AKU DISAMBAR TANGAN OLEH PACAR SOPIRKU DI VILLA PRIBADIKU—KARENA DIA MENGIRA AKU HANYA PENUMPANG GELAP

AKU DISAMBAR TANGAN OLEH PACAR SOPIRKU DI VILLA PRIBADIKU—KARENA DIA MENGIRA AKU HANYA PENUMPANG GELAP

Aku berdiri mematung di depan pintu vila pribadiku di Tagaytay.

Dan Maybach milikku… terparkir rapi di depan pintu.

Sebelum aku sempat berbicara—

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

“Gila kamu! Kamu ngikutin pacarku sampai sini? Kamu pikir kamu siapa?!”

Kiara berdiri di depanku dengan wajah penuh amarah. Teman-temannya tertawa kecil di belakangnya, seolah ini sebuah pertunjukan.

Aku tidak langsung membalas.

Aku hanya menatap mobil di belakangnya.

Lalu ke arah Jun-Jun.

Dia berdiri di samping mobilku.

Wajahnya pucat.

“Ma’am Sofia… ini… ini bukan seperti yang terlihat…”

Kiara menyilangkan tangan, semakin angkuh.

“Ma’am Sofia? Hahaha! Jun-Jun, bakit ka pa nagpapaliwanag sa kanya? Hindi ba obvious na stalker lang ‘to na sumunod dito?”

Salah satu temannya menambahkan sambil tertawa:

“Baka naman yaya lang ‘yan dati na hindi matanggap na iniwan na siya.”


Aku akhirnya berbicara.

“Kiara… alam mo ba kung kaninong bahay ka ngayon?”

Natawa siya.

“House? Seryoso ka? Eh halatang nakikisilip ka lang dito!”

Aku perlahan mengeluarkan kunci vila.

“Ang rest house na ‘to… binili ko ng ₱85,000,000 pesos.”

Tahimik.

Sandaling katahimikan.

Lalu tawa ulit.

“Anong sabi mo? 85 million? Ate, delulu ka ba?”


Dahan-dahan akong lumapit sa kotse.

Hinaplos ko ang hood ng Maybach.

“Alam mo ba kung sino ang nagmamay-ari nito?”

Napatigil si Kiara.

“Si Jun-Jun,” bulong niya.

Ngumiti ako nang malamig.

“Hindi.”

Tumingin ako kay Jun-Jun.

“Sabihin mo sa kanya.”

Hindi siya makagalaw.

“Ma’am Sofia… siya po ang CEO ng Cruz Holdings…”

Biglang natahimik ang paligid.

“Siya po ang amo ko.”


Parang bumagsak ang mundo ni Kiara.

“Ano… ano’ng sinasabi mo?”

Dahan-dahan kong inilabas ang phone ko at pinindot ang isang button.

Lumitaw ang CCTV footage ng kotse.

Si Kiara… na sumisigaw.

Si Kiara… na nag-iispray ng pabango sa upuan ko.

Si Kiara… na naglalagay ng “Bawal ang feelingera” note.

Napaatras siya.

“Hindi… hindi totoo ‘yan…”


Sa likod, may dumating na itim na sasakyan.

Bumaba ang security team ko.

“Ma’am Sofia, ready na po ang report ng damages,” sabi ng isa.

Tumingin ako kay Kiara.

“Ang villa, ang kotse, at ang mga gamit dito… ang total damage mo ay ₱12,300,000 pesos.”

Namutla siya.

“Hindi ko kaya ‘yan…”

Ngumiti ako.

“Hindi ka rin dapat nakikialam sa bagay na hindi mo pag-aari.”


Lumingon ako kay Jun-Jun.

“Dalhin mo siya. At ibalik mo ang lahat ng susi ng sasakyan bukas.”

“Ma’am Sofia, pakiusap—”

“Wala nang pakiusap.”

Tahimik.

Walang sigawan.

Walang drama.

Isang simpleng desisyon lang mula sa may-ari ng lahat ng nasa harap nila.


Habang papaalis ako papasok sa loob ng villa, narinig ko si Kiara na umiiyak.

“Jun-Jun! Sinungaling ka! Sabi mo driver ka lang!”

Ngumiti lang ako nang hindi lumilingon.

Sa mundong ito…

ang pinakamapanganib na tao ay hindi ang mayayabang.

Kundi ang mga taong akala mong wala lang… pero sila pala ang may-ari ng lahat.

Kiara berdiri di tengah ruang tamu vila itu, masih gemetar. Tamparannya yang tadi terasa sekarang seperti balik menghantam dirinya sendiri.

“Jadi… kamu bukan driver?” suaranya pecah.

Aku menatapnya datar.

“Sejak awal aku tidak pernah bilang aku hanya penumpang.”

Jun-Jun menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap siapa pun.

“Ma’am Sofia… saya minta maaf…”

Aku mengangkat tangan, menghentikannya.

“Permintaan maaf tidak memperbaiki kerusakan ₱12,300,000 pesos di rumah saya.”

Sunyi.

Hanya suara angin Tagaytay yang masuk lewat jendela.

Aku melangkah ke tengah ruangan, memandangi semuanya—sofa rusak, botol alkohol, dan wajah orang-orang yang tadi merasa berkuasa.

“Kiara,” kataku pelan, “kamu bilang aku penumpang gelap di mobilku sendiri.”

Dia menelan ludah.

“Itu kesalahan…”

Aku tersenyum tipis.

“Tidak. Itu bukan kesalahan. Itu cerminan cara kamu menilai orang.”


Aku mengeluarkan ponsel lagi.

Satu tombol ditekan.

“Semua aset vila ini… aktifkan mode lockdown.”

Lampu sistem keamanan menyala merah.

Pintu otomatis terkunci.

Semua orang langsung panik.

“Ano ‘to?!” Kiara mundur.

Jun-Jun panik, “Ma’am Sofia, bakit po nag-lock?!”

Aku menatap mereka.

“Karena kalian sedang berada di properti yang belum kalian pahami siapa pemiliknya.”


Dalam beberapa menit, tim legal dan security datang.

Semua bukti sudah siap:

  • rekaman CCTV
  • kerusakan properti
  • penyalahgunaan kendaraan
  • pelanggaran kontrak kerja

Seorang pengacara membuka tablet:

“Total liability estimated: ₱18,750,000 pesos.”

Kiara langsung lemas.

“A-ako hindi ko kaya ‘yan…”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu tidak perlu membayar sekarang. Tapi kamu akan belajar satu hal penting hari ini.”

Dia menatapku dengan takut.

“Apa…?”

Aku menjawab pelan:

“Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kamu belum tahu siapa pemiliknya.”


Aku berbalik, lalu berjalan keluar dari vila.

Sepatu hakku menyentuh lantai marmer dengan suara tenang.

Di belakang, Kiara menangis.

Jun-Jun terduduk, kehilangan kata-kata.

Dan Maybach-ku… tetap berdiri di tempatnya.