“Bu, gimana kalau Mas Panca sampai tahu semua yang kita lakukan?” bisik Wulan, suaranya sarat akan kekhawatiran.
Di ruang tengah rumah mewah yang dibangun dari tetesan keringat Panca, Bu Narsih duduk bersandar sambil menikmati teh hangat. Di sampingnya, Wulan tampak gelisah, sesekali matanya melirik ke arah kamar Panca yang tertutup rapat.
“Nggak bakal tahu kalau kita semua diam, Wulan. Toh, si Rendy juga sangat bisa diajak kerja sama. Buktinya sekarang Panca sudah pindah ke sini dan meninggalkan anak istrinya, kan? Itu artinya dia lebih percaya pada kita.”
Wulan membenarkan dalam hati. Di kampung mereka, kasus rumah tangga yang hancur karena salah satu pasangan bekerja di luar negeri adalah hal yang lumrah. Memisahkan satu keluarga lagi—keluarga kakaknya sendiri—pasti tidak sesulit yang ia bayangkan sebelumnya.
“Lebih baik sekarang kita carikan wanita yang sepadan untuk dikenalkan pada Panca,” lanjut Bu Narsih dengan mata berbinar licik. “Biar dia cepat menceraikan Savitri yang miskin dan tak berguna itu.”
“Tenang, Bu. Wulan lagi cari teman lama yang juga baru pulang dari luar negeri. Dia cantik, modis, dan yang pasti tahu cara menyenangkan laki-laki,” jawab Wulan sambil tersenyum penuh arti.
“Ibu yakin Panca masih punya simpanan uang yang banyak. Lihat saja motor baru itu. Jangan sampai sepeser pun dinikmati oleh Savitri,” gumam Bu Narsih.
“Lalu bagaimana dengan Shopia, Bu?”
Bu Narsih mengedikkan bahu tak peduli. “Kalau dia mau ikut ke sini, ya kita rawat ala kadarnya. Tapi kalau mau ikut ibunya yang melarat itu, ya terserah saja.”

Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Panca mendengar setiap kata yang terlontar. Mereka pikir, dirinya tertidur padahal setiap saat kuping dan kepalanya selalu terjaga. Dadanya bergemuruh, namun ia harus tetap tenang. Sudah sebulan Panca tinggal di sini, berperan sebagai anak yang patah hati dan kecewa pada istrinya, tapi ia belum mendapatkan apa-apa.
Satu hal yang ia inginkan, istrinya tak lagi mendapatkan tuduhan dari keluarganya, terutama tuduhan perselingkuhan. Panca ingin, istrinya bersih dari segala tuduhan, hingga keluarganya tak punya lagi celah untuk menjatuhkan Savitri.
Namun, strategi ini tidak mudah. Panca bahkan sempat mendatangi Rendy secara diam-diam, berniat menyuapnya agar bicara jujur. Tapi, pria itu tetap kukuh pada narasinya. Sepertinya keluarga Panca sudah memberikan jaminan yang lebih besar kepada Rendy.
Tapi, di tengah kemarahan itu, terselip rasa syukur di hati Panca. Melalui laporan seorang kawan yang ia percayai, ia tahu Savitri sudah mulai bergerak. Istrinya itu kini membuka usaha minuman kekinian dan seblak prasmanan di depan rumah. Usahanya mulai ramai, setiap sore, halaman rumah yang tadinya sunyi kini dipenuhi ibu-ibu dan anak-anak. Panca bangga, Savitri bukan lagi wanita yang hanya bisa menangis, tapi mulai tumbuh menjadi sosok yang tangguh.