Tiếng kembang api terus meledak di luar jendela. Cahaya warna-warni memantul di langit-langit rumah tua seluas 50 meter persegi itu — rumah yang sebentar lagi bahkan bukan lagi milikku.
Aku terbaring di lantai, napasku makin berat. Darah terasa asin di sudut bibirku. Di luar, orang-orang menghitung mundur tahun baru.
“Lima… empat… tiga…”
Aku menutup mata.
Jika benar ada kehidupan kedua, aku tidak akan lagi hidup untuk orang yang tidak tahu berterima kasih.
Aku tidak akan lagi mengorbankan seluruh hidupku demi seseorang yang hanya tahu menuntut.
Aku tidak akan lagi menjadi ibu yang memohon belas kasih dari anaknya sendiri.
“Dua… satu…”
Boom.
Gelap.
—
Saat membuka mata lagi, cahaya putih menyilaukan menyambutku.
Bau antiseptik.
Suara mesin monitor.
Dan suara seorang dokter yang berkata lembut, “Nyonya, keputusan ada di tangan Anda. Kehamilan ini baru enam minggu. Jika ingin melanjutkan, kami akan persiapkan operasi kecil hari ini.”
Tanganku refleks menyentuh perutku.
Masih rata.
Masih belum ada apa-apa.
Tidak ada lima juta peso.
Tidak ada pukulan.
Tidak ada kontrak pelepasan tanggung jawab.
Tidak ada malam Tahun Baru dengan tulang rusuk patah.
Semua itu belum terjadi.
Air mataku mengalir — bukan karena sedih, tapi karena sadar: Tuhan benar-benar memberiku kesempatan kedua.
Aku menatap langit-langit ruang operasi.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku bertahan hidup demi anakku.
Dalam kehidupan ini, aku akan hidup demi diriku sendiri.
Aku menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara tenang yang bahkan membuat diriku sendiri terkejut:
“Dokter… kehamilan ini tidak saya lanjutkan.”
Dokter mengangguk pelan.
Saat lampu operasi dinyalakan, hatiku terasa ringan.
Bukan karena kejam.
Bukan karena dendam.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memilih diriku sendiri.
—
Setelah prosedur itu, aku tidak kembali pada hidup lama.
Aku berhenti menjadi perempuan yang rela tidak tidur demi orang lain.
Aku menggunakan tabunganku untuk membuka kios kecil sendiri. Awalnya hanya warung kopi sederhana di sudut jalan, bermodal beberapa juta peso. Tapi aku tekun, disiplin, dan tidak lagi menghamburkan uang untuk membuktikan cinta kepada siapa pun.
Tahun pertama, aku bisa menyewa ruko kecil.
Tahun ketiga, aku membuka cabang kedua.
Tahun kelima, aku sudah memiliki tiga properti atas namaku sendiri.
Tidak besar, tidak mewah — tapi cukup.
Cukup untuk hidup tenang.
Cukup untuk pensiun dengan bermartabat.
Dan yang paling penting: cukup untuk tidak bergantung pada siapa pun.
—
Suatu sore, ketika aku sedang duduk di kafe milikku sendiri, seorang pria muda masuk. Wajahnya pucat, matanya penuh kecemasan.
Usianya sekitar dua puluh empat tahun.
Entah kenapa, ada rasa aneh di dadaku.
Wajah itu…
Sangat mirip dengan seseorang dari kehidupanku yang lalu.
Ia berdiri di depan kasir dan berkata dengan suara rendah, “Bu… saya mau melamar kerja. Apa masih ada lowongan?”
Aku menatapnya lama.
Takdir memang aneh.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku menjadi ibunya dan dihancurkan olehnya.
Dalam kehidupan ini, ia hanyalah orang asing yang datang mencari pekerjaan.
Aku tersenyum tipis.
“Silakan isi formulir.”
Hanya itu.
Tidak ada amarah.
Tidak ada kebencian.
Karena aku mengerti satu hal:
Jika seseorang ditakdirkan menjadi ular, ia tetap akan belajar menggigit di mana pun ia lahir.
Tetapi kali ini, aku bukan lagi orang yang akan membesarkannya dengan darah dan air mata.
Aku adalah perempuan yang memilih hidupnya sendiri.
Di luar, matahari senja perlahan tenggelam.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan,
aku merasa benar-benar merdeka.

Ia menunduk saat mengisi formulir.
Tangannya gemetar halus.
Aku memperhatikan tanpa ekspresi. Di kehidupan sebelumnya, tangan itu pernah mendorongku jatuh. Pernah merobek-robek harga diriku hanya demi lima juta peso. Pernah menunjuk wajahku sambil berkata aku tidak berguna.
Kini, tangan itu memegang pulpen murah, menulis dengan tinta yang sedikit belepotan.
Namanya berbeda.
Tapi tatapannya… sama.
Lapar.
Gelisah.
Tidak sabar.
Setelah selesai, ia menyerahkan kertas itu padaku.
“Bu… saya benar-benar butuh kerja. Tunangan saya menuntut uang muka apartemen. Keluarga mereka minta saya harus punya tabungan minimal lima ratus juta rupiah sebelum menikah.”
Lima ratus juta.
Angkanya berbeda.
Keserakahannya tidak.
Aku tersenyum pelan.
“Kenapa kamu ingin menikah kalau belum mampu?”
Ia terdiam. Lalu berkata lirih, “Kalau saya tidak menuruti mereka, saya akan ditinggalkan.”
Hatiku tidak lagi bergetar seperti dulu.
Karena akhirnya aku paham: orang yang takut ditinggalkan akan melakukan apa saja — bahkan menyakiti orang yang paling mencintainya.
Dulu aku tidak mengajarinya tentang tanggung jawab.
Aku hanya mengajarinya bahwa ibunya akan selalu mengalah.
Kali ini, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Aku melipat formulirnya.
“Kamu bisa mulai besok. Gaji standar. Tidak ada uang muka, tidak ada pinjaman pribadi. Kalau kamu mau maju, kerja keras.”
Matanya sedikit kecewa.
Mungkin ia berharap aku akan langsung menawarkan bantuan besar.
Mungkin ia berharap menemukan “ibu kedua” yang bisa ia peras.
Tapi yang ia temui hanyalah seorang perempuan yang tahu batas.
—
Bulan pertama, ia bekerja dengan rajin.
Bulan kedua, mulai mengeluh.
Bulan ketiga, ia meminta kenaikan gaji karena “kebutuhan mendesak”.
Aku menolaknya dengan tenang.
“Kalau mau penghasilan lebih, tingkatkan kemampuanmu.”
Ia menggertakkan gigi.
Sorot matanya mulai berubah — persis seperti dulu.
Dan saat itu aku sadar…
Beberapa karakter memang tidak lahir dari pola asuh saja.
Ada jiwa-jiwa yang harus belajar lewat kehilangan.
—
Suatu pagi, ia tidak datang lagi.
Kasir melaporkan bahwa ia mengambil uang tip pelanggan dari kotak kecil di meja.
Tidak banyak.
Hanya beberapa ratus ribu rupiah.
Aku tidak marah.
Aku hanya menghela napas panjang.
Karena kali ini, ia mencuri dari tempat kerja — bukan dari ibunya.
Dan kali ini, yang menanggung akibatnya adalah dirinya sendiri.
Aku melaporkan sesuai prosedur.
Tanpa emosi.
Tanpa dendam.
Tanpa air mata.
—
Beberapa tahun berlalu.
Bisnisku berkembang pesat. Aku membeli rumah baru di kawasan yang lebih baik. Tabunganku stabil. Hidupku tenang.
Suatu malam Tahun Baru, aku berdiri di balkon apartemenku.
Kembang api kembali meledak di langit.
Boom.
Boom.
Persis seperti malam ketika aku mati di kehidupan sebelumnya.
Namun kali ini, tidak ada rasa sakit di tulang rusukku.
Tidak ada darah di lantai.
Tidak ada anak yang meneriakiku.
Hanya angin malam yang lembut dan secangkir teh hangat di tanganku.
Teleponku berdering.
Nomor tidak dikenal.
Aku mengangkatnya.
Suara di ujung sana parau.
“Bu… apakah Ibu masih ingat saya?”
Aku mengenal suara itu.
Lebih dewasa.
Lebih lelah.
Tunangan meninggalkannya.
Ia terlilit utang.
Orang tuanya tidak mau membantu.
Ia ingin meminta pekerjaan lagi.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku akan langsung berkata iya.
Dalam kehidupan ini, aku memandang langit yang penuh cahaya.
“Aku ingat,” jawabku pelan. “Tapi hidup bukan tentang siapa yang kau kenal. Hidup tentang pilihan yang kau buat.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu aku menutup telepon.
Bukan karena kejam.
Tapi karena aku akhirnya mengerti:
Menyelamatkan seseorang yang tidak mau berubah hanyalah memperpanjang penderitaan.
Kembang api meledak lagi.
Aku tersenyum.
Dulu aku berpikir kebahagiaan adalah memiliki anak yang sukses.
Sekarang aku tahu, kebahagiaan adalah tidak lagi menjadi korban dari rasa bersalah.
Dalam dua kehidupan, aku belajar satu hal:
Cinta tanpa batas bukanlah pengorbanan — itu penghancuran diri.
Dan untuk pertama kalinya, saat angka tahun baru berganti,
aku berbisik pada diriku sendiri—
“Aku memilih hidup.”