Posted in

Siska, bisa diam tidak?! Kepalaku mau pec ah

Aku menghem paskan pant atku ke kursi kayu yang reot di ruang tamu rumah Pak Harto. Kursi ini dulu selalu kuhina setiap kali aku berkunjung dengan seragam perwira kebanggaanku. Sekarang, kursi ini terasa jauh lebih terhormat daripada diriku yang hanya mengenakan kemeja sipil kumal yang kancingnya sudah hampir lepas. Di depanku, Siska masih mondar-mandir seperti ayam kehilangan induk. Wajahnya yang tadi pagi masih dipoles bedak tebal agar terlihat seperti “calon nyonya perwira” kini luntur oleh keringat dan air mata, menyisakan coreng-moreng hitam di bawah matanya.

“Gimana aku bisa diam, Mas?! Kamu dipecat! Dipecat tidak hormat!” Siska menjerit, suaranya melengking tinggi, membelah keheningan siang yang terik. “Semua temanku sudah tahu! Shinta, istri Kolonel itu, sudah kirim pesan tanya kenapa namamu ada di daftar pemecatan pagi ini! Mau ditaruh di mana mukaku, Mas? Aku ini calon Ibu Persit! Aku sudah pesan kebaya seragam, aku sudah bayar DP katering untuk syukuran kenaikan pangkatmu … sekarang semuanya hangus! Kamu malah jadi pengangguran!”

“Calon, Siska! Baru calon!” bentakku, memu kul meja kayu hingga gelas kopi hitam milik Bapak yang tinggal separuh itu bergetar hebat. “Sekarang tidak ada lagi Persit-Persitan! Aku sudah jadi warga sipil! Kamu pikir aku tidak malu? Aku yang diseret provos seperti mal ing di depan semua komandanku, di depan seluruh rekan angkatanku! Harga diriku sudah diin jak-in jak oleh Gendis dan Jenderal itu!”

Rasa panas memba kar da daku setiap kali mengingat sorot mata Gendis tadi malam. Dia tampak sangat tenang dalam balutan gaun hijau itu. Tatapannya padaku tidak lagi mengandung sisa-sisa pemujaan seperti tujuh tahun terakhir. Dia menatapku seolah-olah aku hanyalah butiran de bu yang menempel di sepatunya yang mahal. Sialan! Bagaimana bisa guru desa yang kusam itu berubah menjadi wanita anggun dalam semalam? Dan yang paling menyakitkan, Jenderal itu menyebutnya sebagai “pendamping resminya”. Memang mereka belum sah menikah secara hukum negara karena Pak Harto masih memegang wali nikah, tapi perlindungan Baskara sudah seperti tembok ba ja yang tidak bisa kutembus.

“Ini semua gara-gara Gendis!” Bu Ratna muncul dari arah dapur, wajahnya yang penuh kerutan tampak semakin menyeramkan karena ama rah yang meluap. Ia berdiri tegak di depanku, berkacak pinggang. “Pandu, kamu itu laki-laki, perwira! Kenapa kamu diam saja saat perempuan itu mempermalukanmu? Kamu harusnya lawan! Bilang ke semua orang kalau dia itu cuma guru honorer miskin yang mau morotin har ta Jenderal itu!”

“Lawan bagaimana, Bu?!” Aku tertawa getir, tawa yang penuh dengan rasa frustrasi yang memu ncak di ulu hati. “Bapak Pangdam sendiri yang mengumumkan kalau Gendis adalah calon istrinya yang sah secara institusi. Proses sidang nikah mereka sedang berjalan, dan Pangdam sudah memberikan jaminan penuh! Kalau aku buka mu lut sedikit saja untuk memfitnahnya di area markas, aku bukan cuma dipecat, tapi bisa masuk sel penjara militer atas tuduhan penghinaan terhadap keluarga pimpinan! Ibu mau lihat aku membu suk di sana?”

Bu Ratna mendengkus sin is, ia berpaling menatap suaminya, Pak Harto, yang sejak tadi hanya duduk mematung di sudut ruangan. Bapak tetap dengan posisinya, menghisap rokok lintingnya dengan pandangan kosong yang sulit diartikan.

“Harto! Kamu lihat ini! Anakmu yang kusam itu sudah jadi durh aka! Dia membuat menantumu jadi pengangguran!” Bu Ratna memukul bahu Bapak dengan keras. “Kenapa kamu diam saja seperti patung? Ayo, bangun! Kamu itu ayahnya! Kamu adalah wali nikahnya! Tanpa tanda tanganmu, Gendis tidak akan pernah bisa menikah secara resmi dengan Jenderal itu! Itu senjata kita, Harto! Kita bisa minta syarat apa saja kalau Jenderal itu mau menikahi anakmu!”

Mendengar kata “wali nikah”, mataku mendadak berbinar. Benar. Di negeri ini, seorang ayah kandung adalah pemegang kunci. Jenderal Baskara mungkin punya pangkat, tapi dia tidak punya kuasa atas hukum agama dan negara jika Pak Harto menolak menjadi wali.

“Bener, Bu!” Siska tiba-tiba berhenti menangis, matanya berkilat li cik. “Kalau Jenderal itu benar-benar cinta sama Mbak Gendis, dia pasti mau ba yar ma hal supaya Bapak mau jadi wali. Mas Pandu, kita bisa minta jabatanmu kembali! Atau minta uwang milia ran sebagai ganti ru gi!”

Pak Harto hanya menghela napas panjang, kepulan asap ro kok keluar dari mulutnya. “Sudahlah, Ratna. Gendis sudah dewasa. Kalau dia bahagia dengan Jenderal itu, biarkan saja. Aku tidak mau terlibat lebih jauh. Aku malu … kita sudah mengu sirnya dari rumah ini semena-mena.”

“Malu?!” teriak Bu Ratna kalap. “Kamu tidak malu melihat anakmu si Siska ini mende rita karena tidak jadi kaya? Kamu tidak malu melihat Pandu jadi pengangguran? Pokoknya besok, Ibu dan Siska akan datangi kantor Persit. Gendis pasti ada di sana untuk perkenalan sebagai calon istri Pangdam. Kita tuntut dia di depan umum! Kita minta dia ‘membeli’ tanda tangan wali dari kamu dengan har ga tinggi!”

“Ibu … penjagaan asrama itu ketat,” ucapku ragu, namun rasa dend amku jauh lebih besar daripada rasa takutku.

“Ketat buat orang asing, Pandu! Tapi kita ini keluarganya! Bilang saja kita mau mengantar titipan barang dari bapaknya yang sangat penting. Begitu masuk ke aula pertemuan, baru kita beraksi.” Bu Ratna tersenyum licik. “Siska, besok kamu ikut Ibu. Pakai baju yang paling bagus. Kita buat Gendis merasa terintimidasi di depan ibu-ibu Jenderal lainnya. Kita bongkar kelakuannya yang dulu menge mis-nge mis cinta pada Pandu!”

Aku hanya terdiam, membiarkan mereka berdua merangkai skenario bu suk itu. Di dalam hati, aku masih tidak bisa menerima kenyataan ini. Gendis, wanita yang tujuh tahun menungguku dengan setia, kini menjadi milik pria lain yang pangkatnya tidak mungkin kuke jar seumur hidupku.

Gendis, kamu pikir kamu sudah menang karena punya Baskara? bisikku dalam hati sambil menge palkan tangan hingga kuku-kukuku memutih. Kamu lupa kalau ayahmu masih di pihakku. Kamu tidak akan pernah bisa sah menjadi ‘Ibu Pangdam’ tanpa restu dari rumah ini. Akan kupastikan perjalanannmu menuju pelaminan itu menjadi ne ra ka paling memalukan dalam hidupmu.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit kamar yang mulai berlu bang. Bayangan masa depan yang cerah sebagai Kapten kini musnah. Aku hanya punya dendam sebagai bahan bakar hidupku. Aku merasa seperti elang yang sayapnya dipat ahkan dan dipaksa kembali menjadi ayam tanah.

“Kita lihat saja besok, Gendis,” gumamku serak. “Seberapa kuat Jenderalmu itu melindungimu saat keluarga aslimu datang mena gih ‘hak’ sebagai wali. Kamu tetaplah Gendis yang mal ang, dan aku akan menye retmu kembali ke bawah sini bersama kami.”

Aku memejamkan mata, membayangkan kericuhan yang akan terjadi besok pagi. Rasa puas yang gelap mulai merayap di da daku. Aku adalah Pandu, dan aku tidak akan pernah membiarkan guru SD itu hidup tenang di singgasana hijaunya selama dia belum memb ayar har ga atas hanc urnya karierku.

Bersambung ….