Setelah selesai mandi, begitu aku keluar dari kamar mandi, tiba-tiba seorang pria muncul di dalam kamarku.
Wajahnya tampan, tetapi tatapannya begitu dingin. Suaranya dalam dan berat.
“Kalau kamu ingin tetap menjadi Nyonya Wijaya, belajarlah untuk patuh. Kalau tidak, bahkan anakmu pun tidak akan bisa kamu lindungi.”
Setelah mengatakan itu, dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan meremehkan yang tak bisa ia sembunyikan.
Saat itulah aku menyadari bahwa dekorasi kamar tempatku berdiri telah berubah.
Karena ketakutan, aku segera berbalik dan masuk kembali ke kamar mandi.
Ketika aku keluar lagi, pria itu sudah menghilang, dan tempat tidur mewah bergaya Eropa tadi juga lenyap.
Semuanya kembali seperti semula, persis sebelum aku masuk untuk mandi…
1
Tidak ada siapa pun di kamar. Seolah-olah semua tadi hanyalah halusinasi.
Angin dingin membuat bulu kudukku merinding.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya aku mengalami “kejadian aneh”.
Sejak bulan lalu, ada barang-barang yang tiba-tiba muncul di rumahku—padahal itu bukan milikku.
Awalnya sandal pria, lalu alat cukur.
Beberapa hari lalu, aku bahkan menemukan sebuah jam tangan di atas meja rias.
Karena penasaran, aku mencari tahu modelnya.
Patek Philippe.
Harganya lebih dari Rp12 miliar.
Aku mulai curiga ada hantu di kamar ini.
Dan sepertinya… hantu kaya raya.
Aku sebenarnya berencana pindah setelah kontrak sewaku selesai. Tapi sialnya, setengah bulan sebelum pindah, hal yang paling kutakuti terjadi.
“Hantu pria” itu akhirnya menampakkan diri.
2
Keesokan paginya, aku terbangun karena sebuah lengan berat melingkar di tubuhku.
Kesal, aku mendorongnya—lalu tiba-tiba otakku seperti berhenti bekerja.
Di tempat tidurku… kenapa ada lengan pria?
Saat aku membuka mata, sepasang mata hitam pekat menatapku tajam.
Wajahnya menunjukkan rasa jijik yang jelas.
“Kemarin kamu sengaja berganti pakaian di depanku. Sekarang kamu bahkan naik ke tempat tidurku? Nona Pratama, trikmu sepertinya tidak ada habisnya.”
Tempat tidurnya?
Baru saat itu aku sadar, sekelilingku berubah lagi.
Tempat tidur kecilku yang nyaman menghilang, digantikan ranjang king-size besar.
Kamar sederhana milikku berubah menjadi kamar mewah yang jelas menunjukkan kekayaan.
Jantungku berdetak cepat. Aku menggenggam gelang lucky charm di pergelangan tanganku.
“Si… siapa kamu?”
Saat itu, dia mencengkeram daguku dengan jari-jarinya yang panjang. Suaranya sedingin es.
“Setelah gagal merayuku, sekarang pura-pura amnesia?
Daza, aku sudah memperingatkanmu kemarin. Kalau ingin tetap tinggal di rumah ini, hentikan permainan murahanmu.
Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau tidak… bahkan Gabby pun tidak akan bisa menyelamatkanmu.”
Aku tidak mengerti satu pun dari ucapannya. Sebaliknya, aku menyentuh wajahnya.
Kulitnya halus.
Dan yang paling penting… hangat.
Dia… manusia hidup?
Dia jelas kesal karena aku menyentuhnya. Wajahnya menggelap, alisnya hampir menyatu karena marah.
Dia mencengkeram tanganku dengan kuat dan hampir berteriak ketika—
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Seorang anak laki-laki kecil mengenakan overall masuk sambil berseru, “Daddy!”
Namun ketika melihatku, dia terdiam, lalu menyapa pelan:
“Mommy, selamat pagi…”
Nada suaranya sedikit sedih.
Tapi saat itu, aku bahkan tidak sempat memikirkan perasaan anak itu.
Otakku kembali kosong.
Mommy…
Apakah dia… memanggilku?

Kata itu menggema di kepalaku.
Mommy.
Aku menatap anak kecil itu. Matanya besar, bulu matanya lentik, dan ada sesuatu di wajahnya… yang terasa akrab.
Pria di sampingku berdiri tegak, wajahnya kembali dingin.
“Gabriel, keluar,” katanya tegas.
Anak itu menggigit bibirnya, tapi tidak bergerak. Ia justru berlari kecil ke arahku dan memeluk pinggangku.
Tangannya kecil. Hangat.
Dan saat itu—
sesuatu di dalam dadaku terasa seperti ditarik paksa.
“Mommy, jangan pura-pura nggak kenal aku lagi…” bisiknya pelan.
Pura-pura?
Aku membeku.
“Apa maksudnya?” tanyaku lirih.
Pria itu tertawa pendek, tanpa humor.
“Kamu benar-benar mau memainkan sandiwara ini sampai akhir?”
Sakit kepala hebat tiba-tiba menyerangku. Dunia seperti berputar. Potongan-potongan gambar asing mulai muncul di benakku—
Tangga marmer.
Gaun pengantin putih.
Cincin berlian besar.
Seorang pria memasangkan cincin itu di jariku.
Dan wajah pria itu…
Dia.
Aku terhuyung. Tanganku refleks mencari sesuatu untuk berpegangan.
“Tidak mungkin…” gumamku.
Pria itu menatapku lebih lama sekarang. Ada sesuatu yang berubah di matanya—bukan lagi hanya jijik, tapi… ragu.
“Kamu jatuh dari tangga tiga minggu lalu,” katanya pelan.
“Dokter bilang ada kemungkinan trauma sementara.”
Jantungku berhenti sejenak.
“Tapi kamu bangun dan berkata bahwa kamu tidak mengenalku. Tidak mengenal rumah ini. Bahkan… tidak mengenal anakmu sendiri.”
Tanganku bergetar.
Jadi bukan kamar yang berubah.
Bukan dunia yang aneh.
Yang berubah… adalah ingatanku.
Aku melihat ke arah Gabriel. Anak kecil itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, menunggu… berharap.
Perlahan, aku berlutut di hadapannya.
“Maaf…” bisikku, walau aku sendiri belum sepenuhnya mengerti.
Tanpa ragu, dia memelukku erat.
Dan dalam pelukan itu—
aku merasakan sesuatu yang lebih kuat dari ingatan.
Ikatan.
Hangat.
Nyata.
Pria itu mendekat. Kali ini, suaranya tidak lagi sedingin es.
“Kamu adalah istriku, Daza Wijaya. Dan ini rumahmu.”
Aku menatapnya.
Mungkin aku belum mengingat semuanya.
Mungkin aku masih takut.
Tapi untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, aku tidak merasa sendirian.
Karena jika dunia ini benar-benar milikku—
maka aku akan mengenalnya kembali.
Perlahan.
Dengan caraku sendiri.
Dan jika memang aku adalah Nyonya Wijaya…
Maka kali ini,
aku tidak akan menjadi wanita yang hanya patuh.
Aku akan mencari tahu siapa diriku sebenarnya.
Dan apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku jatuh dari tangga itu.
Karena firasatku mengatakan satu hal—
Kejatuhan itu… mungkin bukan kecelakaan.