Di dalam sebuah ruang BK sekolah elite di Jakarta, ada empat orang.
Aku.
Lucas.
Bu Ratna, guru pembimbing kami.
Dan ibunya Lucas.
Dengan kesal, Bu Ratna menjatuhkan sebuah ponsel di atas meja.
“Itu rekaman CCTV di sudut lorong,” katanya tajam. “Lucas memegang tanganmu. Kalian kelas 11, sudah berani pacaran?”
Lucas hendak bicara.
“Bu Ratna, saya yang—”
“Diam.” Bu Ratna bahkan tidak menoleh. “Peringkat 300 seangkatan, tidak usah banyak bicara.”
Di sampingnya duduk seorang wanita elegan.
Ia mengenakan setelan tweed Chanel, tas Hermès Birkin tersusun rapi di pangkuannya. Rambutnya tersisir sempurna, anting mutiara kecil menghiasi telinganya.
Namanya Sofia Lopez.
Istri CEO Lopez Group, salah satu konglomerat properti terbesar di Indonesia.
Semua orang di sekolah tahu keluarga Lucas sangat kaya.
Nada suara Bu Ratna langsung berubah lembut.
“Bu Sofia, ini demi masa depan anak-anak. Pacaran di usia sekolah bisa mengganggu prestasi—”
Sofia mengangkat tangan, menghentikannya.
Ia menatapku.
“Kamu Niña?”
“Selamat pagi, Bu.”
Aku tetap berdiri.
Ia menilaiku selama tiga detik. Seragam rapi. Rambut terikat. Tanpa riasan.
Lalu ia bertanya, “Prestasinya bagaimana?”
Bu Ratna merapikan kacamatanya.
“Nilainya… biasa saja. Rata-rata.”
Aku menatapnya.
Ia tahu persis siapa yang selalu peringkat satu tiap ujian.
Tapi hari ini yang duduk di depannya adalah istri pemilik Lopez Group.
Ia memilih aman.
Lucas gelisah.
“Ma, Niña itu—”
Aku menahan tangannya.
“Biar saya yang bicara.”
Aku menatap Sofia dengan tenang.
“Nama saya Niña Santos, kelas 11-A3. Dua bulan terakhir saya peringkat 1 seluruh angkatan. Sejak awal SMA, setiap ujian besar saya selalu di posisi teratas.”
Ruangan itu sunyi.
“Target saya masuk Universitas Indonesia atau ITB. Dengan nilai saya sekarang, peluangnya sangat besar.”
Wajah Sofia berubah sedikit.
Aku melanjutkan.
“Lucas memang sekarang peringkat 300. Tapi dia bukan bodoh. Dia hanya tidak disiplin. Kalau dia mengikuti jadwal belajar yang saya susun, dalam 18 bulan dia bisa masuk kampus top seperti UI, ITB, atau minimal BINUS.”
Aku berhenti sejenak.
“Saya bisa bantu dia.”
Hening tiga detik.
Sofia berdiri dan berjalan mendekat.
Kupikir ia akan menegurku.
Ternyata ia menggenggam tanganku.
“Anak seperti ini,” katanya pelan, “sekali lihat saja saya sudah tahu. Dia bukan sekadar pintar. Dia punya arah.”
Bu Ratna membeku.
Sofia menoleh padanya, suaranya kini dingin.
“Murid peringkat satu seangkatan Anda sebut ‘biasa saja’?”
Wajah Bu Ratna memerah.
“Saya hanya khawatir Ibu tersinggung—”
“Cukup.”
Sofia mengambil tasnya.
“Niña, akhir pekan ini datang ke rumah kami. Makan malam bersama keluarga.”
Ia lalu pergi dengan langkah anggun.
Bu Ratna tertinggal dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Lucas mendekat dan berbisik, “Keren banget kamu tadi.”
Aku mendorong bahunya pelan.
“Kembali kerjakan tugasmu. Peringkat 300, masih sempat bangga?”
Kabar itu menyebar cepat.
Bukan soal kami pacaran.
Tapi karena Bu Ratna dipermalukan di ruang BK, dan tiga guru di ruangan sebelah mendengarnya.
Sore harinya, Kylie berlari ke mejaku.
“Niña! Beneran ibunya Lucas datang?!”
“Iya.”
“Terus?”
“Dia bilang aku cocok jadi calon menantu.”
Kylie hampir jatuh dari kursinya.
“Gimana caranya kamu bikin dia kagum?”
Aku menutup buku matematika.
“Karena aku peringkat satu.”
Kylie menepuk meja.
“Kamu tahu nggak, Lara lagi ngamuk di kelas sebelah.”
Lara Villafuerte.
Putri pemilik Villafuerte Realty.
Sejak awal kelas 11, semua orang tahu dia mengejar Lucas.
“Apa katanya?” tanyaku santai.
Kylie menirukan suaranya,
“Siapa sih Niña itu? Cuma pakai seragam sekolah berani ketemu orang tua Lucas? Statusnya apa?”
Aku membuka kembali buku latihan.
“Biarkan saja.”
“Kamu nggak marah?”
“Kenapa harus marah?”
Aku menulis satu rumus integral di kertas coretan.
“Dua bulan lagi ujian akhir semester. Aku tidak punya waktu untuk drama.”
Aku berhenti menulis, lalu menambahkan pelan:
“Kalau mau bersaing, bersainglah di papan nilai.”
Karena pada akhirnya,
status bisa dibeli dengan miliaran rupiah.
Tapi peringkat satu?
Itu harus diperjuangkan.

Dua bulan kemudian, hari pengumuman hasil ujian akhir tiba.
Papan pengumuman di lobi sekolah dipenuhi siswa.
Nama yang berada di posisi paling atas masih sama.
Peringkat 1: Niña Santos.
Namun kali ini, ada kejutan.
Peringkat 48: Lucas Lopez.
Dari 300 ke 48 dalam satu semester.
Kerumunan mulai berbisik.
“Gila… dia naik segitu banyak?”
“Niña yang ngajarin, kan?”
“Berarti cewek itu bukan cuma pintar, tapi bisa bikin orang lain naik juga.”
Lucas berdiri di sampingku, menatap daftar nilai dengan mata yang hampir tidak percaya.
“Aku benar-benar bisa, ya…” gumamnya pelan.
Aku menutup buku yang kubawa.
“Aku sudah bilang. Kamu bukan bodoh. Kamu cuma malas.”
Ia tertawa kecil.
Di kejauhan, Lara berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, ia tidak berkata apa-apa.
Karena angka tidak bisa dibantah.
Akhir pekan itu, aku datang ke rumah keluarga Lopez.
Rumah besar dengan pilar marmer dan taman luas.
Namun yang paling kuingat bukanlah kemewahannya.
Melainkan percakapan di ruang makan.
Sofia menatapku serius.
“Niña, kamu tahu kenapa saya mengundangmu?”
“Saya ingin melihat apakah Ibu hanya terkesan pada nilai saya, atau pada diri saya.”
Sofia tersenyum tipis.
“Dan jawabannya?”
“Saya tidak tertarik menjadi ‘istri orang kaya’. Saya ingin jadi seseorang yang tidak perlu bergantung pada siapa pun.”
Ruangan hening.
Lucas menatapku.
Aku melanjutkan dengan tenang:
“Kalau suatu hari saya menikah, itu karena saya memilih. Bukan karena status.”
Untuk pertama kalinya, Sofia tertawa ringan.
“Itulah jawaban yang saya tunggu.”
Ia mengangguk pelan.
“Keluarga Lopez tidak kekurangan uang. Yang kami cari adalah orang yang punya tulang punggung.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Dan kamu punya itu.”
Setahun kemudian.
Hari kelulusan.
Aku diterima di Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran.
Lucas diterima di ITB, jurusan Teknik Industri.
Ia berdiri di sampingku, mengenakan toga, kali ini bukan lagi peringkat 300.
Ia menoleh.
“Kalau dulu kamu nggak pegang tanganku di lorong, mungkin hidupku beda.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau dulu kamu nggak mau berubah, aku juga tidak akan bertahan.”
Angin sore berhembus pelan.
Di antara keramaian dan kilatan kamera, aku menyadari sesuatu.
Aku tidak menang karena membuat orang lain kalah.
Aku menang karena tetap fokus pada jalanku sendiri.
Dan mungkin, itulah sebabnya orang-orang yang awalnya meremehkanku, pada akhirnya justru berdiri di belakangku.
Karena nilai bisa membuat orang terdiam.
Tapi karakter…
membuat orang menghormati.