Posted in

“Nisa! Nis! Dari kejauhan Wati memanggilku. Aku kira dia mau memberi tahu nformasi tentang bang Epul, ternyata perempuan bermulut pedas itu berniat menanyakan pr putrinya.

“Nisa! Nis! Dari kejauhan Wati memanggilku. Aku kira dia mau memberi tahu nformasi tentang bang Epul, ternyata perempuan bermulut pedas itu berniat menanyakan pr putrinya.

“Kenapa Wat?”

“Aku mau tanya soal pr nak-anak. Putri kamu pas aku tanya malah celingak-celinguk mirip anak kucing kurang nyu-su.”

“Astaghfirullah! Aku kira ada apa.”

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah pak Danang. Ada urusan.”

“Ciee, magrib-magrib dari rumah duda.”

“Apa sih Wat?”

Bersama Wati, aku berjalan menuju pulang. Setelah sampai rumah, Adit terlihat sedang mengerjakan pr, sedang Alea malah sibuk dengan bonekanya.

“Ayah kamu sudah pulang, Dit?” Hal pertama yang kutanyakan adalah kepulangan bang Epul. Ternyata kata Adit ayahnya belum pulang.

“Belum Bu.”

“Memang suami kamu ke mana, Nis?” tanya Wati seraya ikut masuk ke dalam rumah.

“Tadi pamit pergi ke kebun.”

“Ke kebun? Jam segini dia belum pulang? Ngapain aja di kebun?” cerocos Wati. Aku malas mendengarnya. Daripada berkelanjutan, segera kualihkan pembicaraan kami. Aku meminta Alea menunjukkan Pr nya.

“Alea! Tadi bu guru kasih pr apa? Sudah kamu kerjakan belum?”

“Sudah, tapi bukunya ketinggalan di rumah Kaisa,” terang Alea. Ternyata putriku mengerjakan pr-nya tadi sore di kediaman Kaisa, sambil bermain.

“Buku Alea ketinggalan di rumah Kaisa katanya, Wat.”

“Gimana sih? Ya sudah lah!”

Pada akhirnya Wati berbalik pulang. Aku kembali fokus pada bang Epul. Karena khawatir diri ini nekat pamit kepada a-nak a-nak untuk pergi ke kebun menyusul ayah mereka. Adit dan Alea merengek ingin ikut, tapi kularang.

“Kalian tunggu saja di sini. Ibu gak lama kok.”

Setelah dibujuk, kedua anakku bersedia menunggu. Sambil membawa senter, aku meninggalkan rumah menuju perkebunan, tapi untungnya sebelum kaki ini melangkah jauh bang Epul sudah muncul.

“Alhamdulillah!”

Aku buru-buru mengucap syukur ketika dari kejauhan pria tinggi itu terlihat berjalan pincang ke arahku. Di pundaknya tampak setumpuk kayu bakar terikat tali.

Kasihan. Pasti saking beratnya memanggul kayu bakar, bang Epul sampai berjalan pin-cang. Itu yang kupikirkan sebelum kami bertemu. Ternyata ada hal lain yang membuat kakinya pin-cang.

“Dari mana saja? Kenapa baru pulang? Abang lupa punya a-nak istri di rumah? Kami semua khawatir!” omelku setelah jarak dengan bang Epul hanya sekitar empat meter.

Bang Epul tak menjawab. Langkahnya semakin goyah. Setelah semakin dekat, aku jadi bisa melihat kondisi wajahnya yang pucat manai. Dia berkeringat banyak di bagian dahi, matanya celong, dan bibirnya tampak membiru.

Tentu saja aku khawatir dan bertanya apa yang terjadi. Tanpa menghentikan langkah, bang Epul menjelaskan bahwa dia baru saja dipatuk ular.

“Abang kenapa?”

“Kaki Abang dipatuk ular.”

“Astaghfirullah!” Aku beristighfar sambil mengikuti langkah suamiku. Dalam kondisi sakit pun, dia lanjut melangkah hingga akhirnya sampai di depan kediaman kami.

Brugh! Bang Epul taruh kayu bakar yang sedari tadi membebani pundaknya. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah dan seperti kesakitan.

“Mana yang sakit, Bang?” tanyaku dengan perasaan panik.

“Tolong ambilkan minum, Nisa!” Suamiku terduduk seraya meletakan tangannya di lutut yang tertekuk. Napasnya tersengal, dan yang paling membuatku khawatir mata bang Epul terlihat sangat cekung seolah bersiap pingsan.

Aku buru-buru berlari untuk mengambil minum dan ketika kembali bang Epul sudah tak sadarkan diri.

“Bang! Abang!”

Hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa napas serta denyut nadinya. Suamiku masih bernapas tapi denyut nadinya sangat lemah.

Dengan perasaan tak menentu, aku bergegas mendatangi kediaman pak RT untuk meminta tolong. Bang Epul kutinggalkan bersama Adit dan Alea yang sama-sama menangis mengetahui ayahnya pingsan.

Tok tok tok!

“Assalamualaikum!” Aku mengetuk pintu dan mengucap salam di depan kediaman pak RT sambil gemetaran.

“Waalaikumsalam!” Ucapan salamku langsung ditanggapi oleh pemilik rumah. Bu RT muncul dari balik pintu dengan masih mengenakan mukena.

“Tolong suami saya bu RT. Pak RT-nya ada?”

“Ada di belakang. Memang ada apa, Nisa?”

“Bang Epul dipatuk ular, dan sekarang dia pingsan di depan rumah.”

“Astaghfirullah. Sebentar, saya mau panggil suami saya.” Bu RT berlalu masuk me dalam.

Sementara menunggu, jantung ini berdetak cepat, khawatir bang Epul tidak tertolong. Aku sering melihat berita di televisi, katanya orang yang dipatuk ular berbisa kecil kemungkinan untuk selamat.

Setelah beberapa saat, pak RT muncul dan segera mengajakku ke tempat bang Epul pingsan. Dengan bantuan warga sekitar suamiku dibawa ke rumah sakit terdekat untuk ditangani.

Kata petugas rumah sakit, suamiku beruntung karena racun belum menyebar ke organ vi-tal. Petugas juga menjelaskan jika dari pemeriksaan, ditemukan bahwa ular yang menye-rang bang Epul bukan dari jenis kobra, sehingga bang Epul punya harapan besar untuk selamat.

Mendengar keterangan tersebut, aku sedikit tenang, apalagi setelah melihat mata suamiku terbuka. Tangisku pecah karena terharu. Tadi sebelum dit”Nisa! Nis! Dari kejauhan Wati memanggilku. Aku kira dia mau memberi tahu nformasi tentang bang Epul, ternyata perempuan bermulut pedas itu berniat menanyakan pr putrinya.

“Kenapa Wat?”

“Aku mau tanya soal pr nak-anak. Putri kamu pas aku tanya malah celingak-celinguk mirip anak kucing kurang nyu-su.”

“Astaghfirullah! Aku kira ada apa.”

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah pak Danang. Ada urusan.”

“Ciee, magrib-magrib dari rumah duda.”

“Apa sih Wat?”

Bersama Wati, aku berjalan menuju pulang. Setelah sampai rumah, Adit terlihat sedang mengerjakan pr, sedang Alea malah sibuk dengan bonekanya.

“Ayah kamu sudah pulang, Dit?” Hal pertama yang kutanyakan adalah kepulangan bang Epul. Ternyata kata Adit ayahnya belum pulang.

“Belum Bu.”

“Memang suami kamu ke mana, Nis?” tanya Wati seraya ikut masuk ke dalam rumah.

“Tadi pamit pergi ke kebun.”

“Ke kebun? Jam segini dia belum pulang? Ngapain aja di kebun?” cerocos Wati. Aku malas mendengarnya. Daripada berkelanjutan, segera kualihkan pembicaraan kami. Aku meminta Alea menunjukkan Pr nya.

“Alea! Tadi bu guru kasih pr apa? Sudah kamu kerjakan belum?”

“Sudah, tapi bukunya ketinggalan di rumah Kaisa,” terang Alea. Ternyata putriku mengerjakan pr-nya tadi sore di kediaman Kaisa, sambil bermain.

“Buku Alea ketinggalan di rumah Kaisa katanya, Wat.”

“Gimana sih? Ya sudah lah!”

Pada akhirnya Wati berbalik pulang. Aku kembali fokus pada bang Epul. Karena khawatir diri ini nekat pamit kepada a-nak a-nak untuk pergi ke kebun menyusul ayah mereka. Adit dan Alea merengek ingin ikut, tapi kularang.

“Kalian tunggu saja di sini. Ibu gak lama kok.”

Setelah dibujuk, kedua anakku bersedia menunggu. Sambil membawa senter, aku meninggalkan rumah menuju perkebunan, tapi untungnya sebelum kaki ini melangkah jauh bang Epul sudah muncul.

“Alhamdulillah!”

Aku buru-buru mengucap syukur ketika dari kejauhan pria tinggi itu terlihat berjalan pincang ke arahku. Di pundaknya tampak setumpuk kayu bakar terikat tali.

Kasihan. Pasti saking beratnya memanggul kayu bakar, bang Epul sampai berjalan pin-cang. Itu yang kupikirkan sebelum kami bertemu. Ternyata ada hal lain yang membuat kakinya pin-cang.

“Dari mana saja? Kenapa baru pulang? Abang lupa punya a-nak istri di rumah? Kami semua khawatir!” omelku setelah jarak dengan bang Epul hanya sekitar empat meter.

Bang Epul tak menjawab. Langkahnya semakin goyah. Setelah semakin dekat, aku jadi bisa melihat kondisi wajahnya yang pucat manai. Dia berkeringat banyak di bagian dahi, matanya celong, dan bibirnya tampak membiru.

Tentu saja aku khawatir dan bertanya apa yang terjadi. Tanpa menghentikan langkah, bang Epul menjelaskan bahwa dia baru saja dipatuk ular.

“Abang kenapa?”

“Kaki Abang dipatuk ular.”

“Astaghfirullah!” Aku beristighfar sambil mengikuti langkah suamiku. Dalam kondisi sakit pun, dia lanjut melangkah hingga akhirnya sampai di depan kediaman kami.

Brugh! Bang Epul taruh kayu bakar yang sedari tadi membebani pundaknya. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah dan seperti kesakitan.

“Mana yang sakit, Bang?” tanyaku dengan perasaan panik.

“Tolong ambilkan minum, Nisa!” Suamiku terduduk seraya meletakan tangannya di lutut yang tertekuk. Napasnya tersengal, dan yang paling membuatku khawatir mata bang Epul terlihat sangat cekung seolah bersiap pingsan.

Aku buru-buru berlari untuk mengambil minum dan ketika kembali bang Epul sudah tak sadarkan diri.

“Bang! Abang!”

Hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa napas serta denyut nadinya. Suamiku masih bernapas tapi denyut nadinya sangat lemah.

Dengan perasaan tak menentu, aku bergegas mendatangi kediaman pak RT untuk meminta tolong. Bang Epul kutinggalkan bersama Adit dan Alea yang sama-sama menangis mengetahui ayahnya pingsan.

Tok tok tok!

“Assalamualaikum!” Aku mengetuk pintu dan mengucap salam di depan kediaman pak RT sambil gemetaran.

“Waalaikumsalam!” Ucapan salamku langsung ditanggapi oleh pemilik rumah. Bu RT muncul dari balik pintu dengan masih mengenakan mukena.

“Tolong suami saya bu RT. Pak RT-nya ada?”

“Ada di belakang. Memang ada apa, Nisa?”

“Bang Epul dipatuk ular, dan sekarang dia pingsan di depan rumah.”

“Astaghfirullah. Sebentar, saya mau panggil suami saya.” Bu RT berlalu masuk me dalam.

Sementara menunggu, jantung ini berdetak cepat, khawatir bang Epul tidak tertolong. Aku sering melihat berita di televisi, katanya orang yang dipatuk ular berbisa kecil kemungkinan untuk selamat.

Setelah beberapa saat, pak RT muncul dan segera mengajakku ke tempat bang Epul pingsan. Dengan bantuan warga sekitar suamiku dibawa ke rumah sakit terdekat untuk ditangani.

Kata petugas rumah sakit, suamiku beruntung karena racun belum menyebar ke organ vi-tal. Petugas juga menjelaskan jika dari pemeriksaan, ditemukan bahwa ular yang menye-rang bang Epul bukan dari jenis kobra, sehingga bang Epul punya harapan besar untuk selamat.

Mendengar keterangan tersebut, aku sedikit tenang, apalagi setelah melihat mata suamiku terbuka. Tangisku pecah karena terharu. Tadi sebelum dit

“Nisa! Nis! Dari kejauhan Wati memanggilku. Aku kira dia mau memberi tahu nformasi tentang bang Epul, ternyata perempuan bermulut pedas itu berniat menanyakan pr putrinya.

“Kenapa Wat?”

“Aku mau tanya soal pr nak-anak. Putri kamu pas aku tanya malah celingak-celinguk mirip anak kucing kurang nyu-su.”

“Astaghfirullah! Aku kira ada apa.”

“Kamu dari mana?”

“Dari rumah pak Danang. Ada urusan.”

“Ciee, magrib-magrib dari rumah duda.”

“Apa sih Wat?”

Bersama Wati, aku berjalan menuju pulang. Setelah sampai rumah, Adit terlihat sedang mengerjakan pr, sedang Alea malah sibuk dengan bonekanya.

“Ayah kamu sudah pulang, Dit?” Hal pertama yang kutanyakan adalah kepulangan bang Epul. Ternyata kata Adit ayahnya belum pulang.

“Belum Bu.”

“Memang suami kamu ke mana, Nis?” tanya Wati seraya ikut masuk ke dalam rumah.

“Tadi pamit pergi ke kebun.”

“Ke kebun? Jam segini dia belum pulang? Ngapain aja di kebun?” cerocos Wati. Aku malas mendengarnya. Daripada berkelanjutan, segera kualihkan pembicaraan kami. Aku meminta Alea menunjukkan Pr nya.

“Alea! Tadi bu guru kasih pr apa? Sudah kamu kerjakan belum?”

“Sudah, tapi bukunya ketinggalan di rumah Kaisa,” terang Alea. Ternyata putriku mengerjakan pr-nya tadi sore di kediaman Kaisa, sambil bermain.

“Buku Alea ketinggalan di rumah Kaisa katanya, Wat.”

“Gimana sih? Ya sudah lah!”

Pada akhirnya Wati berbalik pulang. Aku kembali fokus pada bang Epul. Karena khawatir diri ini nekat pamit kepada a-nak a-nak untuk pergi ke kebun menyusul ayah mereka. Adit dan Alea merengek ingin ikut, tapi kularang.

“Kalian tunggu saja di sini. Ibu gak lama kok.”

Setelah dibujuk, kedua anakku bersedia menunggu. Sambil membawa senter, aku meninggalkan rumah menuju perkebunan, tapi untungnya sebelum kaki ini melangkah jauh bang Epul sudah muncul.

“Alhamdulillah!”

Aku buru-buru mengucap syukur ketika dari kejauhan pria tinggi itu terlihat berjalan pincang ke arahku. Di pundaknya tampak setumpuk kayu bakar terikat tali.

Kasihan. Pasti saking beratnya memanggul kayu bakar, bang Epul sampai berjalan pin-cang. Itu yang kupikirkan sebelum kami bertemu. Ternyata ada hal lain yang membuat kakinya pin-cang.

“Dari mana saja? Kenapa baru pulang? Abang lupa punya a-nak istri di rumah? Kami semua khawatir!” omelku setelah jarak dengan bang Epul hanya sekitar empat meter.

Bang Epul tak menjawab. Langkahnya semakin goyah. Setelah semakin dekat, aku jadi bisa melihat kondisi wajahnya yang pucat manai. Dia berkeringat banyak di bagian dahi, matanya celong, dan bibirnya tampak membiru.

Tentu saja aku khawatir dan bertanya apa yang terjadi. Tanpa menghentikan langkah, bang Epul menjelaskan bahwa dia baru saja dipatuk ular.

“Abang kenapa?”

“Kaki Abang dipatuk ular.”

“Astaghfirullah!” Aku beristighfar sambil mengikuti langkah suamiku. Dalam kondisi sakit pun, dia lanjut melangkah hingga akhirnya sampai di depan kediaman kami.

Brugh! Bang Epul taruh kayu bakar yang sedari tadi membebani pundaknya. Dia tiba-tiba menjatuhkan diri ke tanah dan seperti kesakitan.

“Mana yang sakit, Bang?” tanyaku dengan perasaan panik.

“Tolong ambilkan minum, Nisa!” Suamiku terduduk seraya meletakan tangannya di lutut yang tertekuk. Napasnya tersengal, dan yang paling membuatku khawatir mata bang Epul terlihat sangat cekung seolah bersiap pingsan.

Aku buru-buru berlari untuk mengambil minum dan ketika kembali bang Epul sudah tak sadarkan diri.

“Bang! Abang!”

Hal pertama yang kulakukan adalah memeriksa napas serta denyut nadinya. Suamiku masih bernapas tapi denyut nadinya sangat lemah.

Dengan perasaan tak menentu, aku bergegas mendatangi kediaman pak RT untuk meminta tolong. Bang Epul kutinggalkan bersama Adit dan Alea yang sama-sama menangis mengetahui ayahnya pingsan.

Tok tok tok!

“Assalamualaikum!” Aku mengetuk pintu dan mengucap salam di depan kediaman pak RT sambil gemetaran.

“Waalaikumsalam!” Ucapan salamku langsung ditanggapi oleh pemilik rumah. Bu RT muncul dari balik pintu dengan masih mengenakan mukena.

“Tolong suami saya bu RT. Pak RT-nya ada?”

“Ada di belakang. Memang ada apa, Nisa?”

“Bang Epul dipatuk ular, dan sekarang dia pingsan di depan rumah.”

“Astaghfirullah. Sebentar, saya mau panggil suami saya.” Bu RT berlalu masuk me dalam.

Sementara menunggu, jantung ini berdetak cepat, khawatir bang Epul tidak tertolong. Aku sering melihat berita di televisi, katanya orang yang dipatuk ular berbisa kecil kemungkinan untuk selamat.

Setelah beberapa saat, pak RT muncul dan segera mengajakku ke tempat bang Epul pingsan. Dengan bantuan warga sekitar suamiku dibawa ke rumah sakit terdekat untuk ditangani.

Kata petugas rumah sakit, suamiku beruntung karena racun belum menyebar ke organ vi-tal. Petugas juga menjelaskan jika dari pemeriksaan, ditemukan bahwa ular yang menye-rang bang Epul bukan dari jenis kobra, sehingga bang Epul punya harapan besar untuk selamat.

Mendengar keterangan tersebut, aku sedikit tenang, apalagi setelah melihat mata suamiku terbuka. Tangisku pecah karena terharu. Tadi sebelum dit