[Ra, bisa kirim u4ng, nggak? Bapak jatuh di sawah, sekarang di rawat di rumah sakit. Takut u4ng Abang kurang.]
Tanpa pikir panjang, aku langsung menekan tombol telepon. Namun, panggilanku langsung ditolak. Aku mencoba lagi. Kedua kalinya, ditolak lagi. Ketiga kali, tetap sama. Baru pada percobaan keempat, sambungan itu terangkat.
“Halo, Bang? Bang Bima! Bapak gimana kondisinya?” seruku panik.
Bukannya jawaban tenang yang kudengar, telingaku justru diserbu suara musik dangdut yang memekak bising dan riuh suara orang banyak, persis seperti suasana hajatan atau pesta rakyat.
“Halo! Bang! Suara apa itu? Abang di mana?” teriakku sekuat tenaga.
Klik.
Telepon ditutup sepihak sebelum Bang Bima sempat mengucap satu patah kata pun. Aku terpaku. Rumah sakit macam apa yang suaranya seperti pasar malam?
Baru saja aku ingin menghubunginya lagi, sebuah pesan masuk.

[Jangan telpon dulu. Di sini berisik, sinyal susah, Abang lagi repot urus administrasi. Langsung transfer aja sekarang ke nomor rekening yang tadi Abang kirim ya. Penting, Bapak mau segera ditangani.]
[Berapa, Bang?] Balasku.
[Sepuluh jut4.]
Aku menatap layar ponsel dengan kening berkerut, merasa ada yang janggal. Kenapa harus ke rekening istrinya?
[Bapak dirawat di rumah sakit mana, Bang?]
Karena Bang Bima tak kunjung membalas pesan maupun mengangkat telepon, rasa cemas mulai mengger0goti pikiranku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menghubungi Hani, sahabat karibku yang tinggal di desa yang sama meski berbeda dusun.
Dalam benakku, sudah tersusun rencana. Dari sini aku tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Bapak.
“Han, kamu tau bapakku dirawat di rumah sakit mana?” tanyaku langsung, begitu panggilan tersambung.
[“Bapak ke rumah sakit?”] Suara Hani di seberang telepon terdengar sangat heran.
[ “Kapan, Ra? Tadi pagi aku baru saja lewat depan rumahmu, Bapak lagi jemur gabah di depan rumah. Segar bugar, kok, malah sempat nawarin aku mangga.”]
Jantungku yang tadi berdegup kencang karena panik, kini berubah ritme karena bingung.
“Tapi kata Bang Bima Bapak jatuh di sawah dan sekarang di rumah sakit, Han. Dia minta dikirim u4ng sepuluh jut4 buat tambah biaya administrasinya.”
Tawa Hani meled4k. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
[ “Duh, Ra … Kamu beneran nggak tahu? Hari ini di rumah Bang Bima itu lagi ada acara syukuran gede-gedean! Kabarnya dia naik pangkat jadi kepala bagian atau apa gitu. Ada panggung dangdutnya juga, makanya dari sini pun suaranya kedengeran riuh banget.”]
Duniaku rasanya berhenti berputar sejenak. Musik bising yang kudengar di telepon tadi… itu bukan suara hiruk-pikuk rumah sakit, melainkan hiburan dangdut di pesta syukuran abangku sendiri?
[“Mewah banget acaranya, Ra. Ada potong tumpeng segala,”] lanjut Hani masih dengan nada geli.
[ “Masa yang punya hajat masuk rumah sakit?”]
“Oke deh, Han. Aku tutup dulu. Ini mobil jemputan udah datang.”
Klik.
Aku mematikan sambungan telepon dengan tangan gemetar. Amarah mulai merayap naik ke ubun-ubun. Teganya Bang Bima menggunakan kondisi Bapak sebagai tameng demi memer4s u4ngku untuk membiayai pesta mewahnya?
Cukup sudah.
Selama perjalanan tiga setengah jam yang terasa seperti tiga abad, ponselku bergetar terus.
[Ra, kok belum masuk transferannya? Dokter sudah nunggu ini. Bapak sudah merintih-rintih.]
Aku menarik napas panjang, menahan jempolku agar tidak mengetik m4kian. Aku harus tenang. Aku membalas singkat.
[Iya, Bang. Ini lagi di jalan ke ATM. Limit transfer harianku habis, jadi harus lewat setor tunai.]
[Cepat ya, Ra. Kasihan Bapak.]
Aku tersenyum getir.
Begitu mobil memasuki batas desa, suara kendang dan melodi keyboard mulai menusuk telinga. Benar kata Hani, suaranya menggelegar sampai ke dusun sebelah.
Di depan rumah Bang Bima, sebuah tenda besar berwarna kuning-emas berdiri angkuh dengan papan bunga bertuliskan
SELAMAT ATAS PELANTIKAN BIMA SAKTI sebagai KEPALA BAGIAN OPERASIONAL.
“Bapak tunggu di sini bentar, ya?”
“Siap, Mbak.”
Aku turun dari mobil, mengabaikan sopir yang menatapku heran karena aku berjalan dengan langkah seperti orang yang ingin mengajak duel satu batalyon.
Namun, langkahku terhenti tepat di depan gapura tenda. Pemandangan di depanku jauh lebih meny4kitkan daripada sekadar kebohongan Bang Bima.
Aku melihat Bapak dan Ibu yang seharusnya duduk di atas panggung utama sebagai tamu kehormatan, justru terlihat seperti kuli panggul di acara anak sendiri.
Sementara di atas panggung sana, Bang Bima tampak gagah dengan kemeja batik sutra mahal, tertawa lebar bersama istri dan mertuanya yang berdandan bak raja dan ratu sehari. Amarahku yang tadi sudah di ubun-ubun kini meled4k.
“Bapak! Ibu!” Suaraku menggelegar, membelah kebisingan musik dangdut yang tiba-tiba melirih karena perhatian orang-orang tersedot padaku.
“Ara? Ini… beneran kamu, Nak?” Suaranya parau, penuh ketidakpercayaan yang menyayat. “Bukannya kamu masih di negeri yang jauh itu?”
Aku meraih tangan yang k4sar itu, tak peduli dengan noda makanan yang kini berpindah ke kulitku.
“Ara pulang, Bu. Ara di sini, di depan Ibu.” bisikku, memastikan hangat kulitku merambat ke jemarinya agar ia yakin ini nyata.
Setelah tangis haru itu pecah, aku menoleh ke arah Bapak.
Beliau mematung, napasnya memburu dengan baju yang basah kuyup oleh peluh, pemandangan yang terasa begitu menyesakkan di tengah kemegahan acara ini.
“Kita pulang sekarang,” kataku tegas sambil menggenggam tangan Bapak yang terasa sangat lelah.
Tanpa mempedulikan bisik-bisik tamu, aku melangkah lebar menuju panggung. Bang Bima yang tadinya sedang tertawa lebar sambil memegang mikrofon, mendadak pucat pasi. Istrinya, Mbak Shella, langsung membenahi posisi duduknya dengan wajah masam yang kaku.
“Eh, Ara… Pulang kenapa nggak kasih kabar?” Bang Bima mencoba berlagak tenang, meski suaranya bergetar melalui pengeras suara.
Aku menaiki tangga panggung dengan langkah mantap. Aku merebut mikrofon dari tangannya sebelum dia sempat menghindar.
“Kenapa, Bang? Abang nggak suka lihat aku pulang?” tanyaku, suaraku menggema ke seluruh penjuru tenda melalui sound system yang mahal itu.
Para tamu seketika hening. Bang Bima gelagapan, wajahnya merah padam.
“Bu-bukan begitu, Ra. Abang hanya kaget, i-iya kaget.”
“Oh, kaget ya? Aku tertawa hambar, air mata kemarahan mulai menggenang. “Kirain takut terbongkar kebohongan Abang.”
Shella, kakak iparku, berdiri dengan angkuh.
“Ara, jaga bicaramu! Ini acara keluarga besar kami, jangan bikin malu!”
“Yang bikin malu itu kalian!” tunjukku tepat ke wajahnya. “Bisa-bisanya memperlakukan orang tuaku seperti ba bu, sementara kalian malah enak-enakan di sini.”
Tante Mayang, mertua Bang Bima, terlihat memutar matanya malas sambil mengibaskan kipas kertas yang ada di tangannya.
“Duh, kamu itu kok sensitif sekali, sih? Masalah sepele begitu saja dir1butkan,” cetus Tante Mayang dengan nada meremehkan.
“Nggak ada salahnya kan orang tua bantu anak? Setidaknya kalau mereka nggak bisa bantu sumbang harta untuk acara ini, ya sumbang tenaga. Lagipula, orang tuamu kan memang sudah terbiasa dengan pekerjaan k4sar seperti itu, jadi harusnya sudah biasa, kan?” Sambungnya lagi.
D4rahku mendidih. Kalimat itu bukan sekadar penjelasan, tapi penghin4an terang-terangan. Aku menoleh ke arah Bang Bima yang duduk tak jauh dari sana. Dia mendengar setiap kata yang diucapkan mertuanya. Aku berharap dia berdiri, membela kami.
Namun, Bang Bima hanya diam. Dia membuang muka, asyik dengan ponselnya, seolah diamnya adalah bentuk persetujuan bahwa orang tua kami memang diperlakukan seperti itu.
Kekecewaanku meluap tak terbendung. Rupanya di mata Bang Bima, kilau pangkat yang baru ia sandang telah membut4kan nuraninya hingga tega menumb4lkan kehormatan orang tua kami.
“Kalau begitu, apa kontribusi anda untuk acara ini? Tidak mungkin ‘kan Abang saya sampai minta sumbangan pada adiknya ini, bahkan sampai membawa nama orang tua kami, kalau biaya untuk acara ini sudah beres.”