Mbak Rita berbicara dengan pongahnya. Selesai gotong royong, kami langsung pulang. Mbak Rita tak hentinya mencari masalah denganku.
“Terus kamu bangga gitu Mbak, sudah menebar fitnah agar mereka membenciku? Kamu puas bisa membuat semua orang percaya dengan omonganmu? Kamu pikir enggak dosa ngelakuin hal serendah itu? Kenapa kok ngajak-ngajak yang lain? Enggak sanggup ya, jatuhin aku sendirian?”
“Apa? Kamu enggak usah dijatuhin, memang posisimu sudah di bawah, kan? Miskin!”
“Miskin-miskin gini, bisa beli mulutmu yang sombong itu kalau aku mau Mbak. Sebelum ngomong setidaknya ngaca dulu. Orang yang selalu kamu katai miskin ini, dia yang paling pertama mengulurkan bantuan pas kamu butuh Mbak. Masih ingat kan, pas teman-teman sosialitamu mau datang kamu enggak pegang uang, Mbak? Siapa yang kamu mintain uang? Tetangga? Aku! Berulang kali kamu merengek minta makan enak dan baju baru, siapa yang belikan? Aku? Pakai duitku.”
“Terus kemarin pas bulek Narti minta dikembalikan surat tanahnya, siapa yang gerak? Aku! Walaupun pakai duit mas Malik. Hidup masih bergantung sama orang lain saja, kok sombongnya selangit! Sudah enggak mau kerja, hidup cuman jadi beban yang lain, kok omonganya tinggi sekali.”
“Belilah kalau ngerasa mampu. Jangan cuman omong kosong doang. Kalau miskin, miskin saja. Enggak usah banyak gaya! Cuman gitu doang diungkit.”
“Gitu doang? Kamu pernah enggak Mbak ngelakuin hal yang sama? Mana pernah. Boro-boro, bilang makasih saja enggak. Aku ikut susah payah ngerawat ibu kalau ibu sakit, tapi giliran aku yang sakit, pernah kamu peduli? Enggak kan, Mbak? Manusia paling egois ya kamu Mbak. Maunya ditolong, dibantu, dingertiin, tapi masa bodoh ke orang.”
“Sungguh, jika disuruh memilih satu nama manusia paling menyebalkan, namamu yang terpilih Mbak. Sombong, sok kaya, suka merendahkan orang lain, suka seenaknya. Suka mengarang cerita bohong. Suka adu domba. Kok semua kejelekan kamu borong sih, Mbak? Enggak sanggup ya, beli kebaikan?”
“Kamu itu enggak ada sopan santunya jadi orang. Sama kakak iparmu, kamu berani? Percuma kerja dan banyak duitmu, kalau kamu membiarkan saudaramu susah sendiri, enggak akan kamu hidup enak. Enggak akan kamu kaya raya,” cerocos bulek Rini yang baru saja datang. Bulek Rini adeknya ibu mertua. Musuh bebuyutan bulek Narti.
“Gimana mau kaya, kalau dari dulu uangku habis untuk memenuhi kekurangan di rumah ini. Belum lagi kalau ibu minta buat bayar arisan. Belum lagi mbak Rita minta buat beli baju. Bulek kalau enggak tahu apa-apa mending diam! Bulek cuman orang luar. Jangan terpengaruh dengan aduan mbak Rita ataupun ibu. Karena mereka jago mengarang cerita bohong. Biasalah, pada cari simpati orang, lewat drama bohongnya. Kalau enggak gitu, enggak hidup kali.”
“Kamu pikir aku percaya sama kamu? Kamu itu cuman orang lain. Rita ini keponakanku, dan mamaknya Rita itu kakak kandungku,” sergah bulek Rini terdengar sangat ketus.
“Oh begitu ya? Jadi sesalah apapun saudara akan tetap dibela. Sedang orang lain, walaupun benar, tetap dianggap salah. Pemahaman yang salah. Tapi ya terserah saja sih Bulek. Enggak penting juga buatku. Mau aku dianggap keluarga atau tidak oleh kalian, enggak akan ada yang berubah dari hidupku. Menghadapi kalian yang tahunya menghakimi tanpa mencari tahu dulu kebenaranya, memang sangat menguras emosi.”
“Kalau kamu sudah enggak sanggup bertahan, mending angkat kaki dari kehidupan Malik. Sampai kapan pun, kamu tidak akan dinggap. Kamu itu enggak pantas buat Malik. Malik bisa saja dapat wanita yang sekelas sama dia. Berpendidikan, punya titel, dan berasal dari keluarga yang jelas. Enggak kayak kamu anak har*m enggak guna! Bikin malu saja. Malik dikuliahkan mahal-mahal, eh tahunya dapat istri miskin sepertimu! Sia-sia saja aku membantu biaya kuliahnya dulu. Kalau tahu dia mau menikahi wanita sepertimu, sudah sejak dulu aku singkirkan dia dari desa ini.”

“Tahu tuh Bulek. Dikuliahin susah-susah, ujung-ujungnya cuman nikah sama si yatim piatu ini. Boro-boro harta, rumah saja enggak punya. Dari dulu pindah sana sini numpang sama orang. Modelan begitu kok minta dianggap keluarga. Siapa yang sudi punya saudara miskin kayak dia?”
Kali ini mbak Rita kembali berbicara dengan sangat pongah. Manusia sok kaya itu kalau ngomong tinggi sekali. Tidak ingatkah dia, berapa banyak uangku yang dia nikmati? Kerja saja enggak, kok belagunya minta ampun. Dasar tak tahu diri!
“Aku akan tetap bertahan seberat apa pun cobaanya. Selama mas Malik tidak melakukan KDRT, aku akan tetap bersamanya. Mas Malik itu baik, hanya saja otaknya sudah dicuci sama kalian. Aku pastikan dia akan berubah suatu sata nanti. Karena kebusukan suatu saat akan kalah. Kejahatan kalian saat ini, suatu saat akan kalian sesali, saat nyawa kalian tersisa di tenggorokan!”
“Oh, jadi kamu doain kami cepat m4ti? Kamu pikir doamu didengar Tuhan? Tuhan pilih-pilih kali mengabulkan doa hambanya. Kalangan bawah sepertimu, biasanya gak akan pernah diijabah doanya. Iya enggak, Bulek? Lihat wanita miskin ini semakin kesini, semakin sok saja.”
“Sudah enggak usah digubris, Ta. Miskin, banyak omong, enggak ada juga yang mau peduli. Siapa sih yang mau peduli sama yatim piatu miskin seperti dia? Keluarganya saja mencampakkannya, kan? Hidup enggak berguna buat siapa pun. Sok ngungkit pernah bantu kamu. Palingan juga pakai duitnya Malik. Mending kamu suruh dia masak, Ta. Bulek lapar!”
“Bulek kalau lapar, dapur ada disana. Bulek bisa membuat sendiri menu mahal yang bisa bulek agung-agungkan itu. Jangan nyuruh aku. Aku ini kan enggak ada gunanya buat siapa pun. Jadi lakukan saja sendiri. Masak sendiri kalau butuh makan!”
“Masak sana, Na! Jangan tahunya ngoceh saja! Kurang ajar kamu berani nyuruh orang tua begitu,” ucap ibu mertuaku yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelah bulek Rini.
“Enggak tahu orang lagi capek ya, Bu? Noh mbak Rita yang Ibu suruh. Dari tadi kerjanya cuman ngerumpi. Gotong royong hanya kedok, padahal sepanjang gotong royong berjalan, cuman ngomongin orang. Pas sudah di rumah pun, tetap berlanjut ngomongin aku sampai puas sama bulek Rini.”
“Lagian, Bulek Rini, jauh-jauh dari kota kesini, cuman mau menjelekkan aku. Ingat ya Bulek, aku kalau sudah sakit hati, aku bisa ngucap yang enggak-enggak. Jadi sebelum terjadi apa-apa, mending dijaga omonganya. Orang kalau sudah sakit hati, susah mengontrol diri. Jangan sampai pisau di dapur, berpindah ke leher Bulek!”