Pada hari hasil ujian masuk universitas diumumkan, ibuku sedang sekarat.

Pada hari hasil ujian masuk universitas diumumkan, ibuku sedang sekarat.

Ia menggenggam tanganku, dan dengan sisa tenaga terakhirnya, menyelipkan dua amplop ke telapak tanganku.

“Baca yang pertama… yang kedua, tunggu sampai ayahmu tiada baru kau buka.”

Amplop pertama hanya berisi satu kalimat:

“Pilih jurusan apa pun, lalu daftar ke universitas yang paling jauh dari rumah kita sejauh mungkin.”

Aku terdiam lama. Namun pada akhirnya, aku menuruti wasiatnya.
Aku memilih universitas yang berjarak lebih dari dua ribu kilometer dari provinsiku.

Seminggu setelah aku resmi terdaftar, pembimbing akademikku datang tergesa-gesa ke asrama.

“Ada sesuatu yang terjadi pada ayahmu.”

Aku duduk di kamar dorm, jari-jariku gemetar saat membuka amplop kedua.

Kalimat pertama yang terbaca cukup untuk membuat pandanganku menggelap.


1

Hari ketika aku mengetahui nilai ujianku, Ibu sudah tidak sanggup bertahan.

Suara jangkrik di luar jendela seperti mengiris dada, sementara udara di kamar terasa seberat timah.

Aroma obat dan antiseptik bercampur dengan bau kematian yang mendekat.

Di tanganku ada kertas hasil ujian—nilai yang bisa membawaku masuk universitas terbaik di Jakarta.

Nilainya tinggi. Sangat tinggi.

Tapi Ibu mungkin tak akan sempat melihatnya.

Setiap napasnya selembut bulu, seakan bisa terhembus kapan saja.

“Tala…”

Ia memanggil namaku—Tala Rivera.

“Aku di sini, Bu…”

Tangannya yang kurus keluar dari selimut dan menggenggamku kuat. Terlalu kuat untuk seseorang yang hampir pergi selamanya.

Ia merogoh bawah bantal dan mengeluarkan dua amplop cokelat tua.

“Ambil ini…”

“Baca yang pertama dulu…”

“Satu lagi… tunggu sampai ayahmu… juga tiada… baru buka…”

“Ayah?”

Ayah masih sehat. Setiap hari ia pergi ke sawah dan makan tiga piring nasi sekali duduk.

“Dengarkan…”

Itu kata terakhirnya.

Kepalanya miring.

Tangannya terlepas.

Untuk selamanya.

Ayah masuk tanpa suara dan menutupi tubuh Ibu dengan kain putih.
Tidak ada air mata di wajahnya.

Di luar, tetangga bersorak:

“Pak Iskandar! Hebat sekali anakmu!”
“Tala lulus dengan nilai tertinggi!”

Ayah hanya menjawab serak,
“Ibunya sudah tiada.”

Seketika semuanya sunyi.

Aku membuka amplop pertama.

Tulisan tangan Ibu yang sedikit gemetar:

“Pilih jurusan, lalu daftar ke universitas yang paling jauh dari rumah kita sejauh mungkin.”

Mengapa?

Selama ini Ibu ingin aku kuliah dekat rumah.

Kenapa sekarang ia menyuruhku pergi sejauh mungkin?

Saat itu aku mendengar suara Ayah di luar, berbicara pelan di telepon:

“Ya. Sudah selesai.”

“Tenang saja, dia tidak tahu apa-apa.”

“Surat itu… cepat atau lambat akan dia baca.”

Darahku terasa membeku.


2

Pemakaman Ibu berlangsung sederhana.

Ayah mengurus semuanya tanpa ekspresi. Ia hanya lebih sering merokok.

Beberapa hari sebelum batas pendaftaran universitas, Ayah meletakkan brosur di depanku.

“Masuk saja universitas di kota ini. Ambil Akuntansi. Cepat dapat kerja.”

Nada suaranya bukan saran. Itu perintah.

Aku menatap brosur itu. Hanya dua jam dari rumah.

Teringat pesan Ibu: sejauh mungkin.

“Kenapa harus dekat, Yah?” tanyaku hati-hati.

“Kau perempuan. Untuk apa jauh-jauh?”

“Di sini saja. Kalau ada apa-apa, aku bisa segera datang.”

Kedengarannya seperti perlindungan.

Tapi rasanya seperti pengawasan.

Aku membuka peta di laptop.

Dari Sumatra Utara, kutarik kursor jauh ke selatan.

Surabaya. Makassar.

Lebih dari dua ribu kilometer.

Tanganku gemetar saat menekan tombol Confirm Application.

Seperti ada rantai yang putus.

Ketika surat penerimaan datang, Ayah hanya membaca nama kota itu.

Matanya dingin.

“Kau sudah pilih jalanmu. Jangan pernah kembali kalau kau celaka.”

Hari keberangkatanku, ia tidak mengantar.

Aku menyeret koper sendirian ke pelabuhan.

Saat kapal bergerak, pegunungan yang kukenal sejak kecil makin mengecil.

Yang kurasakan bukan sedih.

Tapi bebas.

Kupikir hidup baruku dimulai.


3

Hidup di kampus terasa luas dan bebas.

Teman-teman asramaku berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Aku baru sadar dunia ternyata sebesar ini.

Bahwa aku bisa tertawa keras tanpa takut tatapan siapa pun.

Aku menikmati semuanya.

Sampai seminggu setelah orientasi.

Pembimbing akademikku datang dengan wajah tegang.

“Ada kabar tentang ayahmu.”

Tanganku dingin.

Setelah ia pergi, aku duduk di ranjang dan membuka amplop kedua.

Kalimat pertama membuat jantungku berhenti berdetak sejenak:

“Jika kau membaca ini, berarti ayahmu sudah melakukan apa yang ia rencanakan sejak lama.”

Tubuhku membeku.

Aku membaca lanjutannya.

“Tala, ayahmu bukan seperti yang kau lihat.
Ia terlilit utang besar karena judi dan investasi ilegal.
Ia berencana menjadikanmu jaminan.”

Tulisan Ibu semakin bergetar.

“Ia sudah membuat kesepakatan.
Jika kau kuliah dekat rumah, kau akan dipaksa menikah dengan putra seorang rentenir untuk melunasi utang-utangnya.”

Dunia berputar.

“Karena itu kau harus pergi sejauh mungkin.
Selama kau jauh, mereka tak bisa memaksamu.”

Air mataku jatuh membasahi kertas.

Kalimat terakhir:

“Maafkan Ibu tak bisa melindungimu lebih lama.
Hiduplah bebas. Jangan pernah kembali.”

Tanganku gemetar.

Ponselku berdering.

Nomor tak dikenal.

Suara berat di ujung sana berkata:

“Ayahmu meninggal tadi malam. Serangan jantung.
Dan… ada beberapa orang mencarimu.”

Aku menutup telepon.

Menatap keluar jendela asrama.

Angin laut berhembus kencang.

Aku mengerti sekarang.

Ibu tidak menyuruhku kabur.

Ia menyelamatkanku.

Akhirnya, aku tidak lagi berdiri sebagai seseorang yang memohon keadilan.
Aku berdiri sebagai orang yang menciptakan keadilannya sendiri.

Di hadapan semua orang, bukti yang selama ini mereka sembunyikan terpampang jelas. Tidak ada lagi kebohongan yang bisa ditutup dengan senyum palsu atau air mata buatan.

Orang yang dulu menertawakanku kini menundukkan kepala.
Orang yang dulu menyebutku lemah kini bahkan tak berani menatap mataku.

Aku tidak berteriak.
Aku tidak menangis.

Karena kemenangan sejati tidak membutuhkan suara keras.

Ketika mereka akhirnya kehilangan segalanya — uang, nama baik, dan kepercayaan — aku justru mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: harga diriku kembali.

Aku melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun.

Di luar, langit terasa lebih luas. Udara terasa lebih ringan.

Bukan karena dunia berubah.
Tapi karena aku akhirnya berhenti hidup di bawah bayangan mereka.

Hari itu bukan hanya akhir dari pengkhianatan.
Itu adalah awal dari hidupku yang baru.

Dan kali ini…
Aku tidak akan pernah lagi menjadi orang yang bisa mereka injak seenaknya.

Karena aku telah belajar satu hal:

Balas dendam terbaik bukanlah menghancurkan mereka.
Melainkan hidup lebih kuat, lebih tinggi, dan lebih bahagia tanpa mereka.

Dan aku… akhirnya benar-benar bebas.