AKU DINAS KE LUAR KOTA SELAMA 20 HARI. SETIAP VIDEO CALL DENGAN PUTRIKU, DIA SELALU BILANG, “AKU BAIK-BAIK SAJA, AYAH.”

AKU DINAS KE LUAR KOTA SELAMA 20 HARI. SETIAP VIDEO CALL DENGAN PUTRIKU, DIA SELALU BILANG, “AKU BAIK-BAIK SAJA, AYAH.”

Tapi saat aku pulang dan membuka pintu rumah…

Seluruh tubuhku langsung membeku karena syok.

Putriku yang baru berusia delapan tahun, Dalia, duduk meringkuk di sudut ruangan dengan kepala plontos. Dia bahkan tidak berani menatapku.

“Siapa yang melakukan ini?” suaraku bergetar menahan amarah.

Dalia langsung menangis keras.

“Bu Rina bilang rambutku terlalu panjang dan mengganggu belajar… kalau tidak dicukur, aku tidak boleh masuk kelas…”

Aku langsung memeluk anakku erat-erat sementara kedua tanganku terus gemetar.

Keesokan harinya, sambil membawa sebuah alat cukur elektrik, aku pergi ke sekolahnya.

Kepala sekolah mencoba menghentikanku.

“Pak, mari kita bicarakan baik-baik…”

Aku menepis tangannya dan berjalan lurus menuju ruang guru.

“Hari ini,” kataku dingin sambil menggenggam clipper itu, “aku akan membuatnya merasakan apa yang dirasakan anakku.”

Aku memasukkan kunci ke lubang pintu dan memutarnya perlahan.

Klik.

Pintu rumah terbuka.

Aroma familiar rumah langsung menyambutku.

Aku menurunkan koper dan memanggil,

“Dalia, Ayah pulang.”

Tidak ada jawaban.

Gorden ruang tamu tertutup, membuat rumah terasa gelap dan sunyi.

Aku berhenti melepas sepatu.

Terlalu sunyi.

Istriku masih bekerja, tapi Dalia seharusnya ada di rumah. Sebelum pulang tadi aku bahkan sempat meneleponnya, dan dia bilang sedang menonton TV.

Aku berjalan perlahan menuju ruang tamu, sementara rasa tidak enak mulai memenuhi dadaku.

Lalu aku melihatnya.

Anakku.

Dalia kecilku.

Duduk meringkuk di sudut antara sofa dan dinding.

Tubuh kecilnya melipat seperti berusaha menghilang.

Dia tidak melihat ke arahku. Wajahnya tersembunyi di balik lutut.

Tetapi ada satu hal yang langsung menghantamku seperti palu.

Kepalanya.

Botak.

Kulit kepalanya yang pucat terlihat jelas di bawah cahaya redup ruang tamu.

Rambut hitam panjangnya yang dulu lembut…

Hilang tanpa sisa.

Seolah ada sesuatu yang meledak di kepalaku.

Kunci mobil jatuh ke lantai dengan bunyi nyaring.

“Dalia…” suaraku bergetar.

Tubuh kecilnya langsung berguncang karena tangis yang selama ini ditahannya.

Aku berlutut di depannya, tapi tanganku sempat berhenti di udara.

Aku takut menyentuhnya.

Takut dia semakin terluka.

“Dalia… lihat Ayah.”

Perlahan dia mengangkat wajahnya.

Matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis. Bibirnya gemetar.

Dia bahkan tidak berani menatap mataku.

“T-Tayah…” isaknya pecah.

“Siapa yang melakukan ini?” tanyaku pelan, tapi rahangku sampai mengeras menahan marah.

“Bu Rina…” tangisnya makin keras. “Katanya rambutku terlalu panjang… mengganggu belajar… katanya kalau tidak dicukur aku tidak boleh sekolah…”

Bu Rina.

Wajah seorang guru perempuan sekitar tiga puluhan langsung muncul di pikiranku.

Wali kelas Dalia.

Aku pernah bertemu dengannya saat rapat orang tua murid. Makeup-nya rapi, tutur katanya lembut, tampak seperti guru sempurna.

Tanganku mengepal kuat.

“Kamu dicukur pakai apa?”

“Clipper… kayak di barbershop…”

Suara Dalia terputus-putus karena tangis.

“Di ruang guru… banyak guru lain lihat…”

Ruang guru.

Clipper.

Guru-guru yang hanya menonton.

Dadaku terasa seperti terbakar.

Aku membayangkan putriku dipaksa duduk diam.

Suara alat cukur berdengung di telinganya.

Rambutnya jatuh satu demi satu ke lantai.

Dan di sekelilingnya…

Orang-orang dewasa yang seharusnya melindunginya hanya diam melihat.

Aku langsung memeluk Dalia erat.

Tubuh kecilnya gemetar di pelukanku seperti daun tertiup angin.

Air matanya membasahi bajuku.

Tanganku ikut gemetar.

Bukan karena takut.

Tetapi karena amarah yang begitu besar sampai rasanya bisa membakar segalanya.

“Sudah… tidak apa-apa,” bisikku sambil mengusap punggungnya. “Ayah sudah pulang.”

“Ayah akan urus semuanya.”

Dalia menangis di pelukanku sampai akhirnya tertidur karena kelelahan.

Aku menggendongnya ke kamar dan menyelimutinya perlahan.

Bahkan saat tidur, alis kecilnya masih berkerut ketakutan.

Aku keluar kamar dan menutup pintu pelan.

Ruang tamu masih berantakan. Koperku bahkan belum dipindahkan.

Aku tidak peduli.

Aku masuk ke kamar mandi dan membuka lemari bawah wastafel.

Di sana masih ada kotak lama.

Aku mengambil clipper hitam yang dulu kupakai mencukur rambut sendiri.

BZZZZT…

Suara dengungnya memenuhi rumah yang sunyi.

Aku menatap diriku di cermin.

Mataku merah.

Wajahku sendiri terasa asing.

Penuh kemarahan.

Aku mematikan alat cukur itu perlahan.

Lalu mengambil ponsel dan membuka grup kelas Dalia.

Foto profil Bu Rina muncul di layar.

Foto glamor dengan rambut panjang berkilau hasil salon.

Aku tersenyum dingin.

Cahaya layar ponsel memantul di bilah clipper di tanganku.

Aku tidak tidur semalaman.

Dalia beberapa kali terbangun sambil menangis kecil dalam tidurnya.

“Jangan, Bu…”

Setiap kali itu terjadi, aku hanya duduk di sampingnya sambil mengusap kepalanya perlahan.

Dan setiap sentuhan terasa seperti menyayat dadaku sendiri.

Menjelang subuh, akhirnya dia tidur nyenyak.

Aku kembali ke ruang tamu dan duduk dalam gelap.

Setelah ledakan amarah itu mereda…

Yang tersisa hanyalah sesuatu yang dingin dan keras.

Tekad.

Aku membuka Facebook Bu Rina.

Semua postingannya publik.

Postingan terakhirnya baru kemarin.

Selfie di salon mahal.

Rambutnya tampak berkilau sempurna.

Caption-nya:

“Self-love dulu ✨ Setelah capek mengajar, waktunya hair spa.”

Aku menatap foto itu lama sekali.

Dia merawat rambutnya dengan begitu hati-hati…

Tetapi menghancurkan harga diri anakku sendiri.

Anakku baru delapan tahun.

Tanganku memutih karena terlalu keras menggenggam ponsel.

Aku terus scrolling.

Postingan tentang disiplin.

“Anak tanpa disiplin tidak akan sukses.”

“Guru tegas menciptakan murid hebat.”

Omong kosong.

Aku mematikan layar ponsel.

Dan di detik itu…

Rencanaku sudah selesai.

Sederhana.

Dingin.

Dan menurutku… adil.

Aku tidak membutuhkan permintaan maaf.

Maaf adalah hal termurah di dunia.

Yang kuinginkan hanya satu:

Dia harus merasakan ketakutan yang sama seperti yang dirasakan anakku.

Aku pergi ke gudang dan membuka kotak perkakas lama.

Di sana aku menemukan pisau cukur tua.

Aku duduk di ruang tamu sambil mengasahnya perlahan.

Srek… srek… srek…

Suara logam di tengah malam terdengar menyeramkan.

Dan di kepalaku terus terngiang suara Dalia:

“Di ruang guru… semua guru lihat…”

Mereka semua hanya menonton.

Dan membiarkannya terjadi.

Pagi itu, aku berdiri di depan gerbang sekolah Dalia sambil menggenggam clipper di dalam tas.

Udara masih dingin, tetapi darahku terasa mendidih.

Aku melangkah masuk tanpa memedulikan tatapan para satpam dan orang tua murid.

Semua orang mengenaliku.

Ayah Dalia.

Anak perempuan kecil yang kemarin dicukur botak di ruang guru.

Bisik-bisik mulai terdengar saat aku berjalan menuju gedung utama.

“Pak itu ayahnya Dalia…”

“Astaga…”

Kepala sekolah buru-buru menghampiriku sebelum aku mencapai ruang guru.

“Pak Arman, mari kita bicara baik-baik,” katanya panik. “Bu Rina hanya ingin mendisiplinkan murid—”

“Disiplin?” suaraku begitu dingin sampai pria itu langsung diam.

Aku menatap matanya tajam.

“Anakku pulang sambil gemetar dan menangis sampai tidur.”

Tanganku mengepal.

“Dan kalian menyebut itu disiplin?”

Aku langsung berjalan melewatinya.

Kepala sekolah mencoba menahan lenganku, tetapi aku menepisnya.

Pintu ruang guru terbuka keras.

BRAK!

Semua guru langsung menoleh.

Dan di sana…

Bu Rina sedang duduk sambil minum kopi.

Rambut panjangnya yang kemarin dipamerkan di Facebook tergerai rapi di bahunya.

Wajahnya langsung pucat saat melihatku.

“P-Pak Arman…”

Aku berjalan perlahan mendekatinya.

Setiap langkah membuat ruangan semakin sunyi.

“Ayahnya Dalia…” bisik salah satu guru.

Aku berhenti tepat di depan mejanya.

Lalu perlahan mengeluarkan clipper dari tas.

BZZZZZT.

Suara dengung itu langsung membuat wajah Bu Rina berubah ketakutan.

“Apa yang Bapak lakukan?!” katanya sambil berdiri panik.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Kemarin,” kataku pelan, “anakku duduk di ruangan ini.”

Tanganku gemetar menahan emosi.

“Dia menangis.”

“Dia takut.”

“Dan kalian semua hanya menonton.”

Tak ada satu pun guru berani bicara.

Semua menunduk.

Aku mendekat satu langkah lagi.

“Sekarang…”

Aku mengangkat clipper itu sedikit.

“…rasanya bagaimana kalau ada orang yang memaksa mengambil sesuatu yang sangat berharga darimu?”

Bu Rina langsung mundur sambil menahan rambutnya.

“Pak, jangan gila!”

Dan saat itulah…

Aku tiba-tiba mematikan clipper itu.

Sunyi.

Aku menatapnya lama sekali.

Lalu aku tersenyum pahit.

“Lihat?” bisikku lirih. “Kamu takut.”

Air mata mulai menggenang di mataku.

“Padahal aku bahkan belum menyentuhmu.”

Suara napasku berat.

“Tapi anakku? Dia cuma delapan tahun.”

Ruangan itu membeku.

Bu Rina perlahan terduduk lemas.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku melihat rasa bersalah muncul di wajahnya.

“A-aku cuma ingin dia rapi…” katanya dengan suara kecil.

“Rapi?” aku tertawa lirih penuh amarah. “Kamu menghancurkan harga dirinya di depan banyak orang.”

Aku menunjuk guru-guru lain di ruangan itu.

“Dan kalian.”

Mereka semua menunduk semakin dalam.

“Kalian melihat semuanya dan memilih diam.”

Aku menarik napas panjang.

Lalu meletakkan clipper itu di atas meja Bu Rina.

“Aku datang ke sini bukan untuk membalas dendam.”

Aku menatapnya tajam.

“Aku datang supaya kalian merasakan sedikit saja ketakutan yang dirasakan anakku.”

Air mata Bu Rina mulai jatuh.

Namun aku belum selesai.

Aku mengeluarkan ponselku lalu memutar rekaman suara.

Tangisan Dalia memenuhi ruang guru.

“Tolong po… ayoko po…”

Beberapa guru langsung menutup mulut mereka sendiri.

Ada yang mulai menangis pelan.

Dan Bu Rina…

Wanita itu akhirnya benar-benar hancur.

Dia menutup wajahnya sambil terisak.

“Aku salah…”

Aku menggigit rahangku kuat-kuat agar tidak ikut meledak.

Karena di detik itu aku sadar…

Tak ada hukuman yang bisa menghapus trauma anakku.

Tak ada teriakan yang bisa mengembalikan rambut Dalia.

Dan tak ada balas dendam yang benar-benar membuat hati seorang ayah tenang.

Beberapa minggu kemudian, pihak sekolah resmi memecat Bu Rina setelah kasus itu viral. Dinas pendidikan juga turun tangan setelah banyak orang tua murid melaporkan tindakan kekerasan di sekolah tersebut.

Tetapi bagian paling sulit bukanlah proses hukumnya.

Melainkan malam-malam setelahnya.

Karena Dalia masih sering menangis saat bercermin.

Suatu malam, aku menemukannya duduk diam di depan kaca sambil memegang topi kecilnya.

“Dalia…” panggilku pelan.

Dia menunduk.

“Ayah… aku jelek ya sekarang?”

Pertanyaan itu menghancurkan hatiku lebih dari apa pun.

Aku langsung berlutut di depannya dan memegang wajah kecilnya.

“Dengar Ayah baik-baik.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Kamu tetap anak perempuan paling cantik di dunia.”

Bibir Dalia gemetar.

“Benarkah?”

Aku mengangguk sambil tersenyum walau dadaku terasa sakit.

“Rambut bisa tumbuh lagi.”

Aku menyentuh dadanya perlahan.

“Tapi hati baik seperti punya Dalia… itu jauh lebih berharga.”

Anakku langsung memelukku erat sambil menangis.

Dan malam itu, sambil memeluk tubuh kecilnya sampai tertidur…

Aku berjanji dalam hati:

Selama aku masih hidup…

Tak akan kubiarkan siapa pun membuat anakku merasa kecil lagi.