“Silakan isi buku tamunya dulu di sebelah sini, Nyonya.”
Suara ramah perempuan penerima tamu menyambutku di depan pintu masuk aula pernikahan.
“Terima kasih.” Aku tersenyum tipis, mengambil pena putih dan menuliskan namaku dengan tangan yang sedikit dingin.
Langkah kakiku terasa sangat mantap menyusuri karpet merah yang tergelar di gedung mewah bertema luar ruangan ini.
Riasan di wajahku tidak berlebihan, tapi cukup menutupi jejak malam panjang tanpa tidur. Aku harus tampil sempurna sebagai seorang istri. Istri sah yang akan menyapa suaminya. Pria yang masih berstatus suami itu harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa istri yang dia bohongi sama sekali tidak han cur.
Di ujung ruangan sana, Indah berdiri anggun dengan gaun pengantin putih. Senyumnya mengembang menyapa para tamu undangan. Aku terus melangkah maju meresapi setiap detak jantungku. Mataku mencari-cari sosok suamiku.
“Ya ampun, Na! Kamu benar-benar datang!” Indah memekik pelan saat aku menaiki pelaminan. Sahabatku itu langsung meme lukku erat, mengabaikan tatanan gaunnya yang sedikit kusut. “Aku pikir kamu bercanda mau ninggalin suamimu.”
“Aku sudah bilang kan, suamiku sedang sangat sibuk dengan urusannya sendiri di sini. Istri juga butuh hiburan,” kataku seraya tersenyum penuh arti.
“Kamu cantik banget hari ini. Gaunmu sangat pas.” Indah berbisik menggo da di dekat telingaku. “Pasti banyak pria lajang yang lirik kamu nanti kalau kamu senyum terus.”
“Aku sudah punya suami, Ndah. Seorang istri harus menjaga pandangan dari go-daan di luar sana, tidak seperti suamiku,” balasku dengan nada bercanda.
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat dari arah samping pelaminan. Aroma parfum maskulin yang sangat kukenal menyeruak masuk ke penciumanku. Itu aroma khas suamiku.
“Mbak Indah! Selamat ya!” Suara Resty terdengar meriah.
Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara.
Di sana berdiri suamiku, tampak sangat gagah dengan kemeja batik. Tangan Resty bergelayut manja di lengan suamiku.
“Eh, Resty. Makasih banyak ya sudah datang.” Indah tersenyum ramah kepada sepupunya, lalu matanya beralih menatap lekat pria di sebelah Resty. “Ini calon suami kaya raya yang sering kamu ceritakan di grup keluarga itu?”
“Iya dong, Mbak.” Resty tersenyum sangat bangga. “Kenalkan, ini Mas Bayu. Calon suami yang super sibuk mengurus butik ternama miliknya di ibu kota. Ayah, kenalan dulu sama Mbak Indah. Dia ini sepupuku yang paling cantik.”
Resty memanggil suamiku dengan sebutan Ayah tepat di depan wajahku.
Bayu mengulurkan tangannya ke arah Indah dengan senyum wibawa yang dibuat-buat. Matanya sibuk menatap dekorasi bunga, belum menyadari keberadaanku yang berdiri terhalang tubuh sahabatku.
“Selamat ya atas pernikahannya, Mbak Indah. Saya Bayu,” ucap suamiku dengan nada berat andalannya.
“Terima kasih banyak, Mas Bayu.” Indah menerima uluran tangan itu dengan senyum tertahan.
Aku menarik napas panjang, merapikan letak gaunku, lalu melangkah maju satu langkah mensejajarkan posisi dengan Indah. Aku menatap lurus tepat ke dalam sepasang mata pria pendusta itu.
“Halo, Mas Bayu,” sapaku dengan senyum paling manis yang bisa kubentuk. “Senang bisa bertemu denganmu di acara ini.”
Wajah suamiku pucat pasi dalam hitungan detik. Tangan suamiku yang baru saja melepaskan jabatan tangan Indah mendadak bergetar hebat.
“Gi… Giana?” Suara suamiku tercekat.
Indah menoleh ke arahku dengan dahi berkerut. Sahabatku itu menatap bergantian antara aku dan pria di depanku. Mulut Indah perlahan terbuka. Ia baru saja menyadari bahwa calon suami sepupunya adalah pria yang sama yang ada di bingkai foto pernikahan kami dulu. Indah berhalangan hadir saat aku menikah, jadi memang tak pernah bertemu secara langsung dengan suamiku.
Indah baru saja mau membuka mulut untuk mema-ki suamiku, tapi aku bergerak cepat. Aku mere’mas pelan pergelangan tangan Indah dari belakang gaunnya.
Aku menatap mata sahabatku itu lekat-lekat, memberikan kode agar dia menutup mulut rapat-rapat. Belum saatnya.
Indah menelan ludahnya susah payah. Ia mengangguk samar, berusaha mengendalikan keterkejutannya yang luar biasa melihat wajah pucat suamiku.
Resty menatap suamiku dengan raut bingung. “Ayah kenal Mbak ini?”
Aku tersenyum lebar ke arah Resty. “Halo, Resty. Namaku Giana, teman kuliah Indah.”
Aku sengaja mengulurkan tangan, Resty menyambut tanganku dengan ragu.
“Salam kenal, Mbak Giana.” Resty menatapku dari atas ke bawah. “Mas Bayu kenal sama teman Mbak Indah rupanya?”
Suamiku tidak bisa menjawab. Keringat dingin bermunculan di dahi pria itu. Jakunnya naik turun menelan ludah berulang kali. Mulut suamiku terkunci rapat melihat kehadiran istri yang semalam ia bohongi dengan alasan pekerjaan kantor.
“Oh, kami kenal sangat baik.” Aku yang mengambil alih jawaban sambil menatap suamiku. “Kami sangat dekat. Saling mengenal dari ujung kepala sampai ke akar-akarnya. Aku tahu semua rahasianya. Benar begitu kan, Mas Bayu?”
“I… iya.” Suamiku menjawab dengan suara parau nyaris hilang.
“Wah, kebetulan ya kalau begitu.” Resty tersenyum manis, kembali memeluk lengan suamiku dengan erat. “Ayah memang orangnya gampang bergaul. Semua kenalan bisnisnya banyak perempuan hebat. Tapi Ayah cuma cinta sama aku seorang. Iya kan, Ayah?”

“Tentu saja.” Aku menyahut cepat sebelum suamiku sempat membalas rayuan itu. “Calon suamimu ini pria yang sangat setia. Istri mana pun pasti akan sangat beruntung memiliki pria sepertinya.”
Kata istri sengaja kutekan dalam-dalam, memastikan kata itu menembus gendang telinga suamiku.
“Na, kamu belum makan hidangan pembuka kan?”
Indah tiba-tiba menyela, suaranya sedikit bergetar menahan luapan amarah yang siap tumpah. Sahabatku ini terkenal sangat provokatif dan tidak bisa menahan lidah. Aku tahu dia sedang berusaha keras menahan diri demi menghargaiku.
“Silakan nikmati makanannya di meja sebelah sana.”
“Selamat siang semuanya.”
Sebuah suara bariton yang berat dan tenang tiba-tiba memecah ketegangan di antara kami berempat.
Aku menoleh. Alvin berdiri tegak di sana dengan setelan jas abu-abu yang pas membalut tubuh. Di sebelahnya, Dewa berdiri dengan kemeja kotak-kotak rapi dan dasi kupu-kupu.
“Alvin!” Indah berseru girang.
Wajah sahabatku ini langsung berubah cerah menatap kedatangan tamu yang paling ia tunggu-tunggu. Senyum jahil mulai terbit di bibir Indah yang dipoles lipstik merah menyala. Rencana licik tergambar jelas di matanya.
“Selamat atas pernikahanmu, Ndah. Semoga bahagia selalu.” Alvin menyalami Indah dengan sangat hangat.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh menyempatkan waktu, Vin.” Indah melirik ke arahku dengan mata berbinar.
“Wah, kebetulan sekali kalian datang di waktu yang bersamaan. Ini loh, Na. Mantan terindahmu zaman kuliah dulu sudah jadi duda keren sekarang. Cocok banget kan kalian berdiri bersebelahan begini seperti pasangan serasi?”
Indah memang sengaja, aku tahu itu. Mata suamiku yang sejak tadi menunduk ketakutan, kini mendadak mendelik menatap Alvin dari atas ke bawah. Rahang suamiku mengeras seketika.
Pria yang tadi menciut seperti tikus, kini menatap garang ke arah Alvin.
Suami macam apa ini? Dia sibuk dengan seling kuhannya sepanjang malam, tapi marah besar saat istrinya dihampiri pria lain?
Alvin menatapku dengan lembut, sama sekali tidak sadar tatapan dari pria di sebelahku.
“Kamu terlihat sangat luar biasa hari ini, Gi.”
“Terima kasih.” Aku tersenyum membalas pujiannya, sengaja membiarkan suamiku melihat keakraban kami berdua.
Resty menatap kami bergantian dengan wajah bingung, tapi perempuan itu tetap tidak mau melepaskan pelukannya dari lengan suamiku. Atmosfer di atas pelaminan ini menjadi sangat panas dan tegang.
Di tengah keheningan yang mencekam itu, Dewa tiba-tiba melepaskan genggaman tangan ayahnya. Bocah itu berjalan maju mendekatiku tanpa rasa takut sedikit pun. Wajahnya mendongak menatapku dari bawah.
“Tante cantik wangi,” panggil Dewa. “Papa mau bayar Tante untuk yang tadi pagi.”
Hah? Kok kedengarannya jadi ambigu sih?!