Aku menampar istriku di depan orangtuanya. Dengan lantang, kutalak dia. Tapi akhirnya aku menyesal karena…
***
“Bukan cuma kafe kebanggaanmu yang akan gulung tikar hari ini, Tuan Yoga. Tapi rumah mewah tempat ibumu bersandiwara ini juga akan kami segel tepat dalam kurun waktu enam puluh menit.”
Suara bariton yang berat dan dingin itu seolah menghentikan pasokan oksigen ke paru-paruku.
Ponsel di tanganku, yang baru saja terputus dari panggilan Hani, merosot dan jatuh berdebum ke lantai marmer.
Di ambang pintu kamar Mama, berdiri seorang pria jangkung berjas navy dengan potongan rambut rapi dan rahang tegas. Auranya begitu mengintimidasi, membuatku seketika merasa kerdil di rumahku sendiri.
“Siapa kamu berani masuk ke rumahku sembarangan?!” jerit Mama. Ia melangkah maju dengan sisa-sisa keangkuhannya, meski wajahnya sudah sepucat mayat.
Pria tampan itu tersenyum tipis, senyum merendahkan yang sama sekali tidak mencapai matanya. Ia melangkah masuk, lalu menyodorkan sebuah kartu nama beraksen emas yang terlihat sangat mahal tepat di depan dadaku.
“Perkenalkan, nama saya Wendi. Kuasa hukum pribadi Nyonya Hani Larasati,” ucap pria itu lugas.
Mataku terbelalak membaca deretan nama firma hukum Wendi di kartu tersebut.
Wendi? Pengacara kelas atas dari ibukota ini mewakili Hani?
Hani, istriku yang bajunya selalu bau margarin dan tangannya penuh bekas luka panggangan oven?
“Nyonya Hani memerintahkan saya untuk mengurus proses hukum terkait penggelapan uang asuransi oleh ibu Anda,” lanjut Wendi tanpa ampun, melemparkan sebuah map tebal ke atas kasur Mama.
“Selain itu, Nyonya Hani selama ini yang diam-diam melunasi bunga pinjaman bank atas sertifikat rumah ini yang digadaikan ibu Anda kepada rentenir. Karena talak sudah Anda jatuhkan semalam, Nyonya Hani mencabut semua aliran dananya. Pihak bank akan datang untuk proses penyitaan siang ini juga.”
“T-tidak mungkin! Perempuan miskin itu tidak mungkin punya uang sebanyak itu!”
Mama memekik histeris, memegangi kepalanya sebelum matanya mendelik ke atas dan tubuhnya ambruk ke lantai. Pingsan.
Namun, demi Tuhan, aku tak lagi mempedulikan Mama.
Rasa panik, kebingungan, dan penyesalan yang luar biasa kini menelan kewarasanku.
Aku berlari keluar rumah bak orang kesetanan, melompat ke dalam mobil, dan menginjak pedal gas dalam-dalam menuju rumah mertuaku di perkampungan padat penduduk.
Sepanjang jalan, dadaku sesak. Aku akan meminta maaf. Aku akan memohon agar Hani memberiku kesempatan kedua dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.
Namun, saat aku tiba di gang sempit itu, rumah sederhana bercat hijau pudar tersebut sudah terkunci rapat. Kosong melompong.
“Loh, Mas Yoga nyari Mbak Hani?” sapa seorang ibu tetangga yang sedang menyapu halaman.
“Nggak tahu toh, Mas? Tadi subuh ada tiga mobil mewah jemput Bapak dan Ibu. Kata orang-orang bawaannya, Mbak Hani udah pindah ke kawasan elit. Ya ampun, cantiknya istri Mas Yoga tadi pagi, bajunya mentereng kayak nyonya besar, wangi banget, beda sama biasanya!”
Bagaikan disambar petir di siang bolong, aku melangkah mundur perlahan. Hatiku mencelus hebat.
Dari mana Hani mendapat semua akses dan kekuasaan itu?
Dengan sisa-sisa kewarasan dan tangan yang bergetar memegang kemudi, aku mencari tahu keberadaan karyawan kafeku yang mogok kerja.
Berbekal informasi dari salah satu mantan staf, siang itu juga aku tiba di depan sebuah gedung perkantoran megah di pusat kota.
Tulisan Larasati Food & Beverage Corp terpampang jelas di lobi utama.
Menerobos penjagaan dengan nekat, aku akhirnya sampai di sebuah ruangan luas di lantai paling atas.
Dan di sanalah mataku melihat sebuah kebenaran yang menampar telak egoku.

Hani.
Dia bukan lagi perempuan lusuh berseragam celemek kusam. Mantan istriku itu duduk anggun di balik meja direktur utama, mengenakan blazer putih elegan dengan rambut yang ditata sempurna.
Wajahnya bersinar, memancarkan ketenangan luar biasa yang membuat langkahku seketika terhenti.
Di sebelahnya, Wendi berdiri mendampingi bak tangan kanan yang sangat setia.
“Han,” panggilku parau. Aku berjalan tertatih mendekati mejanya, menatapnya dengan pandangan memelas. Egoku semalam telah menguap tak bersisa.
Hani menghentikan ketukan pena mahalnya di atas dokumen. Dia menatapku dengan raut wajah tenang, nyaris tanpa ekspresi.
Tidak ada amarah, tidak ada dendam yang meledak-ledak. Hanya sebuah tatapan asing yang membekukan darahku.
“Han, aku mohon, tarik kata-katamu. Kembalilah padaku,” ucapku dengan suara bergetar, menumpukan kedua tanganku di tepi mejanya.
“Jangan ambil semuanya secara tiba-tiba begini. Kafe itu, rumah itu, kalau kau biarkan bank menyitanya, aku dan Mama mau tinggal di mana, Han?”
Hani bangkit dari kursinya secara perlahan. Aroma parfum mewahnya seketika menguar, menggantikan aroma vanila dan tepung yang dulu selalu kuhina.
Dia melangkah pelan mendekati jendela kaca rWendisa di ruangannya, menatap pemandangan kota di bawah sana sebelum kembali menatapku dengan senyum simpul yang sulit kuartikan.
“Tinggal di mana?” Hani mengulang pertanyaanku dengan nada lembut yang justru membuat dadaku berdesir ngeri. Dia sama sekali tidak terlihat ingin memakiku.
“Kamu salah paham, Mas. Aku tidak mengusirmu, apalagi menghancurkanmu. Aku hanya berhenti membayar apa yang bukan lagi tanggung jawabku.”
“Tapi kau tahu kami tidak punya uang untuk menebusnya, Han!” sergahku putus asa.
“Itu poinnya, Mas,” bisik Hani tenang. Dia melangkah selangkah lebih dekat, menatap tepat ke dalam manik mataku.
“Aku tidak akan melakukan hal rendahan seperti merenggut semuanya darimu dalam semalam. Tidak, itu terlalu mudah.”
Hani memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan tatapan teduh yang terasa seperti ujung belati di leherku.
“Pulanglah, Mas. Tidurlah yang nyenyak di sisa waktu yang kamu punya di rumah mewah itu. Tarik napas panjang-panjang saat kau melangkah masuk ke kafe yang kini tak berpenghuni. Karena mulai besok, dan hari-hari berikutnya, aku ingin kamu hidup dalam bayang-bayang.”
Napasku tercekat. Suara Hani mengalun sehalus sutra, namun menembus tepat ke ulu hatiku.
“Aku ingin kamu terbangun setiap pagi dengan dada berdebar,” lanjut Hani, tersenyum begitu manis padaku.
“Menebak-nebak, mengingat-ingat kesalahan apa lagi yang ditutupi ibumu, dan menunggu kejutan apa lagi yang akan datang menghampirimu hari ini. Silakan pulang, Mas Yoga. Hukuman terberatmu bukanlah kehilangan harta, tapi hidup dengan rasa takut menunggu apa yang akan hilang esok hari.”