Tapi yang tidak dia ketahui, kotak obat pencahar yang dia gunakan sudah kudokumentasikan secara notaris. Termasuk rekaman kamera tersembunyi yang sudah kukirim ke pengacaraku.

Tapi yang tidak dia ketahui, kotak obat pencahar yang dia gunakan sudah kudokumentasikan secara notaris. Termasuk rekaman kamera tersembunyi yang sudah kukirim ke pengacaraku.

Suatu hari, setengah tablet jatuh dari saku celemek ibu mertuaku.

Saat dia membungkuk sambil mengelap meja, sesuatu yang putih menggelinding dari ujung sakunya hingga ke kakiku.

Aku menatapnya.

Sebuah tablet. Terbelah dua. Tinggal setengah.

Aku mendongak menatapnya.

Tangannya berhenti mengelap.

Lalu dia tersenyum.

“Itu obat lama untuk penyakitku dulu, Nak. Cuma painkiller.”

Dia cepat mengambil setengah tablet itu dan memasukkannya kembali ke sakunya.

Gerakannya terlalu cepat.

Dia melanjutkan mengelap meja seolah tak terjadi apa-apa.

Aku ikut tersenyum.

“Ibu, jangan terlalu capek ya.”

Dia tidak menyadari apa pun.

Dia tidak tahu, sejak tablet setengah itu jatuh, aku sudah mulai menggali kuburannya sendiri.


1.

Namaku Nina Wijaya, tiga puluh tahun.

Sudah enam tahun aku menikah dengan Raka Pratama, dan lima tahun tinggal serumah dengan ibu mertuaku, Ibu Ratna.

Dalam lima tahun ini, aku sudah masuk empat rumah sakit di Jakarta dan diperiksa tujuh dokter spesialis gastroenterologi.

Tidak ada satu pun yang menemukan penyakit.

Pertama kali aku dirawat, November 2020.

Baru setengah tahun menikah. Pagi itu aku makan bubur jagung buatan Ibu Ratna. Jam sepuluh pagi, perutku melilit hebat. Sore harinya, aku bolak-balik ke toilet delapan kali.

Dokter bertanya,
“Ada makan makanan basi?”

“Tidak, Dok.”

“Stres?”

“Normal saja.”

“IBS. Hati-hati makanan.”

Aku mengangguk.

Kedua kali, Maret 2021.

Aku dan Ibu Ratna makan di restoran hotpot di Kelapa Gading. Malamnya aku muntah hebat.

“Normal. Mungkin terlalu pedas.”

Ketiga kali, Mei 2021.

Aku minum sup ikan buatannya. Semalaman diare.

Keempat, kelima, keenam…

Masuk 2022, aku sudah terbiasa.

Smecta selalu tersedia di rumah.
Imodium selalu ada di tasku.

Kupikir aku punya kolitis kronis.

Raka juga berpikir begitu.

Ibu Ratna pun begitu.

Setiap kali perutku sakit, dia paling perhatian.

“Nina, Ibu buatkan bubur ya.”
“Nina, minum kuah hangat.”
“Nina, Ibu rebus ayam supaya kamu kuat.”

Tangannya tak pernah berhenti bekerja.

Semua kerabat memuji:

“Raka, kamu beruntung punya ibu seperti itu.”
“Nina, kamu menantu paling beruntung.”

Aku selalu tersenyum.

Dan waktu itu, aku benar-benar percaya dia menyayangiku.


Akhir 2021, aku hamil.

Dua bulan.

Aku bahagia.
Ibu Ratna lebih bahagia lagi.

“Aku bilang juga apa, kamu diberkati!”

Hari itu dia memasak sup ayam kampung.

“Minum selagi hangat, bagus untuk darah.”

Aku minum.

Besok malamnya, aku mulai pendarahan.

Aku keguguran.

Dokter berkata,
“Kelainan kromosom. Tubuh menolak secara alami.”

Aku menangis sampai sesak.

Raka memelukku.
“Tidak apa-apa. Kita bisa coba lagi.”

Ibu Ratna duduk di luar ruang rawat, matanya sembab.

Kupikir dia ikut berduka.


Juni 2023, aku hamil lagi.

Tiga bulan.

Kali ini aku sangat berhati-hati.

Ibu Ratna bahkan lebih perhatian.

“Nina, sup merpati ini bagus.”
“Nina, herbal ini memperkuat janin.”

Aku hampir menangis terharu.

Hari ke-86.

Perutku sakit.

Rumah sakit lagi.

Keguguran lagi.

Dokter berkata hal yang sama.

Di lorong rumah sakit, Ibu Ratna menangis paling keras.

“Kenapa nasibku begini…”

Raka memeluk ibunya.

Aku menatap langit-langit kamar rawat.

Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran muncul.

Masih samar.

Tapi tidak hilang.


Dua tahun berlalu.

Tubuhku secara medis normal.

Ovulasi normal. Hormon normal. Tidak ada sumbatan.

“Kenapa belum hamil lagi?” tanyaku.

Dokter menghela napas.
“Terkadang memang tidak bisa dijelaskan.”

Raka berkata,
“Teruskan saja minum herbal buatan Ibu.”

Aku mengangguk.

Tapi benih kecurigaan itu tidak pergi.


2.

Perubahan terjadi September 2025.

Rabu siang.

Aku pulang lebih cepat dari kantor karena sakit perut.

Jam dua siang aku tiba di rumah di daerah BSD, Tangerang.

Rumah sunyi.

Saat aku minum air di dapur, terdengar suara dari kamar utama.

Ibu Ratna sedang menelepon.

Suaranya pelan.

Tapi tembok rumah tidak terlalu tebal.

“…Dia belum juga bawa hasil.”

“Iya, belum.”

“Kita tunggu sedikit lagi.”

“Raka juga mulai tidak sabar.”

“Pihak perempuan itu bagaimana?”

“…Mereka menunggu. Ayahnya juga menunggu.”

“Raka dan perempuan itu saling mencintai. Tunggu saja sampai Nina ‘selesai’.”

“Iya, aku yang atur.”

“Jangan khawatir. Aku tidak akan berhenti kasih obat. Kalau berhenti, dia langsung hamil.”

Gelas di tanganku jatuh.

Pecah.

Sunyi.

“Siapa itu?” teriaknya.

Aku menarik napas panjang.

“Aku, Bu. Aku pulang cepat.”

Dua detik hening.

“Oh… kenapa tidak bilang?”

Dia keluar dengan senyum lebar.

“Nina, sakit ya? Ibu buatkan bakmi ayam?”

Aku menatapnya.

Wajahnya normal.

Tidak ada panik.

Seolah tidak ada percakapan tadi.

Aku tersenyum.

“Tidak usah, Bu. Aku mau istirahat.”

Aku masuk kamar. Mengunci pintu.

Tanganku gemetar.

“Tunggu sampai Nina selesai.”
“Aku tidak akan berhenti kasih obat.”
“Kalau berhenti, dia langsung hamil.”

Obat itu untuk siapa?

Untuk orang yang ingin hamil.

Di rumah ini hanya ada tiga orang.

Aku satu-satunya yang bisa hamil.


Aku duduk dua jam.

Tidak menangis.

Tidak histeris.

Otakku menjadi dingin.

Aku mengingat semuanya.

Setiap sup sebelum keguguran.
Setiap diare setelah makan masakannya.
Setiap perhatian yang berlebihan.

Dan satu kalimat lagi:

“Raka dan perempuan itu saling mencintai.”

Ada perempuan lain.

Mereka hanya menunggu aku “selesai”.

Apa artinya selesai? Cerai?
Atau… mati?

Aku memejamkan mata.

Lalu membukanya kembali.

Aku tahu apa yang harus kulakukan.

Aku tidak akan menangis.

Tidak akan membuat keributan.

Aku akan melakukan tiga hal:

  1. Mengumpulkan bukti.
  2. Mencatatkan semuanya secara notaris.
  3. Mengirim mereka ke penjara.

3.

Aku menelepon sahabatku, Sheila Anindita, yang bekerja di kantor Notaris di Jakarta Selatan.

“Kalau seseorang diracuni perlahan selama bertahun-tahun, bagaimana cara kumpulkan bukti paling kuat?”

Sunyi lima detik.

“Nina… apa yang terjadi?”

“Jawab dulu.”

Dia serius.

“Tiga hal. Bukti fisik — sisa obat, kirim ke lab. Bukti video — rekaman langsung. Bukti penguat — hubungan pelaku dengan barang bukti. Semua harus ada timestamp notaris.”

“Ada aplikasinya?”

“Ada. Kantor kami pakai sistem e-Notary berbasis cloud. Rekaman langsung terkunci waktu dan tidak bisa diubah.”

“Kalau lengkap, cukup untuk pidana?”

Sheila menarik napas.

“Bisa masuk Pasal 204 KUHP — meracuni orang. Atau percobaan pembunuhan. Hukumannya bisa lebih dari 15 tahun penjara.”

“Cukup,” jawabku.

Aku menutup telepon.

Di meja dapur, kotak kecil obat pencahar itu masih ada di dalam lemari.

Aku menatapnya.

Lima tahun racun.

Sekarang giliranku menunggu.

Bukan menunggu mati.

Tapi menunggu mereka jatuh.

Dan kali ini…
aku yang mengatur dosisnya.

Aku tidak bergerak gegabah.

Selama tiga bulan berikutnya, aku hidup seperti biasa.

Aku makan masakan Ibu Ratna.
Aku tersenyum pada Raka.
Aku pura-pura tidak tahu apa-apa.

Tapi setiap piring yang disajikan, aku simpan sampelnya.

Setiap kali Ibu Ratna membuka botol obat, kamera tersembunyi di rak dapur merekam jelas.

Setiap transaksi pembelian obat pencahar di apotek dekat rumah, aku dapatkan salinan CCTV-nya melalui kenalan Sheila.

Dan yang paling penting — rekaman percakapan.

Suatu malam, aku sengaja meninggalkan ponsel di ruang tamu dengan fitur rekam otomatis menyala.

Suara mereka masuk dengan sangat jelas.

Raka berkata,
“Kalau Nina tahu, bagaimana?”

Ibu Ratna tertawa kecil.
“Dia sudah lima tahun tidak tahu apa-apa. Tunggu saja sampai dia tidak bisa punya anak lagi. Setelah itu kita urus perceraian.”

“Bagaimana kalau dia lapor polisi?”

“Dengan bukti apa? Semua sakitnya terlihat alami.”

Aku mendengarkan rekaman itu sendirian di kamar.

Aku tidak menangis.

Aku hanya menyalin file itu ke tiga tempat berbeda.

Cloud. Hard drive eksternal. Dan kantor notaris.


5. Hari Penangkapan

Tanggal 12 Januari 2026.

Aku mengundang Raka dan Ibu Ratna makan malam di restoran keluarga di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

Aku berdandan rapi.

Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku terlihat sangat sehat.

Raka tersenyum, mungkin berpikir racun itu akhirnya bekerja sempurna.

Ibu Ratna memandangku dengan mata puas.

Makanan baru saja datang ketika empat orang berpakaian sipil mendekat.

“Selamat malam. Kami dari Kepolisian Metro Jaya.”

Wajah Raka langsung pucat.

Ibu Ratna mencoba tersenyum.

“Ada apa, Pak?”

Petugas menunjukkan surat penangkapan.

“Saudari Ratna Prasetyo dan Saudara Raka Pratama, Anda diduga melakukan tindak pidana percobaan pembunuhan melalui peracunan berulang, sesuai Pasal 204 dan 338 KUHP.”

Sendok di tangan Ibu Ratna jatuh.

“Tidak mungkin! Ini salah paham!”

Petugas kedua membuka tablet.

Memutar video.

Rekaman dapur.
Rekaman percakapan.
Rekaman pembelian obat.
Laporan laboratorium yang menunjukkan kandungan zat pencahar dosis tinggi dalam sampel makananku selama lima tahun.

Semua lengkap.
Semua bertimestamp notaris.

Raka menatapku.

“Kamu… sudah tahu?”

Aku tersenyum.

“Sejak tablet setengah itu jatuh dari saku Ibu.”

Air mata akhirnya jatuh dari mata Ibu Ratna.

Bukan karena menyesal.

Karena kalah.


6. Setelah Badai

Proses hukum berjalan cepat.

Media lokal sempat mengangkat kasusnya sebagai “Kasus Racun Lima Tahun di BSD”.

Raka divonis 14 tahun penjara karena turut serta dan persekongkolan.

Ibu Ratna divonis 18 tahun.

Perempuan yang mereka tunggu itu?
Menghilang sebelum sidang pertama.

Aku menjual rumah itu.

Aku pindah ke apartemen kecil di Kuningan, Jakarta Selatan.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku makan tanpa takut.

Enam bulan kemudian, aku melakukan pemeriksaan medis ulang.

Dokter tersenyum.

“Rahim Anda sehat. Tidak ada kerusakan permanen.”

Aku menutup mata.

Bukan karena sedih.

Karena lega.