“Buat apa, Mas? Kamu ‘kan udah punya u4 ng su mb4 ngan dari rekan kerja kamu. Bahkan, nominalnya jauh lebih banyak dari u 4 ng sum ban ganku.”
Aku minta u4ng sumb4 ngan kamu ya, Dek.”
“Buat apa, Mas? Kamu ‘kan udah punya u4 ng su mb4 ngan dari rekan kerja kamu. Bahkan, nominalnya jauh lebih banyak dari u 4 ng sum ban ganku.”
“Apa susahnya sih kamu nurut, Dek? Gak usah banyak tanya gitu.”
*
Sumbangan Pernikahanku Dipakai Mertua (1)
“Aku minta u a loopng su mb4 ngan kamu ya, Dek.”
Ulfa–istriku menautkan dua alis. Tatapan kebingungan tergambar jelas di wajahnya.
“Minta u a ng sumb a ngan, maksudnya apa, Mas?”
“Aku mau u a ng sum ban gan pernikahan dari teman-teman kamu.”
“Buat apa, Mas? Kamu ‘kan udah punya u4 ng su mb4 ngan dari rekan kerja kamu. Bahkan, nominalnya jauh lebih banyak dari u 4 ng sum ban ganku.”
Aku menatapnya kesal. Apa susahnya langsung memberikan u a ng itu? Aku ini kepala keluarga, wajib hukumnya dia menurut dan tidak banyak tanya.
“Apa susahnya sih kamu nurut, Dek? Gak usah banyak tanya gitu.”
Ulfa masih diam. Dia bahkan tidak berdiri dan meninggalkan lipatan bajunya tersebut. Seolah kehadiranku tak ada artinya.
“Kalau diajak bicara itu diperhatikan! Bukan asyik sendiri seperti itu!”
Suaraku menggema, membuat Ulfa langsung meletakkan lipatannya di lantai begitu saja.
“Mana u a ng sumbangan pernikahan kamu, Fa!”
“Mas saja tidak menjelaskan u a ngnya mau untuk apa kok.”
Dia kembali fokus melipat pakaiannya. Ucapanku bagaikan angin lalu. Menyebalkan.
Aku beranjak dari r4 n jang, lalu berdiri di depan lemari. Aku memperhatikan Ulfa yang sedang melipat pakaian dengan gerakan rapi seperti biasa. Hari ini u a ng itu sudah harus ada di tanganku. Entah bagaimana pun caranya.
“Ulfa.” Aku kembali memanggilnya.
Dia menoleh sekilas. “Apa lagi?”
“Mas mau pakai u 4 ng sumbangan kamu.”
Ulfa langsung menatapku, kali ini lebih serius. “Sebenarnya kamu mau pakai ua ng itu untuk apa sih, Mas?”
“Untuk ta bu ngan be li rumah,” jawabku cepat.
Dia mengernyit. “Tabungan be li rumah?”
“Iya, Dek. Memangnya kamu gak mau kalau kita segera pindah dari sini. Kita tinggal di rumah kita sendiri.”
Ulfa terdiam. Tatapannya tidak lepas dariku, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak aku katakan.
“Tapi aku masih ada kebutuhan lainnya, Mas. Bisa gak kalau nabungnya mulai g a jian bulan depan? Apa kita ngontrak saja dulu.”

“Sebenarnya kamu pengen beli rumah gak sih, Fa? Sejak tadi banyak saja alasannya.”
“Tapi ‘kan gak harus sekarang, Mas? Kenapa tiba-tiba?” desaknya lagi.
Aku menghela napas k a sar. “Ulfa, kamu ini kenapa sih? Aku ini suamimu.”
“Iya, aku tahu. Tapi, bukan berarti aku nggak boleh tahu alasannya ‘kan?”
Aku mendecak kesal. Selalu saja seperti ini. Sedikit-sedikit dipertanyakan.
“Intinya aku butuh u a ng itu,” ucapku tegas.
Ulfa menggeleng pelan. “Aku belum bisa kasih. Toh u a ng itu masih dita bung ‘kan? Apa sini bair aku yang bawa ua ngnya. Nanti aku yang buka re k ening baru.”
Jawaban itu seperti menyulut sesuatu dalam diriku. Aku tidak menjawab lagi. Langsung berbalik menuju lemari tempat dia menyimpan u a ng itu. Tanganku membuka pintu tanpa ragu.
“Mas!” Suara Ulfa meninggi. “Mau ngapain?”
Aku tidak menggubris. Tanganku sudah menemukan amplop tebal yang sejak tadi ada di pikiranku.
“Mas, jangan!” Ulfa bergerak cepat mendekat, mencoba meraih amplop itu dari tanganku.
Refleks, aku mene pis tangannya.
“Sudah, Ulfa! Jangan ikut campur!” bentakku.
Akan tetapi tepisan tanganku terlalu keras. Ulfa kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu jatuh terduduk di lantai.
Hening.
Aku terpaku sejenak. Melihatnya menahan sakit, tangannya menopang tubuhnya sendiri. Ada sesuatu yang berdesir di dalam d a da, tapi aku mene pisnya.
“Mas .…” Suaranya pelan, bercampur kaget dan tidak percaya.
Aku menggenggam amplop itu lebih erat. “Aku cuma ambil yang memang perlu,” kataku dingin, meski hatiku sebenarnya tidak setenang itu.
“Kenapa kamu begini, Mas?”
“Lain kali nurut sama suami. Jangan melawan terus!”
Ulfa tidak menjawab. Dia hanya menatapku … lama sekali. Tatapan yang sulit kuartikan. Aku berbalik, meninggalkannya di kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
*
Keesokan Harinya
Pagi ini rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Ulfa sudah pergi. Entah ke mana, aku tidak peduli. Justru itu yang aku tunggu.
“Ulfa ke mana, Bu?” tanyaku seraya berdiri di samping ibu.
Ibu yang sedang memasak langsung menoleh ke arahku. “Ke warung.”
Aku menyerahkan amplop itu. “Ini ua ng sum bangan kami.”
Ibu tersenyum puas saat membuka sedikit isinya. “Nah, begini dong. Kamu memang anak yang bisa diandalkan.”
Aku tersenyum tipis. “Iya, Bu.”
“Ulfa nggak tahu, kan?” tanya Ibu, suaranya direndahkan.
Aku menggeleng. “Nggak.”
Ibu mengangguk-angguk. “Bagus. Jangan sampai dia banyak tanya. Perempuan itu kadang terlalu ikut campur.”
Aku hanya diam. Membiarkan Ibu berbicara.
“Yang penting ini aman,” lanjut Ibu sambil merapikan kembali amplop itu. “Nanti Ibu yang urus.”
Aku mengangguk pelan. “Iya, Bu. Aman.”
“Aman,” ulang Ibu, kali ini dengan nada lebih yakin.
“Yang penting Ulfa jangan sampai tahu sebenarnya u a n g ini buat apa.”
“Tenang, Bu. Ulfa gak akan tahu.”
“Aku gak akan tahu apa, Mas?”
Seketika aku menoleh ke belakang. Ulfa sudah berdiri sambil membawa kantung belanjaan.
Jangan bilang ia mendengar semua percakapan kami? Aduh … gawat!