“Kalau kamu mendengar suara, jangan keluar kamar. Om suka keliling rumah setiap malam. Jadi biar Om menjalankan kebiasaannya itu tanpa harus kamu ganggu, ya?” Pesan Tante Sari tadi usai makan malam.
Mika merinding, bulu yang ada di tangannya berdiri. Suara langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya. Hening. Hanya perkataan Tantenya yang terus berdengung di telinganya, “Om suka keliling rumah setiap malam’. Apa seseorang yang mungkin berdiri di depan pintu kamarnya adalah suami Tante Mika?
Mika menarik selimut, menyembunyikan kepalanya ke dalam selimut. Dalam hati dia terus membaca doa. Jangan sampai terdengar suara apa pun dari kamarnya. Jangan sampai ‘Om’ itu tahu kalau Mika belum tidur.
“Denmas.”
Kali ini terdengar suara Tante Mika memanggil. Namun, bukan memanggil Mika, melainkan seseorang yang dia sebut, Denmas.
Seingat Mika, Tantenya memang memanggil suaminya Denmas.
Tidak ada sahutan terdengar. Hanya suara Tantenya yang bisa Mika tangkap dengan telinganya.
“Jangan di sini, Denmas. Jangan ganggu Mika.”
Mika menahan mulutnya, sekaligus menahan napas beberapa detik. Seolah-olah Tantenya akan masuk ke dalam kamarnya, dan memastikan dia sudah tertidur atau belum.
Tidak ada suara apa-apa lagi. Suasana kembali hening, dan sepertinya Tante Sari pun sudah pergi dari depan kamarnya.
Mika sedikit lega, tapi tetap saja dia jadi tidak bisa tidur. Tadi Tantenya bicara dengan siapa? Mika tidak mendengar suara orang lain lagi di rumah ini, selain suara Tante Sari.
Ya Tuhan … bagaimana bisa Mika bertahan tinggal di sini selama satu bulan.

Sebelum pukul 6, Mika sudah bersiap pergi ke tempat kerjanya. Ini hari pertama, dan dia tidak mau terlambat.
“Maaf, Mika. Semalam Tante menunggu Om mu, jadi kepala Tante sedikit pusing. Maaf Tante tidak bisa menyiapkan sarapan untuk kamu,” ujar Tante Sari saat Mika pamit.
Wanita berusia setengah abad itu sedang duduk di kursi goyang yang letaknya ada di ruang tengah. Ruangan luas, dan dipenuhi perabot antik. Dari lemari, kursi, karpet, meja, sampai jam dinding. Semua khas tahun 80 an.
Jujur, Mika agak merinding masuk ke dalam ruangan ini. Sedangkan Tante Sari tampak santai duduk, sembari mendengarkan lagu-lagu keroncong zaman dulu.
Entahlah sejak kapan Tantenya ini suka lagi keroncong. Setahu Mika, Tantenya pernah beberapa kali menjuarai lomba menyanyi lagu pop semasa gadis.
“Gak apa-apa, Tante. Nanti Mika sarapan di kantin aja,” jawab Mika seraya mencium tangan Tantenya yang harum.
Harum bunga melati.
Astaga!
Tante Sari mengambil uang dari dalam bajunya. Membuka karet yang mengikat seluruh uang itu, lalu mengambil dua lembar uang berwarna merah untuk Mika. “Ini buat kamu beli sarapan,” katanya seraya menyerahkan uang itu.
“T-tapi ini kebanyakan, Tante.” Mika kaget, karena orang tuanya pun belum pernah memberi uang saku sebanyak ini padanya.
“Ambil saja buat jaga-jaga. Kamu pesan ojek, supaya tidak kesiangan. Kantormu tidak terlalu jauh dari sini, kan?”
Mika mengangguk, matanya masih menatap riang ke arah uang saku yang diterima dari Tantenya.
“Iya, Tante. Terima kasih banyak ya. Semoga Tante selalu sehat,” ucap Mika penuh semangat.
“Om juga. Dia yang memberikan uang itu untukmu.”
Mika tertegun, seketika senyumnya hilang.

Mika sedang menunggu ojek yang dia pesan di depan rumah, ketika seorang wanita yang menenteng plastik berisi sayuran datang menghampirinya.
“Mbak yang kemarin datang ke rumah Bu Sari, ya?” tanyanya.
Sepertinya ibu ini melihat Mika kemarin datang ke rumah ini.
Mika mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Saya keponakan Tante Sari,” jawab Mika sopan.
“Ooh … terus Mbak tinggal di sini?” tanya wanita itu lagi. Kali ini raut wajahnya seperti terkejut.
“Iya, Bu. Itung-itung nemenin Tante Sari.”
“Ya Allah, kok berani amat, Mbak. Gak takut tah?”
“Kening Mika berkerut. “Takut kenapa, Bu?” Pertanyaan yang sejak semalam seolah-olah dapat angin segar untuk dijawab.
“Rumah Tantemu gak pernah nyala, mati terus.”
“Oh itu ….” Mika kira ada hal lain yang harus membuatnya takut selain memang lampu yang tidak boleh dinyalakan.
“Kalau kata Ibu, mendingan kamu pindah. Cari kost, jangan tinggal di sini. Kasian.”
“Saya belum punya uang buat kost, Bu,” jawab Mika jujur.
“Ya sudah kalau gitu banyak berdoa aja. Jangan tinggalin sholat. Kalau Tantemu aneh-aneh diamin aja, gak usah ditanya, ya.”
Perasaan Mika mulai tidak tenang. Apa mungkin ibu ini tahu tentang Tante Sari yang menganggap suaminya masih hidup?
Sebuah motor berhenti tepat di depan Mika. Ojek yang dia pesan sudah datang, padahal banyak pertanyaan yang ingin Mika ajukan perihal Tantenya.

“Bu, suaminya Tante Sari beneran sudah meninggal, kan?” Mika penasaran, mengulang lagi pertanyaan sama di telepon pada ibunya.
Ini jam istirahat, banyak karyawan yang makan di kantin. Sedangkan Mika sudah tidak sabar ingin memastikan pada ibunya sendiri.
“Kamu itu ngomong apa. Ya beneran. Kan, ibu juga datang ngelayat ke sana.”
“Habis itu Tante belum nikah lagi kan, Bu?”
“Astaga, belum, Mika. Tantemu itu cinta banget sama suaminya. Gak bakalan mau dia, disuruh nikah lagi juga.”
Berarti Om yang sering Tante Mika sebut, memang suaminya yang sudah meninggal. Apa karena belum rela kehilangan, jadi Tante Sari menganggap Om nya masih hidup? Tapi, suara langkah kaki dan deheman yang Mika dengar semalam, itu suara laki-laki. Bukan Tante Mika.
“Kamu di sana tinggal aja. Cukup numpang tidur, gak usah ikut campur urusan Tantemu. Gak usah tanya-tanya soal suaminya. Paham?” Suara Ibu terdengar tegas, tapi memerintah.
Biasanya Ibu tidak pernah seperti ini. Justru Ibu yang memaksa Mika tinggal dengan Tante Sari lalu mendekatinya. Sebab Tante Sari belum punya anak.
“Mika cuma penasaran, Bu ….”
“Gak usah penasaran! Urusi hidupmu sendiri kalau mau aman!”
Ponsel yang Mika pegang terlepas begitu saja dari tangannya. Suara ibunya berubah. Yang barusan bicara dengannya, bukan ibu … tapi, seperti suara laki-laki.