Posted in

SELINGKUH, SUAMIKU DIAM-DIAM MANDI “BERSAMA” DENGAN PEMBANTU RUMAH TANGGA KAMI DI BATHTUB. AKU MENGUMPULKAN SEMUA PAKAIAN MEREKA, MENGUNCI PINTU KAMAR MANDI, LALU MENGUNDANG SELURUH KELUARGA UNTUK “MENIKMATI PESTA KEJUTANKU.” TERIAKAN YANG MENYUSUL SETELAHNYA BENAR-BENAR MEMEKAKKAN TELINGA…

SELINGKUH, SUAMIKU DIAM-DIAM MANDI “BERSAMA” DENGAN PEMBANTU RUMAH TANGGA KAMI DI BATHTUB. AKU MENGUMPULKAN SEMUA PAKAIAN MEREKA, MENGUNCI PINTU KAMAR MANDI, LALU MENGUNDANG SELURUH KELUARGA UNTUK “MENIKMATI PESTA KEJUTANKU.” TERIAKAN YANG MENYUSUL SETELAHNYA BENAR-BENAR MEMEKAKKAN TELINGA…

Namaku Lucía Herrera. Usia tiga puluh tujuh tahun, dan sudah dua belas tahun aku menikah dengan Javier Morales. Kupikir aku mengenalnya luar dalam—cara dia diam, kebiasaannya, bahkan kebohongan-kebohongan kecilnya. Tapi aku tidak pernah membayangkan akan menemukan kebenaran dengan cara yang paling memalukan dan paling menyakitkan.

Sore itu aku pulang lebih cepat karena sebuah meeting dibatalkan. Rumah terasa sangat sunyi. Tidak ada suara televisi, bahkan langkah kaki María, pembantu rumah tangga kami yang sudah bekerja dua tahun di rumah itu, pun tidak terdengar.

Aku naik ke lantai dua, dan saat melewati kamar mandi utama, aku mendengar suara tawa pelan dan gemericik air yang sangat jelas. Aku berhenti. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin aku salah dengar, bahwa pikiranku hanya terlalu curiga. Perlahan aku mendorong pintu yang sedikit terbuka dan melihat uap hangat keluar, handuk berserakan di lantai, dan dua suara yang mendadak terdiam.

Aku tidak melihat semuanya dengan jelas, tapi aku sudah tidak perlu melihat lebih jauh lagi. Semuanya sudah sangat jelas. Suamiku dan pembantu rumah tangga kami sedang berada bersama di bathtub—berbagi sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku menutup pintu dengan ketenangan yang sampai sekarang pun masih membuatku sendiri terkejut. Perlahan aku turun tangga, seolah setiap langkah membutuhkan seluruh kekuatan dalam tubuhku.

Di area laundry, aku mengumpulkan semua pakaian Javier: jaket, kemeja, bahkan mantel favoritnya. Setelah itu aku masuk ke kamar María dan melakukan hal yang sama. Semua pakaian mereka kumasukkan ke dalam kantong besar lalu kubuang ke halaman belakang.

Aku kembali ke kamar mandi, mengunci pintunya dari luar, lalu memasukkan kuncinya ke saku.

Setelah itu aku mengambil ponsel dan mengirim pesan—bukan kepada teman-teman, tetapi kepada orang-orang yang paling dihormati Javier: ibunya Doña Carmen, adiknya Luis, dua sepupunya, dan seorang paman yang selalu suka ikut campur urusan keluarga. Aku mengatakan agar mereka datang ke rumah karena aku sudah menyiapkan sebuah “kejutan keluarga yang spesial.”

Dalam waktu satu jam, mereka datang satu per satu. Aku mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, menyajikan kopi, dan tersenyum dengan tenang.

Saat semuanya sudah lengkap, aku berjalan perlahan menuju lorong. Dari dalam kamar mandi terdengar gedoran keras dan teriakan panik yang semakin putus asa.

Aku menatap semua tamuku dan berkata dengan suara mantap:

“Kurasa sudah waktunya kalian melihat kejutanku.”

Teriakan yang muncul setelahnya benar-benar memekakkan telinga, dan wajah-wajah syok memenuhi seluruh rumah…Teriakan yang muncul setelahnya benar-benar memekakkan telinga, dan wajah-wajah syok memenuhi seluruh rumah…

Aku memutar kunci dengan gerakan yang sangat lambat, memberikan waktu bagi detak jantung Javier dan María di dalam sana untuk berpacu lebih kencang. Doña Carmen, ibu mertuaku yang selalu membanggakan “moralitas keluarga Morales,” mengerutkan kening dengan bingung.

“Lucía, ada apa ini? Kenapa ada suara orang menggedor pintu dari dalam?” tanya Doña Carmen dengan nada otoriter yang biasanya membuatku menciut. Tapi hari ini, aku hanya tersenyum manis.

“Silakan lihat sendiri, Ma. Javier bilang dia ingin memberikan ‘pertunjukan’ untuk kita semua,” jawabku tenang sambil menarik pintu lebar-lebar.

Uap panas menyembur keluar, membawa aroma sabun mawar yang biasanya kupakai. Dan di sana, di tengah-tengah bathtub yang penuh busa, Javier dan María berusaha menutupi tubuh mereka dengan satu-satunya benda yang tersisa: sebuah handuk kecil milik tamu yang bahkan tidak cukup untuk menutupi kaki mereka.

Hening yang Mematikan.

Selama lima detik, tidak ada yang bernapas. Luis, adik Javier, menutup matanya dengan jijik. Paman Javier menjatuhkan cangkir kopinya hingga pecah berserakan di lantai marmer. Tapi yang paling epik adalah wajah Doña Carmen. Wajahnya yang biasanya merah karena angkuh, mendadak putih pucat seperti kertas.

“Javier?!” teriak Doña Carmen. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian yang mencekam. “Apa-apaan ini?! Lucía, apa maksud semua ini?!”

“Maksudnya?” Aku melangkah masuk, melewati pakaian dalam mereka yang berserakan. Aku menatap Javier yang kini menggigil—bukan karena dingin, tapi karena rasa malu yang menghancurkan harga dirinya. “Maksudnya adalah Javier memutuskan bahwa tempat tidur kita terlalu membosankan, jadi dia mengundang María untuk ‘lembur’ di bathtub-ku.”

“Lucía, tolong… dengarkan aku…” Javier memohon dengan suara gemetar, air matanya mulai mengalir. “Ini tidak seperti yang kamu lihat!”

“Lalu seperti apa?” tanyaku sambil tertawa dingin. “Kalian sedang mencoba sistem saluran air baru? Atau sedang mencuci baju bersama tanpa memakai sehelai benang pun?”

Aku berbalik ke arah keluarga besar Morales yang masih terpaku di ambang pintu.

“Kalian selalu bilang aku beruntung mendapatkan Javier. Kalian selalu bilang dia adalah pria suci yang tidak pernah melakukan kesalahan,” kataku dengan suara yang kini meninggi. “Nah, inilah pria suci kalian. Menikmati fasilitas rumah dengan wanita yang kuupah untuk membersihkan debu, bukan untuk membersihkan punggung suamiku!”

María hanya bisa menunduk, menangis tersedu-sedu sambil meringkuk di sudut bathtub.

“Luis,” panggilku pada adik Javier. “Tolong ambilkan kantong sampah di laundry. Aku sudah membuang semua pakaian mereka ke tempat pembakaran di halaman belakang. Jadi, kalau kakakmu dan pacar barunya ini ingin keluar, mereka harus menggunakan kreativitas mereka sendiri.”

Javier mencoba keluar dari bathtub, tapi Paman Javier yang sangat menjunjung harga diri keluarga, justru mendorong pintu hingga hampir menjepit tangan Javier.

“Jangan berani-berani kamu keluar dari sana dalam keadaan seperti itu di depan ibumu!” bentak Pamannya. “Kamu telah mempermalukan nama Morales!”

Aku mengambil tas tanganku yang sudah kusiapkan sejak tadi di atas meja rias. Di dalamnya ada dokumen perceraian yang sudah kutandatangani dan kunci cadangan mobil yang tidak terdaftar atas nama Javier.

“Rumah ini atas nama ayahku, Javier. Kamu punya waktu tiga puluh menit untuk pergi setelah keluargamu pulang. Gunakan gorden kalau kamu perlu pakaian,” ucapku datar. “Jangan khawatir tentang María. Aku sudah mengirimkan video singkat ‘kegiatan’ kalian sore ini ke grup chat seluruh asisten rumah tangga di kompleks ini. Aku ragu dia akan mendapatkan pekerjaan lagi dalam waktu dekat.”

Aku berjalan melewati Doña Carmen yang terduduk lemas di lantai. Aku menyentuh bahunya sekilas.

“Terima kasih sudah datang ke pestaku, Ma. Kopinya enak, kan?”

Aku melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Teriakan histeris Doña Carmen yang memaki putranya dan gedoran pintu yang kembali terkunci dari luar menjadi musik pengiring perjalananku. Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku merasa udara di paru-paruku benar-benar bersih.

Aku tidak kehilangan suami; aku hanya baru saja membuang sampah yang sudah lama membusuk di dalam rumahku sendiri.