Tujuh bulan setelah aku berpisah dengan Arga Pratama, aku melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Bimo.

Tujuh bulan setelah aku berpisah dengan Arga Pratama, aku melahirkan seorang anak laki-laki dan menamainya Bimo.

Aku terus berjuang di lumpur kehidupan sampai akhirnya divonis mengidap leukemia akut berisiko tinggi.

Aku mengeluarkan poster orang hilang lama dengan fotoku empat tahun lalu. Tertulis di sana:

“Yena, tolong pulanglah!”

Mataku memerah saat memeluk anakku yang kebingungan dalam pelukanku.

“Bimo… Ibu akan menemanimu. Kita akan mencari Ayahmu.”


1

Universitas Indonesia – Depok menyambut gugurnya bunga sakura pertama yang megah di sekitar kampus.

Di antara kelopak yang berjatuhan, suara lembut dan terdidik bergema di ruang kuliah.

“Arsitektur Asia menekankan keteraturan tradisi, yang lahir dari filosofi hubungan manusia dan kekuasaan…”

Aku duduk di baris paling belakang auditorium, memakai masker, menatap Arga di atas panggung seperti mahasiswa lainnya.

Ia mengenakan kemeja putih. Lengan tegapnya terlihat jelas, jemarinya panjang memegang kapur, urat-urat samar muncul saat ia menulis di papan.

Waktu telah memberinya pesona pria dewasa. Empat tahun kemudian, melihatnya dalam posisi seperti ini membuatku merasa semakin kecil.

Bel berbunyi. Mahasiswa keluar satu per satu. Beberapa tinggal untuk bertanya, dan ia menjawab dengan sabar.

Saat mahasiswa terakhir pergi, Arga mulai membereskan barangnya. Ia tidak menyadari aku masih duduk di sudut.

Ketika ia hendak pergi, aku tak kuasa menahan diri.

“Tunggu!”

Ia menoleh dengan heran. Seorang wanita kurus bermasker berdiri dan mendekatinya.

Meski jaketku longgar, tulang bahuku tetap terlihat menonjol. Kulitku pucat seperti porselen retak.

Ia mengernyit.
“Mahasiswi, ada perlu apa?”

Aku ragu sejenak, lalu melepas maskerku.

“Arga… ini aku. Yena Alvira.”

Matanya sedikit melebar, tapi hanya sesaat. Ia melirik lorong yang sepi.

“Kita duduk.”

Aku tertegun. Kupikir ia akan mengusirku, karena dulu aku menghilang tanpa pamit.

Kelopak sakura beterbangan di antara kami. Jarak setengah meter terasa seperti empat tahun yang tak terjangkau.

Aku yang pertama berbicara.

“Kamu… bagaimana selama ini?”

Suaraku bergetar. Ia tenang.

“Seperti yang kamu lihat. Setelah lulus, aku tetap di sini mengajar. Pekerjaanku baik.”

Ia berhenti sejenak.

“Kecuali waktu bodoh saat aku mencarimu ke mana-mana, hidupku berjalan lancar.”

Setiap katanya seperti batu menimpa dadaku.

“Maaf…”

Kata itu terlalu ringan.

“Dulu aku kehilangan kepercayaan diri. Aku tak mampu menghadapi jurang dunia kita.”

Perbedaan status sosial memisahkan kami. Tapi bukan hanya itu. Aku tak pernah mampu menjelaskan keluargaku yang seperti lintah, terus menghisapku.

Dulu ibuku menemui ibunya Arga dan meminta Rp5 miliar sebagai mahar dan sebuah rumah untuk adikku. Tatapan iba bercampur jijik dari ibunya tak pernah kulupakan.

Arga berkata dingin:

“Jadi itu alasanmu muncul sekarang? Karena menurutmu jurangnya sudah hilang?”

Kata-katanya menikam luka lama.

Aku menelan harga diriku.

Hari-hariku sudah terhitung. Pertemuan ini demi Bimo. Aku tak ingin ia tumbuh tanpa sandaran.

Aku menarik napas dalam.

“Aku hanya ingin tahu… selama ini… apakah kamu sudah—”

“Yena.”

Ia menyebut namaku pelan.

“Aku akan menikah.”


2

Berita itu membakar sisa kekuatanku.

Namun setelah terkejut, aku sadar itu wajar. Tak ada yang akan menungguku selamanya.

“Selamat.”

Senyumku dipaksakan, tapi ucapanku tulus.

“Terima kasih.”

Keheningan kembali.

Ia mengeluarkan sebuah kartu dan meletakkannya di meja.

“Kelihatannya hidupmu sulit. Ada Rp300 juta di dalamnya. Anggap saja ini penyelesaian masa lalu kita. Setelah ini, jangan ganggu hidupku lagi.”

Aku menatap kartu itu.

Dulu ibunya juga meletakkan kartu di hadapanku.

“Yena, bukan aku tak menyukaimu. Tapi aku tak bisa menerima keluargamu.”

Ibu dan anak memang sama—sama-sama menyakiti dengan cara yang sopan.

Dulu aku menolak uang itu.

Kini… aku menerimanya.

Cinta bersih yang kukira tak ternoda uang sudah lama dihancurkan realitas.

Harga diri?
Bagi orang yang akan mati dan punya anak untuk dibesarkan, itu tak ada artinya.

“Baik.”

Arga berdiri dan pergi.

Setetes darah merah jatuh ke meja kayu.

Aku panik mengusap hidungku yang berdarah.


Saat kembali ke kamar kontrakan kecilku di Depok, Bimo sudah tertidur.

Tubuh kecilnya meringkuk di sisi kasur, memeluk bajuku.

Ia sangat mirip Arga.

Di meja ada gambar krayon keluarga beranggotakan tiga orang. Sosok ayah digambar tinggi dan kuat.

Hatiku hampir hancur.

Dokter dulu bilang rahimku tipis dan aborsi berisiko tinggi. Aku tak punya pilihan selain melahirkannya.

Aku menjadi ibu dalam kesulitan.

Dan sampai sekarang, aku merasa berutang besar pada anakku.


Keesokan harinya hujan turun di Jakarta.

Setelah mengantar Bimo ke daycare, aku bekerja sebagai kurir paket untuk menambah tabungan.

Namun saat pengantaran terakhir, aku mengalami kecelakaan.

Sebuah Mercedes tiba-tiba berbelok tanpa lampu sein dan menabrak e-bike-ku.

“Maaf, Pak… maaf…”

Sebelum selesai bicara, suara dingin terdengar.

“Dia yang salah. Tidak menyalakan sein, dan ini jalur sepeda.”

Aku membeku.

Arga berdiri dengan payung di tangan.

Kami saling menatap.

“Terima kasih…”

Ia melihat kakiku yang berdarah.

“Bukankah Rp300 juta sudah cukup? Kenapa masih bekerja seperti ini?”

Aku hampir mengatakan tentang Bimo.

Tapi kutahan.

Ponselku berdering.

“Bu Yena! Bimo kecelakaan! Tolong segera ke rumah sakit!”

Kakiku lemas.

Tanpa sadar, aku menggenggam lengan Arga.

“Arga… tolong. Antar aku ke rumah sakit.”

Arga tidak melepaskan tanganku.

Tanpa berkata apa-apa, ia membuka pintu mobilnya dan membantuku masuk. Hujan semakin deras, membasahi jalanan Jakarta yang padat.

Sepanjang perjalanan, aku terus gemetar.

“Tolong cepat…” suaraku hampir tak terdengar.

Arga melirikku sekilas. Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu kembali, wajahnya tidak lagi dingin.

“Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku, Yena?”

Aku menunduk. Air mata bercampur darah yang masih menetes dari hidungku.

“Aku… tidak punya banyak waktu lagi.”

Tangannya yang memegang setir menegang.


3

Di rumah sakit, aku berlari tertatih-tatih menuju ruang gawat darurat.

Bimo terbaring di ranjang kecil, dahinya diperban. Ia hanya pingsan karena terjatuh saat bermain, kata dokter. Tidak serius.

Aku hampir roboh karena lega.

“Ibu…”

Suara kecil itu membuatku menangis. Aku memeluknya erat.

Arga berdiri beberapa langkah di belakangku.

Matanya terpaku pada wajah anak itu.

Lalu pada alisnya.

Lalu pada garis rahangnya.

Wajahnya perlahan berubah.

“Berapa umur anak ini?” suaranya rendah.

Aku tak menjawab.

“Yena.” Kali ini nadanya bergetar. “Berapa umur dia?”

“Tiga tahun delapan bulan.”

Hening.

Tanggal.

Waktu.

Empat tahun lalu.

Matanya membesar.

“Dia… anakku?”

Pertanyaan itu seperti palu yang menghantam jantungku.

Aku ingin menyangkal.

Ingin tetap membawa rahasia itu sampai mati.

Tapi melihat Bimo yang menggenggam jariku dengan tangan kecilnya, aku tak sanggup lagi.

“Iya.”

Satu kata.

Dan dunia Arga runtuh.


Ia mundur selangkah, lalu mendekat lagi. Tangannya gemetar saat menyentuh rambut Bimo.

“Kenapa… kenapa kamu tidak memberitahuku?”

“Apa hakku?” aku tersenyum pahit. “Saat itu aku pergi karena keluargaku memerasmu. Aku tak ingin kamu semakin terjerat. Aku pikir… aku bisa membesarkannya sendiri.”

“Sendiri?” suaranya meninggi. “Dalam keadaan seperti ini?”

Aku terdiam.

Ia melihat noda darah di lengan bajuku.

“Leukemia?” suaranya melemah.

Aku tak perlu menjawab. Ia sudah mengerti.

Arga menutup wajahnya dengan tangan. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya hancur.

“Aku mencarimu bertahun-tahun,” katanya lirih. “Dan kamu menanggung semua ini sendirian.”


4

Beberapa minggu kemudian, kabar pernikahan Arga dibatalkan.

Ia datang setiap hari ke rumah sakit.

Bimo cepat akrab dengannya, tanpa tahu bahwa lelaki itu adalah ayahnya.

Suatu sore, saat matahari senja menyentuh jendela ruang rawat, Bimo bertanya polos:

“Om… kenapa Om selalu datang?”

Arga tersenyum, matanya merah.

“Karena Om tidak ingin kehilangan kamu lagi.”

Air mataku jatuh.


Donor sumsum tulang ditemukan.

Kecocokan 100%.

Arga.

Tanpa ragu, ia menandatangani persetujuan.

Operasi berjalan panjang dan melelahkan.

Saat aku terbangun dari ruang perawatan intensif, orang pertama yang kulihat adalah Arga tertidur di kursi, tangannya masih menggenggam tanganku.

Aku menangis diam-diam.


5 — Di Bawah Sakura

Musim semi berikutnya, bunga sakura kembali gugur di kampus.

Aku berdiri di bawah pohon bersama Arga dan Bimo.

Tubuhku masih lemah, tapi aku hidup.

Bimo berlari kecil mengejar kelopak bunga.

Arga berdiri di sampingku.

“Aku tidak akan memaksamu kembali padaku,” katanya pelan. “Tapi beri aku kesempatan menjadi ayah yang seharusnya.”

Aku menatapnya.

Empat tahun kehilangan.

Empat tahun salah paham.

Empat tahun cinta yang tak pernah benar-benar mati.

“Kita mulai dari Bimo,” jawabku.

Ia mengangguk.

Perlahan, ia menggenggam tanganku.

Tidak lagi dengan ego.

Tidak lagi dengan jarak.

Kelopak sakura jatuh di antara kami.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa sendirian.


TAMAT 🌸