Posted in

Suamiku dan adiknya kayaknya lupa aku bisa nyetir mobil. Kutinggalkan mereka di pinggir pantai tanpa bawa HP, uang dan makanan. Rasain!!!

“Aluna, kamu pastikan semua aman ya di mobil. Jangan sampai ada yang ketinggalan,” suara Mas Galih terdengar dari kursi pengemudi, tanpa menoleh sedikit pun kepadaku yang duduk di belakang bersama Alisa.

“Iya, Mbak Aluna kan emang paling teliti,” tambah Lilis, adik iparku, sambil tersenyum tipis, tapi nadanya justru seperti sindiran yang sudah biasa aku dengar selama ini.

Aku hanya mengangguk pelan. “Iya, nanti aku cek lagi,” jawabku singkat, karena aku sudah tahu percakapan ini tidak akan pernah berakhir dengan pendapatku yang benar-benar didengar.

Mas Galih menghela napas kecil, seperti sedang menahan kesabaran atas sesuatu yang bahkan belum terjadi. “Kamu itu jangan bikin ribet ya, Aluna. Kita ini mau liburan, bukan mau tambah masalah.”

Kalimat itu… selalu sama. Seolah keberadaanku di dalam mobil ini adalah potensi masalah, bukan bagian dari perjalanan itu sendiri. Aku hanya tempatnya meluapkan kekesalan. Walau bukan aku penyebab masalahnya, tapi aku dia jadikan pelampiasan marahnya. Apa pun itu.

Perjalanan enam jam ke pantai dimulai dengan suasana yang tampak biasa, tapi bagiku selalu terasa seperti ujian panjang yang tidak pernah diumumkan aturannya. Mas Galih menyetir dengan satu tangan santai di kemudi, sementara satu tangannya lagi sibuk memegang ponsel, sesekali tertawa kecil membaca sesuatu.

Aku di belakang memastikan Alisa tidak rewel, karena kalau Alisa rewel akan jadi masalah juga bagi dua manusia itu, memastikan tas tidak jatuh, memastikan makanan tidak berantakan. Hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap penting, tapi selalu menjadi alasan jika sesuatu salah. Ya kalau jalan-jalan seperti ini, aku yang paling repot dan paling takut kalau ada kesalahan.

“Aluna, tadi kamu taruh charger di mana?” suara Mas Galih tiba-tiba terdengar lagi, padahal aku tidak pernah diminta untuk menyentuh barang itu sejak awal.

Lilis langsung menyambar, “Iya deh, Mas, dia memang suka lupa-lupa gitu.” Dan aku hanya diam, karena menjelaskan tidak pernah mengubah apa pun disini. Lilis ini memang selalu menjadi kompor.

Di titik ini, aku sudah tidak lagi menghitung berapa kali namaku disebut sebagai kesalahan. Aku hanya menghitung sampai kapan aku bisa tetap diam tanpa kehilangan diriku sendiri. Capek. Ya aku udah capek. Sangat capek.

Jam kedua perjalanan, Mas Galih mulai kesal karena lalu lintas padat. “Kalau tadi kamu bilang rute ini macet, kita bisa lewat jalan lain,” katanya, padahal keputusan rute itu dia yang setujui, tanpa mau mendengar saranku.

Jam keempat, nada suaranya mulai naik. “Aluna, kamu itu kenapa sih dari tadi bikin suasana nggak enak?” padahal aku bahkan tidak banyak bicara sejak berangkat. Diamku saja salah, apalagi aku banyak omong. Makin salah tentunya.

Lilis ikut menambahkan, “Mas, sabar ya. Dia kan dulu janda, jadi kadang kurang ngerti cara ngatur keluarga baru.” Kalimat itu seperti kebiasaan lama yang selalu berhasil membuatku merasa diperkecil di ruang yang sama. Ya aku janda anak satu, menikah dengan Mas Galih yang masih berstatus bujang.

Aku menatap jendela, mencoba mengatur napas yang mulai terasa berat. Alisa di sebelahku diam, memeluk bonekanya lebih erat, dan itu membuat dadaku terasa lebih sesak daripada semua kata-kata mereka.

Mas Galih tidak pernah benar-benar membelaku. Bahkan ketika Lilis terlalu jauh, dia hanya berkata, “Sudah Aluna jangan dibahas terus.” Seolah akulah masalah yang harus diselesaikan, bukan orang yang sedang disakiti.

Enam jam akhirnya hampir selesai saat laut mulai terlihat dari kejauhan. Enam jam perjalanan terasa setahun. Garis biru itu seharusnya indah, tapi bagiku hanya penanda bahwa sebentar lagi aku akan kembali menjadi “orang yang harus siap”.

“Parkir di situ aja, dekat akses,” kata Mas Galih sambil tetap fokus menyetir sampai mobil berhenti. Aku tidak menjawab, hanya mengikuti seperti biasa karena di sini, pendapatku tidak pernah benar-benar dibutuhkan. Begitu mobil berhenti, mereka langsung turun lebih dulu.

“Mbak, makanan dan minuman jangan lupa di bawa ke sana ya!” Perintah Lilis tanpa menunggu jawaban dariku. Lilis berlari kecil ke arah pasir, Mas Galih mengangkat tas tanpa menoleh, seperti semua urusan sudah selesai begitu roda berhenti.

“Aluna, kunci mobil kamu pegang ya. Jangan sampai hilang, awas saja kalau sampai hilang,” kata Mas Galih sambil berjalan menjauh.

Aku menatap kunci yang masih tergantung di dashboard. Tidak ada yang aneh bagi mereka, karena selama ini memang selalu aku yang memastikan semuanya aman.

Tapi kali ini aku melihat sesuatu yang mereka lupa. Ponsel Mas Galih masih ada di dalam mobil, tergeletak di tempat penyimpanan depan. Dan aku tahu persis, hampir semua uangnya tersimpan di sana.

Mas Galih jarang membawa uang cash. Lilis bahkan hampir tidak punya uang sendiri, karena semua kebutuhan selalu “ikut saja” dalam perjalanan ini. Di mata mereka, aku adalah orang yang akan tetap mengurus semuanya, bahkan setelah mereka pergi.

Aku turun perlahan, menggandeng tangan Alisa. “Ma, kita ke mana?” tanyanya pelan, melihat ayah tirinya dan tantenya sudah berjalan jauh ke pantai. Aku menatap laut itu sekali lagi. Lalu aku menatap mobil yang selama ini menjadi tempat aku menahan terlalu banyak hal sendirian.

“Kita sebentar lagi selesai di sini,” jawabku pelan. Aku membuka pintu mobil lagi, bukan untuk mengamankan seperti yang mereka pikirkan, tapi untuk duduk di kursi pengemudi. Mereka lupa satu hal yang paling sederhana. Aku bisa menyetir.

Mesin mobil menyala. Tanganku stabil di kemudi, tidak lagi gemetar seperti dulu saat aku masih berharap dianggap cukup. Di kaca spion, Mas Galih dan Lilis masih terlihat tertawa di kejauhan, tidak sadar bahwa seseorang yang selama ini mereka andalkan sedang berhenti menjadi tempat mereka bergantung.

Aku tidak langsung pergi. Aku menunggu beberapa detik, bukan karena ragu, tapi karena ingin memastikan bahwa kali ini aku tidak sedang kembali ke luka yang sama. Lalu aku melaju pelan meninggalkan pantai itu, membawa Alisa di sampingku, dan untuk pertama kalinya aku tidak merasa perlu menjelaskan ke mana aku pergi.

Dari kejauhan terlihat di kaca spion, Mas Galih melambaikan tangannya sambil berlari mengejar mobil ini. Biarkan saja mereka aku tinggal di sini, tanpa bawa uang, baju dan makanan. Karena semua masih ada di mobil. Biar mereka tahu rasa!