Posted in

“Kamu ini enggak mi kir sama sekali ya, Sela!” aku lalu menyi ram minuman yang aku bawa ke wajah Sela.

“Kamu ini enggak mi kir sama sekali ya, Sela!” aku lalu menyi ram minuman yang aku bawa ke wajah Sela.

“Aa,” jerit Sela.
Mas Rendi dan keluarganya memelo totiku atas apa yang sudah aku lakukan kepada Sela. Aku seperti buruan yang sedang diman gsa sekawanan singa. Mereka pikir aku takut? Sama sekali aku tidak takut!

“Tara, apa yang kamu lakukan?” ucap Mas Rendi dengan suara meninggi, “minta maaf sama Sela!”

“Aku melakukan apa yang memang pantas aku lakukan, Mas. Perempuan itu tidak tahu diri. Kamu sudah menikah tapi dia masih mengharapkanmu. Lagian ngapain sih, Mas kamu pergi sama perempuan yang bukan istrimu?”

“Aku tidak pergi sendiri, Tara. Ada Mama, Nia dan Mbak Bunga,” jawab Mas Rendi dengan penuh penekanan.

“Tapi kamu enggak mengajakku juga. Harusnya kamu mengajak aku, Mas. Kamu enggak pernah sekali pun mengajak aku ke tempat seperti ini. Kalau pun kamu mengajak aku makan di luar. Kamu mengajak aku makan di warung pinggir jalan.”

Mbak Bunga, Mama mertua dan Nia saling melempar pandang. Nia dan Mbak Bunga memutar bola mata, malas.

“Tidak usah mengambek seperti itu, Tara. Ya, sudah. Sini bergabung bersama kami,” Mas Rendi membujukku untuk duduk.

“Tidak perlu. Aku sudah memesan makanan sendiri,” aku melepaskan tanganku dari Mas Rendi.

“Ya, sudah biarkan saja, Ren. Dia mau memesan makanan sendiri, kayak bisa memba yar makanan di sini,” ucap Mbak Bunga.

Aku menoleh ke Mbak Bunga, ingin rasanya aku mela hap kakak iparku itu hidup-hidup.

“Kenapa? Kamu tidak suka dengan apa yang aku katakan? memang begitu kan? Kamu hanya pura-pura saja padahal tidak ada u ang, sok-sok’an makan di tempat seperti ini.

“Permisi,” dua orang pelayan membawa makanan yang dipesan Mas Rendi dan keluarganya termasuk Sela juga mungkin.

“Lihat makanan yang di pesan Rendi, Tara. Kalau kamu ke sini paling cuma nongkrong dan pura-pura pesan makanan ‘kan?” tanya Mbak Bunga.

“Atau kamu datang ke sini karena tahu Rendi dan kami akan ke sini. Kamu mengikuti kami dan kamu masuk ke sini dulu sebelum kami datang?” timpal Bu Marni, Mama mertuaku.

Aku menarik napas panjang, kalau bukan Ibu mertuaku, sudah aku rem as mulut Bu Marni, “Ma, Tara datang ke sini bareng teman. Tara sama sekali tidak mengikuti kalian ke sini.”

“Aku kira Mbak Tara ke sini mengikuti kami dan ingin meminta dibay arkan pesanan makanannya,” ucap Nia.

“Tiba-tiba aku memiliki sebuah ide mendengar apa yang Nia katakan, “Aku tidak pernah makan di restoran seperti ini. Aku dan temanku tidak punya ua ng. Lagi pula Mas Rendi tidak pernah mengajakku pergi makan di luar, apalagi membeli makanan sebanyak itu!” aku menunjuk makanan yang sudah dipesan mereka.

“Kalau tidak punya ua ng kenapa kamu dan temanmu itu makan di sini, Nia? Memalukan saja,” ucap Mas Rendi.
Aku tidak menanggapi pertanyaan Mas Rendi, aku memanggil pela yan yang baru saja hendak beranjak, “Mbak.”

“Iya, Mbak. Ada apa?” pelayan yang baru saja beranjak itu berbalik.

“Makanan yang ada di meja itu, diba yarkan oleh suami saya. Berikan tagihannya kepada suami saya ini,” jawabku.

“Tara, kamu apa-apaan sih? Kamu yang pesan tapi Rendi yang harus bay ar,” ucap Mama mertua tidak terima.

“Mas Rendi itu kan suamiku, Ma. Tidak apa-apa dia membayar apa yang aku pesan. Sudah ya, Ma. Tara sibuk,” aku lalu memanggil Jihan, “Ji, ayo pergi. Aku sudah kenyang.”
Jihan yang dari tadi mengamati dari tempatnya mengangguk, ia lalu berdiri, “Ayo, Ra” Jihan menghampiriku dengan membawa barang belanjaan kami yang cukup banyak.

“Aku pergi ya, Mas, Ma. Selamat menikmati makan siang kalian,” aku menggandeng Jihan dan keluar dari restoran itu.

Saat aku akan keluar, pelayan membawa tagihan makanan yang aku pesan dengan Jeni. Makanan itu belum ada yang aku sentuh, rasa laparku menguar meliat Mas Rendi datang bersama dengan Sela.

“Tara!” pekik Mas Rendi dengan suara tertahan.

“Rasakan kamu, Mas.”