SELINGKUHAN SUAMIKU MELAKUKAN OPERASI PLASTIK DI KLINIKKU AGAR LEBIH CANTIK DARIKU… DIA TIDAK TAHU, AKULAH ISTRI YANG IA RAMPAS DAN AKU MEMEGANG PISAU YANG AKAN MENGUBAH WAJAHNYA!
Suatu pagi di sebuah klinik pribadi di Kota Makati, aku mengenakan jas dokter putih, masker operasi, penutup rambut, dan kacamata pembesar. Aku adalah Dr. Elena Morales, salah satu ahli bedah plastik paling terkenal di Filipina. Pasien-pasienku adalah para wanita kaya yang ingin terlihat cantik secara alami. Bagi mereka, aku hanyalah dokter profesional yang siap mengubah penampilan mereka.
Namun hari itu, Bianca Delgado masuk — 24 tahun, rambut panjang bergelombang, kuku merah menyala, kacamata hitam besar, dan tas desainer di tangannya. Ia duduk di depanku, mendorong ponselnya ke arahku, lalu berkata tanpa basa-basi, “Aku ingin lebih cantik daripada istri pacarku.”
Aku menatap layar ponselnya. Darahku seperti membeku. Itu fotoku. Bukan dari media sosial atau situs klinik. Itu foto pribadi di taman rumah kami di Quezon City. Tanpa makeup, rambut diikat asal, sambil membawa kantong belanja dari supermarket. Foto itu diambil diam-diam oleh seseorang yang dekat denganku.
Bianca mengetuk layar dengan kuku merahnya. “Pacarku bilang dia sudah tidak tahan melihat istrinya lagi. Katanya dia lebih mirip tante-tante daripada seorang istri.”
Aku tidak bergerak. Tidak berkedip. Aku hanya menatap diriku sendiri di ponsel wanita lain sambil mendengar detak jantungku sendiri. Beberapa jam sebelumnya, Victor Morales mencium keningku sebelum pergi dari rumah. Katanya dia ada meeting di BGC. Katanya dia mencintaiku. Katanya aku tidak perlu menunggunya pulang malam.
Sekarang, selingkuhannya duduk di hadapanku, menunjuk fotoku, dan meminta wajah baru.
Bianca mencondongkan tubuhnya. “Aku ingin struktur wajah seperti dia, tapi lebih muda, lebih fresh, lebih seksi. Aku ingin saat dia melihatku, dia melupakan kalau wanita itu pernah ada.”

Di balik maskerku, wajahku tetap tenang. Dia tidak mengenaliku. Masker, penutup rambut, dan kacamataku menyembunyikan identitasku. Dia terlalu sibuk memikirkan dirinya sendiri untuk menyadari apa pun.
“Pacarmu yang akan membayar semuanya?” tanyaku tenang.
Dia tersenyum lalu mengeluarkan kartu kredit hitam. Nama Victor Morales tertulis jelas di sana.
Dalam beberapa menit berikutnya, Bianca menandatangani semua dokumen tanpa membacanya: formulir persetujuan, riwayat medis, izin foto, hingga dokumen perencanaan estetika. Semua dibubuhi tanda tangannya dengan penuh percaya diri.
Saat perawat membawanya ke ruang persiapan untuk sesi foto dan pemindaian wajah, dia menoleh dan berkata, “Dok, buat aku cukup cantik untuk merebut suami wanita lain.”
Ketika aku akhirnya sendirian di ruang konsultasi, aku menatap fotoku di ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Victor: “Love, aku pulang malam ini. Jangan tunggu aku.”
Saat itu juga aku sadar… ini bukan lagi konsultasi biasa. Bianca datang untuk wajah baru. Tapi dia juga membawa kebenaran yang akan mengubah segalanya.
Dua hari kemudian, Victor kembali mengirim pesan tentang perjalanan bisnis ke Cebu. Aku tahu dia sebenarnya ada di mana. Di klinik, Bianca sudah terbaring di meja operasi di bawah pengaruh anestesi ringan. Wajahnya terlihat lemah dan polos.
Aku belum menyentuhkan pisau bedah itu. Belum. Tapi aku tahu semuanya akan dimulai saat dia bangun dan melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Lampu operasi yang dingin menyinari wajah Bianca yang sudah terlelap. Di tanganku, pisau bedah berkilau perak—sebuah alat yang biasanya aku gunakan untuk menyembuhkan rasa tidak percaya diri, namun kali ini, ia adalah alat untuk sebuah keadilan.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya, berbisik meski ia tak bisa mendengar, “Kau ingin wajahnya hilang dari ingatan Victor? Aku akan mengabulkan permintaanmu.”
Operasi Kehancuran
Aku tidak merusak wajahnya. Sebagai dokter profesional, aku tahu cara yang lebih menyakitkan daripada sekadar luka fisik. Aku melakukan prosedur dengan presisi ekstrem, namun aku menambahkan satu detail yang tidak dia minta: kemiripan yang menghantui.
Alih-alih membuatnya menjadi versi “lebih cantik” dariku, aku membentuk sudut matanya, garis rahangnya, dan lekukan bibirnya agar menjadi replika persis dari fotoku yang dia hina—foto diriku sepuluh tahun lalu, saat Victor pertama kali jatuh cinta padaku.
Saat aku menjahit luka terakhirnya, Victor menelepon ponsel Bianca yang tergeletak di meja asisten. Aku mengangkatnya tanpa suara, membiarkan dia mendengar suara monitor jantung selingkuhannya yang berdetak teratur.
Cermin Kebenaran
Satu minggu kemudian, di ruang pemulihan yang privat, saatnya tiba untuk membuka perban. Victor ada di sana, menggenggam tangan Bianca dengan penuh gairah, menanti “piala” barunya. Aku berdiri di kegelapan sudut ruangan, masih dengan masker dan jubah putihku.
“Siap melihat mahakaryaku?” tanyaku tenang.
Saat perban dilepaskan, Bianca perlahan membuka matanya. Dia melihat ke cermin dan menjerit tertahan. Dia tidak melihat wanita baru yang seksi. Dia melihat Elena Morales versi muda. Dia melihat wanita yang selama ini ingin dia singkirkan.
Victor terpaku. Wajahnya pucat pasi. “Elena…?” bisiknya dengan suara gemetar, menatap Bianca namun memanggil namaku.
“Kenapa wajahku jadi seperti ini?!” teriak Bianca histeris. “Dokter, apa yang kau lakukan?!”
Skakmat
Aku melepas masker dan penutup kepalaku pelan-pelan. Senyumku mengembang saat melihat sisa keberanian di mata Victor hancur berkeping-keping.
“Kau bilang kau ingin Victor melupakan kalau istrinya pernah ada,” kataku sambil melangkah maju. “Sekarang, setiap kali dia menyentuhmu, menciummu, atau menatapmu, dia hanya akan melihat wajahku. Kau bukan lagi selingkuhannya, Bianca. Kau hanyalah bayangan dari wanita yang suamiku khianati.”
Aku melemparkan map dokumen ke atas tempat tidur. “Dan Victor… terima kasih atas pembayaran kartu kreditnya. Semua biaya operasi ini, termasuk renovasi klinik baruku, telah lunas menggunakan uang tabungan bersama kita. Oh, dan Bianca sudah menandatangani dokumen persetujuan estetika yang menyatakan bahwa hasil operasi sepenuhnya adalah hak prerogatif bedah dokter. Kau tidak bisa menuntutku.”
Aku berbalik menuju pintu, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.
“Selamat menikmati sisa hidup kalian sebagai pengingat abadi akan diriku. Pengacaraku akan mengirimkan surat cerai ke alamat BGC besok pagi.”
Satu hal yang tidak aku katakan pada mereka: kecantikan bisa diubah dengan pisau, tapi rasa bersalah akan menetap di sana selamanya, sedalam bekas luka yang baru saja kubuat.