Pada malam hujan di Kota Cebu, Filipina, aku pergi tepat dua puluh menit dari laboratorium untuk membeli kopi di kantin kampus.

Pada malam hujan di Kota Cebu, Filipina, aku pergi tepat dua puluh menit dari laboratorium untuk membeli kopi di kantin kampus.

Saat kembali, laptopku masih terbuka…
tapi kursi di sampingku — tempat Angela Ramos duduk — sudah kosong.

Belum sempat aku duduk, ponselku bergetar.

Notifikasi dari grup riset masuk:

“Angela telah mengirim proposal berjudul Coastal Energy System ke sistem.”

Jantungku langsung berdegup kencang.

Itu skripsiku.

Tiga bulan penuh aku hampir tinggal di laboratorium — mengumpulkan data di pesisir Mactan, begadang setiap malam menyempurnakan model perhitungan, memperbaiki simulasi gelombang dan efisiensi turbin…
Semua itu ada di file tersebut.

Tanganku gemetar saat membuka sistem akademik.

Nama penulis: Angela Ramos.
Bukan aku.

Itu bukan sekadar edit.
Bukan referensi.

Itu pencurian terang-terangan.

Aku langsung berdiri dan berlari ke lorong.

Angela bersandar santai di dinding, sedang mengetik pesan di ponselnya, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Apa yang kamu lakukan dengan fileku?” tanyaku, suaraku bergetar menahan marah.

Ia menatapku dengan alis berkerut.

— Aku cuma submit proposal.
— Submit… punyaku?
— Punyamu? Kamu ngomong apa?

Aku mengepalkan tangan.

“Itu dataku. Semua risetnya aku yang buat!”

Ia tersenyum tipis, lalu mengangkat ponselnya di depan wajahku.

— Tapi aku yang kirim.
— Dan sudah direview oleh dosen pembimbing.

Pesan di layar jelas tertulis:

“Excellent structure. Proceed to final defense.”

Rasanya seperti disiram air es.

Angela melanjutkan dengan nada datar:

— Laptopmu terbuka, jadi aku baca.
— Bagus. Jadi… kupakai saja.
— Kamu kan belum submit, ya?

“Kamu mencuri risetku.”

— Jangan lebay.
— Dalam penelitian, ide itu untuk dibagikan.
— Lagi pula… kamu tidak mengunci laptopmu.

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

“Hapus sekarang.”

Ia menyilangkan tangan.

— Terlambat.
— Sudah tercatat di sistem.
— Besok sudah jadwal sidang.

Senyumnya kali ini meremehkan.

— Kalau kamu tidak terima…
— Buat saja topik baru.
— Masih ada 24 jam, kan?

Aku tertawa pahit.

“Tiga bulan kerja keras… diganti dua puluh empat jam?”

Ia membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyelipkannya ke tanganku.

— Ini tanda terima kasih.
— ₱5.000.
— Untuk mahasiswa… lumayan.

Lima ribu Peso Filipina.
Harga tiga bulan keringat dan kurang tidur.

Aku melemparkannya kembali ke wajahnya.

“Apa kamu pikir aku bisa dibeli?”

Ia mengangkat bahu.

— Lambat.
— Kalah.
— Dan… tanpa bukti.

Dadaku terasa runtuh.

Aku kembali ke lab, membuka laptop.

Fileku… hilang.

Bukan hanya file utama.
Backup juga.
Cloud storage juga kosong.

Seolah tidak pernah ada.

Punggungku terasa dingin.

Angela berdiri di pintu.

— Lagi cari sesuatu?
— Oh ya… aku sudah bersihkan juga untukmu.
— Supaya rapi.

Duniaku seperti berdengung.

Tidak ada file.
Tidak ada data.
Tidak ada bukti.

Hanya aku.

Dan proposal atas namanya.

Tiba-tiba ponselku bergetar lagi.

Email baru.

Dari Academic Council – University of San Carlos.

Aku membukanya.

Baris pertama membuat napasku terhenti.

“Kami menerima laporan anonim mengenai kemungkinan duplikasi data dalam proposal berjudul ‘Coastal Energy System’…”

Aku terdiam.

Angela mendekat, mengintip layar ponselku.

Untuk pertama kalinya, wajahnya berubah.

Senyum sombong itu hilang.

Digantikan ketakutan.

Aku menatapnya perlahan.

Tersenyum tipis.

“Angela…”

“Yakin cuma aku yang kehilangan file?”

Karena sebelum keluar membeli kopi malam itu…
aku sudah mengirim seluruh dataset mentah dan log pengembangan model ke server eksternal universitas di Singapura — lengkap dengan cap waktu otomatis.

Dan sistem itu…

tidak bisa dihapus hanya dengan menekan tombol delete.

Angela mundur selangkah.

Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban cepat.

Aku berdiri tegak, menatapnya tanpa lagi gemetar.

“Server eksternal itu mencatat semuanya,” kataku pelan.
“Setiap perubahan file. Setiap waktu akses. Termasuk alamat IP dan akun yang login.”

Wajahnya memucat.

Ponselku kembali bergetar.

Email kedua masuk.

“Mahasiswa dengan ID akun yang digunakan untuk submit proposal diminta hadir ke ruang sidang etik besok pukul 09.00. Harap membawa bukti kepemilikan data mentah.”

Angela menelan ludah.

“Aku… aku cuma—”

“Kamu cuma berpikir aku tidak punya apa-apa,” potongku tenang.

Malam itu juga, aku membalas email dewan akademik.
Aku melampirkan:

  • Screenshot log server eksternal
  • File mentah lengkap dengan metadata tiga bulan terakhir
  • Rekaman CCTV laboratorium yang otomatis tersimpan di sistem keamanan kampus

Jam 09.00 pagi, ruang sidang etik penuh.

Angela datang dengan make-up rapi dan jas formal.
Aku datang dengan laptop dan flash drive.

Di depan dosen pembimbing, ketua jurusan, dan perwakilan dewan akademik, data ditampilkan satu per satu.

Timestamp.

Lokasi.

Riwayat revisi.

Akun login.

Ruangan hening.

Dosen pembimbing membuka sistem internal kampus.

Terlihat jelas:

File di-submit pukul 20:17.

Log server eksternal menunjukkan:

File asli sudah diunggah tiga hari sebelumnya — atas namaku.

Lalu muncul satu detail kecil…
Login dari akun Angela tercatat mengakses laptopku pada pukul 19:42.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

“Ada yang ingin kamu jelaskan?” tanya ketua dewan.

Angela terdiam.

Tidak ada lagi senyum.

Tidak ada lagi ₱5.000.

Keputusan keluar sore itu juga.

Proposal dibatalkan.
Sidang ditangguhkan.
Dan Angela diskors satu semester sambil menunggu proses disipliner lanjutan.

Sementara aku…

Dewan akademik memberi izin khusus:
Sidangku dipercepat dua minggu kemudian.

Hari pertahanan akhirku, ruang presentasi penuh.

Bukan karena drama.
Bukan karena skandal.

Tapi karena sistem energi pesisir yang kukembangkan dianggap potensial untuk proyek energi terbarukan di wilayah Visayas.

Saat ketua panel berkata,
“Congratulations. With highest distinction.”

Aku tidak menangis.

Aku hanya mengingat malam hujan itu.
Dua puluh menit membeli kopi.

Dan ₱5.000 yang dilempar ke tanganku.

Tiga bulan kerja keras tidak bisa dibeli.

Integritas tidak bisa dihapus.

Dan kadang…
orang yang terlihat sendirian di laboratorium
sebenarnya sudah selangkah lebih maju dari yang mencoba menjatuhkannya.

Di luar gedung, hujan turun lagi.

Kali ini, aku tidak merasa dingin.

Karena akhirnya, bukan namanya
yang tercatat dalam sejarah sistem itu.

Tapi namaku.