Dua minggu terasa seperti dua tahun.
Perut Teresa mulai terlihat membesar.
Tatapannya kosong, senyumnya menghilang.
Aku tahu kami tidak bisa menunggu lebih lama.
Malam itu, aku kembali ke kampus sendirian.
Auditorium gelap dan sunyi. Lampu lorong berkedip pelan, seolah menyimpan rahasia.
Aku teringat kata-kata Leila.
“Kalau mau tahu, cek saja CCTV.”
Terlalu cepat. Terlalu dingin.
Aku menuju ruang security.
Pintu sedikit terbuka.
Dan di depan layar monitor… Leila berdiri di sana.
Dia sedang menghapus rekaman.
Jantungku seperti berhenti.
Aku mendorong pintu.
“Jadi ini yang kamu sembunyikan?”
Leila terkejut. Wajahnya pucat.
“Keluar dari sini!”
Aku melihat layar.
Rekaman hari latihan cultural show diputar ulang.
Teresa tertidur di backstage.
Lalu seorang pria masuk.
Bukan mahasiswa.
Itu dosen pembimbing kami.
Dia melihat ke kanan dan kiri.
Lalu menutup pintu.
Tanganku gemetar.
Leila berteriak,
“Jangan lihat lagi!”
Tapi semuanya sudah jelas.
Air mata Leila jatuh.
“Aku cuma disuruh jaga pintu… aku tidak tahu dia akan melakukan itu…”
Aku menatapnya.
“Kamu mungkin tidak menyentuhnya. Tapi kamu memilih diam.”
Dan diam juga bisa melukai.
06
Keesokan paginya, aku membawa salinan video itu ke kantor rektor.
Tidak perlu menunggu dua minggu lagi.
Saat rekaman diputar di ruang rapat, ruangan menjadi sunyi.
Wajah dosen itu kehilangan warna.
Dia langsung dinonaktifkan.
Kasusnya diserahkan kepada polisi.
Teresa duduk di sampingku. Tangannya dingin, tapi matanya untuk pertama kali kembali hidup.
Dia bukan pelaku.
Dia korban.
Dan korban tidak seharusnya merasa malu.
Dengan suara gemetar namun tegas, Teresa berkata:
“Aku tidak akan sembunyi. Yang harus malu adalah orang yang menyakitiku.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
07 – Epilog
Beberapa bulan kemudian.
Teresa melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Saat pertama kali mendengar tangis bayinya, Teresa ikut menangis.
Bukan karena takut.
Tapi karena dia akhirnya melewati semuanya.
Dia memutuskan untuk membesarkan anak itu.
“Dia tidak bersalah,” katanya pelan.
Aku berdiri di sampingnya.
Kami pernah merasa dunia runtuh.
Tapi ternyata…
Kebenaran tidak menghancurkan kami.
Ia menyelamatkan kami.
Dan dari rasa sakit itu, lahirlah keberanian.
Tamat.
