Posted in

AKU MENGIRIM 1,5 JUTA PESO SETIAP BULAN AGAR IBUKU MERAWAT ISTRIKU SETELAH MELAHIRKAN. NAMUN SAAT AKU PULANG TANPA PEMBERITAHUAN, AKU MENEMUKAN ISTRIKU DI DALAM GUDANG GELAP, GEMETAR SAMBIL MEMAKAN NASI BASI DAN DURI IKAN. DAN ALASAN MENGERIKAN DI BALIK SEMUA ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HATIKU.

AKU MENGIRIM 1,5 JUTA PESO SETIAP BULAN AGAR IBUKU MERAWAT ISTRIKU SETELAH MELAHIRKAN. NAMUN SAAT AKU PULANG TANPA PEMBERITAHUAN, AKU MENEMUKAN ISTRIKU DI DALAM GUDANG GELAP, GEMETAR SAMBIL MEMAKAN NASI BASI DAN DURI IKAN. DAN ALASAN MENGERIKAN DI BALIK SEMUA ITU BENAR-BENAR MENGHANCURKAN HATIKU.

Miliarder yang Tak Punya Waktu

Namaku Gabriel, tiga puluh lima tahun, CEO salah satu konglomerat teknologi terbesar di Asia. Aku menghasilkan miliaran, tetapi harta paling berhargaku adalah istriku, Clara. Sebelum menikah denganku, Clara hanyalah guru sederhana dari provinsi. Dia tidak memiliki keluarga, jadi saat dia hamil, aku berjanji akan memberinya seluruh dunia.

Karena aku harus terbang ke New York untuk proyek penting selama enam bulan, aku mempercayakan Clara kepada ibuku, Doña Carmela, dan adikku, Beatrice, di mansion kami di Forbes Park.

“Jangan khawatir, Nak. Kami yang akan menjaga istrimu. Mama akan menyewa private nurse dan chef terbaik untuknya,” janji manis ibuku sebelum aku pergi.

Untuk memastikan semuanya sempurna, aku mengatur transfer otomatis sebesar 1,5 juta Peso setiap bulan ke rekening ibuku. Aku ingin memastikan istri dan anakku mendapatkan susu terbaik, makanan organik, dan perawatan paling mewah.

Kepulangan yang Menghancurkan

Sebulan setelah Clara melahirkan, proyekku selesai lebih cepat dari jadwal. Aku sangat rindu kepada istri dan anakku sehingga aku memutuskan pulang diam-diam. Aku membawa perhiasan mahal untuk Clara dan banyak mainan untuk bayi laki-laki kami, Lucas.

Saat tiba di mansion sekitar pukul tujuh malam, aku merasa rumah itu terlalu sunyi. Di luar terparkir dua mobil sport mewah baru yang tidak kukenal. Aku masuk menggunakan kunciku sendiri.

Tidak ada pelayan. Tidak ada private nurse.

Aku hendak naik ke master bedroom ketika mendengar suara isak tangis dan gerakan pelan dari lorong gelap menuju gudang tua di belakang dapur. Aku mengintip ke dalam.

Pemandangan yang kulihat terasa seperti pisau tajam yang merobek jiwaku.

Budak di Dalam Kegelapan

Di sana, terkunci di ruangan kecil yang gelap, istriku Clara duduk di atas lantai semen yang dingin. Tubuhnya sangat kurus, hampir tinggal tulang, rambutnya kusut dan panjang tak terurus. Dia mengenakan daster kotor. Bahunya gemetar saat buru-buru menyuap makanan dari piring plastik retak.

Ketika aku melihat apa yang dimakannya, seluruh tubuhku hampir mati rasa.

Itu nasi basi yang sudah berbau asam, dicampur sisa duri dan kepala ikan! Makanan yang seharusnya sudah dibuang ke tempat sampah!

“C-Clara…?” panggilku dengan suara serak dan gemetar.

Piring itu jatuh dari tangannya. Saat dia menoleh dan melihatku, dia tidak berlari memelukku. Sebaliknya, matanya membelalak ketakutan. Dia merangkak mundur ke sudut ruangan sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.

“M-Maaf! Maaf, Nyonya Carmela! S-Saya tidak akan bertanya lagi di mana bayi saya… s-saya akan memakan sisa makanan ini… t-tolong jangan sakiti saya…” tangisnya sambil gemetar ketakutan.

Otakku seperti meledak.

Kenapa dia takut pada keluargaku sendiri?! Di mana anak kami?!

Aku langsung berlari memeluknya erat.

“Clara! Ini aku! Suamimu! Kenapa kamu takut?!”

“G-Gabriel…?” Saat mengenaliku, Clara menangis histeris. “G-Gabriel! Anak kita! I-Ibumu bilang bayi kita meninggal saat aku melahirkan! L-Lalu mereka mengurungku di sini karena katanya aku gila dan memalukan bagi tamu-tamu mereka!”.

Aku langsung menggendong Clara keluar dari gudang itu. Tubuhnya terasa begitu ringan, seperti tidak ada beban sama sekali. Amarahku sudah di puncak kepala, mendidih dan siap meledak.

Saat aku melangkah menuju ruang tengah, pemandangan kontras menyambutku. Di sana, ibuku, Doña Carmela, dan Beatrice sedang tertawa bersama beberapa teman sosialita mereka. Di atas meja melimpah makanan mewah, kaviar, dan botol-botol sampanye mahal.

Ibuku mengenakan kalung berlian baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Beatrice mengenakan tas limited edition. Semua itu dibeli dengan uang 1,5 juta Peso per bulan yang aku kirimkan untuk kesehatan Clara.

“Gabriel?!” Ibuku berdiri, wajahnya pucat pasi seputih kapas saat melihatku berdiri di sana, menggendong Clara yang kotor dan kurus.

“Apa yang terjadi di sini, Ma?!” teriakku hingga pembuluh darah di leherku menegang. “Kenapa Clara ada di gudang?! Dan di mana anakku?!”

Beatrice mencoba bicara, “Kak, dengarkan dulu… Clara itu depresi pasca melahirkan. Dia tidak stabil, dia membahayakan dirinya sendiri, jadi kami—”

“DIAM!” bentakku. “Dia memakan nasi basi dan duri ikan! Apa itu bagian dari ‘perawatan mewah’ yang Mama janjikan?!”

Rahasia yang Menghancurkan

Tiba-tiba, dari arah kamar atas, terdengar suara tangisan bayi. Bukan tangisan bayi yang lemah, tapi suara bayi yang dirawat dengan baik. Aku langsung berlari ke atas, mengabaikan teriakan ibuku yang memintaku berhenti.

Aku menendang pintu kamar Beatrice. Di sana, seorang pengasuh yang tidak kukenal sedang menggendong bayi laki-laki yang tampan dan sehat.

“Siapa ini?” tanyaku dengan suara rendah yang mematikan.

“Ini… ini anak Nona Beatrice,” jawab pengasuh itu ketakutan.

Dunia seakan berputar. Beatrice belum menikah. Dia bahkan tidak pernah hamil.

Aku merampas bayi itu dan melihat tanda lahir kecil di telinga kanannya. Itu putraku. Itu Lucas.

Aku membawa Lucas turun ke bawah. Clara, yang masih lemas di sofa, melihat bayi itu dan menjerit histeris. “Lucas! Anakku! Gabriel, mereka bilang dia sudah mati!”

Ibuku akhirnya berlutut di depanku sambil menangis, tapi bukan tangis penyesalan, melainkan ketakutan karena ketahuan.

“Gabriel, dengarkan Mama… Reputasi keluarga kita jauh lebih penting! Clara itu hanya guru desa, dia tidak pantas menjadi ibu dari pewaris konglomeratmu. Dia tidak punya kelas! Beatrice ingin punya anak tapi tidak bisa… Jadi kami pikir, jika kami menyingkirkan Clara dan membiarkan Beatrice membesarkan Lucas, masa depan Lucas akan lebih terhormat!”

“Jadi Mama mencuri anak dari ibunya sendiri? Mama menyiksa menantu Mama sendiri hanya karena status sosial?!” suaraku bergetar karena rasa jijik yang luar biasa. “Lalu ke mana uang 1,5 juta Peso itu setiap bulan?!”

“Kami… kami menggunakannya untuk membeli mobil itu, perhiasan, dan biaya perjalanan Beatrice ke luar negeri agar orang-orang mengira dia melahirkan di sana,” Beatrice mengaku sambil menunduk.

Pembalasan yang Dingin

Aku menatap dua wanita yang memiliki darah yang sama denganku, namun memiliki hati yang lebih busuk dari bangkai.

“Mulai detik ini,” kataku dengan nada dingin yang menusuk tulang, “kalian bukan lagi keluargaku.”

“Gabriel, kamu tidak bisa melakukan itu! Aku ibumu!” teriak Doña Carmela.

“Ibu macam apa yang menyiksa ibu lain?” balasku. “Mansion ini atas namaku. Besok pagi, semua barang kalian sudah harus keluar. Aku sudah membatalkan semua kartu kredit kalian. Dan jangan harap mendapatkan satu peso pun dariku lagi.”

Aku mengambil ponselku dan menelepon pengacaraku. “Halo, siapkan laporan kepolisian untuk penculikan anak, penganiayaan, dan penggelapan dana. Ya, korbannya adalah istriku. Pelakunya? Carmela dan Beatrice.”

Malam itu, aku membawa Clara dan Lucas ke rumah sakit terbaik dengan pengawalan ketat. Clara harus dirawat karena malnutrisi dan trauma psikologis berat.

Saat aku duduk di samping ranjang rumah sakitnya, memegang tangannya yang kasar dan kurus, aku bersumpah demi nyawaku: Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyentuh mereka lagi.

Harta miliaran yang kupunya tidak ada artinya jika aku tidak bisa melindungi orang yang kucintai. Aku belajar satu hal yang sangat pahit: terkadang, monster yang paling menakutkan bukan berada di luar sana, melainkan duduk satu meja makan dengan kita, memakai perhiasan mahal yang dibeli dengan uang kita sendiri.