Posted in

Suamiku meminta u4ng 100 jt saat aku baru seminggu pulang merantau di negeri orang. Dia bilang ua ng itu akan diinvestasikan untuk masa depan…

Namun dari balik pintu aku mendengar percakapan Suami dan Ibunya. Jika ua ng itu bukan diinvestasikan melainkan…

“Dek, besok kamu gak usah ikut ke ATM! biar Mas saja yang tarik tunai ua ng itu sendiri.” pungkas Mas Doni di sela-sela sarapan pagi kami.

“Loh memangnya kenapa, Mas?” lagi pula kamu ini aneh, mana bisa tarik tunai sampai 100 ju ta di mesin ATM.”

“Ya, Mas gak ambil semua ua ng itu. Kan masih bisa ambil seperlunya. Kata teman Mas, yang penting ada ua ng muka dulu dua puluh lima persen. Nanti sisanya di lunasin minggu depan,” ungkapnya meyakinkan aku.

Aku yang tengah mengunyah makanan, berhenti sejenak untuk menengguk air yang ada di dalam gelas.

“Tapi, Mas. Aku besok juga rencananya mau belanja, ada sesuatu yang ingin aku beli. Sedangkan kartu ATM ada sama kamu. Bagaimana aku bisa ambil ua ng?”

Wajah Mas Doni berubah seketika, ia terlihat tidak suka dengan ucapanku.

“Sudah kubilang, kamu di rumah saja! belum apa-apa sudah mau beli ini itu, pemborosan saja. Bagaimana kita bisa kaya kamunya saja boros begitu,”

“Cuma beli oleh-oleh buat orang tuaku dan saudara-saudaraku, Mas. Aku juga ingin pulang bertemu mereka. Semenjak aku pulang merantau, belum pernah bertemu keluargaku. Ibu juga sudah bolak – balik telepon karena sudah kangen sama anaknya.”

“Jadi kamu mau pulang? kapan? kalau bisa secepatnya!” Mas Doni terus melontarkan pertanyaan padaku, seketika moodnya berubah baik ketika mendengar rencana kepulanganku. Bahkan ia meminta agar aku segera menemui orang tuaku. Ada apa dengannya? aku yakin pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan olehnya.

“Kemungkinan 3 harian lagi, Mas. Soalnya aku lagi nyiapin berkas buat ngelamar kerja di pabrik sepatu yang baru di buka di kota ini,” ungkapku seraya menyuapkan makanan ke mulutku.

“Loh, kenapa harus bekerja disini? memangnya kamu gak berangkat lagi ke Jepang? bukannya kamu pulang hanya cuti sebentar,”

“Gak, Mas. Kontrakku sudah habis. Jadi aku memutuskan bekerja disini saja.” jawabku santai.

Ternyata dia menginginkan aku pergi dari rumah ini setelah dengan segala kelicikannya, meram pas ua ngku untuk menikahi wanita lain. Aku jadi penasaran siapa wanita seling kuhan Mas Doni?

Mas Doni terlihat khawatir, ia memainkan jari jemarinya. Namun aku pastikan rencana busuk kamu ingin menikah tidak akan berjalan dengan lancar, makanya aku mengurungkan niatku dan memilih untuk bekerja di negeri sendiri saja. Agar aku bisa membalaskan sakit hatiku setelah kau khianati.

Suara deru motor terdengar berhenti di depan rumah kami, membuat aku dan Mas Doni melirik satu sama lain. Siapa yang pagi-pagi datang ke rumah?

“Dek, coba bukain pintu! lihat siapa yang datang?” perintah Mas Doni.

Aku beranjak dari kursi untuk membukakan pintu. Ternyata Dita_adik Mas Doni. Dia datang menggunakan pakaian yang kurang pantas, rok mini diatas lutut dengan atasan croptop diantar oleh tukang ojek. Tapi bentar, kalau laki-laki yang mengantarkannya itu tukang ojek kenapa dia gak langsung pergi? tapi menunggu di depan rumah.

“Mas Doni mana, Mbak?” tanyanya.

“Di dalam lagi sarapan.”

Tanpa sopan santun dia langsung men4brak tubuhku dan masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Akupun mengekor mengikutinya, melihat sikap Dita yang terburu-buru seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.

“Mas, mana ja tah untukku bulan ini?” desak Dita seraya mengulurkan tangannya pada Mas Doni.

‘Jatah. Memangnya jatah apa yang Mas Doni berikan pada adiknya?’

Mas Doni dengan sigap langsung mengambil dompet yang ada di saku celananya. Ia mengeluarkan beberapa lembar u4ng berwarna merah, lalu menghitungnya.

“Nih, 2 ju ta. Jatahmu bulan ini,” Ia memberikan ua ng itu kepada Dita.

“Tambahin dong Mas, sejuta lagi! istrimu kan baru pulang, pasti dia bawa banyak du it dong.” pintanya sambil melirik ke arahku.

Da rahku mendidih melihat lembaran merah itu berpindah tangan dengan begitu mudahnya.

Jadi selama ini ua ng yang aku kirimkan kepada Mas Doni setiap bulannya selalu diberikan kepada adiknya tanpa sepengetahuanku. Aku disana ban ting tvlang untuk mengubah masa depan kami, tapi ia justru menikmati hasil keringatku dengan keluarganya. Menjadikan aku sebagai ATM berjalannya. Sudah cukup kalian menjadikan aku sapi perah. Lihat saja pembalasanku nanti, bagaimana rasanya hidup tanpa ua ng?
Aku menggenggam erat gelas di tanganku sampai jemariku memutih. Rasanya ingin sekali aku melemparkan gelas itu tepat ke wajah Mas Doni dan adiknya. Tapi aku masih menahan diri. Belum waktunya.

Aku harus sabar.

Karena orang seperti mereka tidak cukup diberi pelajaran dengan kemarahan sesaat. Mereka harus dijatuhkan perlahan… tepat di saat mereka merasa paling menang.

Dita memasukkan uang dua juta itu ke dalam tas kecilnya sambil tersenyum puas.

“Kalau bulan depan jangan segini lagi ya Mas. Aku malu sama teman-temanku kalau uang jajanku kecil,” rengeknya manja.

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Uang jajan?

Sedangkan aku di Jepang dulu pernah makan mie instan tiga hari berturut-turut demi bisa mengirim uang lebih banyak ke rumah.

Aku bekerja di pabrik makanan beku dengan suhu dingin menusuk tulang. Tangan pecah-pecah, pinggang sakit, tidur cuma tiga jam sehari kalau sedang lembur. Semua aku lakukan demi siapa?

Demi suamiku.

Demi masa depan kami.

Tapi ternyata selama ini aku hanya jadi mesin ATM hidup.

Mas Doni melirikku sekilas, mungkin takut aku curiga. Tapi aku buru-buru memasang wajah biasa.

“Sudah sana, Dit. Jangan banyak minta,” katanya.

“Halah Mas pelit amat sekarang. Padahal istrinya baru pulang dari Jepang.”

Ucapan itu seperti sengaja ditujukan padaku.

Dita lalu pergi sambil tertawa kecil. Dan laki-laki yang menunggunya di luar langsung memboncengnya pergi entah ke mana.

Setelah pintu tertutup, aku kembali duduk di meja makan.

Aku menatap Mas Doni lama.

“Mas sayang banget ya sama adiknya.”

Mas Doni salah tingkah.

“Ya iyalah. Dia kan adik kandung Mas.”

Aku mengangguk pelan.

“Kalau aku selama ini kirim uang tiap bulan… memang sebagian buat Dita ya?”

Wajahnya langsung tegang.

“Eh… gak juga. Kadang-kadang aja bantu.”

Bantu?

Aku hampir muntah mendengar kata itu.

Lima tahun aku di Jepang.

Setiap bulan aku mengirim minimal lima belas juta. Kalau lagi banyak lembur bahkan bisa dua puluh juta lebih.

Tapi rumah kami masih begini-begini saja.

Tidak ada tabungan.

Tidak ada usaha.

Tidak ada aset.

Awalnya aku percaya saat Mas Doni bilang uangnya diputar untuk investasi. Kadang katanya dipinjamkan ke teman. Kadang katanya dipakai biaya berobat ibunya.

Aku percaya.

Karena aku terlalu sibuk bekerja sampai lupa… manusia bisa berubah saat melihat uang.

Dan suamiku ternyata berubah jadi sangat rakus.


Siang itu aku diam-diam memeriksa lemari dokumen di kamar.

Aku mencari buku tabungan.

Dan benar saja.

Saldo rekening kami tinggal delapan juta rupiah.

DELAPAN JUTA.

Padahal tiga bulan lalu sebelum aku pulang, saldonya masih lebih dari dua ratus juta.

Tanganku gemetar.

Aku terduduk di lantai.

Air mataku jatuh begitu saja.

Bukan karena kehilangan uang.

Tapi karena merasa dibodohi selama bertahun-tahun.

Aku membuka mutasi rekening lewat aplikasi mobile banking yang masih tersambung di ponsel lamaku.

Satu demi satu transaksi muncul.

Transfer ke nama perempuan.

Transfer ke Dita.

Tarikan tunai besar-besaran.

Dan yang paling membuat napasku tercekat…

Ada pembayaran DP rumah atas nama perempuan bernama “Siska Ayuningrum”.

Siapa Siska?

Jantungku berdegup keras.

Aku langsung teringat percakapan yang pernah kudengar malam itu.

“Kalau uangnya cair, kita langsung lanjut nikah saja…”

Aku meremas ponselku.

Jadi benar.

Mas Doni memang mau menikah lagi.

Dan uangku dipakai untuk membiayai semuanya.


Malam harinya aku pura-pura biasa.

Aku bahkan memasakkan makanan favorit Mas Doni.

Ayam kecap.

Perkedel kentang.

Sambal terasi.

Dia makan dengan lahap sambil sesekali memainkan ponselnya.

Aku tahu dia sedang chat dengan perempuan itu.

“Mas.”

“Hm?”

“Aku jadi mikir… mungkin uang seratus juta itu memang lebih baik buat investasi.”

Matanya langsung berbinar.

“Kan Mas sudah bilang dari awal.”

Aku tersenyum manis.

“Besok aku ikut deh ke bank.”

Wajahnya mendadak berubah.

“Ngapain?”

“Ya pengen tahu investasi kita nanti kayak apa.”

Dia langsung salah tingkah.

“Gak usah. Ribet.”

Aku menatap lurus matanya.

“Aku istrinya, Mas.”

Untuk sesaat dia diam.

Lalu tertawa kecil.

“Iya iya nanti ikut.”

Tapi aku tahu.

Dia panik.

Dan saat laki-laki mulai panik… mereka biasanya melakukan kesalahan.


Keesokan harinya aku berdandan rapi.

Aku sengaja memakai dress yang dulu dibelikan Mas Doni saat kami masih pacaran.

Aku ingin melihat… apakah masih ada sedikit rasa bersalah di matanya.

Ternyata tidak ada.

Sepanjang perjalanan dia justru terlihat gelisah.

Sesampainya di bank, aku pura-pura ke toilet.

Tapi sebenarnya aku menuju customer service.

Aku meminta cetak rekening lengkap tiga tahun terakhir.

Dan hasilnya…

Lebih parah dari yang kubayangkan.

Mas Doni bukan hanya memakai uangku.

Dia juga berutang sana-sini memakai namaku.

Ada cicilan motor.

Pinjaman online.

Bahkan kredit perabot rumah tangga.

Semua atas namaku.

Kepalaku terasa berputar.

Kalau aku tidak cepat sadar… hidupku akan hancur bersama laki-laki ini.


Saat keluar dari bank, aku melihat Mas Doni sedang menelepon seseorang di parkiran.

Dia tidak sadar aku berdiri di belakang mobil.

“Tenang aja Sayang… uangnya hampir cair.”

“….”

“Iya setelah itu kita urus rumah.”

“….”

“Istriku gak curiga kok.”

Aku menutup mulutku sendiri.

Air mata jatuh tanpa suara.

Bukan sedih.

Tapi muak.

Sangat muak.


Malam itu aku tidak tidur.

Aku memikirkan semuanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup… aku berhenti menjadi perempuan bodoh yang hanya menangis diam-diam.

Aku mulai menyusun rencana.

Kalau mereka menjadikanku sapi perah…

Maka sekarang waktunya aku cabut semua yang mereka nikmati dariku.


Seminggu kemudian aku mendapat panggilan kerja dari pabrik sepatu.

Aku diterima.

Gajinya memang tidak sebesar di Jepang.

Tapi cukup.

Yang penting… aku bisa mandiri tanpa laki-laki pengkhianat itu.

Diam-diam aku membuka rekening baru.

Mengalihkan semua uang tabunganku yang tersisa.

Lalu aku menemui seorang pengacara.

Dan dari situlah… semuanya dimulai.


Dua minggu kemudian rumah kami mendadak ramai.

Debt collector datang.

Mencari Mas Doni.

Ternyata banyak utangnya menunggak.

Ibunya panik.

Dita menangis histeris karena motor pemberian Mas Doni ditarik leasing.

Sedangkan Mas Doni…

Mukanya pucat saat mengetahui semua akses rekening sudah kututup.

“Kamuuu?!”

Aku menatapnya dingin.

“Mulai sekarang cari uang sendiri.”

Dia marah besar.

“Maksud kamu apa?!”

Aku mengeluarkan map berisi bukti transfer dan percakapannya dengan perempuan simpanannya.

Wajahnya langsung putih.

Ibunya gemetar.

“Doni… ini apa?”

Aku tersenyum kecil.

“Calon mantu baru Ibu mungkin.”

Tamparan keras langsung mendarat di wajah Mas Doni dari ibunya sendiri.

Aku hampir tertawa melihatnya.

Selama ini mereka menikmati uangku bersama-sama.

Sekarang rasakan sendiri akibatnya.


“Aku cuma khilaf…” katanya malam itu sambil berlutut di depanku.

Lucu sekali.

Laki-laki yang dulu begitu sombong sekarang menangis memohon.

“Aku masih sayang kamu…”

Aku menatapnya datar.

“Kalau sayang… kamu gak akan menjual istrimu demi perempuan lain.”

Dia memegang kakiku.

“Aku janji berubah…”

Aku menarik kakiku perlahan.

“Sudah terlambat.”

Lalu aku menyerahkan surat gugatan cerai.

Dan untuk pertama kalinya sejak pulang dari Jepang…

Aku merasa benar-benar bebas.