Posted in

Aku Dianggap Pembantu di Rumahku Sendiri

“Loh, ini kan….”

“Ada apa, Ra?” tanya Mas Rendi di balik kemudi.

“Aku seperti mengenal rumah ini, Mas,” jawabku.

“Kamu mengenal rumah ini? kamu pernah jadi pemb antu di rumah Sela?” tanya Bu Marni, ibunya Mas Rendi.

“Bagaimana kalau aku mengatakan rumah yang kita datangi ini adalah rumahku, Ma?” tanyaku kepada Mama mertua.

“Berarti kamu mimpi, Tara. Bangun dan buka mat amu lebar-lebar atau cuci muka dulu biar mengkhayalnya enggak ketinggian,” ucap Mama mertua lagi.

“Sudah ayo turun,” ucap Mas Rendi kepadaku dan juga Mama mertua.
Aku dan Bu Marni lalu turun dari mobil. Aku celingukan, rumah ini sepi sekali. Pergi ke mana orang-orang yang bekerja?

“Tara, kamu mau ikut atau hanya ingin berdiri saja di sini?” tanya Mas Rendi.
“Ikut, Mas,” jawabku.

“Tara kagum melihat rumah sebagus ini, iya kan, Ra?” tanya Mama mertua kepadaku.

“Eh, iya, Ma.”

“Wajar sih kamu kagum, kamu kan dari kampung dan belum pernah masuk rumah besar seperti ini. Kalau pun pernah paling hanya jadi pemba ntu,” ujar Mama mertua.

Aku diam saja, malas meladeni perkataan mertuaku ini. Aku penasaran siapa Sela itu dan kenapa dia berani mengakui kalau rumah ini adalah rumahnya.

Aku mengikuti Mama mertua dan Mas Rendi yang berjalan terlebih dahulu. Mas Rendi memencet bel, hingga beberapa saat kemudian pintu di buka. Keluar seorang perempuan muda.

“Eh, Tante, Mas Rendi. Mari masuk dan…” perempuan itu menatap ke arahku.

“Dia Tara,” ucap Mama mertua.

“Mbak Tara, mari masuk,” ucap perempuan itu kepadaku.

Aku mengangguk. Kami pun masuk ke dalam rumah yang katanya rumah Sela. Jadi perempuan yang tertawa bersama dengan Mas Rendi, Mama mertua dan juga Nia adalah Sela, mantan Mas Rendi.

“Kenapa rumah ini sepi sekali?” tanyaku kepada Sela.

“Mama dan Papa saat ini ada di luar negeri,” jawab Sela.

“Tara, kamu ini banyak bicara ya,” protes Mama Mertua.

“Tara punya mulut, Ma. Enggak apa-apa kan Mbak Sela kalau aku tanya?” tanyaku kepada Sela lagi.

“Ya, enggak apa-apa,” jawabnya.

“Mbak Sela enggak mau Nawari kita minum apa? Kan haus kalau bicara terus tidak dikasih minum,” ucapku lagi.

“Oh, iya. Maaf, keasyikan bicara aku sampai lupa tidak menawari kalian minum,” tukas Sela, “aku buatkan minum dulu ya, Tante, Mas Rendi.”

“Tidak usah, Sel. Malah merepotkan saja,” ucap Mas Rendi.

“Ya, enggak dong, Mas kalau merepotkan. Kan cuma air minum bukan makanan atau camilan. Mbaknya kan ka ya raya,” ucapku lagi.

“Tunggu sebentar,” Sela lalu berdiri dan meninggalkan kami.

“Tara, kamu ini bikin malu saja. Seharusnya kamu tidak usah ikut saja,” ucap Mama mertua.

“Nanti kamu diam saja, Ra. Tidak usah banyak bicara,” ucap Mas Rendi.

“Loh, tidak ada yang salah dengan yang aku katakan, Mas.”

“Sudah diam, Tara!” bentak Mama mertua.
Aku langsung diam, bukan karena aku takut.

Kalau aku terus bicara nanti Mama mertua mengomel terus. Kalau Mama sampai marah-marah dan terkena seran gan jant ung, kan bisa gawat. Eh, bukan maksudku mendoakan Mama terkena sera ngan jant ung.
Beberapa saat kemudian Sela kembali dengan membawa nampan berisi tiga gelas minuman dingin dan sepiring camilan, “Silakan di minum dan dimakan camilannya,” Sela meletakkan nampan berisi minuman dingin dan camilan ke atas meja.

Aku lalu mengambil segelas minuman dingin dan meminumnya, lantas aku bertanya, “Mbak kok buat minum sendiri. Memang pada ke mana pemb antu di rumah ini?”

Wajah Sela memerah mendengar pertanyaanku, dia sepertinya marah, “Pemb antu ada, mereka ada di dapur. Aku memang sudah terbiasa membuatkan minum untuk tamu. Mereka kan juga lelah bekerja terus-terusan. Kalau aku sendiri mampu melakukannya, kenapa tidak aku lakukan sendiri?”

“Baik sekali kamu jadi maji kan, Sela,” puji Mama mertua.

“Kok tidak ada foto keluarganya, Mbak?” tanyaku kepada Sela.

“Tara, kamu bisa diam tidak?” Mama mertua bicara dengan suara meninggi.

“Tidak apa, Tante. Yang dikatakan istrinya Mas Rendi benar. Memang tidak ada foto keluarga kami di ruang tamu, itu karena kami hanya memajan foto keluarga di ruang keluarga,” ucap Sela.

“Kamu dengar itu, Tara?” ucap Mama mertua kepadaku.

Setelah itu aku diam, tidak ada urusan juga dengan Sela tapi kenapa dia bisa berada di rumah ini dan mengaku sebagai pemilik rumah? Pasti ada yang tidak beres.

“Ma, Mas, aku keluar sebentar ya,” ucapku kepada Mama mertua dan Mas Rendi.

“Ya, keluar lah. Di sini kamu cuma banyak bicara yang tidak penting,” tukas Mama mertua.

Aku lalu keluar rumah.

Aku lalu menelepon seseorang, “Hallo, Sal. Kenapa ada perempuan muda yang mengaku rumah Mama dan Papa sebagai rumahnya dan ke mana semua asisten rumah tangga?”
Aku mengangguk-angguk mendengar penjelasan Faisal, sopir rumah yang dikatakan Sela sebagai rumahnya, “Baik lah,” ucapku di akhir panggilan.

“Pandai sekali kamu berbohong, Sela. Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Baik lah, akan aku ikuti permainanmu, tapi kalau Mas Rendi dan Mama tahu siapa Sela sebenarnya, apa mereka tidak syok?