Posted in

Tanpa menoleh lagi, Aruna berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.Ratna menepuk bahu Dimas dengan puas.

“Lihat kan? Pilihan kamu tepat. Menceraikan istri pembangkang yang kerjanya cuma minta uang suami.”

Namun di balik pintu yang baru saja tertutup, Aruna berhenti melangkah. Tangannya mengepal erat dengan bibir bergetar menahan amarah.

“Kalian pikir dengan membuangku begitu saja, hidupku akan berakhir? Kalian salah besar! Lihat, aku akan memberi perhitungan untuk kalian!”

Aruna menegakkan punggungnya. Napasnya ditarik dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan kembali kepingan harga diri yang tadi direnggut paksa.

“Tanpa kalian sadari, bahwa selama ini aku bukan perempuan tak berguna seperti yang kalian anggap. Aku sudah menyelamatkan banyak nyawa manusia, jauh sebelum kalian berani menghakimi aku!”

Keesokan harinya

Aruna bangun lebih awal, sebelum matahari benar-benar meninggi. Ia tak ingin ada yang melihatnya berkemas, apalagi bullyan.

Satu per satu, ia melipat pakaian miliknya dan milik Anisa. Gaun kecil, seragam sekolah, boneka kesayangan putrinya. Semua dimasukkan ke dalam koper.

“Ibu?”

Aruna menoleh. Anisa berdiri di ambang pintu dengan wajah polos, rambut yang masih sedikit berantakan, mata bening yang selalu menjadi sumber kekuatan sekaligus luka terdalamnya.

“Iya, sayang? Kepalanya masih sakit ya?” Tanya Aruna penuh khawatir sembari mengelus pelan dahi Anisa.

“Iya, Anisa masih pusing dibagian sini, Ibu.” jawabnya sambil menunjuk kepala sebelah kanan.

“Ya Allah, ampuni aku, karena kelalaian ku Anisa sampai terzolimi seperti ini. Kamu benar-benar Ayah yang tega, Mas!” Batinnya menahan emosi yang sudah membuncah.

“Kita mau ke mana, Bu?” tanya Anisa lirih.

Aruna memaksakan senyum. Ia berjongkok agar sejajar dengan putrinya.

“Ibu mau ajak Anisa jalan-jalan dulu, ya. Yuk kita siap-siap.”

Anisa mengangguk, tapi tatapannya tertuju pada koper besar di sudut ruangan.

“Tapi… Kenapa semua baju kita dibawa, Bu? Semalam juga Ayah bilang katanya Ibu bukan istri Ayah lagi.”

Jleb.

Hati Aruna kembali nyeri. Ia menatap wajah kecil itu, berjuang untuk kuat dengan keadaan yang kini sedang mengikis mentalnya.

“Engga sayang, Ibu masih istri Ayah kok, dan Anisa masih anak Ayah. Sekarang… Ibu mau ngajak Anisa nginep, nanti kita ketemu Oma sama Opa. Anggap aja kita liburan, oke?”

“Nanti disana kita cari tempat tinggal dulu ya, yang dekat sama sekolah Anisa.”

Mata Anisa langsung berbinar.

“Liburan?” serunya senang. “Pasti seru banget! Kita liburan bareng Ayah juga, kan, Bu?”

Napas Aruna tertahan.

Ada rasa perih yang tak bisa ia jelaskan, mengalir pelan dari dadanya hingga ke tenggorokan. Ia menunduk sejenak, lalu menatap Anisa kembali.

Perempuan itu berjongkok, mengelus punggung putrinya dengan penuh kasih. Sebenernya ia ingin untuk pulang ke rumah orangtuanya, namun saat ini orang tuanya belum berada di tanah air. Mereka masih menjalankan dinas di luar negeri, jauh dari jangkauan Aruna.

Dr. Hadi Mahendra, bukan nama sembarangan.

Ia adalah ayah Aruna—seorang dokter dengan gelar MD, PhD, ilmuwan medis kelas dunia yang namanya tercantum dalam jurnal-jurnal internasional, lebih sering disebut di forum akademik luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Sedangkan ibunya, Ratih Pratama, berdiri di balik layar dunia medis global.

Sebagai co-founder jaringan rumah sakit internasional, Ratih memegang kendali pengembangan kerja sama lintas negara. Satu tandatangannya mampu membuka—atau menutup—pintu rumah sakit di berbagai belahan dunia.

“Ayah nggak ikut dulu,” katanya lembut. “Ayah lagi kerja. Jadi, kita berdua aja dulu, ya. Nanti biar Ayah nyusul.”

Anisa mengangguk tanpa curiga, percaya sepenuhnya pada kata-kata ibunya.

Sementara itu, Aruna kembali menatap koper-koper di hadapannya.

Setelah semuanya siap, Aruna menggenggam erat tangan kecil putrinya dan melangkah menuju pintu. Koper-koper sudah berjajar rapi, menunggu dibawa keluar dari rumah.

“Sebelum mencari tempat tinggal, aku harus lebih dulu membawa Anisa kerumah sakit untuk memvisum luka di kepalanya.”

Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, sebuah suara menyambar dari belakang.

“Bagus. Itu baru namanya sadar diri. Pergi sebelum diusir,” sindir Ratna.

Langkah Aruna terhenti. Dadanya bergemuruh. Perlahan, ia membalikkan badan dan menghampiri mantan Ibu mertuanya. Ia menatap Ratna dengan penuh ketegasan.

“Mah, tolong jaga ucapan Mama.”

Ia menoleh sebentar ke arah Anisa, lalu kembali menatap Ratna.

“Anisa masih terlalu kecil untuk dengar semua ini. Mama boleh gak ngejaga perasaan aku. Tapi, Aruna mohon, bahkan Aruna tegaskan. Tolong jaga perasaan dan mental Anisa!”

Selengkapnya baca di kbmapp