Ruang tamu rumah kami di Jakarta Selatan tiba-tiba menjadi sunyi.

Ruang tamu rumah kami di Jakarta Selatan tiba-tiba menjadi sunyi.

Aku menatap Kak Rani tanpa berkedip.

“Kak, tidak salah kalau adik memberi hadiah untuk kakaknya,” kataku pelan.
“Yang salah adalah kalau kakak menganggap itu kewajiban.”

Wajah Kak Rani langsung memerah.

“Kamu—!”

Pintu terbuka.

Arga masuk membawa dua kantong belanja dari supermarket. Melihat suasana tegang, langkahnya terhenti.

“Ada apa ini?”

Kak Rani langsung berdiri dengan nada penuh keluhan.

“Arga, kamu ini keterlaluan! Hanya karena istrimu tidak bekerja, kamu membatalkan hadiah ulang tahunku! Kamu tidak malu?”

Arga meletakkan kantong belanja di meja.

“Kak, sudah kubilang. Itu keputusanku. Tidak ada hubungannya dengan Nadia.”

“Kalau begitu bayar saja sisa Rp90 juta itu! Aku sudah pamer ke teman-temanku tentang kalung berlian itu!”

Arga terdiam.

Aku melihat jelas konflik di wajahnya.

Ia menarik napas panjang.

“Kak… aku tidak akan membayarnya.”

Suasana membeku.

“Apa?!”

“Aku sudah punya keluarga sendiri. Aku harus memprioritaskan istriku.”

Nada suaranya tenang, tapi tegas.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihatnya benar-benar berdiri di depanku.

Kak Rani tertawa sinis.

“Baiklah! Jangan menyesal kalau suatu hari kamu butuh bantuanku!”

Ia meraih tasnya dan pergi dengan marah.

Pintu tertutup keras.

Arga berdiri beberapa detik, lalu menoleh padaku.

“Maaf ya.”

Aku menggeleng pelan.

“Kamu tidak perlu minta maaf.”


Malam itu, setelah makan malam sederhana, aku mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Apa itu?” tanyanya.

“Buka saja.”

Di dalamnya ada bukti transfer bank.

Rp3.200.000.000 — pelunasan sisa KPR rumah kami.

Arga menatap angka itu lama sekali.

Tangannya sedikit gemetar.

“Nadia… ini apa?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak di-PHK.”

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku menang undian nasional.”

Sunyi.

Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang.

“Berapa?”

“Setelah pajak… Rp48.920.000.000.”

Kali ini benar-benar hening.

Ia tidak melompat.
Tidak tertawa.
Tidak histeris.

Ia hanya duduk perlahan.

Lalu bertanya pelan,

“Kapan kamu tahu?”

“Kemarin.”

“Kenapa tidak langsung bilang?”

Aku menatapnya lembut.

“Karena aku ingin tahu… kalau suatu hari aku benar-benar jatuh, apakah kamu tetap akan menggenggam tanganku.”

Matanya memerah.

“Bodoh,” bisiknya lirih. “Walaupun kamu tidak punya apa-apa, kamu tetap istriku.”

Aku mendekat dan menggenggam tangannya.

“Karena itu, bagianmu sudah kusiapkan.”

Aku menunjukkan rekening investasi atas namanya sendiri — Rp10 miliar.

“Ini milikmu. Bukan pinjaman. Bukan hadiah. Tapi penghargaan.”

Ia langsung menggeleng keras.

“Aku tidak butuh sebanyak itu.”

“Aku tahu. Justru karena itu kamu pantas mendapatkannya.”

Air mata akhirnya jatuh dari matanya.

Bukan karena uang.

Tapi karena dihargai.


Epilog

Dua bulan kemudian, kami pindah ke apartemen baru di kawasan SCBD, Jakarta.

Bukan yang paling mahal.
Bukan yang paling mewah.

Tapi yang memiliki jendela besar menghadap matahari terbenam.

Arga berhenti lembur berlebihan.

Aku membuka perusahaan konsultan kecil dengan modal sendiri.

Kami melunasi semua utang tanpa memberi tahu siapa pun detailnya.

Ketika Kak Rani akhirnya tahu nilai apartemen kami mencapai puluhan miliar rupiah, ia datang lagi dengan senyum berbeda.

Kali ini lebih manis.

“Wah, ternyata kalian sukses juga ya…”

Aku hanya tersenyum.

Arga berdiri di sampingku.

Dengan tenang ia berkata,

“Kami cukup bahagia dengan hidup sederhana kami, Kak.”

Sederhana.

Kata itu membuat wajahnya kaku.

Beberapa orang menjadi sombong ketika punya uang.

Beberapa orang menjadi berubah ketika melihat uang.

Dan beberapa orang—

membuktikan cintanya sebelum tahu ada uang.

Aku beruntung.

Bukan karena menang Rp48,92 miliar.

Tapi karena di hari ketika aku pura-pura tidak punya apa-apa…

suamiku tetap memilihku.

Dan itu jauh lebih berharga daripada jackpot mana pun.

Tiga bulan setelah itu, hidup kami berjalan jauh lebih tenang.

Uang tidak mengubah jadwal pagi kami.
Arga tetap bangun lebih dulu, membuat kopi, lalu membangunkanku dengan suara lembut.

Bedanya hanya satu — kini ia tidak lagi berangkat dengan wajah lelah.

Suatu sore, kami duduk di balkon apartemen. Matahari Jakarta tenggelam perlahan, memantulkan warna emas di gedung-gedung tinggi.

Arga memegang tanganku dan berkata pelan,
“Kalau waktu itu kamu benar-benar kehilangan pekerjaan… aku mungkin tidak bisa memberimu hidup mewah. Tapi aku akan tetap berdiri di sampingmu.”

Aku tersenyum.
“Aku tahu.”

Ia menoleh padaku.
“Kamu tidak pernah benar-benar mengujiku, kan?”

Aku tertawa kecil.
“Mungkin sedikit.”

Ia menggeleng sambil tersenyum.

Beberapa hari kemudian, aku diam-diam mentransfer sebagian dana kemenangan kami ke yayasan pendidikan di kampung halamanku.
Aku membangun beasiswa kecil atas nama kedua orang tuaku.

Arga mendukung tanpa ragu.

“Kalau uang ini bisa membuat hidup orang lain lebih ringan, itu baru namanya berkah,” katanya.

Dan di situlah aku semakin yakin.

Kami mungkin menang lotre.
Tapi yang lebih penting — kami tidak kehilangan hati kami.

Kak Rani perlahan menjauh.
Bukan karena kami menolaknya.
Tapi karena ia sadar, kami tidak lagi bisa dikendalikan dengan rasa bersalah atau gengsi.

Suatu malam sebelum tidur, Arga berkata dengan suara setengah mengantuk:

“Nadia, kalau besok semua uang ini hilang, kamu masih mau tinggal bersamaku?”

Aku mematikan lampu.

Dalam gelap, aku menggenggam tangannya erat.

“Kalau besok semua uang ini hilang, kita masih punya satu sama lain. Dan itu cukup.”

Ia tersenyum dalam gelap.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar merasa kaya.

Bukan karena angka di rekening.

Bukan karena apartemen miliaran.

Tapi karena aku dicintai tanpa syarat.

Dan di dunia ini,
cinta yang tidak bergantung pada uang
adalah kekayaan paling langka.