmi atas namaku kemarin—

tidak bisa kumasuki.

Aku menuju kantor pengelola properti dan memeriksa CCTV.

Pukul 02.13.

Luna dan keluarganya masuk membawa koper.

Ia memegang kunciku.

Begitu masuk, mereka langsung mereset smart lock.

Satu per satu mereka mendaftarkan sidik jari.

Ayahnya.

Ibunya.

Kakak iparnya.

Mereka mengambil alih rumahku.

Aku menelepon Luna dari nomor lain.

Ia mengangkat.

Di latar belakang terdengar musik dari ruang tamuku.

“Ma’am, cuma beberapa hari saja. Tolonglah.”

“Keluar sekarang.”

Ia mulai menangis.

“Kami sudah capek pindah-pindah. Hotel mahal, tidak sanggup.”

“Itu trespassing. Kamu mencuri kunciku!”

Suaranya berubah ketus.

“Mencuri? Cuma pinjam! Enam tahun saya kerja keras untuk Anda, begini cara Anda bicara?”

Telepon ditutup.

Nomorku diblokir.

Aku membuka media sosialnya.

Darahku mendidih.

Di video terbarunya, dia memakai piyama sutraku.

Memakai hairclip-ku.

Berpose di kamar utama mansionku.

Di postingan lama, ia memamerkan mobil dan tas milikku seolah-olah miliknya.

Mengaku lulusan Harvard.

Mengaku “rich girl”.

Mengatakan aku hanya “meminjam” barang-barangnya.

Ia membangun citra palsu dari kekayaanku.

Mengumpulkan follower.

Menghasilkan uang dari livestream.

Cukup.

Aku mengambil ponselku.

“Halo, Polres Jakarta Pusat? Saya ingin melaporkan Illegal Trespassing, Pencurian, dan Pemalsuan Identitas.”

Di kantor polisi, seorang petugas berkata hati-hati:

“Bu, yakin ini bukan hanya konflik pribadi? Katanya sudah enam tahun bekerja bersama…”

Aku menatapnya dingin.

“Pak, itu properti Rp120 miliar. Mereka masuk tanpa izin dan mengganti sistem keamanan.”

Aku berhenti sejenak.

“Ini bukan konflik pribadi.”

“Ini kejahatan.”

Dan saya akan pastikan mereka membayar harganya.”

Petugas langsung bergerak sore itu juga.

Ketika mobil patroli memasuki gerbang mansionku, keluarga Luna masih santai menikmati sore—ibunya duduk di kursi teras sambil minum teh, ayahnya sibuk memotret taman, dan keponakannya berlari-lari di ruang tamu seolah itu rumah warisan mereka.

Begitu polisi mengetuk pintu, wajah mereka langsung pucat.

“Ada apa ini?!” teriak ibu Luna.

Petugas menunjukkan surat laporan dan rekaman CCTV yang sudah kusiapkan. Bukti pencurian kunci, penggantian sistem smart lock, hingga video Luna mengenakan piyama sutraku dan mengaku sebagai pemilik rumah—semuanya lengkap.

Luna mencoba menangis lagi.

“Ma’am… tolong… jangan sampai begini…”

Aku menatapnya tanpa emosi.

“Enam tahun aku percaya padamu. Gajimu bukan kecil. Bonusmu bukan sedikit. Tapi kamu memilih mencuri dan memfitnahku.”

Polisi memborgolnya.

Ayahnya mencoba berteriak soal “kemanusiaan” dan “tolong-menolong”, tapi kali ini hukumlah yang berbicara.

Mereka digiring keluar satu per satu. Tetangga sekitar hanya bisa menyaksikan dalam diam ketika keluarga yang tadi merasa seperti tuan rumah, kini masuk ke mobil patroli sebagai tersangka.


Malam itu, aku akhirnya masuk ke mansionku sendiri.

Rumah itu berantakan. Lemari dibuka paksa, koleksi tas dan sepatu disentuh sembarangan, bahkan beberapa perhiasan hilang. Namun sistem keamanan sudah kukunci ulang sepenuhnya.

Aku berdiri di ruang tengah yang luas, memandangi lampu kristal yang berkilau.

Aneh rasanya—rumah semewah ini hampir saja dirampas oleh orang yang selama ini kuberi kesempatan.

Beberapa hari kemudian, kasusnya viral.

Bukti-bukti yang kupublikasikan membuat publik tahu siapa yang benar dan siapa yang berpura-pura. Semua sponsor yang sempat bekerja sama dengan Luna memutus kontrak. Akunnya ditutup. Para pengikutnya hilang satu per satu.

Sementara aku? Followers-ku justru bertambah.

Bukan karena drama.

Tapi karena orang akhirnya melihat: aku bukan hanya kaya—aku tegas.


Beberapa minggu kemudian, aku menerima pesan dari Luna lewat pengacaranya.

Permohonan maaf.

Penyesalan.

Tangisan.

Aku hanya membaca tanpa membalas.

Pengkhianatan tidak selalu datang dari musuh. Kadang, ia tumbuh dari orang yang kita beri akses terlalu dalam.

Aku menutup ponselku.

Berdiri di balkon mansion yang kini benar-benar menjadi milikku—tanpa penyusup, tanpa parasit.

Angin malam berhembus pelan.

Dan untuk pertama kalinya sejak membeli rumah ini, aku merasa damai.

Karena kadang, kehilangan seorang “asisten” bukanlah kerugian.

Itu adalah cara hidup membuang parasit dari tubuhmu.

Dan mulai hari itu, aku belajar satu hal:

Kebaikan boleh tanpa batas.
Tapi batas tetap harus ada.