Setelah Mama keluar dari kamar Tito Jojo, Papa tidak pernah lagi membuat keributan.

Setelah Mama keluar dari kamar Tito Jojo, Papa tidak pernah lagi membuat keributan.

Aku melihat selembar tisu yang basah oleh darah akibat batuk Papa, diremas kuat di tangannya.

Aku tahu… Papa tidak akan lama lagi bersama kami.

Karena Kakek dulu juga begitu—batuk darah berulang kali sebelum akhirnya pergi selamanya.

Ketika Mama melihat kami berdua, wajahnya terlihat tergesa-gesa. Ia memperingatkan Papa:

“Andoy, kamu tidak mau Maya tumbuh dalam keluarga yang hancur, kan?”

Papa tidak lagi seperti dulu—yang setelah bertengkar hebat akan memelukku dan menghela napas panjang.

Dengan suara tenang ia berkata:

“Beri aku 100 juta peso, dan aku tidak akan bersuara lagi.”

Mama terdiam, tetapi tetap mentransfer uang itu ke rekeningnya.

Sejak saat itu, Mama jarang pulang. Sementara ponsel Papa terus berbunyi karena uang yang masuk.

Rambut Papa rontok semakin banyak. Nafsu makannya hilang.

Namun banyak pria bersetelan jas datang ke rumah untuk mengajariku cara menandatangani dokumen.

Katanya, ia ingin menyiapkan segalanya untuk masa depanku.

Dengan tangan kecilku, aku menghapus air matanya dan berkata polos:

“Pa, kalau Papa capek… Papa boleh pergi temui Kakek. Aku sudah bisa sendiri.”

Air mata Papa semakin deras.

“Maya… maafkan Papa. Papa cuma punya waktu satu bulan lagi di sampingmu.”

Sebelum meninggal, Kakek juga tersenyum dan berkata ia akan pergi ke surga untuk beristirahat.

Mungkin Papa juga akan begitu.

Di sana, Kakek akan menjaganya. Tito Jojo tidak akan bisa merundungnya lagi.

Aku menghitung jari-jariku dan berkedip.

“Pa, satu bulan cukup kok. Papa masih sempat ulang tahunku.”

Tak lama setelah itu, Mama datang.

“Maya, Mama belikan egg tart untukmu.”

Aku berlari senang, tapi ternyata Tito Jojo yang menyerahkannya.

Aku berhenti dan menggeleng, tidak mau menerimanya.

Wajah Tito Jojo tiba-tiba pucat. Aku jadi ikut takut.

Tiba-tiba Mama berteriak:

“Andoy, lihat bagaimana kamu mendidik anak!”

Tubuhku gemetar. Aku tidak bisa bicara.

Papa cepat-cepat memelukku dan menepuk bahuku untuk menenangkanku.

Tapi sebelum ia sempat menjelaskan, Mama mendorongnya keras hingga ia terbentur tembok.

Namun Papa tidak peduli pada dirinya. Ia berusaha bangkit untuk mendekatiku, tetapi Mama kembali menghalangi dan memarahinya:

“Kamu pasti setiap hari menghasutnya! Makanya dia tidak mau dekat denganku dan Jojo!”

Papa batuk tanpa henti. Wajahnya sepucat kertas.

Tito Jojo kembali menyodorkan egg tart itu padaku.

Apakah karena aku tidak memakannya, Mama mendorong Papa?

Aku mengambilnya dan cepat-cepat memakannya.

Tito Jojo tersenyum dan bertanya, “Enak, Maya?”

Aku mengangguk cepat.

Akhirnya Papa berhasil melepaskan diri dan menepis egg tart itu dari tanganku.

“Jangan makan itu! Maya alergi mangga di atasnya!”

Tubuhku mulai gatal. Bagian dalam mulutku terasa sakit.

Mama baru menyadari keadaanku, tapi Tito Jojo panik.

“Nelia, aku tidak tahu… aku tidak sengaja…”

Mama dengan lembut menghapus air mata Jojo, lalu menampar Papa keras.

“Andoy! Kamu sengaja tidak langsung bicara supaya aku menyalahkan Jojo, kan? Kamu bahkan memanfaatkan anakmu!”

Bekas lima jari Mama terlihat jelas di wajah Papa.

Aku hanya bisa menangis.

Namun reaksi Papa kini berbeda.

Dulu, setiap bertengkar, Papa akan jadi orang pertama yang menyerah dan memohon Mama tidak meninggalkannya.

Sekarang ia hanya menatap Mama dengan dingin dan kosong.

Mama tampak terguncang oleh tatapan itu.

“Andoy… aku cuma panik. Aku khawatir sama Maya…”

Lalu ia membawaku ke rumah sakit di Batangas.

Dokter menyuntikku—rasanya sakit sekali.

Katanya aku hanya perlu tidur dan akan membaik.

Aku tertidur, tapi terbangun karena perih.

Infusku sudah habis dan darah mengalir kembali ke selang.

Aku ingin memanggil Mama.

Namun kulihat Mama dan Tito Jojo berciuman di balkon.

Aku merindukan Papa. Papa juga suka mencium pipiku.

Aku menekan tombol panggil perawat.

Ketika dokter datang, Mama ikut masuk.

“Bagaimana kalian menjaga anak ini? Jarumnya sampai terlepas!” tegur perawat.

Aku menjelaskan polos:

“Tadi Mama dan Tito Jojo ciuman di balkon, jadi mereka tidak lihat infusku.”

Wajah semua orang berubah.

Tatapan jijik dan terkejut tertuju pada mereka.

Mama cepat-cepat menutup mulutku di depan semua orang.

“Kamu masih kecil, jangan asal bicara!”

Aku tidak bohong. Papa bilang, hidung anak yang berbohong akan memanjang.

Beberapa hari kemudian, foto Mama dan Tito Jojo bersama di jendela sebuah kondominium viral di internet.

Judul-judul berita seperti “Adik Merebut Istri Kakaknya” dan “Jurnalis Terlibat Skandal Keluarga” menghancurkan karier Tito Jojo.

Mama marah besar. Ia menendang meja hingga pecah.

Aku bersembunyi di belakang Papa.

Mama melempar koran ke wajah Papa hingga pipinya tergores.

“Andoy! Siapa lagi yang bisa melakukan ini selain kamu?!”

Ia mengguncang Papa dan mendorongnya keras.

Papa jatuh ke pecahan kaca. Darah mengalir dari siku dan lututnya.

Aku mencari plester, tapi lukanya terlalu banyak.

Tito Jojo keluar dan berkata pura-pura iba:

“Kuya, aku tahu kamu marah, tapi kamu tidak seharusnya melakukan ini…”

Mama memeluk Jojo dan memaksa Papa meminta maaf.

Papa berkata pelan:

“Aku tidak ada hubungannya. Nelia, kamu bebas menyelidiki.”

Wajah Jojo berubah.

Bibir Papa makin pucat. Darah menetes sampai kamar mandi.

Baru saat itu Mama panik.

Ia berlutut dan berkata:

“Andoy… aku tidak sengaja. Jangan menakutiku. Aku akan bawa kamu ke rumah sakit.”

Namun di mata Papa… sudah tidak ada emosi.

Dengan suara selembut angin, ia berkata:

“Nelia… kalau kamu ingin menebusnya… pindahkan vila kita di Tagaytay ke atas namaku.”

Mama membeku.

Tangannya menggantung di udara.

Wajahnya penuh keterkejutan.

Untuk pertama kalinya, Mama terlihat benar-benar kehilangan kendali.

“Kenapa sekarang kamu bicara soal vila?” suaranya gemetar.

Papa tersenyum tipis. Senyum yang sangat asing bagiku.

“Karena aku tahu waktuku tidak banyak. Dan aku tidak ingin Maya nanti tidak punya tempat untuk pulang.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Tito Jojo mencoba menyela, “Kuya, ini bukan waktunya—”

“Diam,” potong Papa pelan, tapi tegas. “Ini urusan keluargaku.”

Kata keluargaku terdengar berat. Bukan termasuk Jojo.

Mama menggigit bibirnya. Matanya merah, entah karena marah atau takut.

“Itu harta bersama,” bisiknya.

Papa menggeleng lemah. “Itu dibeli dengan uang yang aku kumpulkan sebelum kamu mengenal Jojo.”

Kalimat itu seperti pisau yang membelah udara.

Aku berdiri di samping tempat tidur, memegang ujung selimut Papa.

“Ma…” panggilku pelan. “Kalau Papa pergi, Maya tinggal di mana?”

Suara kecilku membuat Mama terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini terjadi, ia menatapku lama. Benar-benar menatapku.

Bukan sebagai alat untuk menyerang Papa.
Bukan sebagai alasan untuk membela Jojo.
Tapi sebagai anaknya.

Air matanya jatuh.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Mama berdiri dan keluar dari kamar.

Tiga hari kemudian, notaris datang.

Vila di Tagaytay resmi dipindahkan atas nama Papa.

Dan pada hari yang sama, Papa memanggilku mendekat.

“Maya,” bisiknya pelan, “Papa sudah atur semuanya. Vila itu nanti akan jadi milikmu. Tidak ada yang bisa mengambilnya.”

Aku mengangguk, walau tidak sepenuhnya mengerti arti semua dokumen itu.

Yang aku tahu, tangan Papa terasa semakin dingin.

Malam sebelum ulang tahunku, Papa memintaku menyanyikan lagu ulang tahun lebih awal.

Dengan suara kecil dan sumbang, aku menyanyi di samping tempat tidurnya.

Ia tersenyum.

Senyum paling hangat yang pernah kulihat.

“Kamu anak Papa yang paling berani,” katanya.

Keesokan paginya, Papa pergi.

Wajahnya tenang. Seperti benar-benar hanya tertidur.


Pemakaman berlangsung sederhana.

Tito Jojo tidak lagi datang ke rumah setelah skandalnya menghancurkan reputasinya. Mama juga berubah.

Ia tidak lagi berteriak.

Rumah menjadi sangat sunyi.

Beberapa bulan kemudian, Mama menjual rumah utama dan kami pindah ke vila di Tagaytay.

Ia mulai bekerja lagi, bukan demi gaya hidup, tapi demi aku.

Suatu malam, saat angin gunung terasa dingin, Mama duduk di sampingku di balkon vila.

“Maya,” katanya pelan, “Mama banyak salah.”

Aku menatapnya.

“Papa tidak pernah membocorkan apa pun ke media,” lanjutnya dengan suara serak. “Jojo sendiri yang ceroboh. Mama… hanya tidak mau mengakuinya.”

Ia akhirnya mengerti.

Tidak semua kesalahan bisa disalahkan pada orang lain.

Aku bersandar di bahunya.

“Mama… Papa sekarang sama Kakek, kan?”

Mama menangis lagi. Tapi kali ini, ia memelukku erat.

“Iya. Dan mereka pasti sedang menjaga kita.”

Angin malam berhembus lembut.

Di bawah langit Tagaytay yang luas, aku akhirnya mengerti sesuatu meski masih kecil:

Cinta tidak pernah berteriak paling keras.
Cinta tidak memaksa.
Cinta hanya diam… tapi melindungi sampai akhir.

Dan Papa telah melindungiku—
dengan sisa hidupnya yang terakhir.