Posted in

AKU BERLUTUT DI DEPAN PETI MATI ISTRIKU SAMBIL MENANGIS DI HADAPAN RATUSAN TAMU. NAMUN DI TENGAH SUASANA DUKA, SEORANG GADIS KECIL KOTOR TIBA-TIBA MENEROBOS MASUK DAN BERTERIAK DENGAN KATA-KATA YANG MEMBUAT JANTUNGKU SERASA BERHENTI BERDETAK SERTA MENGUNGKAP KENYATAAN MENGERIKAN.

AKU BERLUTUT DI DEPAN PETI MATI ISTRIKU SAMBIL MENANGIS DI HADAPAN RATUSAN TAMU. NAMUN DI TENGAH SUASANA DUKA, SEORANG GADIS KECIL KOTOR TIBA-TIBA MENEROBOS MASUK DAN BERTERIAK DENGAN KATA-KATA YANG MEMBUAT JANTUNGKU SERASA BERHENTI BERDETAK SERTA MENGUNGKAP KENYATAAN MENGERIKAN.

Duka Seorang Miliarder

Namaku Don Mateo Valderama, empat puluh tahun, CEO Valderama Shipping Lines. Hari ini adalah malam terakhir pemakaman istriku, Valerie. Menurut laporan polisi, Valerie meninggal dalam kebakaran mengerikan di vila kami di Puncak. Karena tubuhnya hangus terbakar, identitasnya hanya dikenali lewat perhiasan dan cincin pernikahan yang dikenakannya.

Hatiku benar-benar hancur. Aku sangat mencintai Valerie. Di depan lima ratus tamu—para politikus, miliarder, dan media—aku tidak mampu menahan tangisku.

“Kenapa kamu meninggalkanku, Valerie? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?” bisikku sambil menangis dan memegang peti mahal dari kayu mahoni.

Di sampingku ada sahabat sekaligus pengacaraku, Atty. Marcus, dan adik perempuanku, Beatrice. Mereka yang menemaniku selama seminggu masa berkabung ini.

Jeritan Kebenaran

Saat eulogi terakhir sedang dibacakan, tiba-tiba terjadi keributan di pintu masuk rumah duka.

“Lepaskan aku! Aku harus ketemu Papa! Kalian harus dengar aku!”

Seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun berhasil lolos dari para satpam. Pakaiannya robek, kakinya penuh lumpur, dan wajahnya dipenuhi jelaga hitam. Semua orang mengira dia hanya anak jalanan yang membuat keributan.

“Security! Keluarkan anak itu!” bentak Beatrice dengan wajah panik.

Namun gadis kecil itu langsung berlari ke arahku dan memeluk kakiku erat-erat. Matanya penuh ketakutan dan air mata.

“Papa! Papa, jangan kubur dia! Itu bukan Mama!” teriaknya.

Seluruh ruangan langsung sunyi.

Tubuhku membeku.

“Nak… apa yang kamu bilang? Siapa kamu?” tanyaku dengan suara gemetar.

Gadis itu menatapku sambil mengusap kotoran di wajahnya. Dan saat itulah aku hampir pingsan.

Mata anak itu… bentuk hidungnya… sangat mirip dengan Valerie saat masih kecil.

“Aku Angel, Papa! Aku anak Papa!” tangisnya pecah. “M-Mama belum meninggal! Om Marcus dan Tante Beatrice mengurung Mama di gudang warehouse lama! Mereka pakai bangkai hewan dan memasangkan cincin Mama supaya Papa tertipu! Mama bilang mereka akan membunuhnya malam ini setelah peti ini dikubur!”

Pengkhianatan di Balik Air Mata Buaya

Suara Angel seperti petir yang menyambar di tengah hari bolong. Aku menatap Marcus dan Beatrice. Wajah mereka yang tadinya penuh duka mendadak berubah menjadi topeng ketakutan. Marcus mencoba meraih paksa lengan Angel.

“Don Mateo, jangan dengarkan anak gila ini! Dia hanya pengemis yang dibayar untuk mengacau!” teriak Marcus dengan suara yang terlalu tinggi.

“Papa, lihat ini!” Angel merogoh saku bajunya yang robek dan mengeluarkan sebuah liontin perak kecil. Itu adalah liontin berisi foto pernikahan kami yang selalu dipakai Valerie di dalam bajunya—bukan perhiasan emas yang bisa dilihat orang. “Mama memberikannya padaku saat aku berhasil meloloskan diri dari ventilasi gudang semalam!”

Aku berdiri perlahan, amarah dingin mulai merayapi setiap inci tubuhku. Aku menatap peti mati itu, lalu menatap adik kandungku sendiri.

“Beatrice, kenapa tanganmu gemetar?” tanyaku dengan nada yang sangat rendah.

“A-Aku hanya kaget, Mateo! Anak ini menghina jenazah kakak iparku!” Beatrice mencoba membela diri, namun matanya melirik gelisah ke arah pintu keluar.

Runtuhnya Skenario Keji

Aku tidak memanggil satpam untuk mengeluarkan Angel. Sebaliknya, aku mengambil ponselku dan menekan nomor Kapten Polisi yang merupakan teman lamaku.

“Kapten, kirim tim ke Warehouse 14 di Pelabuhan Utara. Sekarang. Jangan ada yang keluar atau masuk.”

Mendengar itu, Marcus mencoba lari. Namun, para pengawal pribadiku yang sudah bertahun-tahun setia padaku langsung menutup semua akses pintu keluar auditorium.

“Buka peti itu,” perintahku dingin kepada petugas pemakaman.

“Tapi Tuan, kondisi jenazah—”

“BUKA!” raungku.

Saat tutup peti mahoni itu tergeser, aroma busuk yang aneh tercium—bukan aroma manusia, melainkan bau daging hewan yang sudah membusuk, dibalut dengan gaun sutra mahal milik Valerie. Di atas tumpukan daging busuk itu, cincin pernikahan berlian kami diletakkan seolah-olah itu adalah jari manusia.

Penyelamatan di Menit Terakhir

Marcus dan Beatrice jatuh berlutut. Ternyata mereka telah merencanakan ini selama berbulan-bulan untuk menguasai Valderama Shipping Lines. Mereka menculik Valerie dan seorang putri kecil yang selama ini dirahasiakan Valerie dariku karena ancaman mereka, lalu memalsukan kematiannya agar aku depresi dan menyerahkan kekuasaan perusahaan kepada Marcus sebagai pengacara wali.

Satu jam kemudian, ponselku berbunyi. Itu dari Kapten Polisi.

“Don Mateo, kami menemukannya. Dia lemah, tapi dia hidup. Kami juga menemukan bukti dokumen pemindahan aset yang sudah dipalsukan oleh Marcus.”

Aku memeluk Angel erat-erat. Air mataku jatuh, kali ini bukan karena duka, melainkan karena kelegaan yang luar biasa.

Aku berjalan mendekati Marcus dan Beatrice yang sudah diborgol polisi di tengah kerumunan tamu yang menghujat mereka. Aku meludahi lantai di depan kaki mereka.

“Kalian ingin hartaku? Kalian akan mendapatkannya di penjara,” kataku dingin. “Mulai besok, Valderama Shipping Lines akan menghapus nama kalian dari sejarah, dan aku akan meruntuhkan setiap orang yang membantu skenario menjijikkan kalian.”

Malam itu, rumah duka yang gelap berubah menjadi terang. Aku membawa Angel pulang, bukan untuk berduka, tapi untuk menjemput ibunya kembali dari kegelapan. Pengkhianatan mereka memang mengerikan, tapi mereka lupa satu hal: cinta seorang ibu selalu menemukan jalan pulang, bahkan melalui bisikan seorang anak kecil yang mereka remehkan.