“Tapi saya akan kembali meminjam sejumlah uang dengan sertifikat yang lain ” ku sodorkan sertifikat rumah atas nama Arman dan Tika yang lebih luas sedikit dari tanah milikku.
Pak johan mengangguk-anggukan kepala sambil mengelus dagunya “boleh, tapi harus ada tanda tangan yang bersangkutan, saya tunggu sampai besok pagi “
Aku menganggukan kepala, lalu mengambil handphoneku dan mentransfer sejumlah uang ke rekening milik pak johan, kini resmi sertifikat ini milikku kembali.
“Ini surat perjanjiannya , Silahkan tanda tangan disini , dan tanda tangan kedua nama yang tertera di sertifikat ini , dan ini surat pelunasan sertifikat atas nama Surya Wardana, silahkan tanda tangan juga disini ” pak Johan menyodorkan kertas beserta sertifikat yang sudah ku lunasi
Aku langsung membubuhkan tanda tanganku di kertas tersebut , lalu memasukan kertas perjanjian pinjaman itu beserta sertifikat milikku ke dalam tasku, aku harus bisa mendapatkan tanda tangan mas Arman dan Tika.
“Baik itu saja ya bu, sertifikat nya ibu bawa dulu, kalo sudah resmi baru sertifikat saya pegang ” aku mengangguk, lalu kami bersalaman.
“Baik terimakasih, kami permisi lebih dulu pak ” pamit ku sambil menjabat tangannya.
“Ya , silahkan, hati hati ” jawabnya.
“Kita kemana lagi nduk? ” tanya ibu saat kami sudah memasuki mobil taksi.
” kerumah sakit bu, Andin harus dapat tanda tangan mas Arman “
” emang mau orang nya? “
“Andin akan memainkan drama yang sama seperti yang ia lakukan dulu bu “
Ibu mengangguk ” hati hati nduk ” akupun mengangguk.
Sampailah kami di area rumah sakit, ku percepat langkah agar cepat sampai ke ruang tindakan mas Arman.
“Dasar istri gak g*na, kluyuran aja kerjaannya, padahal suaminya lagi kes*kitan di rumah sakit” baru datang sudah disambut suara cempr*ng ibu mertua , panas rasanya gendang telingaku.
“Mending keluyuran dari pada jagain orang sakit yang di buat buat sendiri ” sindir ibuku, mata ibu mertua langsung mendelik menatap kami.
” bukannya nasehatin anaknya biar jadi istri yang benar, malah ngedukung ” semprot ibu mertua
” saya akan jadi orang yang sangat bahagia jika mereka kesak1tan bu” ucapku pelan menyeringai menatap ibu mertua.
Wajah ibu mertua semakin murka menatapku, kuharap darah tingginya tidak kumat.
“Nanti jam 9 tindak oprasi arman akan dimulai nduk ” bapak menggenggam tanganku setelah aku duduk.
“Berarti setengah jam lagi pak? ” bapak mengangguk
“Boleh Andin nengok mas arman ke dalam sebelum mas arman di operasi? “
“Gak bisa, nanti kamu apa apain dia ” tiba tiba suara ibu mertua mengagetkan ku, untung saja aku tak punya riwayat lemah jantung.
“Gak papa nduk, silakan kalo mau nengok Arman, perlu ayah temani? ” tawar ayah mertua lembut
“Kalo Andin buat macam macam gimana? ” ibu mertua melotot.
Plak
Tiba tiba ayah mertua menampar bibir ibu mertua , pengen rasanya aku tertawa melihat bibirnya yang tadinya merah menyala kini warna merah itu berpindah ke telapak tangan ayah mertua, tapi aku takut kualat jika menertawakan nya.
“Mana ada seorang istri memb*n*h suaminya , kalo sampe banyak bac*t lagi, rasakan lebih dari ini ” suara ayah mertua penuh penekanan, ibu mertua melengos, ia cemberut menatap ke arah lain
“Mas ” panggilku saat sudah berada di ruang rawat mas arman
“Andin” mas Arman membuka matanya dan tersenyum “maafkan mas Ndin”
“Gak papa, setengah jam lagi kalian akan di oprasi, semoga lancar ya ” ucapku tulus
“Kamu gak marah Ndin? , aku tau kamu gak akan marah, karena kamu cinta mati kan sama mas” aku hanya tersenyum menanggapi ocehan mas Arman.

Gegas aku mengeluarkan kertas yang sedari tadi kusiapkan dalam tas “mas, untuk tindakan oprasi nya, mas dan Tika harus tanda tangan surat ini ” aku memberikan pulpen pada mas Arman.
“Biasanya di tanda tangan sama pihak kluarga dek”
Aku menarik nafas lalu tersenyum, “mas ini berbeda, kalian itu gan**t, jadi kalo nanti ada hal yang tidak tidak pihak rumah sakit bisa bertanggung jawab ” ucapku meyakinkan mas Arman.
“Atau mas mau baca dulu, nih ” aku menyodorkan kertas nya pada mas Arman
“Gak usah deh lama” rasanya dadaku lega, karena itulah jawaban Yang ku harapkan “yaudah dimana? ” tanganku menunjuk tempat yang harus mas Arman tanda tangan, mas Arman mengangkat tangannya ke atas, dan membubuhkan tanda tangan di kertas yang aku pegang.
Kini aku berjalan ke sisi kiri, “Tik, tanda tangan dulu, atau baca dulu nih ” aku menyimpan kertas itu di atas ranjang, karena posisi tika di atas jadi otomatis ia melihat nya ke bawah.
jantungku degdegan, saat melihat Tika menarik kertas tersebut, namun ternyata ia mengambil pulpen yang berada di atas, dan tak terjangkau oleh tangannya, ia langsung membubuhkan tanda tangan di atasnya, huft rasanya dadaku lega .
“Yaudah aku keluar dulu” tanpa menunggu jawaban mereka, aku keluar dari ruangan tersebut.
Aku langsung duduk di kursi di sebelah bapak ,pandanganku mengedar , seperti ada yang kurang ” mana bu Lastri? ” tanyaku setelah sadar tak ada bu Lastri disini.
“Pulang ngurusin dulu anak Tika” aku mengangguk.
“Akhirnya tau kan siapa yang mand*l? ” ibu mertua melirik sin*s ke arahku
“Kaya gak akan butuh pertolongan orang lain ya mulutnya ” ibuku terlihat sangat geram pada besannya itu
” ingat perkataan ku baik baik, saya gak butuh pertolongan kalian , apalagi dia ” tunjuknya padaku, entah apa yang membuat kamu begitu membenc*ku bu ? , padahal selama ini aku selalu berusaha jadi menantu yang baik. Tiba tiba air mataku meluncur tanpa di perintah, rasanya lelah sedari dulu selalu di cac1 mak! oleh ibu mertua.
Aku kira jika sudah menikah akan mendapatkan mertua yng baik hati seperti dalam cerita novel yang selalu ku baca, namun nyatanya semua tak sesuai yang aku harapkan, rasanya sudah semaksimal mungkin kulakukan agar di sukai oleh ibu mertua, namun yang kulakukan selalu salah dimatanya, hanya benc! yang ada di matanya saat melihatku.
Akhirnya mas Arman dan Tika di bawa ke ruang oprasi, kini kami menunggunya di ruang oprasi. Doa terbaik aku panjatkan untuk mereka, bagaimanapun juga, ada anak yang harus mereka tanggung.
Kami diam dengan isi kepala masing masing, tak ada satupun yang bersuara diantara kami.
Sekitar 15 menit dokter kembali keluar dari ruang oprasi, kami mengerumuni dokter tersebut menunggu kabar dari dokter.
” gimana dok anak saya? ” tanya ibu mertua
“Allhamdulilah pasien tidak jadi dilakukan tindak operasi, saat kami akan melakukan tindakan ternyata mereka sudah terpisah, saat ini kedua pasien baik baik saja, hanya menunggu pemulihan saja, mereka masih tertidur karena efek obat bius “
Akhirnya kami mengucapkan syukur, selamat mas senjat*mu tak jadi hilang.
Mereka dipindahkan ke ruang rawat, kini hanya kami bertiga berjaga di ruang rawat ini, karena bapak dan ayah mertua keluar mencari angin mungkin.
Ibu sudah tertidur di atas kursi tunggu, sedangkan mataku tak bisa terpejam, jam 2 dini hari baru aku bisa terpejam sebentar.
Pagi ini rencananya aku akan bertemu pak johan, kulihat ibu juga ibu mertua masih tidur terlelap, begitupun mas Arman.
Cklek
Kubuka pintu ruangan dengan bismillah, semoga rencana ku lancar, ternyata bapak dan ayah mertua tidur di depan ruangan, ku langkahkan kaki dengan pelan, takut mengganggu tidur lelap mereka.
“Mau kemana nduk? ” suara bapak mengagetkan ku.
“Eh pak, mau ke taman menghirup udara pagi pak ” ucapku berbohong
Bapak mengangguk” mau bapak temani? “
“Gak usah pak, Andin pengen sendiri dulu”
” oh yo wes “