Posted in

Karena menyentuh bedaknya, ibu m3mvkuliku memb4b1 buta. Aku tak tahu apa istimewanya bedak itu, saat mencari tahu. Aku menemukan fakta kalau ternyata —

Keesokan paginya, Maisarah bangun seperti biasa. Ia langsung melakukan rutinitasnya—menyiapkan sarapan, merapikan rumah, dan melakukan pekerjaan lain seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda dari pagi itu, setidaknya di permukaan.

Setelah sarapan selesai, ibunya langsung pergi ke warung. Andika pun berangkat ke sekolah. Kini, yang tersisa di rumah hanyalah Maisarah, Sadewo, dan Liana.

“Hari ini abang nggak ke ladang?” tanya Liana dari ruang keluarga. Ia duduk santai di sofa, bersandar sambil menonton televisi.

Sadewo yang duduk di sofa lain menoleh ke arahnya, lalu menggeleng pelan. “Abang capek, mau istirahat dulu,” jawabnya singkat.

Tak lama kemudian, Maisarah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Ia tampak siap pergi.

Sadewo dan Liana langsung menoleh bersamaan.

“Mau ke mana, Mai?” tanya Sadewo cepat, nada suaranya sedikit waspada.

“Ke rumah Sari, Bang,” jawab Maisarah tanpa ragu, meskipun itu bohong. Sebenarnya, ia sudah berjanji dengan Aris untuk pergi ke Desa Renggasih.

“Apakah Kak Mai sudah mencari tahu tentang bedak itu?” tanya Liana tiba-tiba, dengan nada polos.

Maisarah langsung menoleh cepat ke arah Liana, menggeleng halus sambil memberi isyarat agar gadis kecil itu tidak melanjutkan pembicaraan.

“Mencari tahu apa?” tanya Sadewo, kini benar-benar curiga.

“Ah… tidak ada kok, Bang,” ujar Maisarah cepat, berusaha menutupi. “Liana salah bicara, kan, An?”

“Iya, Bang… hehe,” jawab Liana canggung, tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya.

Suasana sempat hening sejenak.

“An, kamu nggak apa-apa kan kalau sendiri dulu?” tanya Maisarah, mencoba mengalihkan.

Liana langsung mengangguk. “Nggak apa-apa, lagian ada Bang Dewo kok.”

“Mau abang antar?” tawar Sadewo lagi.

Maisarah segera menggeleng. “Nggak usah, Bang. Aku jalan kaki aja.”

Sadewo menatapnya beberapa detik, lalu akhirnya mengangguk. “Hati-hati.”

Maisarah pun keluar dari rumah.

Seperti yang sudah direncanakan, Aris telah menunggunya di jembatan dengan motor.

“Kenapa kita harus pergi pagi-pagi sih?” tanya Maisarah saat ia sudah sampai dan berdiri di dekat motor itu.

“Agar kita nggak pulang terlalu larut,” jawab Aris sambil menurunkan standar motor. “Desa itu cukup jauh, dan jalannya juga kurang bagus.”

Maisarah mengangguk pelan, lalu naik ke motor. Tak lama kemudian, mereka pun berangkat.

Perjalanan berlangsung cukup lancar, meskipun sesekali motor berguncang karena melewati jalan yang berlubang dan berbatu. Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan di antara mereka. Hanya suara mesin motor, angin yang berhembus, dan sesekali suara kendaraan lain yang melintas.

Mereka terus melaju hingga akhirnya sampai di sebuah desa. Sebuah papan nama berdiri di pinggir jalan, bertuliskan: Desa Trenggasih.

Aris memperlambat laju motornya, lalu berhenti di sebuah warung kecil di tepi jalan yang juga menjual bensin eceran. Ia mengisi bensin, lalu mencoba bertanya kepada pemilik warung tentang seseorang bernama Latifah.

Namun, jawaban yang ia terima membuatnya sedikit kecewa.

“Waduh, saya kurang tahu. Saya juga baru pindahan,” jawab pemilik warung itu, seorang perempuan muda yang tampak masih berusia sekitar dua puluh tahunan.

Aris mengangguk mengerti. Wajar saja jika perempuan itu tidak tahu.

Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun melanjutkan perjalanan.

Saat memasuki bagian tengah kampung, mereka melihat sebuah bangunan besar yang tampak terbengkalai, menyerupai sebuah toko lama. Aris melirik ke arah Maisarah melalui spion.

“Mungkin ini tokonya,” katanya.

Maisarah hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Sejak memasuki desa itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggunya. Namun, di balik itu, ada juga perasaan lain—perasaan yang sulit dijelaskan. Ia merasa tidak asing dengan tempat itu, seolah-olah desa itu adalah bagian dari dirinya. Seperti ia pernah berada di sana… bahkan tinggal di sana.

Motor terus melaju menyusuri jalan kampung yang cukup panjang, hingga akhirnya mereka melihat sekelompok ibu-ibu yang sedang duduk di pinggir jalan. Aris pun menghentikan motornya.

Maisarah turun, lalu berjalan mendekati mereka.

“Maaf, Bu… saya mau bertanya,” ucapnya sopan.

Ibu-ibu itu menoleh dan mempersilakan.

“Di mana rumah Latifah?” tanya Maisarah.

Begitu mendengar nama itu, mereka saling berpandangan. Ekspresi mereka berubah, seolah ada sesuatu yang tidak biasa.

Salah satu dari mereka kemudian menunjuk ke arah sebuah gang yang cukup besar di depan.

“Masuk saja ke gang itu,” katanya. “Di ujung ada rumah paling besar. Dindingnya beton, warnanya putih. Itu rumahnya Latifah.”

Maisarah mengangguk. “Terima kasih, Bu.”

Ia kembali ke motor, dan mereka pun melanjutkan perjalanan.

“Kenapa ibu-ibu tadi ekspresinya begitu, ya?” tanya Aris di tengah perjalanan.

Maisarah menggeleng pelan. “Aku juga nggak tahu.”

Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah yang dimaksud. Rumah itu memang besar—bahkan mungkin yang terbesar di desa itu. Bangunannya terlihat tua, tetapi masih terawat dengan baik.

Mereka turun dari motor, lalu berjalan menuju pintu. Aris mengetuk pintu perlahan. Sekali… dua kali… tidak ada jawaban.

Hingga akhirnya, terdengar langkah kaki dari dalam.

Pintu pun terbuka.

Seorang gadis kecil, sekitar dua belas tahun, berdiri di sana. Wajahnya ramah, ia tersenyum saat melihat mereka.

“Cari siapa?” tanyanya.

“Ada Bu Latifah?” jawab Aris.

Gadis itu tampak sedikit heran, lalu menoleh ke dalam rumah dan berteriak, “Mama!”

Maisarah dan Aris saling berpandangan, bingung.

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Usianya sekitar lima puluh tahun, kira-kira seumuran dengan ibu Maisarah. Ia berjalan pelan menghampiri anaknya.

Namun, begitu pandangannya jatuh pada Maisarah, langkahnya terhenti.

Wajahnya berubah.

Matanya melebar, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia hanya berdiri di sana, terpaku, menatap Maisarah tanpa berkedip.

Lalu, dengan suara pelan yang hampir tak terdengar, ia berkata,

“Latifah…”