Pada malam graduation ball kami, ketua kelas mengusulkan permainan undian untuk pembagian kamar dalam perjalanan terakhir kami bersama.
“Biar takdir yang menentukan! Siapa pun yang dapat nomor sama—cowok atau cewek—akan sekamar. Seru, kan?”
Empat tahun kuliah. Tiga tahun aku berpacaran diam-diam dengan Raka Mahendra.
Dan tak seorang pun tahu.
Aku memasukkan tangan ke dalam kotak, mengambil satu bola bernomor, lalu menunggu siapa yang akan menjadi pasanganku.
Ketika giliran Raka, ia mendapatkan Nomor 7.
Ketua kelas langsung berteriak,
“Pasangan Room 7 adalah — Celine!”
Celine—gadis yang dulu pernah ia kejar mati-matian—langsung tersipu.
Satu kelas bersorak, menyebutnya “takdir.”
Aku hanya diam.
Mereka tidak tahu bahwa sebelum permainan dimulai, aku mendengar bisikan ketua kelas pada Raka:
“Pilih bola yang ada goresan kecilnya. Sudah kuatur supaya kamu sekamar dengan Celine.”
Saat kulihat Raka tersenyum manis dan berjalan menghampiri Celine untuk membantu membawa kopernya…
aku ikut tersenyum.
Ternyata tiga tahun menunggu tidak cukup untuk membuatnya berani mengakui hubungan kami di depan semua orang.
Kali ini, biar aku yang melepaskan duluan.
1
Pengumuman kamar bahkan belum selesai, tapi suasana di resort Bali itu sudah penuh kegembiraan.
Ketua kelas membagikan wristband merah dan mengingatkan lagi:
“Ulangi ya rules-nya! Nomor sama berarti satu pasangan. Selama tiga hari dua malam liburan ini, kalian harus selalu bersama sesuai warna wristband. No solo flight!”
Beberapa orang bersiul. Ada yang menepuk bahu Raka sambil menggoda.
Pipi Celine memerah saat memakai wristband, bersembunyi di belakang Raka.
Raka sedikit tersenyum dan mengangkat lengannya melindungi gadis itu.
“Jangan ganggu dia, dia pemalu.”
“Wah, cepat banget protektif! Hati-hati, nanti kalau Celine ngambek, Raka balas dendam!”
Semua kembali tertawa.
Aku berdiri di sudut, menggenggam bola Nomor 3 di tangan kiri, sementara tangan kanan menarik koper besar yang terasa sangat berat.
Sebelum berangkat, Raka sempat memasukkan beberapa barangnya ke koperku.
“Di perjalanan aku yang bawa tasmu, tapi kayaknya nggak kuat kalau dua koper,” katanya waktu itu.
Ia bahkan menunjuk tas selempang kecilku.
“Yang ini saja aku bawa, talinya panjang, nggak bikin sakit bahu.”
Tiga tahun bersama, tapi ia tak pernah menunjukkan perhatian padaku di depan teman-teman. Bahkan tak pernah membantuku membawa barang.
Aku sempat berharap… mungkin perjalanan ini akan jadi momen ia memperkenalkanku.
Ternyata, di hari pertama saja, koper Celine yang ia bawa.
Lengannya yang tadi melindungi… juga menggenggam tas kecil Celine.
Koperku begitu berat hingga tubuhku hampir miring menahannya. Dari jari hingga bahu terasa perih.
Aku menurunkannya dan berdeham pelan.
Lalu mengangkat tangan.
“Permisi…”
Semua menoleh. Ketua kelas menjawab ceria,
“Kenapa, Mira? Kamu kan teman Celine. Sebagai ‘perwakilan’ kubu cewek, mau bilang sesuatu?”
Senyum Celine tampak kaku.
Raka menatapku. Matanya tegang—seakan memperingatkan.
Tapi ia salah paham.
Aku hanya mengangkat bola di tanganku.
“Siapa Nomor 3?”
Ketua kelas melihat ke sisi lain ruangan. Seorang pria mengangkat tangan.
“Aku.”
Itu Dimas Pratama, teman sekelas yang pendiam dan jarang diperhatikan.
Ketua kelas tertawa.
“Oh, Dimas! Setahuku kamu single. Mira gimana? Kalau kamu juga single, cocok banget! Tapi kalau punya pacar, bisa kupindah ke kamar cewek.”
Aku memotongnya,
“Aku single.”
Dari sudut mataku, kulihat dahi Raka sempat mengendur… lalu kembali mengerut.
Ia melirik Dimas.
Ketua kelas segera menyerahkan wristband oranye.
“Perfect! Dua-duanya single, siapa tahu jadian!”
Aku menerimanya dan mengangguk sopan.
“Terima kasih.”
Saat kembali mengangkat koper, aku merasakan tatapan tajam mengikutiku.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya saat itu.
Tapi mungkin… ia merasa lega.
Setelah pembagian selesai, kami antre untuk check-in.
Celine pergi sebentar untuk menelepon keluarganya.
Raka tetap di belakang. Ia menunggu sampai tinggal kami berdua sebelum menyerahkan kartu identitas ke resepsionis.
Tanpa menatapku, ia berkata pelan,
“Temui ketua kelas. Bilang kamu nggak mau sekamar dengan cowok. Pindah saja ke kamar cewek atau pesan kamar sendiri. Biaya tambahannya aku bayar.”
Nada suaranya rendah.
Tatapannya lurus ke depan.
Seolah aku hanyalah seseorang yang sedang ia urus… bukan perempuan yang pernah ia cintai secara diam-diam selama tiga tahun.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasa—
mungkin menjadi “single” tadi adalah keputusan paling jujur yang pernah kuucapkan.

Aku menatap punggung Raka beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Tidak perlu,” jawabku pelan. “Aku nyaman sekamar dengan Dimas.”
Akhirnya ia menoleh.
Ada sesuatu di matanya—tidak lagi dingin, tapi juga bukan marah.
Lebih seperti… kehilangan kendali.
“Mira, jangan keras kepala,” katanya menahan suara. “Kamu tahu maksudku.”
“Aku tahu,” jawabku tenang. “Dan justru karena aku tahu, aku tidak akan pindah.”
Aku berjalan melewatinya tanpa menunggu jawaban.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, langkahku terasa ringan.
2
Kamar 3 ternyata menghadap langsung ke laut.
Dimas membuka pintu dan langsung berkata canggung,
“Kalau kamu merasa nggak nyaman, aku bisa tidur di sofa.”
Aku tersenyum.
“Kita cuma sekamar, bukan menikah. Santai saja.”
Ia tertawa kecil.
Selama tiga hari dua malam itu, aku baru sadar betapa melelahkannya mencintai seseorang sendirian.
Dimas tidak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan.
Saat aku kesulitan membawa koper, ia langsung mengambil alih tanpa diminta.
Saat aku diam terlalu lama di balkon, ia hanya duduk di sebelahku tanpa bertanya berlebihan.
Tidak ada drama.
Tidak ada permainan rahasia.
Hanya ketenangan.
Di sisi lain, semua orang melihat Raka dan Celine seperti pasangan sungguhan.
Foto-foto mereka memenuhi Instagram.
Caption-nya dipenuhi komentar: “Akhirnya jadian juga!”
“Memang dari dulu cocok!”
Aku tidak merasa hancur.
Yang kurasakan justru… lega.
3
Malam terakhir, ada pesta api unggun di pantai.
Angin laut berhembus kencang. Musik diputar pelan.
Ketua kelas kembali bercanda,
“Kayaknya Room 7 makin romantis ya. Jangan-jangan habis trip ini langsung jadian resmi!”
Semua tertawa.
Raka tidak ikut tertawa.
Tatapannya justru terus mencariku di antara keramaian.
Saat aku sedang duduk bersama Dimas, ia akhirnya datang.
“Bisa bicara sebentar?” katanya pada Dimas.
Dimas mengangguk dan berdiri, memberi ruang.
Kami berjalan menjauh dari api unggun.
Untuk beberapa detik, hanya suara ombak yang terdengar.
“Mira,” suara Raka lebih pelan dari biasanya. “Kenapa kamu bilang single?”
Aku menatap laut yang gelap.
“Karena memang begitu.”
“Apa maksudmu?”
“Apa selama ini aku pernah benar-benar jadi pacarmu di depan orang lain?” tanyaku balik.
Ia terdiam.
“Tiga tahun, Raka. Aku menunggu kamu berani. Bukan untuk mengumumkan dengan megah. Cuma… untuk tidak menyembunyikanku.”
Ia mengusap wajahnya frustrasi.
“Aku cuma nggak mau ribet. Kamu tahu gosip di kelas kayak apa.”
“Aku tahu,” jawabku. “Dan aku lelah jadi rahasia.”
Angin malam meniup rambutku.
“Kamu takut kehilangan citra. Takut dianggap nggak cocok. Takut kehilangan kesempatan dengan keluarga kaya seperti Celine.”
Aku tersenyum tipis.
“Sekarang kamu bebas. Tidak ada lagi yang perlu kamu sembunyikan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat penyesalan jelas di wajahnya.
“Kita bisa perbaiki ini,” katanya cepat. “Aku akan jelaskan ke semua orang setelah pulang.”
Aku menggeleng.
“Keberanian yang dipaksa oleh rasa takut kehilangan… bukan keberanian yang aku tunggu.”
Beberapa detik hening.
Lalu aku berkata pelan namun tegas,
“Terima kasih untuk tiga tahun itu. Tapi aku tidak akan menjadi pilihan cadangan siapa pun.”
Aku berbalik dan berjalan kembali ke arah api unggun.
Kali ini, aku tidak menoleh.
4
Setelah trip itu, rumor tentang Raka dan Celine memang berlanjut.
Tapi aku tidak lagi peduli.
Aku sibuk mempersiapkan kelulusan dan menerima tawaran kerja dari sebuah perusahaan startup di Jakarta dengan gaji awal Rp8.500.000 per bulan—cukup untuk memulai hidup baru tanpa bayangan siapa pun.
Di hari wisuda, aku berdiri mengenakan toga.
Raka mendekat sekali lagi.
“Mira… apa kita benar-benar selesai?”
Aku menatapnya dengan tenang.
“Kita selesai sejak hari kamu memilih bola dengan goresan kecil itu.”
Ia tak menjawab.
Dari kejauhan, Dimas melambaikan tangan sambil membawa dua botol minuman.
Aku tersenyum dan melangkah ke arahnya.
Tiga tahun aku belajar mencintai orang lain.
Tapi perjalanan itu mengajarkanku satu hal yang jauh lebih penting—
Cinta yang layak diperjuangkan
adalah cinta yang berani berdiri di bawah cahaya,
bukan yang terus bersembunyi di balik bayangan.
Dan kali ini,
aku tidak lagi takut berjalan sendirian.
Karena aku tahu nilai diriku
tidak ditentukan oleh siapa yang memilihku—
melainkan oleh siapa yang berani memperjuangkanku.