Posted in

Hanya karena ibuku tak sekaya keluarganya, sering dikira mau pinjam duit saat datang berkunjung, padahal kedatangan kami hanya untuk menyampaikan undangan pernikahanku. Akan kupastikan mereka menyesal setelah tahu siapa yang menjadi suamiku!

Hanya karena ibuku tak sekaya keluarganya, sering dikira mau pinjam duit saat datang berkunjung, padahal kedatangan kami hanya untuk menyampaikan undangan pernikahanku. Akan kupastikan mereka menyesal setelah tahu siapa yang menjadi suamiku!

___

“Mau ngapain kamu ke sini? Mau minjem uang?”

Aku dan Ibu terhenyak. Baru saja kami akan bertamu ke rumah Nenek, dia tiba-tiba keluar, lalu menodongkan tuduhan yang sangat kasar.

Selama ini, Nenek tak pernah berbuat baik pada keluarga kami. Jangankan berbuat baik, berhenti untuk tidak berbuat kasar pun ia enggan. Aku mengerti, mengapa ia bersikap seperti ini. Lagi pula, mana ada keluarga yang mau menjadikan kita ratu, kalau kita sendiri tak sekaya itu?

Standar kekayaan, memang menjadi patokan sekarang. Tak kaya, tak dianggap keluarga. Yang kaya, selalu bersifat semena-mena. Andai, memutuskan tali silaturahmi itu bukanlah hal yang buruk. Mungkin sudah sejak lama aku melakukan hal demikian.

“Lagian jadi orang miskin aja kok banyak gaya?” ucap Nenek lagi tak membiarkan kami menjelaskan maksud kedatangan ke sini. “Pake mau ngadain hajatan segala. Mending nikah di KUA aja sana!” lanjut Nenek seraya memutar bola mata jengah.

Aku akan membalas perkataan Nenek, namun Ibu yang melihat pergerakanku, lekas menahan tangan ini. Lalu kemudian menatapku, seraya menggelengkan kepalanya, tanda tak usah membalas apa-apa.

Huft!

Aku menghembuskan nafas kasar. Rasanya, diri ini harus perbanyak rasa sabar. Ibu selalu saja melarangku untuk membalas mereka. Katanya, harus menghormati orang yang lebih tua. Padahal, kalau kita mau dihormati oleh orang, kita juga harus bisa menghormati orang tersebut bukan? Sedangkan ini? Nenek tak pernah menghormati kami. Jadi wajar, kalau kali-kali kami bersikap melawan.

“Maaf, Bu.”

Ibu menelengkupkan tangannya dengan senyuman tipis di wajah. Rasa ikhlas kala ia ditindas, membuatku selalu merasa tak berguna jadi anaknya.

Andai Ibu mau menerima semua usulku, mungkin cacian dan makian, tak akan kita terima sebanyak itu. Tapi, ah sudahlah. Ibu memang terlalu baik pada keluarga yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.

“Sebenarnya, maksud kedatangan Wiwi sama Azkia itu untuk mengundang Ibu dan semua keluarga.” Ibu mulai menjelaskan maksud kedatangan kami dengan sopan. Walau raut wajah Nenek tak ramah, Ibu tetap menunjukkan senyuman manisnya. “Rencananya, pernikahan Azkia akan diselenggarakan minggu depan. Dan kita,”

“Dan kita apa? Benar kan mau minjem uang?”

Lagi-lagi Nenek memberikan tuduhan. Padahal, Ibu belum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Nenek dengan cepat memotong. Seolah-olah, kami sebagai orang miskin tak berhak untuk bicara banyak di hadapannya.

“Bukan, Bu. Tapi,”

“Halah, gak usah banyak alasan kamu Wi! Mending kamu pergi dari sini, sana! Males banget minjamkan uang sama kamu! Nanti gak dibayar gimana?”

“Jaga bicara, Nenek ya!” ucapku seraya mengangkat tangan menunjukkan jari ke arahnya.

Aku bukan Ibu. Yang sabar apabila dihina terus-terusan. Kami memang miskin. Tapi bukan berarti, kami tak memiliki harga diri.

“Kia!” ucap Ibu melayangkan tatapan tajam padaku. Dengan tangan yang kini kembali menahan.

“Lihat anakmu itu! Anak orang miskin memang tak berpendidikan, cuihhh!”

Nenek berdecih tepat di depan kami berdua. Tanpa mengatakan sepatah kata apapun lagi, ia pergi. Menutup kembali pintu rumahnya ini.

Mendapat perlakuan bagaikan hewan dari dia, membuat amarahku kembali naik sejadi-jadinya. Dia pikir dia siapa? Bisa berbuat hal menjijikan padaku juga Ibu.

***

“Sudah pinjam uang sama saya, eh saya gak dibeliin baju seragam juga!” ucap Nenek terdengar mengeluh pada Ibu. “Untung ada, Nia!” lanjutnya kemudian membanggakan Bi Nia.

Pantesan mereka couplean, tahunya mau merendahkan Ibu karena tak bisa memberikan baju?

“Maaf, Bu. Wiwi gak punya uang lebih buat beliin Ibu baju,” sahut Ibu pelan seraya menundukkan pandangan.

“Ya jangankan uang lebih. Uang dikit aja kamu minta sama orang tua!” sahut Bi Nia cepat.

Ah, kalau saja bukan sedang seperti ini, aku sudah melabrak mereka berdua dari pada harus berdiam diri menonton saja di sini.

“Bener. Memang cuma kamu sama si Suci anak Ibu yang paling baik,” sahut Nenek dengan sombongnya.

“Eh iya,” ucap Bi Nia seperti mengingat sesuatu. “Suci mana, Nek?” lanjutnya seraya mengerutkan kening heran.

Kala mendengar pertanyaan dari Bi Nia, seketika wajahku kembali tersenyum bahagia. Mereka gak tahu aja kalau Uwa Suci sekarang sedang …..

“Teh Kia kenapa senyum?” tanya Lia membuyarkan lamunan. “Ibu lagi dimarahin itu!” lanjutnya mengingatkan.

“Enggak, Li.” Sebisa mungkin aku membuat wajah ini tak senyum lagi. “Gak apa-apa Nenek puas-puasin menghina sekarang, nanti gak bakal bisa soalnya!” lanjutku seraya tertawa renyah.

“Teteh aneh!” celetuk Lia membuatku kembali merubah raut muka.

Aku menatap judes ke arah Lia, sebelum akhirnya kembali melihat apa yang akan dilakukan mereka berdua.

“Suci mana, Wi?” Bi Nia mendesak Ibu dengan pertanyaannya.

“Teh Suci ada di belakang, Na, Bu.”

Bapak tiba-tiba datang menghampiri. Lalu memberi tahu, di mana Uwa Suci yang mereka banggakan itu.

“Kok di belakang?” tanya Bi Nia seraya mengerutkan kening heran.

“Suci emang mau aja disuruh-suruh masak, Na.” Bukan Bapak yang menjawab, melainkan Nenek.

Ah, aku seperti sedang nonton tv di sini. Untungnya jendela ini kecil, jadi mereka tak melihat dengan jelas. Namun suara dari sana, terdengar sangat keras.

“Tapi masa dia mau masak terus? Gak dandan emangnya?” tanya Bi Nia kembali mengerutkan keningnya.

“Kalau mau cek, boleh ke belakang Na.” Bapak mempersilahkan Bi Nia.

Dengan cepat kilat, Bi Nia pergi seraya menerobos tangan Bapak yang tengah mempersilahkannya ini. Sedangkan Nenek terlihat menunggu dengan tangan yang terus saja menggibaskan seperti terlihat kegerahan. Padahal aku tahu, ia mau pamer gelang banyak di tangannya itu.

“Duduk dulu, Bu.” Ibu memberikan Nenek kursi plastik. Lalu mempersilahkan ia duduk di sana. Tepat di dekat pinggiran pelaminan.

Nenek menatap sejenak, lantas duduk kemudian dengan mata yang terus saja menatap tajam.

Beberapa menit kemudian, Bi Nia kembali. Namun wajahnya, tak secerah tadi waktu pertama ke sini.

“Kamu kenapa Nia?” tanya Nenek padanya. “Di mana Suci?” lanjutnya seraya celingukan ke sana ke mari.

“Suci sibuk di dapur, Bu. Malu-maluin emang!” sahut Bi Nia dengan mulut yang memberenggut saking kesalnya.

“Ya kan udah Ibu bilang, ia bantuin masak!” sahut Nenek mengingatkan.

“Iya tahu. Masalahnya dia masak pake daster butut kayak gitu! Udah gitu, pake acara cuci piring segala. Udah kayak babu aja!” jelas Bi Nia panjang lebar.

Aku kembali tertawa cekikikan. Syarat yang ku berikan pada Uwa Suci memang demikian. Ia harus memakai baju lusuh, tak boleh dandan sama sekali. Pun tak hanya masak saja, melainkan menjadi tukang cuci piring juga.

Awalnya, Uwa Suci menolak. Karena ia malu kalau keluarga besar nanti melihat apa yang ia lakukan itu. Tapi ternyata, uang memang merubah segalanya.

“Lia, gandeng tangan Tetehmu nanti, ya?” pesan Ibu pada Lia.

Rombongan dari pengantin pria, sudah tiba sejak tadi. Akad pun akan dilaksanakan sebentar lagi. Setelah banyak sambutan yang diucapkan. Keringat dingin mulai bercucuran. Seiring dengan jantung yang berdetak tak karuan.

Aku benar-benar takut, melihat reaksi Mas Purqon juga keluarganya saat melihatku. Aku takut mereka menyesal karena telah memberikan mahar pada perempuan yang ternyata tak seberapa rupanya.

“Bu, cepetan!” ucap Bapak dari luar.

“Lia kamu pegang tangan Tetehmu yang ini, Ibu ini!” Ibu kembali memberi intruksi.

Aku yang grogi, malah seperti boneka barbie yang tak bergerak kala di bawa ke sana ke sini. Manut saja, apa yang dilakukan Ibu juga Lia. Hingga tanpa sadar, diri ini sudah di bawa keluar. Kebetulan, pelaminan itu tak memakai kursi. Jadi untuk akad pun, kami duduk lesehan di sini.

Aku melirik canggung ke arah Mas Purqon yang terlihat lebih tampan juga menawan. Ia memakai jas hitam dengan sapu tangan merah pada jasnya. Saat Ibu menyuruhku untuk duduk tepat di sampingnya, gelenyar aneh itu datang tiba-tiba. Semua badanku kembali gemetar rasanya.

“Saudara Purqon, anda sudah siap?” tanya Pak penghulu seraya menatap calon suamiku.

Cia elah, calon suami cenah!

“Siap, Pak.”

Bapak menjabat tangan Mas Purqon. Lalu mulai membacakan ijab. Untungnya, Bapak tidak pingsan. Karena memang sudah ku beritahu terlebih dulu. Kalau Ibu? Liat nanti ya?

“Saudara Purqon Nasution bin Bapak Herman Nasution, saya nikahkan dan kawinkan anda dengan putri saya yang bernama Azkia Maharani binti Bapak Parni dengan mahar satu buah rumah juga 1 hektar sawah, dibayar tunai!”

Kira-kira, Nenekku senam jantung gak ya?