Jantungku berdetak semakin keras. Tangan dan kakiku mulai dingin.
Lalu aku membuka pintu ketiga.
Dan di situlah dunia seolah runtuh di depan mataku.
Di dalam ruangan kecil itu, aku melihat sebuah ranjang rumah sakit lengkap dengan tabung oksigen di sampingnya. Ada kursi roda di sudut ruangan. Di meja kecil dekat jendela, terdapat tumpukan obat-obatan dan beberapa hasil pemeriksaan medis yang semuanya memakai nama anakku: Maria Luisa Kang.
Aku langsung gemetar.
Di dinding, ada kalender besar yang penuh lingkaran merah—jadwal kemoterapi.
Kemoterapi.
Kakiku lemas seketika.
“Tidak… tidak mungkin…” bisikku sambil memegang dada.
Tanganku bergetar saat mengambil sebuah map medis di atas meja. Aku tidak mengerti semua tulisan Korea itu, tetapi satu kata dalam bahasa Inggris membuat mataku membelalak:
“Stage 4.”
Air mataku langsung jatuh.
Anakku… anakku sakit parah selama ini.
Dan aku tidak tahu apa-apa.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari bawah.
“Apa…?”
Suara itu sangat familiar.
Aku berbalik cepat dan melihat Maria berdiri di ambang pintu. Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding terakhir kali kulihat di video call. Rambut panjangnya sudah hilang, digantikan topi rajut abu-abu. Wajahnya pucat, tetapi matanya langsung membesar saat melihatku.
“Nay…?”
Suara itu pecah.
Aku berlari memeluknya sekuat mungkin.
“Bakit hindi mo sinabi sa akin?!” tangisku bercampur marah dan sakit. “Anak… bakit mo itinago lahat sa akin?!”
Maria langsung menangis tersedu-sedu di pelukanku.
“Ayaw kong masaktan ka, Nay…” katanya terbata-bata. “Ayaw kong makita mong unti-unti akong nawawala…”
Aku memegang wajahnya yang dingin sambil terus menangis.
“Labindalawang taon… mag-isa kang lumaban?”
Maria menunduk.
Lalu perlahan ia berkata sesuatu yang membuatku semakin hancur.
“Matagal na kaming hiwalay ni Kang Jun.”
Aku terdiam.
“Tiga taon pa lang kaming kasal nang malaman niyang may sakit ako. Tinulungan niya ako noong una… pero eventually umalis din siya.” Maria tersenyum pahit. “Hindi ko sinabi sa’yo dahil alam kong sisihin mo sarili mo kung bakit ako napunta rito.”
“Yung perang pinapadala mo…?”
“Ako lahat iyon, Nay,” jawabnya lirih. “Nagtrabaho ako hangga’t kaya ko. Ayokong isipin mong pabigat ako. Gusto kong magkaroon ka ng maayos na bahay… maayos na buhay.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
Selama bertahun-tahun, semua orang bilang aku ibu yang beruntung karena punya anak yang mengirim banyak uang dari luar negeri.
Tetapi tidak ada yang tahu…
Bahwa anakku diam-diam sedang melawan kematian sendirian.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, kami makan bersama di meja kecil dapurnya. Aku memasakkan sup hangat sederhana dari bahan seadanya di kulkas. Maria makan perlahan sambil tersenyum kecil.
“Namiss ko ‘to, Nay…”
Aku menggenggam tangannya erat.
“Uuwi tayo,” kataku tegas sambil menahan tangis. “Kahit ano pa mangyari… hindi ka na mag-iisa.”
Maria menangis lagi.
Dan malam bersalju di Korea itu menjadi malam paling menyakitkan… sekaligus paling berharga dalam hidupku.
Karena akhirnya, setelah dua belas tahun kehilangan anakku dalam diam…
Aku berhasil menemukannya kembali.

Beberapa minggu kemudian, aku membawa Maria pulang ke Indonesia.
Perjalanan itu berat untuk tubuhnya yang sudah lemah, tetapi sepanjang penerbangan, anakku terus menggenggam tanganku seperti seorang anak kecil yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Saat pesawat mendarat, Maria menatap keluar jendela sambil menangis pelan.
“Aku kangen rumah, Nay…”
Dadaku kembali sesak mendengarnya.
Sesampainya di kampung, para tetangga terkejut melihat kondisi Maria. Mereka hampir tidak mengenali gadis cantik yang dulu pergi ke Korea dengan penuh impian. Kini tubuhnya kurus dan jalannya harus dibantu kursi roda.
Tetapi anehnya…
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat senyum Maria yang benar-benar tulus.
Setiap pagi aku memasakkan makanan kesukaannya. Aku menyisir rambut tipis yang mulai tumbuh kembali di kepalanya. Kadang kami duduk di teras rumah sambil melihat anak-anak bermain di jalanan kecil desa.
“Aku capek, Nay…” katanya suatu sore sambil bersandar di bahuku.
Aku menggenggam tangannya erat.
“Pahinga ka lang, anak. Nandito na ako.”
Maria tersenyum kecil.
Lalu ia berkata pelan:
“Alam mo ba… kaya hindi ako umuuwi noon… kasi gusto kong maalala mo akong malakas at maganda.”
Air mataku langsung jatuh.
“Ano ka ba…” suaraku bergetar. “Kahit ano pa hitsura mo, anak pa rin kita.”
Maria menangis sambil memelukku.
Hari-hari berikutnya terasa begitu berharga. Walau sakitnya tidak benar-benar hilang, Maria tampak lebih tenang. Seolah setelah sekian lama berjuang sendirian, akhirnya ia bisa meletakkan semua beban di rumahnya sendiri.
Dan pada malam Natal…
Malam yang selama dua belas tahun selalu kulewati sendirian…
Maria duduk di meja makan bersamaku.
Ada sinigang hangat, nasi panas, dan lilin kecil di tengah meja. Hujan turun pelan di luar rumah.
Maria memandangku lama sekali.
“Nay… salamat kasi hindi mo ako sinukuan.”
Aku menggigit bibirku agar tidak menangis.
“Hindi kita kayang sukuan kahit kailan.”
Maria tersenyum.
Senyum paling indah yang pernah kulihat sejak ia masih kecil.
Malam itu, ia tertidur di pangkuanku seperti dulu ketika masih anak-anak. Aku mengelus kepalanya perlahan sambil berdoa dalam diam agar waktu berhenti walau hanya sebentar.
Namun menjelang madaling-araw…
Aku menyadari napasnya perlahan menjadi tenang.
Terlalu tenang.
“Maria…?” panggilku pelan.
Tidak ada sagot.
Tangannya masih hangat di dalam genggamanku, bibirnya masih menyisakan senyum kecil… tetapi anakku sudah pergi dengan damai.
Sa mismong gabing nakauwi siya sa piling ko.
Aku menangis sampai halos mawalan ng boses.
Pero sa gitna ng sakit na iyon, may isang bagay na nagpapagaan sa puso ko:
Hindi na namatay mag-isa ang anak ko sa malamig na banyagang bansa.
Nakapikit siyang hawak ang kamay ng kanyang ina.
At hanggang ngayon, tuwing Pasko, naghahanda pa rin ako ng dalawang plato sa mesa.
Pero ngayon, hindi na dahil naghihintay ako.
Kundi dahil alam kong kahit hindi ko na siya nakikita…
Nakauwi na sa wakas ang anak ko.